Suami Bayaranku Yang Dingin

Suami Bayaranku Yang Dingin
Episode 24: Mengigat Kenangan


Siang itu setelah Emelin dan keluarga kecilnya meletakan barang-barang di hotel, mereka langsung kebawah untuk makan siang, kebetulan Alex juga sangat lapar.


Di lantai bawah hotel, ada restoran yang sudah disiapkan hidangan prasmanan untuk para Tamu Khusus Hotel.


"Kamu mau ambil apa, Alex?"


"Udang,"


"Tentu-tentu. Kamu sangat menyukainya? Mari ambil yang banyak,"


Disini, Emelin lalu asik memilih makanan bersama dengan Alex, meninggalkan Antony sendirian untuk mengikuti mereka dari belakang.


Disini, Emelin juga memperhatikan bagaimana Antony mengikuti dari belakang dan mengambil beberapa menu disana.


Karena ini Restoran Hotel dekat pantai, disini tentu hidangan utamanya adalah aneka makanan laut.


Emelin menatap sedikit binggung kearah menu, binggung mau memilih apalagi setelah mengabilkan Alex makanan.


Lalu dirinya melihat ada kepting disalah satu menu.


"Alex apakah kamu suka Kepiting? Itu terlihat enak,"


"Mau Mama. Alex sangat suka makan aneka seafood."


Alex terlihat bersemangat, dan Emelin mengikuti putranya dengan patuh, mereka juga sempat memilih makanan penutup mana yang cocok.


"Wah, disini juga ada aneka macam minuman,"


Ibu dan anak itu terlihat sangat akrab dan kompak, melihat bagaimana Emelin benar-benar bersikap lebih baik dari pada dulu, membuat Antony yang melihatnya juga ikut merasa senang.


Sikap Emelin belakangan memang jauh lebih baik, dan ini membuat Antony cukup puas.


Melihat dua orang itu bahagia seperti itu membuat dirinya puas.


Dua orang yang berharga untuknya...


Diam-diam melihat dua orang itu, Antony sedikit tersenyum.


Tunggu....


Apa yang barusan dirinya pikirkan?


Dua orang yang berharga dalam hidupnya?


Apakah dirinya sekarang sudah memasukan Emelin dalam daftar ini?


Dalam hidupnya, setelah Kakeknya meninggal, tidak ada lagi seseorang yang dirinya anggap berharga lagi, kecuali Putranya...


Sekarang...


Ada tambahan satu lagi dalam hidupnya yang sepi ini....


Memikirkan pemikiran anehnya ini tiba-tiba membuat dirinya juga merasa rumit.


"Antony, kamu tidak mengambil minuman? Itu sepertinya ada kopi juga," kata Emelin yang membuyarkan lamunan Antony.


"Ya." Jawabnya singkat, lalu mengabil satu gelas kopi dingin ditempat yang Emelin tunjuk.


Mereka lalu memilih meja, dan menikmati makan siang itu dengan tenang, disini tentu saja Alex menjadi begitu manja dan minta di suapi oleh Mamanya.


"Alex kamu begitu lucu, Ah...." Kata Emelin sambil mengambilkan udang untuk Alex.


Anak itu hanya memakan makanannya dengan lahap.


Setelah makan siang ini, mereka lalu binggung mau kemana lagi, kalau kembali ke hotel jelas itu pasti membosankan bukan?


"Kalau ke Pantai Siang-siang seperti ini pasti panas sekali bukan?"


"Itu benar, Alex tidak begitu menyukai panas juga,"


"Aku rasa didekat sini juga ada arena perbukitan yang cukup bagus," kata Antony sambil melihat kearah peta di ponselnya.


"Pernah kesini sebelumnya?"


"Belum,"


"Jadi dari mana kamu tahu?"


"Melihat ke Rekomenasi di Ponsel,"


Disini, Antony menunjukan ponselnya kearah Emelin, seolah Emelin mendapatkan pencerahan dia terlihat mengaguk puas.


Jarak antara mereka cukup dekat, disini Antony bisa menghirup aroma yang lembut dari Emelin.


Aroma yang cukup familiar namun tidak terlalu familiar.


Emelin terlihat tidak begitu suka menganti parfum atau sampo nya untuk beberapa tahun dia masih menyukai beberapa aroma yang cukup mirip, ini masih aroma yang sama seperti beberapa tahun lalu.


Terasa nyaman dan tenang, itulah bagaimana dirinya menggambarkan aroma ini, ini juga yang membuat dirinya beberapa tahun lalu cukup menikmati masa-masa mendebarkan mereka ditempat tidur.


"Baik, mari kesana,"


Kata-kata Emelin membuyarkan lamunan Antony sekali lagi.


Disini, Emelin sepintas juga merasakan tatapan Antony padanya, entah kenapa membuat dirinya menjadi gugup.


Ditatap olehnya seperti itu....


Kira-kira apa yang Antony pikirkan soal dirinya?


Emelin merasa sangat ingin tahu, namun tidak berani bertanya.


####


Keluarga kecil itu lalu memutuskan untuk berjalan-jalan ke bukit setelah menyiapkan beberapa hal dan membawa beberapa hal.


"Kamu sudah siap? Alex?"


"Ya!! Mari pergi!!" kata Alex yang begitu bersemangat itu langsung keluar dari Hotel.


Mereka lalu mulai menaiki taksi, dan menuju arena perbukitan dekat sana.


"Hmm, udara disini sangat segar." Kata Emelin sambil menikmati menghirup udara di tepi perbukitan.


Jarak menuju puncak tidak terlalu jauh.


Disini ada tangga yang sudah disiapkan.


Perjalanan yang cukup nyaman.


Emelin melihat pemandangan indah disekitarnya merasa hatinya cukup tenang.


Bukit penuh dengan pohon-pohon hijau dan rindang.


Bersama dengan langit biru yang indah.


Karena pohon cukup rimbun, arena mereka berjalan tidak terasa panas.


"Apakah Alex merasa lelah?" Tanya Emelin pada Putranya itu.


"Tidak lelah sama sekali," kata Alex masih begitu bersemangat untuk berjalan, dia bahkan masih berlari dengan riang.


"Hati-hati, Alex jangan sampai jatuh,"


"Aku akan hati-hati, Mama."


Disini, sesekali Emelin akan menatap kearah belakang, kearah Antony, yang dari tadi tetap memiliki ekpersi datar di wajahnya.


Emelin penasaran bagaimana perasaan orang itu?


Apakah dia juga menikmati liburan ini?


Atau dia malah merasa ini tidak nyaman?


Wajahnya benar-benar tanpa ekpersi, membuat Emelin tidak bisa menebak apa yang orang itu pikirkan, masih begitu misterus sama seperti saat pertama kali mereka bertemu.


Hanya saja, sekarang wajah Antony terlihat sedikit lebih dewasa.


Pertama kali mereka bertemu, Antony hanyalah Mahasiswa semester awal, masih begitu muda masih memiki ekpersi muda yang terlihat polos dan lugu, sama seperti dirinya saat itu.


Mereka hanya berbeda satu tahun lebih sedikit.


Ternyata waktu benar-benar cepat berlalu....


Emelin mulai memikirkannya, kalau mengigat tanggal, sebentar lagi bukankah ulang tahun pernikahan mereka?


Tidak....


Itu sudah lewat.


Ulang tahun pernikahan mereka yang ke tujuh.


Mereka memang tidak terlalu memikirkannya.


Namun tahun-tahun sebelumnya, ketika Kakek Emelin masih hidup, dirinya merayakan hari pernikahan mereka agar mereka terlihat cukup mesra di depan Kakeknya.


Namun sepertinya hari seperti itu juga tidak terlalu begitu penting untuk Antony.


Memikirkan ini membuat Emelin sedikit merasa sepi.


Tujuan Tahun Pernikahan berlalu dalam sekejap mata.


####


Bersambung