
Muka Emelin jelas tambah memerah mendengar godaan Antony tersebut.
"Antony, berhenti mengodaku!! Mari ikut aku saja bertemu dengan teman-temanku, aku akan memperkenalkanmu pada mereka,"
Antony hanya bisa tertawa,
"Aku tidak mengodamu, aku benar-benar serius tahu? Baik-baik, aku akan mengikutimu,"
Tidak lama mereka berdua lalu mulai berkenalan dengan beberapa teman Emelin, juga kembali ada Risya dan Lia.
"Teman-teman, kenalkan ini Suamiku, Antony," kata Emelin sambil tersenyum.
"Ya ampun, Emelin, kamu benar-benar sudah menikah! Dan lihat, suamimu sangat tampan," kata salah satu teman wanita Emelin disana.
"Iya, Emelin kamu menjadi begitu sibuk hingga kamu jarang muncul dipertemuan, tau-tau muncul dengan seorang Suami," kata salah satu teman lainnya.
"Itu benar astaga, itu cukup mengejutkan ketika aku juga mendengar di Berita kamu siaran langsung dengan seorang anak,"
Beberapa orang itu segera mengerumuni Emelin, untuk bertanya tentang suaminya itu.
Emelin terus berkeliling disekitar sana, sampai sedikit kebablasan sampai di kelas sebelah, Emelin lalu melihat wajah yang familiar.
"Emelin? Ini kamu kah?" Tanya seorang Pria tiba-tiba.
"Ryan?"
Antony yang mendengar Emelin disapa oleh seorang Pria, langsung ikut menatap Pria itu.
Ekpersi Emelin terlihat tidak nyaman ketika melihat Pria itu.
Melihat itu, Antony yang mengabil alih pembicaraan,
"Kamu salah satu teman Istriku kah? Kalau begitu perkenalkan, Aku Antony Callisto, Suami Emelin,"
Pria itu yang awalnya sangat senang melihat Emelin, tiba-tiba memiliki ekpersi tidak nyaman ketika melihat seseorang memperkenalkan dirinya sebagai Suami Emelin.
"Emelin, jadi kamu sudah menikah?"
Mendengar pertanyaan itu, Emelin segera tersadar,
"Ya ya, aku tentu saja sudah menikah. Aku sangat bahagia sekarang, dengan suamiku, lihat dia selalu begitu romantis bahkan ingat membelikanku kalung indah ini sebagai hadiah perayaan Pernikahan kami,"
Emelin langsung merangkul Antony dengan mesra.
"Tentu saja, apa yang tidak untuk Istriku ini hmm?"
"Sayang, kamu bisa saja,"
Emelin terlihat sedang mengumbar kemesraan didepan Pria itu,
"Ah, Ryan mungkin lain kali saja kita ngobrol-ngobrolnya, kamu lihat suamiku ini sangat lapar, jadi aku harus segera mengabilkan dia makanan di sana,"
"Ya, ampun Emelin sayang, kamu perhatian sekali,"
Setelah beberapa basa-basi itu, Emelin segera menarik Antony ke deretan meja makanan pembuka.
Sampai disana, Antony lalu mulai mengintrogasi Emelin.
"Siapa laki-laki tadi? Sepertinya dia mencoba akrab denganmu?"
"Bukankah aku pernah Cerita kalau aku memiliki beberapa Mantan ketika di SMA? Dia salah satu Mantanku, salah satu laki-laki brengsek yang hanya mengincar hartaku itu. Sungguh muak melihat wajahnya, aku memikirkannya sekarang, aku lihat dia tidak terlalu tampan, apakah aku dulu buta bisa suka dengan laki-laki sampah seperti itu?"
Antony yang mendengar penjelasan Emelin itu lalu mulai tertawa dan menyentujuinya.
"Pfffff.... Itu benar, aku melihat tidak ada yang bagus soal laki-laki itu. Sama sekali tidak ada yang bagus."
"Itu benar, aku juga heran kenapa bisa suka dengan dia dulu, benar-benar aneh,"
"Emelin kamu terkadang bisa begitu lucu bukan?"
"Apa-apa sih kamu, Antony!"
"Mari-mari, kita temui Mantan-mantan pacarmu itu, tujukan kalau kalau kamu sekarang sudah memiliki Suami Setampan aku,"
"Ya ampun, apa kamu punya hobi seperti itu? Mau pamer sekarang?'
"Tentu saja, bagaimanapun juga hubungan kita tidak perlu ditutupi lagi, sebenarnya aku juga hanya ingin kamu menjadi eklusif yang hanya boleh dipandang olehku, sayangnya Istriku ini begitu populer dan sebentar lagi akan menjadi artis papan atas, jadi aku harus menunjukkan kalau aku ini suamimu, agar tidak ada yang berani dekat-dekat denganmu lagi,"
"Astaga, kamu sangat bisa membuat lelucon, kenapa kamu mulai mengikuti kata-kataku!! Kamu benar-benar mengodaku!"
Mereka lalu saling tertawa bersama disana, menikmati waktu mereka bersama yang sudah lama tidak mereka nikmati karena kesibukan masing-masing.
"Owh iya, kamu bilang Cinta Pertamamu juga berasal dari Sekolah ini bukan? Mana dia orangnya? Aku cukup penasaran, siapa orang pertama yang membuatmu jatuh cinta itu, dia Kakak tingkat bukan? Mana, coba cari kelasnya, barangkali aku kenal,"
Sekarang membahas soal 'Cinta Pertama'nya membuat Emelin memerah, karena malu, karena orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah orang yang saat ini bediri didepannya yang juga merupakan Suaminya, Antony.
Sangat membalukan untuk mengatakannya oke?
Masa dirinya harus bilang kalau itu kamu?
"Hey, Emelin? Kamu tidak menjawab? Kelas apa dia?"
"Itu.... Itu tidak penting pula."
"Tapi kenapa wajahmu jadi memerah seperti itu! Apa yang kamu pikirkan soal cinta pertamamu itu hmm? Jadi orang seperti apa dia sampai membuatmu jatuh cinta itu,"
"Su... Sudah aku bilang tidak penting,"
Semakin Emelin tidak mengatakannya, Antony tiba-tiba merasa semakin gatal untuk bertanya,
"Ayolah, katakan saja..... Atau aku akan menghukummu," Bisik Antony ditelinga Emelin, membuat Emelin merasa gugup sendiri, dan geli.
Emelin mencoba mundur untuk menjaga jarak antara mereka, namun Antony terus mendekat kearah Emelin, sampai Emelin terpojok di dinding dekat sana hingga tidak bisa mundur lagi.
"Tidak ingin mengatakannya? Aku akan mencium mu disini jika tidak mengatakannya," goda Antony lagi.
Emelin lalu melihat kearah sekitarnya, disini sangat ramai, dan banyak orang.
"Kamu... Kamu bagaimana bisa menjadi tidak tahu malu didepan banyak orang seperti ini?"
Melihat Emelin sepertinya terlalu mengagap serius ucapannya itu, Antony segera mundur sejenak.
"Baik, baik. Aku hanya bercanda. Jika kamu memang tidak ingin mengatakannya itu baik-baik saja. Kamu terlihat seperti seseorang yang sedang digertak sekarang, aku merasa jahat, ya ampun jika kamu menagis, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu cara menghibur orang yang menagis,"
Mendengar kata-kata yang familiar dari orang yang sama, jantung Emelin semakin berdebar.
Hmm, jadi begitu.
Antony memang cinta pertamanya....
Namun dirinya belum bisa mengatakannya sekarang, terlalu memalukan....
Dulu, cinta pertamanya dirinya pikir tidak akan pernah menjadi miliknya karena milik orang lain...
Tapi sekarang....
Ketika menatap laki-laki didepannya ini, Emelin merasa jarak mereka tidak sejauh itu...
Hanya sedikit sudah lebih dekat...
Emelin sedikit berjinjit, menarik dasi yang Antony pakai, lalu menciumnya.
Itu adalah ciuman singkat, lalu Emelin yang merasa malu langsung mundur.
Antony sendiri cukup terkejut dengan ciuman tiba-tiba itu.
Tatapan mereka bertemu, seolah kata-kata yang tidak terucap tersampaikan dalam tatapan itu.
"Itu... Itu... Aku harus bertemu dan menyapa teman-temanku lagi, kamu bersenang-senang dengan teman-teman lamamu, mari nanti kita bertemu lagi saat acara selesai," kata Emelin lalu langsung melarikan diri.
Sungguh, Antony merasa Emelin paling hebat dalam melarikan diri setelah membuat hatinya tidak karuan seperti ini.
Melihat kepergian Emelin, Antony hanya tersenyum samar.
####
Disisi lainnya, ternyata ada orang yang kebetulan melihat ketika Antony dan Emelin berciuman sekilas itu.
Itu ada Isabella, melihat dua orang itu ternyata memiliki hubungan lebih baik dari pada yang dirinya kira membuat Isabella menjadi lebih kesal.
"Hah.... Rupanya tidak ada cara lain, harus mengunakan cara lama. Ini pilihan terakhir agar bisa mendapatkan Antony. Aku akan mempertaruhkan segalanya dengan ini,"
Dengan senyuman licinnya, Isabella mengeluarkan sebuah botol dari Tasnya.
Dia lalu mulai mengambil sebuah minuman dan menaruh isi botol pada minuman itu.
Lalu mulai berjalan kearah Antony yang masih berdiri disana.
#####
Bersambung