
Raka yang mendengar kaki wanita itu tiba-tiba terkilir, merasa ini aneh.
Tatapannya berubah dingin ketika melihat wajah wanita itu.
Ini....
Ini adalah kecantikan yang sepertinya merupakan selingkuhan sepupunya.
Dan Trik murahan ini...
Ya, dirinya sudah hidup cukup lama dan berpengalaman dengan begitu banyak wanita di luar sana.
Dan tentu saja dengan segudang pengalaman pahit miliknya tentang wanita, dirinya bisa merasakan beberapa niat terselubung ketika wanita ini menabraknya.
Dengan wajah cantik itu, Pria biasa yang tidak pernah melihat Kecantikan dan mantan orang miskin seperti sepupunya mungkin akan tertipu dengan wajah polos cantiknya.
Sungguh, wanita jaman sekarang...
Incarannya benar-benar uang.
Mereka bahkan tidak segan-segan, tiba-tiba ekpersi jijik muncul di wajah Raka.
Dia lalu berpura-pura ramah,
"Ah? Maafkan aku, nanti Asistenku akan mengantarmu ke Ruang Kesehatan,"
Disana, Asisten Raka, sudah siap sedia, lalu menerima instruksi Raka, segera mengambil wanita itu dari rangkulan Raka, dan membaginya berdiri.
Ekspresi Isabella menjadi gelap.
Dia hanya menatap canggung dimana, dimana Raka langsung pergi dari sana.
Sialan, rupanya Tuan Muda ini cukup tangguh.
Dengan terpaksa, dia lalu mengikuti Asisten itu untuk ke Ruang Kesehatan.
####
Disisi lainnya, Emelin masih mengamati bagaimana Putranya memulai syuting Iklan bagian terakhir.
Setelah ini semua akan segera selesai.
Awalnya artis kecil itu membuat masalah dengan Putranya, namun itu hanya pertengkaran anak kecil dan Putranya tidak terlalu memikirkannya.
Namun, artis kecil itu selalu berkata-kata buruk soal bagaimana Alex itu buruk.
Dengan sikap nakal dan menyebalkan itu, Emelin berpikir kalau akting anak itu akan buruk, dia tidak megira, walaupun diluar kamera dia menjelek-jelekkan Alex, didepan Kamera dia benar-benar bisa berakting sebagai adik kecil yang baik.
"Susu yang sangat enak dan bernutrisi," kata Artis kecil itu dengan senyuman lebarnya.
Hmm, sungguh akting yang bagus, ketika Emelin menatapnya, ini adalah bakal bawaan yang langka.
"Cocok di minum setiap hari bersama Keluarga," itu adalah dialog Alex dimana dia merangkul Artis kecil itu dengan lembut, dan tersenyum kearah kamera.
Ah....
Putranya juga memiliki kinerja yang cukup baik, benar-benar sesuatu.
Alex sepertinya memiliki bener bakat didepan Kamera!!
Sungguh dia sangat Luar Biasa!!
Saat mengikuti Reality Show tempo hari juga, Alex terlihat luar biasa sekali.
Ditempat yang Emelin tidak lihat, ada seorang Pria dengan sebuah Masker menatap pemandangan itu.
'Rupanya, Alex melakukannya dengan baik, dia sangat menikmati ini,'
Antony diam-diam menatap kearah mereka dari sudut ruangan, melihat kalau syuting telah selesai, dan Alex terlihat tersenyum senang.
Sepertinya merasa cukup puas dengan kinerja miliknya, namun tiba-tiba ada suara menghina yang diarahkan padanya, mendengar nada menghina itu, tentu saja Antony tidak suka.
"Dengan kemampuan pas-pasan seperti itu kamu jangan sombong," kata Artis kecil itu dengan nada angkuh.
Berakting dengan anak itu sela satu jam lebih ini, Alex merasa sedikit memahami tempramen miliknya.
"Ya, aku mungkin harus banyak berlatih darimu, kamu berakting sangat bagus,"
Mendengar pujian yang terang-terangan itu, telinga anak itu memerah, malu, lalu mulai berkata dengan sombong.
"Tentu saja, aku yang paling hebat,"
"Benar-benar, kamu yang paling hebat, sangat hebat," puji Alex.
"Hmph, rupanya kamu cukup tahu diri tentang tempat mu, ini aku memberimu kartu namaku jika kamu ingin berlatih dari aku yang hebat ini kamu bisa meneleponku," katanya lalu menyerahkannya lalu berjalan pergi menuju Managernya.
Melihat putranya sepertinya bisa mengatasi hal-hal seperti itu dengan baik, Antony merasa cukup senang.
Itu benar, tidak ada lagi yang perlu dirinya lihat disana.
Sebaiknya dirinya segera pergi dari sana sebelum Emelin melihatnya atau orang lain mungkin menyadari siapa dirinya, dan ini akan sangat merepotkan.
Antony yang diam-diam menonton itu lalu segera pergi dari ruangan itu tanpa semua orang sadari.
Disana, lalu Ibu Artis kecil itu datang kearah Alex dan Emelin, mulai mengobrol dengan mereka.
"Maafkan, Putraku. Dia memang seperti itu, agak kasar namun sebenarnya dia hanya cukup pemalu, cukup pemalu untuk mencoba berteman dengan seseorang, dia memberikan kartu namanya itu mungkin dia ingin berteman dengan Alex," katanya dengan sopan.
"Ahaha... Aku mengerti, tentu saja namanya juga anak-anak, tidak masalah sama sekali, bukankah begitu, Alex?"
"Hmm, tidak masalah."
Memang, Alex tidak mempermasalahkannya, lagipula dirinya memang tidak begitu suka membuat masalah, dan lagi Artis kecil itu memang benar hanya pemalu, dengan beberapa pujian dia benar-benar merasa senang, benar-benar anak yang lucu.
"Lain kali mari jika sempat kita bisa saling ngobrol-ngobrol dan memu mereka bermain bersama," tawar ibu anak itu.
Mendengar tanggapan Ibu itu, membuat Emelin senang.
Itu benar, selama ini dirinya tidak memiliki teman sesama Ibu-Ibu yang memiliki anak, orang-orang di sekolah Alex sangat menyebalkan, membuat Emelin tidak nyaman, namun sepertinya wanita didepannya ini cukup baik untuk dijadikan teman, dan Putranya juga akan baik jika berteman dengan Alex, Alex selama ini tidak pergi bermain dengan temannya, ini akan baik juga jika dia memiliki seorang teman.
"Tentu saja, aku akan sangat senang jika bisa."
"Ya ya, kami juga tidak cukup sibuk, aku juga sangat senang kita bisa saling kenal,"
"Itu benar, Putraku juga akan lebih baik jika dia punya teman seumuran dengannya,"
"Putraku juga."
Mereka lalu bercakap-cakap sebentar, sambil menunggu kru selesai berkemas-kemas.
Disini, juga Emelin yang membawa camilan membagikan makanan buatannya pada Ibu dan anak itu.
Dirinya merasa kalau hal-hal disini berjalan cukup baik.
####
Disisi lainnya, Raka yang baru saja tiba dikantor itu, tentu saja segera menuju tempat Emelin, dia sempat tertunda dulu mengurus wanita yang di tabraknya barusan, karena sepertinya dia membuat beberapa masalah dengan Asistennya.
Sungguh melelahkan berurusan dengan seorang wanita.
Saat ini Raka sedang menaiki lift untuk pegawai, karena itu yang paling dekat dengan ruang kesehatan, jadi menghemat waktu dari pada harus pergi ke ujung lantai untuk memasuki lift direktur.
Ketika Raka membuka lift, dia melihat seorang Pria memakai masker didalamnya.
Tatapan mereka bertemu.
Walaupun tertutup masker, tentu saja Raka mengenali wajah itu.
Bukankan itu Antony?
"Kamu! Kenapa kamu disini?" Tanya Raka dengan heran, apalagi melihat penampilan Antony yang terlihat mengenakan kemeja biasa, tidak terihat seperti seorang Bos besar Perusahaan.
"Memiliki beberapa urusan,"
"Hah, apakah kamu sedang menikmati nostalgia ketika kamu menjadi miskin? Lihat gaya pakaianmu, astaga,"
"Itu bukan urusanmu," kata Antony dengan dingin.
"Cih, dasar menyebalkan. Aku muak melihat wajahmu."
"Aku tidak menyuruhmu untuk melihatku."
"Kamu!!! Kamu menyebalkan!!!"
"Bukankah kamu masih memiliki beberapa dokumen yang harus kamu urus?"
Raka mengigat tumpukan dokumen dimejanya, dia sebenarnya terlalu malas memikirkannya, jadi hari ini sengaja memilih pekerjaan mengamati di Proyek, ini jauh lebih mudah dirinya bisa bersantai dan bermalas-malasan.
"Hmph, itu bukan urusanmu."
Disana, Antony lalu diam, membirakan Raka untuk masuk.
Raka juga terlihat tidak mau berbicara lebih lanjut padanya, dan langsung menekan tombol angka lantai 12.
Antony menatap angka lantai itu, itu mungkin sebuah kebetulan.
Saat ini mereka ada dilantai 14, dirinya awalnya berniat naik langsung ke Ruangannya, tapi malah bertemu Raka.
Jadi dia membiarkan lift turun dulu untuk menuju lantai 12.
Ting
Lift terbuka cukup cepat dilantai 12, lalu Raka keluar dengan tenang, mengabaikan keberadaan Antony.
Antony hanya bisa menatap penuh tanya ketika Raka keluar dari lift.
Kenapa orang itu ada di Departemen Periklanan?
Apakan ini masih ada hubungannya soal mengurusi Brand Ambasador itu?
Dia tempo hari sepertinya mendukung Claudia atau sesuatu, melihat dia tidak membuat terlalu banyak keributan didepannya, dirinya hanya bisa merasa heran dan bertanya-tanya.
####
Bersambung