
Setelah telepon itu ditutup secara sepihak, wajah Alvan menjadi semakin panik.
Bagaimana ini?
Apakah harus berurusan dengan pengadilan?
Ini benar-benar akan bermasalah jika sampai berurusan dengan pengadilan.
Berita apa lagi sih di Internet sampai-sampai ada hal seperti ini?
Dengan penasaran, Alvan lalu mulai membuka Internet dan pencarian seputar namanya.
Begitu nama Alvan Smith muncul, disana ada banyak berita buruk soal Alvan.
'CEO Smith Group terbukti selingkuh bertahun-tahun, bahkan memiliki seorang anak! Dimana moralnya?'
'CEO Smith Group yang sekarang mengusir Putri Syahnya demi anak Haramnya!'
'Kegagalan Proyek Smith Group,'
'CEO Smith Group, Alvan Smith, merebut Perusahaan dengan cara yang tidak Syah!'
'Siapa pemilik Syah Smith Group yang sesungguhnya? Apakah itu Alvan Smith atau Emelin Smith?'
'Demi Keserakahan, Alvan Smith menipu Putrinya sendiri!'
'Keluarga Alvan Smith mengunakan Uang Perusahaan untuk berfoya-foya membuat pernikahan meriah untuk anak Haramnya!'
'Ini lah sosok Cornelis Calleste, selingkuhan Alvan Smith bertahun-tahun yang sekarang menyandang gelar Nyoya Smith,'
'Gelora Gaya Hidup Alvan Smith ditengah kesusahan yang di alami Putrinya Emelin Smith'
'Alvan Smith sosok ayah yang tidak tahu diri,'
Dan masih banyak lagi artikel seperti itu di mesin pencari.
Melihat judul-judul saja membuat Alvan menjadi begitu marah.
"Apa yang mereka tahu? Mereka tidak tahu apa-apa!!"
Rasa emosi meluap dalam dirinya.
"Pak Presdir kita sudah sampai." Kata Asistennya itu, membuyarkan lamunan Alvan.
"Ya."
Mencoba tenang, Alvan turun dari mobil, hanya bisa berharap jika tidak ada masalah dengan meeting kali ini.
Salah satu klaien penting yang meminta meeting kali ini.
Mencoba untuk tetap tersenyum, Alvan terus berjalan dan memasuki gedung hingga sampai di ruang rapat.
Disana sudah ada beberapa orang dengan pakaian rapi yang menunggu.
"Maaf membuat Bapak Presdir menunggu," kata Alven dengan ramah pada salah satu Pria yang terlihat paling mendominasi dalam ruangan itu.
"Hmm, kamu bisa duduk."
Dengan itu, Alvan duduk dikursi yang sudah di siapkan.
Asisten dari Presdir didepannya itu lalu mulai menyerahkan beberapa berkas penting pada Alvan.
Alvan menatap laporan itu dengan tegang.
Ini adalah laporan salah satu proyek mereka yang hampir gagal, berkat ada beberapa investor pergi, mereka jadi kesulitan melanjutkan pembangunan.
"Kamu bisa jelaskan hal-hal yang berada di laporan itu? Kamu bilang Perusahaanmu akan membangun hal-hal ini dalam waktu kurang dari satu tahun, namun ini? Aku melihat kalau proyek ini bahkan belum sampai setengahnya, padahal ini sudah hampir satu tahun."
Alvan menjadi panik sendiri, mukanya menjadi bertambah pucat.
Bagaimana dirinya harus menjelaskan pada Klaien penting ini?
Ini adalah salah satu Proyek Konstruksi yang sudah dimenangkan dengan susah payah tahun lalu dengan salah satu Perusahaan Multinasional.
Rencananya, pembangunan beberapa Departemen Setore ini akan selesai kurang dari satu tahun.
Namun ada beberapa kendala seperti kurangnya dana untuk melanjutkan pembangunannya berkat salah satu Investor tiba-tiba keluar yang menghambat hal-hal ini.
"Maaf Pak Predir, saat ini Proyek masih sedang berjalan. Anda tidak usah khawatir, proyek ini akan selesai tepat waktu. Memang belalangan, kami mengalami kendala, namun Bapak tenang saja, ini tidak akan terlalu lama."
"Kamu ini, awas saja kalau Proyek ini tidak selesai tepat waktu, aku akan membatalkan untuk membeli Departemen Store itu."
Wajah Alvan menjadi pucat.
"Bapak tidak bisa seperti itu, kalau bapak sampai membatalkannya, bagaimana dengan biaya yang sudah kami keluarkan sampai saat ini?"
"Bapak harus yakin kalau saya dan Perusahaan saya tidak akan mengecewakan Bapak."
"Sebenarnya aku cukup ragu. Apakah kamu tidak lihat Berita di Internet tentang Skandal yang kamu buat? Hal-hal ini mungkin bisa membuatku rugi, ketika pembangunan selesai."
"Itu... Bapak tidak usah khawatir, rumor hal-hal itu akan segera memudar seiring berjalannya waktu, seperti Bapak tidak tahu saja, hal-hal seperti ini sudah biasa diantara kalangan-kalangan tingkat atas. Apa Bapak tidak ingat? Dulu Thomas Anderson dari Anderson Group memiliki skandal soal Anak Haram juga, bahkan Ketua Group Anderson Group yang sekarang, Ayah Thomas Anderson juga memiliki anak haram di Luar Nikah yang baru-baru ini juga diketahui, dan sampai saat ini perusahaan mereka baik-baik saja,"
"Kamu ada benarnya, hal-hal seperti ini memang sudah tidak asing dikalangan kita. Dan soal Thomas Anderson dan Ayahnya itu sama-sama tidak tahu malunya, aku sangat membenci Perusahaan mereka."
"Bapak memiliki beberapa masalah dengan Perusahaan Mereka?"
"Kamu masih bertanya hal yang sudah jelas?"
Ah, Alvan mengerti, Presdir didepannya ini adalah Presdir salah satu Perusahaan Besar yang merupakan saingan Berat Anderson Group, beberapa masalah dan persaingan dan sengketa bisnis tentu saja sering terjadi.
Berpura-pura setuju, Alvan lalu berkata,
"Benar juga, mereka bahkan berani mengaggkat Anak Haram Thomas itu menjadi CEO, padahal dia masih cukup muda, benar-benar sungguh berani."
"Ya, aku sangat membenci CEO Baru Anderson Group itu, dia malah muda namun begitu sombong, tidak tahukan kamu? Saat aku mencoba ingin bertemu dengannya, aku malah hanya di hadapankan oleh Wakil CEO mereka yang tidak kompeten,"
"Tuan Muda Raka itu? Memang, saya dengar dia tidak tahu apa-apa soal bisnis dan baru-baru ini saja dia berkerja di Perusahaan, namun Ketua Group Anderson benar-benar cukup bernyali untuk menempatkan cucu-cucunya pada posisi penting itu,"
"Hahaha... Memang, aku sudah menanti bagaimana bisnis mereka gagal, aku akan merebut lebih banyak klien dari mereka, memanfaatkan mereka yang teledor berani memilih CEO dari golongan bawah yang tidak tahu apa-apa."
"Saya mendoakan kesuksesan Rencana Pak Presdir,"
Presdir itu tersemyum,
"Ya. Tentu saja."
"Sebenarnya saya cukup bersyukur kalau Bapak masih percaya pada kami soal Proyek ini."
"Tapi ingat, hanya satu kali ini aku berikan kesempatan, kalau sampai gagal...."
"Bapak tidak usah khawatir," kata Alvan sambil tetap tersenyum walaupun dalam hati dia masih cukup khawatir soal berjalannya Proyek ini.
Namun bagaimanapun juga dirinya
Tidak boleh gagal, harus menyelesaikan proyek ini.
Ini semua juga berkata gagalnya Perusahaan mereka memenangkan Tender pada Proyek terakhir.
Kalau tidak salah, Perusahaan Anderson yang memenangkan dan mendapatkan proyek bagus itu...
Memikirkannya sekarang, dirinya juga jadi benci dengan Perusahaan mereka.
Terutama Thomas Anderson itu...
Orang itu adalah Mantan Tunangan dari Wanita sialan itu!!
Jika mereka tidak membatalkan pertunangan itu, wanita sialan itu pasti tidak akan membuat hidupnya hancur dulu...
Memisahkan dirinya dari wanita yang paling dirinya cintai dan putrinya...
Dan juga membuat dirinya harus kehilangan Ayahnya....
Memikirkan soal masalalu benar-benar cukup rumit.
"Bagus, aku tidak memberikan kesempatan pada kegagalan," kata Presdir itu sambil tersenyum licik.
Alvan hanya mengangguk, kemudian mempersiapkan Presdir Perusahaan besar itu pergi.
Pria itu berjalan keluar dari gedung Smith Group dengan ekpersi senyum yang rumit.
Tentu saja, dirinya mendegar beberapa gosip terbaru di antara kalangan Bisnis.
Ini soal, entah bagaimana Perusahaan Anderson itu memiliki minat tertentu pada Perusahaan Smith itu.
Apa masalah mereka?
Dan sepertinya CEO bodoh Smith Group itu masih tidak tahu apa-apa.
Mari tunggu apa yang mereka inginkan, jika ini bisa menguntungkan dirinya, tentu saja dirinya akan lebih dulu mencari keuntungan dari perselisihan mereka.
Bagaimanapun juga musuh dari musuh Perusahaannya adalah teman.
Itu prinsip bisnis yang jelas.
####
Bersambung