
Setelah lift tertutup, Antony merasa cukup lega, lalu kemudian dia berniat untuk kembali ke Ruangannya.
"Kita akan kembali ke Ruang Kerja,"
"Apakah tidak jadi untuk mengecek beberapa Departemen? Bukankah masih harus mengecek Departemen Keuangan setelah Mengecek Departemen Periklanannya?"
Mendengar kata-kata Sekertarisnya itu, sekarang Antony jadi ingat hal-hal yang ingin dirinya lakukan.
Sungguh, bertemu dengan Emelin secara mendadak ini membuat otaknya sedikitnya Blank.
Kembali menormalkan ekpersi diwajahnya, Antony lalu berniat ke Ruangan Lainnya.
Kecuali Departemen Periklanan, Antony melakukan pengecekan ke Departemen-departemen lainnya.
Saat ini, Antony dan Sekertarisnya itu berada di lantai bawah, jadi sudah cukup sore, dan akhirnya pengecekkan di Departemen terakhir hari ini selesai, kecuali Departemen Periklanan yang batal.
"Kamu bisa kembali dulu ke ruangan, aku akan menyusul. Ada hal lainnya yang ingin aku urus,"
"Ah, baiklah."
Disini, Antony melihat kearah jam, saat ini baru hampir jam empat, seharusnya syuting iklan itu masih berjalan.
Atau itu sudah selesai?
Ya, bagaimanapun juga dirinya cukup penasadan bagaimana hal itu berjalan.
Hari ini Putranya lah yang akan menjadi bintang iklan bukan?
Dirinya tidak pernah tahu kalau Putra kecilnya ini ternyata memiliki minat dalam hal-hal seperti ini.
Anak itu memang cukup cerdas sejak dia kecil, dia cukup pandai dalam berbagai hal, namun tidak ada hal yang benar-benar membuat anak itu berminat.
Tidak ada hal yang benar-benar membuat anak itu terlihat antusias.
Jadi mendengar kalau sebenarnya tadi malam, Alex cukup antusias dengan syuting iklan ini, membuat dirinya cukup terkejut.
Mungkin ini bakat turunan atau sesuatu, lagipula Alex Putranya adalah Putra dari Emelin Smith.
Emelin yang sangat menyukai dunia akting dan dunia hiburan, seseorang yang benar-benar bertekat untuk menjadi bintang.
Kesan pertamanya bertemu Emelin bukan hal yang cukup bagus pula.
Kalau dipikir lagi, sebelum acara Perjodohan itu, sebelumnya dirinya yakin pernah melihat Emelin sebelumnya, hanya dirinya awalnya tidak mengenali penampilan Emelin ketika Perjodohan itu, dulu penampilan Emelin tidak seperti itu, baru tahun-tahun belakangan saja dirinya sadar.
Apakah itu ketika di Sekolah Menengah Atas?
Benar, itu ketika dirinya dulu bersekolah di SMA Elite dengan sebuah Beasiswa.
Ya, Sekolah Elite seperti itu hanya berisi murid-murid dari kalangan kaya atau kalau tidak itu harus murid yang pintar.
Dirinya tidak sebaik itu dulu ketika masih kecil....
Hanya saja...
Ketika awal Sekolah Menengah Pertama....
Dirinya mulai jatuh cinta yang mengejar orang itu bahkan sampai berusaha keras untuk masuk ke Sekolah Elite itu....
Ah...
Itu adalah Cerita lama yang sudah lewat.
Hanya ketika dirinya kelas tiga SMA, itu mungkin ketika melihat murid-murid baru kelas satu.
Seorang Nona Muda Kaya dengan rambutnya yang di cat Pirang dan pakaian yang begitu modis seolah seorang model, terlihat paling mencolok dari kebanyakan siswi lainnya.
Benar-benar lucu kalau memikirkan soal itu.
Sambil sedikit memikirkan masalalu itu, Antony lalu menuju kearah lift untuk naik ke Lantai 12.
Akan sangat mencolok jika dirinya muncul dari lift Direktur, jadi sebaik dirinya naik lift biasa, namun itu akan merepotkan jika bertemu pegawai lainnya.
Setelah memikirkan beberapa hal, Antony lalu menuju ke Kamar Mandi untuk melakukan beberapa penyamaran.
Dirinya sudah meyiapkan masker, apakah ini cukup?
Antony juga lalu melepaskan Jas hitam miliknya, merubah penampilannya terlihat lebih santai dengan kemeja biru.
Melihat persiapan sudah cukup, lalu Antony menuju lift karyawan.
Memang, jam segini masih sepi karena jam pulang kantor masih jam lima nanti.
Untunglah, dirinya tidak bertemu siapa-siapa.
Namun siapa yang tahu ketika lift terbuka, terlihat wajah yang familiar.
Menatap Pria yang di tabraknya, wanita itu menatap keatas.
"Ah? Kita bertemu lagi, Antony? Kebetulan sekali,"
"Kamu disini?"
"Benar, aku tanda tangan kontrak hari ini. Apakah kamu masih menyelesaikan beberapa Pekerjaan sekarang?"
"Begitulah, beberapa tugas mengantar dokumen,"
"Ah begitu."
Benar, wanita itu adalah Isabella, Antony tidak benar-benar menyangka bisa bertemu dengannya lagi diwaktu sesingkat ini.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu tidak meneleponku atau mengirimkan pesan padaku? Aku sudah memberimu kartu nama bukan?" Kata Isabella dengan nada sedikit centil.
Antony lalu mengigatnya, ah itu kartu nama yang sudah dirinya buang karena itu memang tidak penting.
"Aku cukup sibuk,"
"Ah? Begitukah? Jadi mari kita segera bertukar nomor, saja, mana ponselmu,"
"Aku sebenarnya cukup buru-buru, aku akan segera keatas atau Atasanku mungkin akan marah,"
"Ini hanya bertukar nomor sebentar, oke?"
Melihat kalau ini akan menjadi panjang jika dirinya menolak, Antony lalu mengeluarkan ponselnya, begitu ponsel itu keluar, dengan tidak sopan, Isabella langsung mengambil ponsel itu dari tangan Antony, lalu langsung memasukan nomornya dan memanggil nomornya itu.
Dirinya cukup terkejut melihat ternyata nomornya tidak tersimpan di ponsel Antony.
Bukankan dirinya sudah memberinya kartu nama?
Tidak hanya tidak meneleponnya, namun bahkan tidak menyimpan nomornya?
Ada apa dengan Antony ini?
Apakah dia sudah cukup berubah?
Dulu orang ini cukup tergila-gila padanya.
Ah, tapi ini juga mengingatkan akan sesuatu, sebenarnya ada alasan kenapa dirinya juga buru-buru ingin keluar.
Benar....
"Aku juga sepertinya sibuk, mungkin lain kali saja kita mengobral, oke? Sampai jumpa, Antony," kata Isabella lalu langsung menyerahkan ponsel Antony kembali.
Menatap ponselnya, ada sebuah nomor baru, Antony tidak segan-segan menghapusnya.
Ini tidak begitu penting, ada hal lain yang harus dirinya lakukan.
Tanpa memikirkan terlalu jauh pertemuannya dengan Isabella, dia lalu naik kelantai atas.
Disisi lainnya, setelah Isabella keluar lift, dia langsung menuju ke lobby depan.
Menurut informan yang dirinya terima, sebentar lagi Cucu dari Pemilik Anderson Group akan segera tiba di kantor.
Ini bukan CEO nya sih, namun masih merupakan kandidat yang bagus dan calon pewaris Perusahaan.
Dirinya tidak boleh melewatkan kesempatan bagus ini, untuk mencoba dekat dengan dia juga, soal masalah CEO Misterius, dirinya akan memikirkan cara bertemu dengannya nanti.
Dan tidak lama seseorang masuk kedalam gedung itu, melihat orang itu, Isabella tentu mengenalinya.
Itu adalah Raka Anderson.
Sebuah senyum licik muncul diwajah cantiknya.
Bagaimana cara memulai pertemuan yang tidak disengaja dengan natural?
Mungkin mencoba pura-pura kaki terkilir jatuh ketika menabraknya cukup bagus.
Bagaimanapun juga dirinya menjadi artis top bukan hanya sekedar nama, dirinya memang memiliki bakat akting alami yang bagus.
Melewati Raka, Isabella berpura-pura menabraknya, dan terjatuh.
"Ah...."
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Raka dengan wajah kaget ketika melihat seseorang tiba-tiba menabraknya, dia lalu membantu wanita itu bangun.
"Se... Sepertinya kakiku terkilir,"
####
Bersambung