
Di tempat lainnya, disebuah kamar Rumah Sakit, Raka masih baring di tempat tidur dalam keadaan yang tidak nyaman, hatinya tentu saja menjadi sangat sedih.
Orang tuanya benar-benar mengurung dirinya selama beberapa hari ini di rumah sakit ini, belum lagi membuat dirinya putus kontak dengan teman-temannya dengan menyita ponsel miliknya, dengan itu dirinya tidak bisa menghubungi Alissya, tidak tahu kabar tentang gadis itu.
Terjebak dan diawasi di ruangan serba putih ini benar-benar membuat dirinya merasa muak namun dirinya juga tidak tahu harus berbuat apalagi.
Orang tuanya ternyata benar-benar tidak menyukai dirinya memiliki hubungan dengan Alissya.
Jujurnya sekarang dirinya menjadi takut apa yang akan dilakukan oleh orang tuanya pada Alissya saat ini.
Sialan dirinya benar-benar tidak bisa menghubungi orang luar.
Apakah sebaiknya dirinya mencoba lari?
Sebelumnya dirinya sudah mencoba melarikan diri dari rumah sakit namun berakhir dengan tertangkap dan membuat dirinya dihukum lebih parah sekarang bahkan tidak ada orang yang boleh bertemu dengannya.
Kemudian dari arah luar, seorang pegawal masuk kedalam,
"Tuan Muda, ini saatnya pergi ke Ruang Pemeriksaan untuk scan Tulang Tuan Muda yang patah, untuk memantau Bagaimana pemilihannya,"
Raka tentu saja menjadi marah lalu berkata,
"Aku tidak akan pergi periksa jika aku tetap tidak dibiarkan keluar dari Ruangan ini dengan bebas!"
"tapi tuan muda ini adalah perintah dari Nyonya dan Tuan untuk kebaikan Tuan Muda sendiri saya sebagai bawahan tidak bisa apa-apa. Saya harap Tuan Muda menurut untuk sementara ini pada Tuan dan Nyonya atau mungkin itu akan menimbulkan konsekuensi yang lebih parah,"
Mendengar sepertinya bawahan ini benar-benar tidak berguna, Raka mulai berpikir sebentar.
Memang jika dirinya terus memaksa seperti ini orang tuanya juga akan keras padanya.
Jadi sebaiknya memang dirinya harus menurut kepada orang tuanya untuk sementara waktu dan mencari celah nanti.
"Baik, aku akan kesana,"
Kemudian seorang perawat datang mengambilkan kursi roda dan membantu Raka untuk duduk disana, bersama dengan pengawal menuju ke ruang pemeriksaan.
Namun begitu dirinya berada di ruang pemeriksaan dirinya menjadi terkejut karena bertemu dengan seseorang yang familiar.
Terlihat Emelin berada di ruang tunggu pemeriksaan, duduk di kursi dengan ekspresi wajah yang tidak mengenakkan.
"Kaka Emelin? Ada apa? Kenapa Kakak ada di Rumah Sakit?"
Emelin lalu melihat juga Raka yang ada di situ.
Tentu saja dirinya juga bingung Bagaimana menjelaskan soal ini.
Sejujurnya, dia masih cemas dan panik soal Bagaimana kondisi suaminya Antony setelah tertimpa pohon mangga itu.
Sungguh ini benar-benar salahnya Kenapa dirinya bisa meminta hal yang sangat aneh seperti itu.
Yang membuat Antony saat ini terluka dan harus dibawa ke rumah sakit.
Dia sempat pingsan dan terbentur dibagian kepala, dan mengalami patah tulang.
Tadi di UGD dokter menjelaskan kondisinya tidak begitu serius, namun tetap masih harus dilakukan pemeriksaan menyeluruh.
Namun tetap saja ini membuat dirinya cemas karena Antoni masih juga belum sadar.
"Ada kecelakaan yang menimpa Suamiku, Antony dia sedang diperiksa sekarang,"
Raka tentu saja kaget mendengar hal itu, dia segera berkata,
"Apa Kak? Kecelakaan apa dan bagaimana bisa itu terjadi?"
"Sebenarnya, karena aku sedang ngidam ingin melihat suamiku menanam pohon mangga, dan Suamiku menurutinya Namun siapa yang tahu dia malah tertimpa pohon mangga itu,"
Raka tiba-tiba memiliki ekspresi rumit setelah mendengar cerita dari Emelin.
Dirinya ingin tertawa karena permintaan aneh Emelin, namun juga merasa kasihan tentang apa yang menimpanya itu.
Pasti sekarang Kak Emelin menjadi cemas.
"Kak Emelin tenang saja, semua akan baik-baik saja lagi pula ini hanya tertimpa pohon tidak akan menyebabkan hal-hal serius, Kakak tidak boleh terlalu cemas, Kakak harus ingat tentang kandungan Kakak,"
Emelin lalu mengelus perutnya itu, lalu berpikir jika kata-kata Raka benar.
Pasti Antony baik-baik saja, intinya tidak boleh terlalu cemas Dan Panik oleh hal-hal ini karena itu bisa mempengaruhi kandungannya.
Dirinya harus menjaga kandungan ini dengan baik, calon buah hati dirinya dan Antony.
"Kamu benar."
Untuk mencoba menghilangkan kecemasan Emelin, Raka mulai mengajak ngobrol Emelin disana, sampai Raka teringat untuk menanyakan hal-hal yang penting.
"Kak Emelin, Apakah kakak tahu soal kabar dari Alissya?"
"Ah, banar aku belum sempat menanyakan ini padamu, jadi ada hubungan apa antara kamu dan Alissya itu?"
Dengan pertanyaan itu tentu saja Raka masih merasa sedikit malu untuk mengatakan hal-hal ini.
Dia dengan gugup lalu menjawab,
"Ya, ini kami tidak memiliki hubungan apapun, hanya saja.... Aku yang menyukai dia secara sepihak,"
"Jadi iya adalah cinta pertama mu itu?"
"Begitulah Kak. Aku rasa sekarang bukan saatnya untuk itu,"
Raka lalu melihat sekeliling, dan jika pengawal nya saat ini menunggu di luar pintu pemeriksaan.
Raka lalu segera berkata,
"Kak Emelin, saat ini aku sedang dikurung oleh orang tuaku karena mereka tahu soal bagaimana aku menyukai Alissya ini,"
"Apa mereka benar-benar melakukan hal-hal itu?"
Emelin segera teringat kata suaminya bagaimana Alissya udah dan pergi dari kota ini namun apakah benar untuk mengatakan ini pada Raka?
"Sebenarnya, soal Alissya, aku dengar dari suamiku jika Alissya ingin dipindah kerjakan ke Luar Kota, aku tidak tahu apakah ini ada hubungannya dengan orang tuamu atau tidak atau ini murni keinginan dia,"
Raka tentu saja merasa sangat sok setelah mendengar kabar ini.
Bagaimana ini?
Apakah Alissya benar-benar ingin pergi keluar kota karena ingin menghindari dirinya?
Atau jangan bilang dia pergi karena mendapatkan ancaman dari orang tuanya?
"Namun sekarangg di mana dia?"
"Dia masih berada di kota ini belum pindah dan masih mengurus soal surat-surat kepindahan nya,"
"Kak Emelin, aku mohon kalau bisa Kakak bujuk dia, agar tidak pergi setidaknya, aku ingin bertemu dengannya, aku ingin mengatakan sesuatu padanya, namun saat ini aku tidak bisa karena orang tuaku mengurung kuhadapi, aku berjanji aku entah bagaimana akan bisa lolos dan bisa bertemu dengannya, jadi aku mohon, cegah Alissya pergi entah bagaimana caranya."
"Baiklah, aku akan mencoba membantumu sebisaku,"
Setelah diskusi singkat itu akhirnya Antony selesai melakukan pemeriksaan.
Begitu Antony keluar dari sana, jelas Emelin langsung menghampirinya dan berpamitan dengan Raka.
Emelin melihat sekarang Antony sudah sadar.
"Jangan cemas, ini hanya luka ringan, tidak perlu menagis segala,"
Emelin mengegam tangan Antony, merasa cukup lega.
"Aku... Aku benar tidak mengira jika ada kejadian seperti ini,"
"Aku juga tidak tahu kenapa seperti ini, harusnya tiang penyangganya cukup kuat,"
Antony jujur merasa heran kenapa bisa tiang penyangga itu tiba-tiba bisa oleg dan membuat pohon mangga jatuh.
Ini terlihat aneh.
Namun sebaiknya dirinya tidak perlu memikirkannya sekarang, karang fokus untuk menenangkan Istrinya yang cemas ini dulu.
####
Di tempat lainnya, Di Ruang Kerja Charlise Anderson, dia sedang bertelepon dengan Istrinya.
"Apa tadi yang barusan kamu bilang? Apakah aku tidak salah?"
'Aku dah mengatur rencana untuk menyelakan keponakaamu Antony itu, semua berjalan dengan lancar,'
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu berdua seperti itu?"
'Charlise, kenapa kamu seperti ini? Apakah sekarang kamu mulai membela nya hah? Aku melakukan ini hanya untuk membalas orang sialan itu!! Tidakkah kamu tahu, gara-gara dia yang mencoba mendekatkan Alissya dengan Putra kita Raka ini, sekarang Raka harus masuk Rumah Sakit, dan lagi sekarang, dia berani membantah ku sampai kabur dari rumah sakit sebelumnya hanya demi mengejar wanita sialan itu!!'
"Tapi aku rasa perbuatanmu ini cukup berlebihan, bagaimana jika dia sampai...."
'Bukankah itu malah bagus? Musuh kita akhirnya berkurang satu,'
Charlise di ujung telepon itu, sedikit gemetar setelah mendengar kata-kata dingin dari Istrinya.
Sejujurnya dirinya masih dihantui rasa bersalah atas perbuatannya pada Kakaknya Thomas dulu, dan masih merasa takut ketika mengingat Ibunya yang tahu kejadian itu, dan hal-hal menjadi berantakan sejak itu.
Walaupun rasa benci nya pada Kakaknya tidak berkurang...
Namun tetap saja...
Tidaknya dirinya tidak ingin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya...
Hanya saja...
Kenapa sekarang Istrinya gulai membuat rencana-rencana di luar yang dirinya ketahui?
Hah
Bagaimana ini sekarang kalau sampai ketahuan oleh Ayahnya?
Bahkan masalah sebelumnya, dirinya juga tidak tahu kenapa Kakaknya sampai detik ini dulu membocorkan hal-hal itu kepada Ayah mereka.
Memikirkan ini benar-benar membuat dirinya merasa rumit.
"Pokoknya, aku memintamu untuk tidak melakukan apa-apa dulu atau hal-hal gegabah lainnya,"
'Kenapa kamu semakin kesini menjadi semakin lebek?'
"Veronica, dengarkan aku sebagai suamimu!"
'Kamu yang harus mendengarkan aku sebagai Istrimu!'
"Veronica, aku mohon jangan seperti ini!!"
'Kamu yang jangan seperti ini! Aku benar-benar muak denganmu, Cherlise, jika saja kamu lebih kompeten,'
"Apa sekarang maksudmu?"
Namun bukannya dijawab telepon itu malah dimatikan.
Hal ini benar-benar membuat Charlise menjadi marah.
Hanya sekarang menjadi rumit dan cukup frustasi.
Bagaimana ini...
Dirinya tidak akan pernah mengira jika hal-hal sudah sampai sejauh ini....
Memikirkannya benar-benar membuat sangat pusing.