
Siang itu, Antony baru saja kembali dari meeting diluar. Saat ini dia tengah berjalan kembali ke Ruangannya bersama dengan Sekertarisnya.
Sebentar lagi adalah saatnya jam makan siang, di ruangannya juga sudah ada bekal makan siang buatan Emelin, jadi dirinya tidak perlu repot-repot untuk mencari makan siang lagi.
Bekal Emelin memang terlibat biasa, namun itu cukup enak, dan Antony merasa menyukainya.
Diam-diam, tanda sadar Antony sepertinya menantikan untuk memakan bekal makan siang itu.
Memang, Antony sebelum-sebelumnya akan lebih sering untuk telat makan siang, biasanya baru jam 2 lebih dia baru makan siang.
Namun sejak dibuatkan bekal, dia makan tepat waktu saat jam istirahat yaitu sekitar jam dua belas siang.
Dengan perasaan dan mood yang cukup bagus, Antony kembali keruangannya dengan tenang.
Ketika dirinya masuk keruangan itu, tidak ada apa-apa.
Namun ketika dirinya sampai dimeja kerjanya, Antony melihat kalau ada sesuatu yang hilang.
Tas kotak bekal itu?
Kemana?
Antony hanya bisa bertanya-tanya, apakah ada yang masuk keruangannya?
Berkeliling, dia menemukan ada beberapa bekas nasi tertinggal didekat tong sampah.
Antony begitu kaget dan cemas itu, lalu membuka tong sampah itu, dan benar saja, disana bekal yang sudah tumpah dan tempat makan siangnya disana, di buang di Yong sampah.
Melihat bekal itu berakhir dengan begitu menyedihkan, itu membuat Antony begitu marah.
"Siapa yang berani masuk ke ruanganku!! Beraninya dia menyentuh sesuatu yang merupakan milikku dan melakukan Hal-hal seperti ini,"
Antony yang begitu marah itu kalau berniat bertanya pada Sekertarisnya didepan, karena ruangan ini kebetulan tidak ada kamera CCTV jadi dirinya tidak bisa mengecek, dirinya suka privasi jadi tidak suka di awasi dengan karena CCTV, jadi dirinya tidak memasangnya, dan tidak pernah mengira ada orang yang berani masuk keruangan ini.
Dengan wajah marah yang terlihat mengerikan itu, Antony lalu keluar ruangannya.
Dia sana dia lalu memanggil sekertaris yang menjaga ruangan itu ketika dirinya pergi.
"Hey, kamu kesini." Panggil Antony dengan nada marah.
Sekertaris laki-laki itu yang mendengar panggilan bosnya dengan tiba-tiba menjadi cemas.
Dia melihat sorot mata atasannya itu yang terlihat menjukan keseriusan dan kemarahan didalamnya.
Sekertaris itu menjadi gemetar ketakutan, lalu dia mulai menjawab dengan ragu,
"A... A.. Ada apa Pak Presdir?"
"Aku bertanya padamu, siapa yang memasuki Ruanganku ketika aku pergi?"
Sekertaris itu yang dibentak, merasa semakin takut.
"Sebenarnya sebelumnya Tuan Muda Raka masuk kesana dengan...."
Namun sebelum Sekertaris itu selesai bicara, kata-katanya sudah dipotong oleh Antony.
"Jadi Raka yang masuk kesana?"
Ada nada kebencian tertentu ketika Antony menyebut nama Raka.
Bocah itu, dia selalu mencari masalah dengannya dan sekarang dia berani masuk keruangannya.
Tidak perlu lagi bertanya, itu pasti perbuatan Raka.
Tangan Antony terkepal karena marah.
Semakin kesini, Raka semakin keterlaluan kalau terus dibiarkan.
"Hah, Raka itu... Jika dia ingin masuk ke Ruanganku jangan pernah ijinkan!!"
"Ta... Tapi kami tidak berani..." Kata Sekertaris itu dengan takut-takut.
Menyebabkan kemarahan Tuan Muda Raka juga merupakan suatu masalah, semua orang di Perusahaan tahu bagaimana Temperamen Tuan Muda itu ketika marah, masalahnya tidak akan kecil, jadi sebagai pegawai biasa, bagaimana dirinya bisa membuat marah Tuan Muda itu?
"Siapa atasamu memang? Aku atau Raka?"
"A... Anda Pak Presdir..."
"Jadi patuhilah Perintahku..."
"Tapi... Tuan Muda Raka anda tau dia seperti itu, saya tidak berani menyinggungnya,"
Antony menghela nafas panjang, ya dirinya juga tau seperti apa tempramen Tuan Muda itu.
Dia terlalu dimajakan sejak kecil dan hanya melakukan hal-hal yang dia suka, sehingga dia tumbuh seperti itu.
Dan jelas, dirinya tidak bisa mengenalkan pegawai biasa untuk berurusan dengan anak itu.
"B.. Baik Pak Presdir,"
Dengan itu, Antony berniat kembali keruangannya dengan kesal.
Namun sebelum dia kembali keruangannya, tiba-tiba ada sebuah panggilan.
Antony menoleh lalu melihat wajah yang familiar.
"Antony," kata Isabella sambil tersenyum.
Sebelumnya Isabella menunggu diruangan Antony, namun dia tiba-tiba dapat telepon dari Managernya, harus mengurus sesuatu soal masalah Brand Ambasador di Perusahaan Anderson, jadi Isabella keluar sebentar dan mengurus beberapa hal, karena dia sudah tahu ruangan Antony, tidak masalah jadi dia hanya langsung keluar saja.
Toh orang yang dicarinya belum juga kembali.
Dan pas saat urusannya selesai, Antony rupanya juga sudah kembali, sungguh sangat beruntung bukan?
"Isabella? Kenapa kami disini?" Tanya Antony dengan heran.
"Aku kebetulan habis mengurus beberapa hal di Perusahaan ini barusan, jadi aku sekalian mampir kesini,"
"Untuk?"
"Hanya sekedar menyapa, memangnya tidak boleh? Ada juga beberapa hal yang ingin aku bahas denganmu," Kata Isabella dengan nada cukup centil, sambil mendekat kearah Antony.
"Sebenarnya aku cukup sibuk,"
"Eh? Tapi sepertinya ini sudah jam makan siang?"
"Aku memiliki beberapa hal yang harus aku urus,"
Disini, Isabella sedikit kecewa, lalu kembali berkata,
"Ayolah, hanya sebentar saja,"
Antony melihat bagaimana sepertinya orang didepannya ini cukup ngotot, dan dirinya tahu kalau Isabella itu selalu menjadi seseorang yang cukup keras kepala, jadi mari dengar apa yang ingin dia katakan dan segera usir secepatnya.
Antony memang memiliki hal-hal yang harus dirinya urus.
Terutama soal masalah Raka.
Raka Sepupunya itu memang tukang bikin ribut dan suka mencari masalah disana sini dengannya, sangat menyebalkan.
Itu benar-benar mengigatkan Antony pada Sepupunya yang lain, yaitu Putra dari Paman dan Bibi nya yang merawatnya dulu.
Paman dan Bibinya yang merawatnya, memiliki dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan.
Putra laki-laki mereka adalah pemimpin dari orang-orang yang selalu membuli Antony sejak kecil.
Hah memikirkan hal-hal soal saudara jauh ini sangat melelahkan.
Memang, Raka selalu terlihat membencinya sejak dirinya memasuki Rumah Keluarga Andrson.
Jadi sebaiknya nanti akan dirinya apakan Raka ini agar dia tidak lagi membuat masalah?
Antony hanya bisa menghela nafas, sambil masuk keruangannya bersama Isabella dibelakang.
####
Disisi lainnya, saat ini disalah satu lobby hotel tertentu, Raka dan Asistennya sedang bersama-sama untuk pergi menemui salah satu klaien penting.
Tiba-tiba saja, Raka bersin-bersin,
"Tuan Muda apakah sakit?"
"Tidak-tidak, aku hanya tiba-tiba saja merasa ada seseorang yang baru saja mengutukku? Aku tiba-tiba merasa merinding,"
"Tuan Muda ada-ada saja, Tuan Muda kan memang memiliki banyak musuh, wajar jika satu atau dua orang mengutuk Tuan Muda,"
"Sialan kamu, bukannya membuat aku tenang, malah membuat aku semakin cemas,"
Untuk beberapa alasan, lalu Raka mulai teringat dengan sepupunya satu-satunya itu.
Ah, ya bagaimana pertemuan Sepupunya itu dengan Selingkuhannya itu?
Sayang sekali dirinya tidak disana untuk bisa mengambil beberapa foto lagi, semakin banyak foto semakin banyak yang bisa dirinya kirimkan pada wanita kaya misterius yang sepertinya sponsor Antony ini.
Lihat saja apa yang akan Antony sepupunya ini alami.
Sayang anak buahnya belum becus untuk menemukan alamat rumah sepupunya.
Namun cepat atau lambat ini pasti akan segera ketemu.
####
Bersambung