
Malam itu, Antony pulang dalam keadaan cukup senang. Merasa hari ini menjadi hari yang cukup baik.
Emelin sendiri menyambutnya ketika pulang.
Hubungan mereka memang sudah cukup lebih dekat sejak malam itu.
Malam itu dimeja makan juga terlihat cukup tenang, Alex sepertinya sudah tidak terlalu marah pada Antony, namun dia masih tidak mau membiarkan Mama dan Papanya itu tidur sendiri, masih sangat lengket pada Mamanya.
"Nanti Malam Alex tidur dengan Mama, hpmh, Papa tidur saja sana sendiri,"
Antony menatap putranya yang menjadi tidak masuk akal itu dengan sedih.
"Alex... Kamu ini...."
Sebelum Antony mengatakan apa-apa, Alex sudah menutup telinganya dengan tangannya seolah masa bodoh akan apa yang Papanya itu katakan, membuat Antony merasa binggung dan akhirnya menghela nafas.
"Alex, kamu memiliki beberapa pekerjaan rumah bukan? Kenapa tidak kamu kerjakan dulu? Nanti akan Mama susul ke kamarmu,"
"Tidak ada pekerjaan rumah,"
Sekarang Emelin jadi binggung bagaimana mencari cara agar bisa berbicara empat mata dengan Antony saja, yah bahasan ini cukup penting sih.
"Apakah kamu tidak mencoba menelepon temanmu? Kamu sudah berjanji untuk menelepon beberapa teman bukan?"
"Ah, Mama benar. Aku ada janji dengan salah satu teman Les Pianoku, aku akan segera menelponnya,"
Alex lalu dengan ceria langsung menuju ke kamarnya itu.
Sekarang hanya ada Emelin dan Antony diruang makan, ada keheningan sejenak.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Antony, setelah memikirkan kata-kata Alex, sebelumnya sepertinya memang tidak akan ada apa-apa malam ini.
Hah...
Dirinya harus menahan diri lagi.
Sungguh, Alex yang marah sangat susah ditenangkan.
Jadi Antony pikir yang akan dikatakan Emelin mungkin memang bukan hal-hal semacam itu.
Entah kenapa ada beberapa butir kekecewaan dihatinya.
Kata orang, setelah mencobanya sekali, akan sangat ingin melakukannya lagi, dan sedikit menjadi candu.
Sebelumnya mereka tidak melakukannya untuk waktu yang lama, dan setelah kembali melakukan dan tahu, kalau itu sangat menyenangkan kembali hidup seperti seorang vegetatif seperti sebelumnya akan sangat sulit.
Apalagi ini tidak hanya hasrat namun juga ditambah dengan cinta....
"Emm, aku mendapatkan sebuah tawaran dari sebuah Agensi namun ini masih sebuah agensi baru ini bernama AX Entertainment aku dengar itu salah satu Perusahan Cabang milik AX Investment, apakah kamu tahu Perusahaan itu?"
Antony tentu saja sangat tahu soal Perusahan itu, yang juga merupakan miliknya.
Belakangan dirinya juga mempelajari soal bisnis di Dunia Hiburan, dan ini juga menjadi salah satu target Investasi yang menarik dan memberikan return tinggi.
Belum lagi, Istrinya juga berada dalam bidang ini, kenapa tidak membuat sebuah Agensi yang mengatur ini?
Sekalinan bisa membantu Emelin, dan mendapatkan uang ditempat yang sama.
Dirinya juga tahu kalau kinerja Emelin sebenarnya cukup baik, dimasa depan dengan kemampuannya itu jelas dia akan menjadi Artis yang lebih besar lagi.
Dan itu jelas akan menghasilkan lebih banyak uang, tentu saja dirinya tidak akan menyia-nyiakan ini.
Berinvestasi pada Istrinya sendiri adalah hal yang menguntungkan, bisa membuat Emelin bahagia dan benar-benar bisa menghasilkan uang!!
"Itu Perusahaan yang cukup bagus, aku dengar CEO mereka selalu memiliki mata yang bagus dalam bidang Investasi, mungkin dia mengagap kalau Dunia Hiburan ini memiliki potensi yang cukup bagus? Dan mungkin dia juga menilai kalau kamu ini memiliki potensi yang bagus, maka dia memilihmu, kenapa tidak mencobanya saja? Lagipula sepertinya tidak ada yang salah? Cek saja dulu Kontraknya apakah ada yang merugikanmu atau tidak, jika memang menguntungkanmu kenapa tidak? Kamu belum punya agensi juga sekarang?" kata Antony dengan jawaban ala Profesional, sambil sedikit memuji dirinya sendiri.
Emelin lalu terdiam sejenak memikirkan kata-kata Antony.
Dan memang benar, sepertinya tidak ada ruginya jika mencoba, dirinya bisa cek dulu Kontraknya, jika memang bagus, kenapa tidak?
Lagipula dirinya sekarang semakin sibuk, mengigat tawaran Iklan semakin bertambah, susah untuk mengurus hal-hal ini dan itu sendirian, butuh tenaga Profesional untuk membantunya.
"Kamu benar. Sepertinya aku perlu mencoba ini. Terimakasih atas nasehatnya, nanti jika aku sudah mendapatkan surat kontraknya, bisa bantu aku untuk menilainya?"
"Tentu saja aku akan selalu siap membantumu, katakan saja jika ada masalah."
"Hmm, sangat senang memiliki kamu disisiku... Sejak Kakek meninggal kadang aku menjadi tidak punya tempat untuk bertanya sesuatu ketika ingin memutuskan sesuatu, syukurlah sekarang ada kamu,"
Antony juga merasa senang mendengar jawaban dari Emelin, artinya Emelin cukup mempercayainya sekarang, bahkan berdiskusi hal-hal penting dalam hidupnya dengan dirinya.
Cukup puas, akan hal-hal ini, lalu Antony mengigat sesuatu,
"Kamu tidak bertanya padaku dari dulu?"
"Emm, kamu terlihat seperti Gunung Es yang tidak tersentuh seolah hanya peduli pada pekerjaan, bagaimana aku bisa bertanya?"
Antony lalu berpikir, memang dirinya sebelumnya terlihat hanya fokus pekerjaan dan pekerjaan, semacam workholic yang tidak ada hari tanpa bekerja, dengan pertemuan yang jarang dan Emelin sendiri sibuk, tidak ada waktu untuk percakapan empat mata seperti sekarang.
Namun sekarang semua sudah berbeda.
"Sekarang karena kamu sudah berhasil melelehkan Gunung Es ini menjadi Gunung Berapi, kamu juga harus bertanggung jawab untuk memadamkan apinya... Ini benar-benar menjadi sangat membara sekarang," kata Antony sambil mengambil tangan Emelin, kalau meletakannya pada dadanya, dan mengertakan tangan Emelin semakin kebawah.
Menyadari maksud dari 'Dari Gunung Es menjadi Gunung Berapi', wajah Emelin memerah, apalagi tahu godaan Antony berikutnya.
Emelin segera menarik tangannya.
"Jangan mulai lagi!!"
"Owh, padahal aku sudah merekalah untuk tidak lembur malam ini,"
"Eh? Kamu sebenarnya sibuk?"
"Pekerjaan Nomor Dua, dan Istri Nomor Satu,"
"Dasar gombal!!"
"Hey Hey, jangan lari Emelin, kamu itu harus bertanggung jawab memadamkan gunung api ini!"
"Terserah! Ingat kata Alex? Kamu tidur sendiri dikamarmu!"
Dengan itu Antony hanya bisa menatap kepergian Emelin itu yang menjulurkan lidahnya.
Sepertinya merayu Istrinya ini adalah hal yang lebih sulit dari pada memenangkan proyek?
####
Hari berikutnya segera berlalu, berbeda dengan kehidupan damai seseorang, beberapa orang tidak bisa hidup dengan damai, bahkan di pagi buta seperti ini.
Disalah satu Ruang Makan Keluarga Smith, suasana disana sangat hampar.
Caludia yang memang sedang tidak berminat untuk sarapan, memutuskan segera pergi dari sana, meninggalkan Ayah dan Ibunya sendiri.
Cornelia itu sendiri masih begitu kepikiran soal kata-kata temannya kemaren, kalung itu hanya uang titipan mulut sementara, dirinya harus memberikan beberapa yang tutup mulut lagi.
Namun jika dirinya memberikan uang lagi...
Apakah itu akan cukup?
Bagaimana jika dia meminta lagi, dan lagi?
Ini akan membuat hidupnya tidak tenang seumur hidup.
Apa sebaiknya dilenyapkan saja orang itu?
"Cornelia ada apa dengan wajahmu itu?" Tanya Alvan dengan penasaran melihat dipagi hari, bukannya mendapatkan sapaan pagi yang menyegarkan dari Istrinya, malah melihat wajah cemberutnya.
"Tidak ada. Hanya saja, belakangan aku kekurangan uang,"
Mendengar kata 'uang' sekarang mood Alvan menjadi buruk.
"Aku sudah bilang, kamu jangan boros dulu, saat ini keuangan kira sedang tidak baik,"
"Ukhh... Alvan! Aku masih marah soal kamu yang menjual perhiasan-perhiasan itu, kamu bilang dengan menjual itu bisnismu akan lancar dan akan bisa membelikanku yang baru, tapi mana? Kamu masih bilang kekurangan uang?"
"Diamlah, Cornelia! Kamu ini bukannya mendukungku, namun hanya malah cerewet soal Uang, kamu pikir aku tidak pusing dengan hal itu hah?"
"Kamu benar-benar tidak bisa diandalkan, Alvan!"