
Siang itu, terlihat Emelin dan Antony tengah menikmati makan siangnya disalah satu Restoran tepi pantai, yang menyajikan pemandangan langsung kearah pantai.
Pantai terlihat begitu biru dan indah sama dengan warna langit, juga again sejuk pantai yang menerpa membuat suasana siang itu menjadi tidak terlalu panas, namun malah terlihat menyegarkan.
Suasana di Pulau ini sangat damai dan indah, Emelin dan Antony benar-benar merasa senang beberapa hari ini di pulau itu.
"Antony, kamu jangan manja minta di suapi seperti itu," kata Emelin mulai memakan makanan didepannya itu.
"Memangnya kenapa, hmm? Aku kan ingin dimajakan oleh Istriku," kata Antony sambil menyentuh pipi Emelin.
"Aku merasa belakangan tingkahmu benar-benar seperti pengantin baru saja," kata Emelin sambil menyingkirkan tangan Antony di wajahnya itu.
"Memangnya kenapa? Kita kan memang pengantin baru. Kita bahkan melakukan hal-hal yang para pengantin baru lakukan, hmm membuat bayi," kata Antony dengan nada begitu meyakinkan.
"Dasar, kamu ini sungguh tidak tahu malu," kata Emelin merasa malu dengan ucapan Antony, lalu menatap sekeliling, untungnya jarak antara mereka dan orang lain cukup jauh, jadi tidak ada uang dengar hal-hal memalukan yang Antony katakan.
"Ambilkan udangnya," kata Antony lagi memerintahkan, sambil tangannya menepuk paha Emelin.
Emelin yang gemas itu lalu mencubit hidung Antony.
"Awww.... Sakit, kenapa kamu begitu tega sayang?"
"Kami itu nakal ya sekarang. Dan lagi kamu benar-benar kamu bertingkah seperti Alex yang menjadi begitu manja, minta di suapi segala,"
Antony sedikit tertawa, lalu berkata,
"Ya, mau bagaimana lagi? Ketika di Rumah, kamu sangat menempel dan memanjakan Alex hingga tidak ada ruang untukku, aku seperti tokoh ektra saja," kata Antony menunjukan ekpersi cemburutnya.
"Kamu ini, cemburu pada Putramu sendiri? Dasar tidak tahu malu,"
Namun walaupun Emelin mengatakan itu, dia tetap dengan setia menyuapi Antony.
Kali ini Sup seafood yang sangat enak.
Mereka benar-benar terlihat begitu romantis menikmati Dunia hanya milik berdua.
"Ah, ya aku baru ingat, bagaimana kabar Alex? Kita belum meneleponnya lagi sejak kemarin,"
Antony lalu melihat kearah jam tangannya,
"Seharusnya, Alex sudah pulang dari sekolah? Mau melakukan Video Call dengannya? Sepertinya hari ini dia juga tidak ada kegiatan les tambahan,"
"Tentu saja," kata Emelin dengan senang, lalu dia segera mengambil ponselnya.
Tidak lama sampai telepon di buka.
Terlihat Alex tersenyum ceria kearah kamera, begitu senang menerima telepon dari Mamanya itu.
'Ah, Mama akhirnya menelpon, Alex kangen dengan Mama,' kata Alex dengan ekpersi manja.
"Pfffff... Tentu saja, Mama juga sangat kangen dengan Alex,"
'Makanya Mama cepat pulang, tinggal saja Papa disana,'
Antony yang mendengar perkataan Putranya itu lalu menampakan diri dikamera.
"Apakah kamu sekarang bahkan tidak rindu pada Papamu ini hmm? Kamu sekarang hanya peduli pada Mamamu," Kata Antony dengan ekpersi pura-pura cemberut.
'Hpmh, habis Papa membawa Mama Alex pergi jauh, mana begitu lama pula,'
"Astaga, ini baru dua hari, kamu sudah begitu mengomel? Apakah kamu tidak nyaman berada di Rumah Kakek Buyutmu?" Tanya Antony lagi.
Emelin sedikit tertawa melihat tingkah laku ayah dan anak itu ditelepon, lalu ikut berbicara juga,
"Benar, bagaimana kamu di Rumah Kakek Buyutmu? Apakah betah?"
Alex diujung telepon lalu menjawab dengan ekpersi senang,
'Tentu saja betah, Kakek Buyut sangat baik pada Alex, dan lagi, ada Kakek Thomas juga yang suka mengantar jemput Alex ke Sekolah. Sekarang bahkan Kakek Thomas mengajak Alex ke Kantor!! Kantor ini sangat bagus dan luas, Alex sangat suka,'
Alex lalu memperlihatkan isi ruangan itu dengan kamera.
Saat ini, Alex berada di Ruang Kerja Thomas Anderson.
Kakeknya itu sendiri telihat sedang fokus dengan pekerjanya di meja.
Alex sendiri sedang menikmati camilan makan siang di sofa itu, sampai teleponnya tiba-tiba berbunyi.
Emelin dan Antony menatap kamera dengan kaget.
"Kamu bersama Kakekmu?" Tanya Emelin memastikan.
Namun bukannya Alex menjawab, terlihat Alex malah berlari menuju meja kerja Kakeknya itu, mengarahkan kamera pada Kakeknya, berkata dengan lugu,
"Kakek, Kakek... Lihat, Mama dan Papa menelepon, mereka ingin tahu apakah aku benar-benar bersama, Kakek, ayo katakan pada mereka kalau Alex menjadi anak baik disini,"
Thomas yang awalnya fokus pada pekerjaan itu, lalu langsung menatap Alex yang terlihat bersemangat itu.
"Tentu saja, sini, kepangkuan Kakek,"
Alex dengan senang hati langsung naik ke pangkuan Kakeknya itu, lalu mereka berdua kembali mengarahkan kamera pada wajah mereka menyapa Emelin dan Antony di ujung telepon.
"Tentu saja!! Alex memang anak yang baik!" Kata Alex dengan ceria.
Emelin sendiri menyapa Ayah Antony itu dengan ramah.
'Ah, Maaf Paman Thomas, jika Putraku sedikit mengagumu,'
"Ya, ampun, tidak sama sekali. Ini juga cucuku, aku sangat senang juga bisa bersama-sama dengan Alex, dia benar-benar anak yang manis dan baik, aku benar-benar menyukainya," kata Thomas sambil tersenyum dan mengelus rambut Alex.
Melihat dirinya dipuji itu, Alex menunjukan ekpersi malu-malu, namun terlihat sangat senang.
'Ah, jadi begitu. Itu bagus jika Paman Thomas menyukai Alex, aku juga senang,' kata Emelin dengan senang dari ujung telepon.
"Ya, tidak masalah sama sekali, Kalina baik-baik saja disana, dan nikmati waktu kalian,"
'Tentu saja, Paman,'
Kemudian, Emelin menyengol Antony, memberi kode agar Antony menyapa Ayahnya itu juga.
Melihat Ayahnya, ekpersi Antony menjadi begitu rumit.
Emelin yang melihat itu, langsung berbisik kearah Antony,
'Antony, kamu itu sapa, Ayahmu. Masa kamu begitu sih? Dia sudah sangat baik pada Putra kita,'
Dengan berat hati, akhirnya, Antony menatap kearah Ayahnya dari telepon, dan berkata,
"Ya, aku dan Emelin akan baik-baik disini, Ayah juga baik-baik disana, jaga kesehatan, jangan terlalu banyak lembur,"
Mendengar kata-kata hangat dari Putranya itu untuk pertama kalinya, membuat Thomas sedikit terteguh.
Rasanya begitu hangat ketika ada seseorang yang menghawatirkanmu.
"Ya, tentu saja, aku akan menjaga diri dengan baik,"
Lalu dia mengembalikan teleponnya pada Alex.
Alex terlibat turun dari pangkuannya, dan lanjut berbicara dengan orang tuanya itu dengan senang.
Melihat itu, Thomas lalu memikirkan sesuatu.
Hah...
Memiliki sebuah Keluarga seperti itu memang terdengar menyenangkan.
Dirinya dan Putranya memiliki hubungan yang cukup buruk.
Thomas sendiri cukup binggung bagaimana harus memperbaikinya.
Awalnya, dirinya hanya menemukan fakta keberadaan Antony karena ketidaksengajaan, dan memaksa Antony memasuki Rumah Keluarga Anderson karena paksaannya.
Awalnya memang dirinya hanya berpikir untuk memanfaatkan keberadaan Putranya ini, demi bisa mendapatkan warisan Keluarga Anderson.
Ya, sebenanya bukan karena dirinya terlalu berambisi, namun beberapa tahun lalu, dirinya baru tahu kalau Kecelakaan yang sampai membuat dirinya tidak bisa punya anak itu bukan hanya kecelakaan.
Namun, ulah segaja dari seseorang yang memang berniat mencelakakannya....
Dan pada akhirnya, walaupun dirinya lolos dari Kecelakaan maut itu, dirinya harus menaggung malu dan kehilangan beberapa harga dirinya sebagai seorang Pria, karena beberapa fungsi dalam tubuhnya rusak dan tidak bisa diperbaiki.
Hal itu jelas, mungkin akan memuat orang yang mencelakakannya itu sangat senang...
Karena dengan dirinya yang tidak akan bisa memiliki anak, beberapa orang mungkin yang mencelakakannya juga, akan memanfaatkan ini untuk mendapatkan Perusahaan Anderson.
Seolah dirinya membiarkan itu terjadi.
Itulah awalnya dari rencananya membawa kembali Antony...
Namun, dirinya benar-benar memaska dan melakukan hal-hal yang cukup egois pada Putranya itu sendiri.
Dan sekarang, hubuangan mereka begitu buruk.
Putranya satu-satunya yang keberadaanya selama ini tidak dirinya tahu...
Kenapa....
Kenapa dulu, Irena tidak pernah memberitahukan ini padanya?
Namun sudah terlambat jika memikirkannya sekarang.
Pada akhirnya ini mungkin salahnya juga, bahkan setelah bertemu dengan Putranya, dirinya masih menjadi seperti ini, Ayah yang tidak bertanggung jawab.
Apakah mungkin untuk memperbaiki hubungan antara dirinya dan Putranya ini?
Sekarang Antony, Putranya itu sudah hampir dua puluh delapan tahun.
Apakah sudah sangat terlambat?
Namun bagaimana cara memperbaiki hubungan ini?