Suami Bayaranku Yang Dingin

Suami Bayaranku Yang Dingin
Season 2 Episode 75: Hal-hal Berharga (Part 2)


Hari-hari cukup cepat berlalu, butuh waktu cukup lama sampai Raka tersadar dari komanya itu.


Hal pertama yang Raka lihat ketika dirinya sadar adalah Ayahnya.


Ekpersi Ayahnya jelas terlihat sedih, menatap Putra satu-satunya itu terbaring di Rumah Sakit.


"A.... Ayah?" Kata Raka dengan panik, berniat duduk namun tubuhnya begitu lemas dan sulit digerakkan


Charlise lalu mulai mengelus rambut Putranya itu, mencoba membuat Putranya kembali dalam posisi tidur.


"Kamu akhirnya sudah sadar," ucapnya dengan lega.


"Aku... Berapa lama aku tidak sadar?"


"Hampir lebih dari Satu Bulan,"


Mendengar itu, jelas Raka menjadi syok dan cukup panik.


Apa?


Lebih dari satu Bulan?


Lalu apa yang terjadi selama dirinya tidak sadar ini?


Bagaimana dengan Insiden sebelumnya dan lagi....


Carlise yang melihat wajah pucat Putranya itu, langsung tahu apa yang Putranya pikirkan itu.


"Kamu tidak usah cemas, semuanya sudah baik-baik saja, semua sudah di atasi dengan baik, tidak ada yang terluka, dan tidak ada hal-hal lain yang terjadi setelah hari itu,"


Raka akhirnya bisa merasa lega setelah mendengar kata-kata Ayahnya itu.


Namun tiba-tiba melihat dirinya berada di Rumah Sakit yang familiar lagi, Raka merasa tidak nyaman.


Jangan bilang, dirinya akan di kurung disini lagi?


Padahal sangat susah kabur dari sini, namun pada akhirnya dirinya malah masuk Rumah Sakit lagi.


"Ayah... Aku.... Aku tidak ingin di kurung di Rumah Sakit lagi,"


Mendengar kata-kata takut dari Putranya itu, perasaan Charlise menjadi sedih, dia lalu mencoba menenangkan Putranya itu dan berkata,


"Tidak akan ada yang mengurungmu lagi, setelah sembuh kamu bebas kemanapun kamu pergi,"


"Apakah itu benar? Apakah Mama tidak marah?" Tanya Raka lagi.


"Ya, itu benar, soal Mamamu, semua akan baik-baik saja."


"Jadi begitu,"


"Aku sudah dengar semuanya dari Antony dan yang lainnya soal keinginanmu,"


Mendengar hal-hal itu, Raka kembali teringat omong kosongnya yang dirinya lontarkan saat Insiden itu, setelah memikirkannya lagi, dirinya merasa malu sendiri.


"Ayah itu...."


"Ya, melihat kamu dalam keadaan itu, dan hampir kehilangan dirimu, Ayah benar-benar menjadi begitu takut. Awalnya Ayah begitu marah, karena kamu seperti ini karena Insiden yang melibatkan Antony, namun begitu dia menjelaskannya dan mengatakan Keinginanmu, bahwa kamu melakukan ini demi Aku dan Mamamu yang telah berbuat banyak salah pada mereka, bahwa kamu tidak ingin kami sampai masuk Penjara... Dan ingin Keluarga Anderson bersatu kembali,"


"Ya, Ayah. Aku benar-benar tidak ingin ada konflik apapun. Aku selalu merasa, hal yang paling penting bukan hanya Harta dan Tahta, namun Keluarga juga adalah hal yang berharga, apa gunanya bergelimang banyak Harta namun akhirnya sendirian? Tidak memiliki seseorang yang bersama-sama berbagai suka duka..."


Mendengar kata-kata itu, Charlise hanya mengaguk.


"Ya, kamu benar. Ini hanya karena keegoisanku saja. Aku begitu membenci Pamanmu Thomas karena Kakekmu yang selalu membelanya sejak kecil dan membandingkanku dahannya sejak kecil, aku juga selalu membenci cara Kakekmu memperlakukanku, namun pada akhirnya aku menjadi seperti dia, dan membesarkanmu dengan tidak layak, dan memiliki terlalu banyak ekpektasi padamu.... Ayah benar-benar minta maaf..."


Raka tidak tahu harus berekspresi seperti apa.


"Ini... Ini bukan salah Ayah."


"Ini salahku. Ayah juga sudah meminta maaf pada Pamanmu Thomas dan Sepupumu, dan mengakui hal-hal ini pada Kakekmu. Ya, dan bahkan Pamanmu Thomas masih begitu baik padaku, walaupun tahu semua kejahatanku, dia tidak pernah mengatakan hal-hal ini pada Kakekmu, dia masih memikirkan soal aku, adiknya yang tidak baik ini.... Dan soal kesalahpahaman kami soal Mata-mata dan semuanya, juga sudah selesai, jadi kamu tidak usah khawatir lagi,"


Raka mengaguk setuju, lalu keduanya saling berpelukan satu sama lainnya.


"Owh, iya bagaimana dengan Mama?"


"Saat ini, Mamamu belum bisa tenang jadi Ayah terpaksa mengurungnya, hal-hal menjadi cukup rumit soal Mamamu yang ternyata memiliki beberapa rencana tidak benar...."


"Lalu? Mama sekarang...."


"Ayah...."


"Berbahagialah dengan siapapun yang kamu inginkan, mulai sekarang kamu bebas melakukan apa yang kamu suka..."


Mereka terlihat saling berpelukkan sekali lagi, dan mulai membicarakan banyak hal termasuk hal-hal di Perusahaan.


Raka juga dengar kabar, jika Emelin dan Calon Bayinya baik-baik saja, hanya sedikit mengalami lecet ringan.


Dan tentu saja, Raka ingin bertanya soal Alissya, namun tentu saja Ayahnya tidak akan tahu, Ayahnya memberikan ponselnya padanya.


Tentu hal pertama yang Raka coba cari adalah Nomor Telepon Alissya.


Namun nomor itu malah tidak bisa dihubungi.


Ini benar-benar membuat Raka menjadi cemas sendiri.


Di sore hari, Emelin berkunjung bersama dengan Antony mengecek kabar Raka.


Emelin dan Antony jelas sangat berterimakasih pada Raka soal hal-hal ini.


"Syukurlah jika kamu sudah sadar, sekarang kamu fokus pada pemilihan oke?"


"Hmm, baik-baik, aku akan cukup Istirahat kalian jangan terlalu khawatir. Owh iya, aku ingin tanya sesuatu,"


"Apa itu?" Tanya Emelin penasaran.


"Soal Alissya... Bagaimana dengan Kabarnya?"


Sekarang ekpersi Emelin dan Antony menjadi rumit.


Mereka berdua saling bertatapan satu sama lainnya, seolah bingung harus mengatakan apa.


"Apa apa dengan Alissya?"


Emelin lalu akhirnya setelah menenangkan dirinya, mulai menyusun kata-kata dan segera berbicara,


"Dia baik-baik saja. Hanya saja, seperti rencananya sebelumnya, Alissya Pindah Tugas ke Luar Kota,"


"Apa?? Bagaimana dia bisa seperti itu? Kapan dia pergi?"


"Dia sudah pergi Ke Luar Kota sejak dua Minggu lalu,"


Raka terlalu syok untuk mendengar hal-hal ini.


Bagaimana Alissya bisa pergi begitu saja saat dirinya masih terbaring di Rumah Sakit seperti ini?


Raka tidak tahu harus berekspresi seperti apa.


"Apa?"


Emelin yang melihat wajah syok dan pucat Raka itu mencoba menenangkannya,


"Sebelumnya, sebelum dia Pergi dia sempat menunggu dan membantu menjagamu di Rumah Sakit, namun entahlah dia tetap pergi dari sini. Tapi kamu tenang saja, dia hanya pergi ke Perusahaan Cabang milik Keluarga Anderson di Kota Sebelah, tidak jauh, satu jam naik Pesawat, kamu akan sampai, kamu bisa coba bertemu dengannya setelah kamu sembuh, kamu bujuk saja dia sendiri,"


"Hmm, baiklah aku mengerti,"


"Sudah, Raka. Jangan terlalu sedih. Kamu juga harus tahu kalau Alissya mungkin punya situasinya sendiri,"


Raka hanya bisa tersenyum sedikit mendengar kata-kata menenangkan itu.


Jadinya tidak tahu kenapa Alissya benar-benar bisa pergi jauh seperti ini.


Apakah ini karena Alissya benar-benar ingin menjauh dari dirinya dan tidak lagi memiliki hubungan dengannya?


Atau ini gara-gara hal-hal yang Mamanya katakan pada Alissya itu?


Siap Uang 2,5 M itu?


Memikirkan ini perasaan Raka benar-benar cukup rumit dan merasa sedih...


Alissya....


Aku benar-benar ingin bertemu denganmu...