
Emelin menatap Antony dengan gugup setelah ekpersi Antony menjadi buruk setelah menelepon orang rumah.
Kira-kira apa yang terjadi pada Alex?
Ini harusnya bukan hal buruk bukan?
Jelas mereka barusan sedang asik berbicara dengan santai.
Emelin merasa sedikit cemas memikirkan soal Alex.
Apakah dirinya salah meninggalkan Alex sendiri di Rumah?
Bagaimana ini?
Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu pada Alex?
Dirinya ingat, terakhir kali meninggalkan Alex di Rumah, dia sempat jatuh dari tangga sampai patah Tulang, dan baru belakangan ini Putranya itu sembuh.
Tidak, tidak.
Dirinya tidak boleh langsung berpikir negatif, Alex pasti baik-baik saja.
Emelin dengan cemas menunggu Antony selesai menelepon.
Namun sepertinya ekpersi Antony sudah terlihat lega?
Sepertinya memang tidak ada yang di cemaskan?
Namun tetap saja dirinya cukup penasaran dengan apa yang terjadi di Rumah.
Setelah akhirnya Antony menutup telepon itu, akhirnya Emelin segera bertanya dengan penasaran,
"Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi di Rumah dan Alex?"
Antony hanya bisa menghela nafas panjang, dirinya binggung ingin memulai dari mana.
"Ini, apakah kamu ingat dengan Paman dan Bibiku yang pernah datang ke Rumah tempo hari?"
Emelin terdiam, lalu berpikir sebentar.
Dirinya ingat, dulu beberapa Bulan lalu, dirinya melihat Antony berdebat dan di marahi oleh sepasang Suami Istri yang sepertinya Paman dan Bibi Antony.
Kalau tidak salah saat itu mereka sempat berkata-kata kasar, dan penuh emosi hanya untuk meminta uang, bahkan menghina-hina Antony.
Mengigat mereka berdua, ekpersi Emelin menjadi buruk.
"Mereka? Yang memarahimu untuk meminta uang itu? Paman dan Bibimu yang tidak tahu diri itu?"
"Ya, itu benar. Itu mereka."
"Kenapa dengan mereka?"
"Mereka datang ke Rumah dan membuat keributan. Sepertinya Paman dan Bibiku berhasil menerobos masuk, dan membuat masalah pada Alex hingga Alex menagis,"
Mendengar hal itu, tentu saja Emelin menjadi marah.
"Apa?? Siapa mereka berani melakukan hal-hal seperti itu hingga membuat Alex sedih?"
"Ya, begitulah mereka memang tidak pernah masuk akal. Aku tidak tahu bagaimana aku harus berurusan dengan dua orang itu. Sudah cukup lama mereka tidak berani datang sejak kejadian sebelumnya, namun mungkin karena hal-hal di Internet soal aku Cucu Keluarga Anderson, mereka kembali berani datang untuk mendapatkan uang,"
"Mereka itu benar-benar menyebalkan. Lalu bagaimana dengan Alex? Apa yang mereka lakukan padanya?"
"Sepertinya Ayahku ada disana,"
"Paman Thomas? Dia disana?"
"Ya, jadi Alex baik-baik saja sekarang. Tidak ada yang perlu dicemaskan, sepertinya Ayahku berhasil membuat dua orang itu pergi. Sekarang Alex sudah tidak apa-apa,"
Akhirnya Emelin bisa menghela nafas lega.
"Syukurlah ada Paman Thomas. Sungguh, jika hanya ada Alex sendiri disana, bagaimana dia bisa menghadapi orang-orang licik itu? Aku sudah dengar juga katamu mereka selalu bersikap buruk sejak kecil padamu,"
"Itu benar. Sejak aku memasuki Rumah mereka dengan ajakan Kakek, mereka berdua memang tidak pernah menyukaiku. Awalnya aku cukup paham, karena hidup mereka cukup sulit, dan keuangan mereka buruk, harus menambah beban satu orang anak lagi, cukup susah. Jadi aku mencoba untuk tetap bersikap ramah pada mereka pada awalnya, dan menerima perlakuan buruk mereka. Lagipula awalnya aku kira mereka yang membiayai hidupku, namun akhirnya aku tahu, jika sebenarnya Almarhum Ibuku meninggalkan tabungan dan asuransi yang cukup banyak, Kakekku hanya orang tua yang tidak begitu mengerti hal-hal seperti itu, jadi Paman dan Bibiku yang mengurus hal-hal itu, mereka mengambilnya untuk keuntungan mereka sendiri. Mereka bahkan masih mengambil uang yang aku hasilnya dari pekerjaan sampingan yang aku lakukan ketika masih cukup muda, dengan dalih biaya hidup,"
Emelin cukup syok mendengar hal-hal itu, tidak pernah mengira akan ada orang-orang sampai begitu jahat seperti mereka.
Sungguh kurang ajar!!!
"Mereka sungguh tidak punya hati,"
"Memang, hidup itu selalu aneh. Ketika seseorang begitu memiliki banyak uang beberapa dari mereka bertambah serakah dan berubah menjadi Iblis. Dan ketika seseorang tidak punya uang, mereka juga kadang ada yang menghalalkan cara untuk mendapatkan uang dan menjadi tidak punya hati,"
Emelin menghela nafas terlihat merasa ironis dengan kata-kata yang dirinya denger itu, lalu berkata,
"Memang, itu gambaran orang yang kurang bersyukur. Aku juga penasaran, kenapa Ayahku bisa juga sampai sejauh itu, padahal jika dia tidak keras kepala dan serakah, dia pasti akan berbahagia dengan Mamaku, dan akan tetap kaya seperti yang dia mau. Sungguh, aku tidak mengerti kenapa dia bahkan berani Selingkuh, padahal jelas dia dicintai oleh wanita secantik Mamaku,"
"Pikiran orang benar-benar tidak bisa ditebak,"
"Tapi sungguh, walaupun kamu di perlakukan seperti itu oleh Paman dan Bibimu, kamu benar-benar masih kuat dan menahannya selama ini pasti itu cukup berat,"
"Ya, aku sudah bilang sebelumnya bukan? Ini karena aku menghormati Kakekku, aku tidak ingin dia bersedih,"
"Bahkan dengan semua yang kamu alami? Dan bahkan belakangan kamu juga baru tau jika kamu adalah Cucu dari Keluarga Anderson, apakah kamu pernah merasa hidup tidak adil? Tapi kamu harus mendapatkan perlakuan seperti itu,"
Antony terdiam sejenak, lalu menjawab,
"Hmm, aku juga penasaran? Tapi aku merasa semua baik-baik saja, lagipula setelah semua hal buruk yang aku alami dulu, pada akhirnya entah bagaimana ini membawaku untuk bertamu denganmu, dan sekarang aku sangat senang bisa memilikimu, aku rasa hidup itu cukup adil. Hal-hal buruk seperti dimasalalu bukan masalah besar aku bisa melaluinya, karena pada akhirnya itu bisa membuatku begitu bahagia dengan memilikimu," kata Antony sambil membelai pipi Emelin.
Emelin memerah mendengar kata-kata Antony itu.
"Kamu... Kamu masih bisa gombal disaat seperti ini?"
"Tapi aku juga cukup serius, jika aku dari awal Kaya, bukankah kamu tidak akan pernah berpikir untuk menawarkan Pernikahan Kontrak itu?"
Emelin lalu sedikit tertawa,
"Itu mungkin benar. Lagipula jika kamu kaya dari awal, sudah berapa banyak gadis yang akan mengantri untuk jadi Istrimu? Aku mungkin tidak akan menang dari mereka,"
"Pfffff... Aku ini memiliki selera yang cukup unik, mungkin hanya kamu yang bisa mengambil hatiku,"
"Hah, berhenti bertingkah konyol,"
Mereka lalu saling tertawa sebentar, lalu kembali lajut mengobrol lagi.
"Yups, jadi mari kita menikmati Honey Moon kita dengan tenang, Alex yang jelas aman di Rumah,"
"Kamu benar. Sepertinya Ayahmu orang yang cukup baik. Jadi kenapa kamu membencinya?"
"Aku tidak pernah membencinya, namun bukan berati aku menyukainya,"
"Sungguh jawaban yang aneh. Jadi kenapa seperti itu? Apakah itu soal Ayahmu yang menelantarkanmu dan Mamamu?"
Antony terdiam sejenak,
"Dulu ketika aku masih muda, aku memang memiliki pemikiran seperti itu, begitu membenci Ayahku karena mencampakkan kami. Tapi sekarang masa-masa itu sudah berlalu, lebih baik memikirkan hal-hal lainnya dari pada terus memiliki kebencian, hidup tidak akan tenaga jika terus membenci seseorang,"
"Kamu benar juga. Ya, kita harus menikmati honey moon ini,"
Antony tersemyum setelah mendengar perkataan Emelin barusan.
Ya, soal tujuan Paman dan Bibinya, nanti akan dirinya coba tanyakan.
Bagaimana berurusan dengan orang-orang itu?
Sekarang mau apa lagi mereka datang?
Apakah mereka akan mencoba memerasnya lagi?
Mari lihat apa yang mereka mau.
Jika mereka sampai berani menyentuh Keluarganya, lihat apa yang akan dirinya lakukan pada mereka.
Tapi memikirkannya lagi, Antony jadi ingat dengan adik Sepupunya yang lebih muda, berbeda dengan Kakak Sepupunya yang menyebalkan, adik sepupunya yang perempuan cukup masuk akal.
Sungguh kasihan, dia sampai memiliki orang tua seperti itu, hah.
Semoga dia baik-baik saja sekarang.