
Pada akhirnya setelah percakapan singkat dengan Raka di dekat pintu masuk, Antony di ikuti oleh Isabella, menuju tempat berkumpulnya teman-teman mereka ketika SMA.
Ketika Isabella sampai disana, tentu saja dia langsung dikelilingi oleh beberapa orang.
"Ya, ampun Isabella... Aku sudah lama tidak melihatmu sejak kelulusan, terutama sejak kamu Keluar Negeri. Sekarang aku dengar kamu sudah kembali dan tinggal disini lagi?" Tanya seorang gadis yang terlihat akrab dengan Isabella.
"Ya, begitukah aku bosan di Luar Negeri jadi kembali kesini," jawab Isabella dengan tenang.
"Ah, benar sekarang kamu sudah menjadi Artis yang cukup populer bukan? Benar-benar sangat hebat," puji gadis itu lagi.
"Hahaha... Bukan apa-apa, aku tidak sehebat itu,"
Gadis yang mengobrol dengan Isabella itu, lalu menatap kearah Antony disana.
"Lalu, dia ini...."
Gadis itu sedikit pagling ketika melihat keadaan Antony.
"Kamu tidak ingat, ini Antony. Antony Callisto masa tidak ingat?"
"Eh? Dia Antony? Aku hanya sedikit tidak mengenalinya,"
Dia lalu mulai menyapa Antony,
"Hallo, Antony, apakah kamu masih mengenaliku? Aku Rea, teman Isabella,"
Antony menjawab dengan sopan,
"Rea ya? Ya, aku ingat kamu yang biasa duduk bersama Isabella,"
Lalu tatapan Rea kembali menatap pada Isabella, dan menatap Antony lagi.
Tentu saja Rea tahu kalau ketika SMA, akhir tahun ke tiga, Antony dan Isabella sudah berkencan dan sekarang mereka pergi ke Rauni bersama!?
Jangan bilang kalau....
"Kalian... Kesini bersama? Jangan bilang kalian sudah menikah atau sesuatu?"
Isabella tertawa mendengar perkataan itu, dan sedikit mengoda,
"Bagaimana menurutmu? Apakah kita cocok?"
Namun sebelum teman Isabella itu menjawab, Antony langsung menjawab dengan tegas,
"Aku dan Isabella tidak memiliki hubungan apa-apa, hanya kebetulan bertemu di parkiran,"
Jawaban yang dingin dan terus terang, membuat sekilas Isabella mengerutkan wajahnya.
"Ah, aku kira kalian masih bersama, padahal dulu kalian termasuk pasangan yang paling serasi ketika jaman SMA bukan? Isabella selalu menjadi begitu populer di kalangan para laki-laki, dan Antony selalu begitu populer diantara pada gadis, hmm seperti pasangan Pangeran dan Tuan Putri nya,"
Namun tiba-tiba seorang lelaki menimpali kata-kata teman Isabella itu.
"Hah? Apa? Antony berani datang ke Acara ini dengan Nona Isabella? Astaga, jadi kamu masih mengejar-ngejar Nona Isabella seperti dulu? Hey, Rea jangan bicara sembarangan soal Pangeran dan Tuan Putri, Antony ini hanya orang miskin dan tidak layak di sebut Pangeran, dia hanya gelandangan miskin yang memilukan malaikat di langit seperti Nona Isabella,"
Mendengar kata-kata Pria itu, beberapa orang dibelakangnya lalu ikut tertawa.
Pria itu menatap kearah Antony, melihatnya dari atas kebawah, cukup terkejut dengan pakaian mewah yang dipakainya.
"Heh, baju mahal ini... Apakah Nona Isabella yang membelikanmu? Kamu sungguh tidak cocok, bahkan dengan pakaian bagus ini, kamu masih terlihat seperti gelandang miskin di mataku!"
Antony menghela nafas lelah, menatap rombongan orang didepannya ini sepertinya tidak berubah sejak dulu.
"Hah... Riko Dirgantara, rupanya kamu tidak pernah berubah sejak dulu, masih kekanak-kanakan, dan Sombong,"
Memang, orang-orang ini termasuk grombolan orang-orang yang membully dirinya dulu ketika di SMA.
Tidak, bahkan beberapa diantaranya mungkin teman SMP nya.
Ini adalah kisah yang panjang, melihat wajah-wajah yang familiar ini, Antony jadi mengigat masalalu, dimana dirinya sering ditindas oleh orang-orang ini, dan bagaimana Pertemuannya dengan Isabella di Sekolah Menengah Pertamanya itu.
Suatu hari, ketika dirinya habis dipukuli oleh beberapa teman sekelasnya, ada seseorang yang membantunya untuk pertama kali.
Ini adalah seorang gadis sepertinya dari kelas yang lain.
"Hey Kalian! Jika kalian masih melakukan ini aku akan melaporkan ini pada guru!" kata gadis itu dengan berani.
"Kamu berani!!"
"Apa? Aku benar-benar akan melaporkan ini pada guru!"
Saat itu semua siswa jahat itu lalu kabur karena takut dilaporkan pada guru.
Gadis itu lalu menoleh dan membantu Antony kecil berdiri.
Untuk Antony, adegan itu adalah titik balik dari hidupnya.
Seorang gadis yang merubah hidupnya, seolah ketika semua cahaya hilang setelah Ibunya meninggal, dia menemukan cahaya baru dalam hidupnya.
"Apakah kamu tidak apa-apa?"
Senyuman manisnya hari itu tidak bisa Antony lupakan.
"Aku adalah Isabella, lalu bagaimana dengan mu?"
Sebuah pertemuan tidak terduga, cinta pertamanya kala dirinya masih begitu muda.
Untuk Antony yang kesepian kala itu, sosok Isabella yang datang dalam hidupnya seperti sebuah cahaya.
Namun cahaya itu begitu terang, karena Isabella merupakan seorang gadis Idola di sekolah, gadis populer dan cantik yang disukai semua orang.
Sedangkan dirinya hanyalah anak laki-laki miskin.
Terkadang ketika di SMP, dirinya akan sesekali bertemu Isabella, disana dia akan sesekali membatunya, dihadapan orang banyak, ya karena kala itu Isabella memang terlihat baik didepan semua orang.
Namun hanya dengan bantuan-bantuan sederhana, itu menyentuh hati Antony.
Antony awalnya anak yang tidak memperdulikan penampilan, dia memiliki rambut yang selalu menutupi matanya, apalagi pakaian murah yang selalu dipakainya, membuat dia jadi sasaran pas untuk dibuli, juga nilainya yang buruk, sangat lengkap.
Untuk bisa lebih mendekat pada sosok idola yang disukainya, Antony mulai merubah dirinya sendikit demi sedikit.
Dia mulai belajar dengan baik, dia mulai merapikan rambutnya, menunjukan sosok yang begitu tampan dibalik sosok itu.
Namun dia hanya bisa mengagumi Isabella sampai mereka lulus SMP.
Dia Belajar begitu keras, dan selalu rajin membaca setiap buku disemua waktu luangnya.
Hingga akhirnya dia diterima di SMA Elite Y dengan susah payah.
Namun di SMA Elite Y tidak sesuai ekpektasi Antony, disana dia masih sering di perlakukan sama seperti ketika SMP. Saat kelas satu dan dua, dia tidak satu Kelas dengan Isabella, jadi sangat sulit bertemu dengannya, dan hanya bisa mengaguminya dari jauh, dan terus berusaha keras, agar dia menjadi siswa nomor satu, hingga mungkin gadis yang di cintainya akan meliriknya.
Dan akhirnya, ketika Kelas tiga, mereka satu kelas itu adalah kesempatan mencoba mendekatinya, dan akhirnya bisa berkencan dengan Isabella.
Isabella sendiri di SMA adalah siswi yang cukup populer di sekolah, dan Antony yang saat SMA benar-benar tumbuh menjadi sosok pemuda yang sangat tampan yang dipuji-puji oleh seluruh siswa disekolah, belum lagi Prestasi nya di Sekolah, dan mendapatkan Peringkat Pertama.
Kecuali Keluarganya yang buruk, sosok Antony adalah sosok yang sempurna itulah kenapa awalnya Isabella berkencan dengannya, berkencan dengan siswa idola sekolah...
Hingga akhirnya mereka berhasil berkencan, Antony merasa sangat bahagia.
Ketika mereka berkencan, Isabella yang merupakan orang yang cukup kaya, tentu saja memiliki banyak permintaan.
Antony yang dari keluarga miskin, namun dia tetap berusaha menuruti permintaan Isabella.
Antony bekerja part time di waktu luangnya, bahkan bekerja sampai larut malam di malam hari, hanya bisa demi berkencan dengan Isabella di sebuah restoran yang cukup bagus.
Namun Isabella tetap saja membandingkan kalau Restoran itu tidak terlalu mewah, dan merasa kurang.
"Antony kenapa kamu hanya mengajakku ke Restoran murah seperti ini? Ini tidak cocok dengan seleraku,"
"Aku hanya bisa membawamu kesini, dulu, besok kalau aku sudah memiliki banyak uang, aku akan membawamu ke tempat yang lebih indah dari ini,"
Namun Isabella tidak terlalu memikirkan kata-kata itu, hanya mengagapnya angin lalu.
Ketika Isabella berulang tahun, Antony juga memberikannya sebuah kado kalung yang mahal untuk membuatnya senang, walaupun itu bukan kalung berlian seperti yang Isabella inginkan, namun Antony selalu berusaha memberikan segalanya untuknya.
"Kenapa hanya kalung seperti ini? Bukankah aku sudah bilang, aku inginkan kalung berlian yang waktu itu,"
"Saat ini, kalung ini dulu ya? Lihat, kalung ini juga begitu indah,"
"Hah, mau bagaimana lagi? Harusnya kamu sedikit lebih berusaha untuk membelikanku hal yang aku Inginkan, jangan seperti ini lagi,"
Ketika di Universitas ketika Isabella bilang dia ingin keluar negeri jadi mereka putus, membuat hati Antony begitu hancur.
Memang, jarak antara mereka akan sulit, karena Antony tidak bisa untuk pergi ke luar negeri seperti
Namun disini Antony tidak menyerah, setidaknya dirinya akan berusaha menunggu sampai Isabella pulang nanti, dia berniat memberikan sebuah cincin pada Isabella sebagai janjinya, namun siapa yang tahu, ketika dia hendak bertemu Isabella, dia melihat Isabella dengan laki-laki lain, dan mereka terlihat mesra belum lagi membicarakan soal dirinya,
"Kita berkencan seperti ini tidak apa-apa? Bukankah kamu sudah berkencan dengan seorang bernama Antony itu?"
"Kami sudah putus, hubuangan kami tidak benar-benar serius pula,"
"Itu masuk akal, lagipula dia hanya orang miskin bukan? Seseorang yang tidak layak denganmu,"
"Kamu benar, kecuali wajahnya, tidak ada hal baik darinya, aku hanya bermain-main dengannya, tidak benar-benar serius, pula. Aku tidak pernah mencintainya lagipula, aku menerimanya hanya karena kebetulan saat SMA dia siswa yang populer,"
"*Benar seperti itu?"
"Tentu, saja dan lagi selama aku berkencan dengannya dia tidak pernah memberiku hal-hal bagus, hanya berkencan di restoran murahan atau hadiah murahan, dia benar-benar sangat buruk*,"
Antony juga melihat bagaimana Pria itu memberikan sebuah Kalung Berlian Mahal pada Isabella,
"Kalung yang kamu pakai itu..."
Namun Isabella segera melepaskan kalung pemberian Antony dengan dingin,
"Ini bukan kalung yang penting, tidak begitu mahal juga hanya kalung murahan." Dia membuangnya dan mengantinya dengan kalung berlian mahal pemberian Pria itu.
Melihat itu semua membuat hati Antony begitu hancur, seolah semua perjuangannya selama ini sia-sia.
Untuk apa dirinya berusaha keras selama ini?
Isabella tidak pernah mencintai dirinya sedikitpun.
Bahkan tidak pernah menghargai usahanya selama ini....
Hati Antony menjadi mati rasa sejak hari itu.
Jatuh Cinta begitu memuakkan....
####
Mengigat kejadian dimasalalu membuat Antony merasa tidak nyaman.
Memang, dirinya pernah mencintai Isabella seperti itu, dan mengejarnya dengan susah payah.
Namun kenyataan membuat Antony sadar, bahwa cintanya tidak pernah sampai pada orang itu.
Semua usahanya...
Dan itu menyadarkan Antony, bahwa Isabella bukan seseorang yang pantas untuk dirinya.
Bahwa dirinya benar-benar jatuh cinta pada seseorang yang salah.
Perasaan dimasalalu itu sudah hilang hari itu juga, ketika Isabella membuang kalung pemberiannya.
Ya, masalalu adalah masalalu, dan itu sudah lama berakhir selama bertahun-tahun lalu, tidak ada yang tersisa sekarang.
Tidak ada lagi tempat dihatinya untuk Isabella.
Lagipula selama bertahun-tahun ini, dirinya hanya memikirkan soal Putranya, Putranya yang merupakan segalanya untuknya...
Sebuah hadiah terindah dari Istrinya...
Emelin...
Dan sekarang, hatinya...
Sudah menjadi milik Emelin...
Dirinya hanya bisa berharap kali ini dirinya tidak lagi jatuh cinta pada orang yang salah.
####
Bersambung