Suami Bayaranku Yang Dingin

Suami Bayaranku Yang Dingin
Episode 59: Pemakaman Keluarga Smith


Mendengar pertanyaan Emelin itu, Antony terdiam sejenak, lalu segera berkata tanpa ragu,


"Baiklah aku akan menemanimu,"


"Kamu benar punya waktu luang besok?"


"Aku selalu bisa mengaturnya. Jadi kenapa kamu ingin tiba-tiba kesana?"


"Ini sudah dua tahun sejak Kakek Meninggal. Besok adalah hari peringatan kematiannya."


Lalu ada keheningan sejenak antara mereka.


Antony bisa melihat sedikit emosi kesedihan dan kesepian dari wajah wanita didapannya ini.


"Tidak apa-apa, aku akan menemanimu."


"Kita bisa mengajak Alex juga?"


"Tentu saja, Alex juga harus tahu mengenali leluhurnya."


Emelin tersemyum sedikit menghadapi perkataan Antony barusan.


Mencoba menstabilkan emosinya, Emelin lalu mencoba mencari topik pembicaraan lainnya.


"Ah, iya bagaimana dengan bekal dan camilan yang aku buat hari ini? Apakah ini enak?"


Mendengar pertanyaan Emelin tiba-tiba itu, rasa bersalah muncul dihati Antony.


Dirinya bahkan belum sempat mencicipi makan siang yang Emelin siapkan.


Namun entah bagaimana makan siang itu sudah dihancurkan oleh sepupunya yang menyebalkan.


Jadi sekarang bagaimana dirinya harus menjawab?


"Hey, bagaimana menurutmu? Atau apakah itu tidak enak?" Tanya Emelin lagi dengan nada penasaran.


Disini, Antony lalu menjawab dengan tenang,


"Itu enak, semua masakanmu enak,"


Yah, bahkan walaupun Antony tidak memakannya Antony yakin masakan Emelin yang dibuat dengan sepenuh hati itu akan terasa enak.


Lalu ketika mereka berdua masih mengobrol di Ruang Tamu, Alex yang barusan keluar dari kamarnya memanggil mereka.


"Papa, Mama, kalian tidak ke ruang makan untuk makan?"


"Papamu baru saja pulang, biarkan dia mandi-mandi dulu, mari Alex Mama temani dulu untuk ke ruang makan,"


Alex mengikuti Mamanya setelah menyapa Papanya.


Mereka makan malam dengan tenang malam itu, dan Emelin juga menyampaikan rencananya untuk mengunjungi pemakaman Keluarga Emelin.


####


Sore itu, suasana cukup sepi, mobil Emelin dan keluarganya sampai di kompleks pemakaman Keluarga Smith.


Disini, ketika Emelin turun dari mobil, aura yang begitu suram mengelilinginya, seolah dia tidak ingin turun dan masuk.


"Emelin, kamu tidak apa-apa?"


Emelin mencoba tersenyum, lalu berkata,


"Aku hanya berpikir apakah aku masih memiliki wajah untuk melihat Makam Kakek setelah aku dengan bodohnya menghilangkan wasiat Kakek, dan membuat Perusahaan Smith yang dia bangun dengan sudah payah jatuh ketangan-tangan orang Brengsek."


"Semua orang memiliki kesalahan,"


Emelin mengehela nafas, mencoba menenangkan pikirannya, lalu mulai keluar dari mobil dengan sebuket bunga.


Keluarga kecil itu lalu memasuki kompleks pemakaman.


Emelin berjalan dengan perlahan-pahan, mulai memikirkan soal Ibunya dan Kakeknya.


Ketika dia sampai didepan Makan Kakeknya yang juga bersebelahan dengan makan Ibunya, Air Mata Emelin tumpah.


Tertulis di depan Makam itu nama, 'Jhonson Smith' itu adalah nama Kakek Emelin.


Disampingnya lagi ada dua makam lainnya, yaitu makan Nenek Emelin dan Makan Ibu Emelin.


Emelin yang menatap makam itu, benar-benar tidak bisa menahan perasaan yang dimilikinya.


Ketika Emelin memikirkan hidupnya, hanya dua orang di makan ini yang benar-benar memiliki perasaan tulus padanya, orang-orang yang benar-benar mencintainya sepenuh hati.


Namun mereka sudah tidak ada lagi didunia ini.


Memikirkan Ibu tirinya dan Claudia yang selama ini berpura-pura padanya, Emelin merasa begitu bodoh.


"Ibu... Kakek... Aku minta maaf... Aku tidak bisa menjaga amanah kalian untuk menjaga Perusahaan Smith. Maaf... Ini semua salahku..."


Meletakkan buket bunga disana, Emelin masih menagis.


Antony tidak tahu harus berbuat apa, dan Alex yang masih kecil juga tidak mengerti apa-apa hanya menatap Mamanya yang sedih, lalu mencoba mendekatinya.


"Mama jangan sedih," kata Alex mencoba menghiburnya.


Emelin mulai menghapus sedikit air matanya, lalu memeluk Alex.


"Hmm, Mama hanya kangen dengan Kakek buyutmu dan Nenekmu,"


"Alex juga kangen dengan Kakek Buyut, dia sangat baik pada Alex. Ketika Alex datang, dia selalu memberikan hadiah pada Alex, Kakek buyut juga sangat suka mengendong Alex ketika kecil."


"Hmm, dia benar-benar orang yang baik."


"Alex sangat menyayangi Kakek Buyut. Katanya kita akan bertemu dimana Kakek buyut Mama?"


Emelin menatap putranya yang masih polos itu dengan sedih.


Anak kecil masih belum terlalu mengerti soal konsep-konsep kematian.


"Kakek Buyut sudah pergi jauh sekali, kita mungkin tidak akan pernah bisa menemuinya lagi,"


"Apakah itu sangat jauh?"


"Ya, itu sangat jauh."


"Tidak bisa dihubungi dengan telepon?"


"Tidak."


Alex cemburut disana,


"Jika begitu apakah Kakek buyut tidak kesepian disana sendirian?"


"Tidak, Kakek buyutmu tidak Kesepian, disana ada Nenekmu, dan juga ada Ibu dari Mama yang juga merupakan Nenekmu,"


"Nenekku? Apakah itu bukan Nenek Cornelia?"


"Bukan-bukan, Cornelia itu bukan Nenekmu,"


"Benarkah? Tapi dia bersama Kakek. Tapi Alex juga tidak suka dengan mereka, mereka selalu sangat jahat pada Alex dan Papa."


"Benar-benar mereka memang orang jahat."


"Jadi apakah Nenek Alex yang ini adalah orang baik?"


Emelin lalu tersenyum dan mengingat Mamanya.


"Itu benar, Nenek Alex yang asli adalah orang yang sangat baik, dia adalah wanita yang begini cantik dan anggun, dia lebih cantik dari pada Mama,"


"Benarkah? Alex jadi ingin bertemu dengannya,"


"Tadi kan Mama sudah bilang kalau Nenek Alex juga berada ditempat yang jauh kita tidak akan bisa bertemu dengannya,"


Alex lalu menunjukkan ekpersi sedih.


"Sayang sekali, padahal Alex juga ingin bertemu,"


Antony hanya diam menatap dua orang itu saling mengobrol disana.


Ini juga jadi mengigatkannya pada Kakek dan Ibunya yang telah meninggal.


Dua orang yang sangat berharga untuknya.


Terasa sedih ketika memikirkan orang-orang yang sudah tidak ada lagi.


Terkadang akan memiliki begitu banyak penyesalan.


Emelin juga memiliki begitu banyak penyesalan ketika menatap makam-makam itu.


Disana, Emelin setelah selesai berdoa mulai sedikit berbicara pada makam-makam itu untuk membuatnya merasa lega.


"Kakek harus tahu, ternyata Ayahku adalah seorang penipu selama ini, dia adalah orang brengsek, aku menyesal memiliki Ayah seperti dia. Dia benar-benar menipu Keluarga kita," kata Emelin dengan penuh amarah.


Disana ketika Emelin terus berbicara didepan makam itu, dari arah berlawanan datang seseorang kesana, dia terkejut melihat pemandangan tiga orang itu, juga soal hal-hal yang dikatakan oleh Emelin barusan.


"Emelin?" Tanya orang itu ketika melihat Emelin didepan Makam itu.


Emelin lalu menatap Pria parubaya yang datang itu.


Emelin ingat orang ini, sepertinya dia adalah Asisten Kakek?


Semacam orang kepercayaan Kakek?


"Paman Radit?"


"Yang kami katakan barusan soal Ayah dan Ibu Tirimu...."


"Ya, itu semua nyata."


Pria parubaya itu lalu mengelak nafas dengan lelah.


"Sebenarnya Aku dan Kakekmu juga memiliki beberapa kecurigaan pada mereka. Dan lagi aku sempat menyelidiki jika ada keanehan dalam kematian Ibumu dulu, kami baru menemukan sedikit petunjuk setelah bertahun-tahun namun Kakekmu saat itu meninggal tiba-tiba dan aku tidak bisa berbuat apa-apa dengan penyelidikan itu..."


"Kematian Ibuku?"


"Ya, kami sempat curiga jika kecelakaan dimana kamu hampir tenggelam itu direncanakan seseorang,"


"A... Apa?"


Emelin tidak tahu ada hal seperti itu terjadi, kecelakaan itu....


Dirinya kira itu hanya kecelakaan dan kerena kecerobohannya...


Namun ketika dirinya memikirkannya....


Hari itu....


####


Bersambung


####


Bonus Untuk tambahan hari ini, 😆😆


Terimakasih atas dukungannya ya semua, semakin byk update nih, 😆


btw saat ini ku baru saja bikin Grup Chat buat saling berinteraksi denganku, Barangkali ada yang tertarik masuk, kedepannya di Grup Chat kan ada pengumuman seputar Update juga, 😁


kalau mau gabung silahkan klik di menu 'Ayo Chat' ya,


Biar jadi semakin dekat juga, 😆😆😆