
Sore itu sekitar hampir jam tiga, sesuai jatwal ketika Emelin tiba di bandara, sudah ada seorang Asisten yang menjemputnya.
"Selamat datang Nona Emelin, saya adalah Asisten baru yang akan di tugaskan untuk mengurus kebutuhan anda saat masa syuting yang di pilih olek Pak Sutradara,"
Emelin tersemyum mendengar pengenalan singkat itu.
"Baik, Terimakasih. Aku mungkin akan dalam perawatanmu untuk beberapa bulan ini. Aku harus memanggilmu apa?"
"Anda bisa memanggil saya Ana,"
"Baik, Ana."
"Sekarang mari kita segera ke mobil. Biar saya saja yang membawakan barang bawaan anda," kata Ana lalu mengambil koper dorong dari tangan Emelin ke tangannya.
"Terimakasih, Ana." Kata Emelin dengan sopan.
Sepertinya asisten ini cukup cakap, Pak Sutradara benar-benar memperlakukan dirinya dengan baik.
Dirinya harus berterimakasih ketika sampai, biasanya hanya artis Top yang akan mendapatkan perlakuan seperti ini, mengigat sekarang dirinya sudah bukan artis top lagi, dan kembali dari bawah, namun perlakuan ini cukup baik.
Dengan itu, mereka berjalan ke mobil yang memang sudah disiapkan diawal.
Bersama mereka berdua memasuki mobil itu.
"Sekarang kita akan pergi ke penginapannya untuk meletakan barang bawaan. Tempat syuting ini agak di pedalaman, jadi susah untuk mendapatkan hotel disana,"
"Baiklah, aku mengerti. Ini adalah sebuah pantai bukan?"
"Ya, lokasi pantai ini akan sangat cocok untuk acara syuting awal, lagipula ini berkisah tentang seorang gadis, anak dari nelayan miskin yang mengejar mimpinya,"
"Ya, aku merasa kalau plot ceritanya cukup bagus, 'Magnificent Dream,' Ini akan menjadi film yang sangat bagus,"
"Ini disusun oleh Pak Sutradara sendiri, walaupun beliau masih baru namun dia sepertinya memiki beberapa potensi hebat,"
"Ya, Pak Sutradara sangat hebat."
"Untuk Anggota Kru yang lainnya sudah sampai disana kemarin, hanya tinggal beberapa artis yang harusnya juga akan sampai hari ini. Nanti malam akan diadakan sebuah Penjamuan Malam untuk bersosialisasi dan saling mengenal satu sama lainnya,"
"Sepertinya semuanya sudah diatur dengan baik,"
"Ya, semua sudah diatur dengan baik. Ah iya aku lupa mengigatkan, disana mungkin akan ada sedikit susah sinyal, karena cukup berada di daerah terpencil,"
"Hmm, aku mungkin akan menjadi cukup kerepotan untuk menghubungi rumah,"
"Penginapan ini ada langsung di dekat pantai jadi memang sudah sinyal, namun kalau lebih ke daerah agak jauh dari pantai, ini masih akan mendapatkan sinyal."
"Wow, penginapan tepi pantai?"
"Ya, lokasi pantainya agak ujung, jadi ini mungkin akan menjadi perjalanan yang cukup panjang, mungkin saat senja kita baru sampai sana,"
"Baiklah, aku mengerti."
Setelah percakapan singkat itu, Emelin ingat kalau dirinya harus segera menghubungi Putranya.
Degan sigap, Emelin mulai membuka ponselnya, membuat sebuah panggilan Video di ponsel Alex.
'Mama, Mama sudah sampai?' suara kecil dan bersemangat muncul dari ujung telepon, membuat Emelin merasa sangat senang.
"Ya, Mama sudah sampai. Saat ini Mama masih di mobil untuk perjalanan lagi ke lokasi syuting, mungkin nanti disana akan sedikit susah sinyal, namun akan Mama usahakan untuk selalu menghubungimu,"
'Baik, Ma. Yang penting Mama aman disana,'
"Tentu saja,"
Mereka bercakap-cakap sebentar, sampai Emelin mematikan teleponnya merasa lega karena sudah mengabari rumah.
Sekarang, Emelin mulai mengalihkan pandangannya ke arah luar mobil, saat ini masih dikota, namun perlahan-lahan, daerah menjadi lebih banyak pohon.
Dirinya benar-benar menantikan untuk tahu lokasi syuting disana.
Dan tidak terasa, setelah jam empat lebih, mereka sampai di tujuan.
Emelin menatap penginapan kayu tepi pantai itu, lalu segera menuju ke kamar yang sudah disiapkan.
Dari arah kamarnya, terlihat pemandangan tepi pantai yang menyejukkan.
Pemandangan pasir putih yang indah, juga air laut biru yang jernih, bersama hembusan angin sepoi-sepoi yang menyegarkan hati.
Wow, tempat ini benar-benar oriental, sangat indah sangat cocok untuk berlibur, berbeda dari tempat sebelumnya dirinya dan keluarganya berlibur, disana pantai yang ramai dan penuh sesak, namun disini terlihat sangat damai dan cukup sepi.
Rasanya ingin untuk mengajak Alex dan Antony kesini, pasti mereka akan menyukainya.
Akhhh....
Kenapa dirinya mulai memikirkan Antony lagi?
Mencoba membuang pikirannya, dan menenangkan diri,
Tanpa sadar, Emelin lalu berjalan menuju balkon kamarnya, membuka pintu disana.
Perlahan-lahan, dia berjalan menyusuri pasir putih, menuju ke arah tepi pantai, mulai melepaskan sendal yang dia pakai.
Rasanya sangat sejuk ketika melihat kearah pantai, seolah-olah pikirannya menjadi begitu tenang, dan hampir melupakan hal-hal buruk.
Sedikit dingin, namun terasa sejuk.
Pemandangan disini sungguh indah, itulah yang Emelin pirkan.
Dia lalu duduk didekat sana, menikmati keindahan ini.
Sampai-sampai dia tidak sadar kalau ada seseorang yang sudah duduk disampingnya.
"Kamu menyukai pemadandanga tempat ini?"
Mendengar suara seorang pria tiba-tiba, membuat Emelin sedikit kaget.
"Ah, Pak Sutradara, membuatku kaget saja,"
"Pfffff, aku tidak bermaksud untuk mengejutkanmu. Ah, diluar jam kantor seperti ini jangan memanggilku Sutradara, bukankan aku sudah bilang untuk memanggilku Edward? Kami sepertinya tidak terlalu memiliki perbedaan usia,"
"Bagaimana aku bisa begitu tidak sopan?"
"Pak Edward tidak apa-apa,"
"Baiklah. Aku juga akan berterimakasih pada Pak Edward karena telah memberiku Asisten segala dan memperlakuku dengan baik,"
"Tidak masalah, tidak masalah. Kamu adalah Pemeran Utama dalam Film, ini tentu saja kamu harus diperlakukan dengan baik,"
"Bapak sangat baik."
"Ya, tidak usah khawatir, sponsor film ini sangat dermawan kita harus benar-benar memanfaatkan dananya sebaik-baiknya, tidak masalah jika boros,"
"Pfffff, bapak bisa saja. Tapi sebelumnya aku denger angaran untuk film ini cukup terbatas?"
"Ya, itu sebelumnya. Tapi sekarang anggaran nya menjadi cukup banyak setelah menerima sponsor baru yang besar,"
"Owh, siapakah itu?"
"Maaf, dia tidak begitu ingin dipublikasikan,"
"Ah, begitu kah? Baiklah aku mengerti,"
"Ya, itulah juga kenapa kami bisa memilih tempat yang begitu indah ini sebagai lokasi syuting,"
"Ini sangat boros angaran?"
"Begitulah,"
"Aku memikirkannya, apakah benar-benar tidak apa-apa untuk memilihku memerankan Peran Utama ini? Bapak tahu reputasiku yang buruk didunia hiburan bukan? Bagaimana kalau seandainya hal-hal tidak nyaman terjadi?"
"Tidak, tidak. Aku percaya padamu. Lagipula aku juga cukup suka dengan kemampuannya aktingmu yang bagus, benar-benar memberikanku gambaran tokoh Lailah dalam film ini,"
"Seorang gadis yang mengejar mimpinya?"
"Ya, dia bahkan akan mendapatkan seorang Pangeran nantinya,"
"Terdengar bagus,"
Mereka berdua lalu bercakap-cakap, cukup lama membicarakan soal film, sampai Pak Sutradara itu berniat pergi karena harus mengatur penjamuan untuk acara malam ini.
"Baik, jangan terlalu lama di pantai takutnya kamu masuk angin. Aku pergi dulu,"
"Baik Pak Edward, terimakasih."
Tanpa dua orang ini sadari, ada beberapa mata yang menatap kearah mereka.
Ini adalah beberapa artis yang juga memainkan peran dalam film itu.
Mereka mulai bergosip sendiri,
"Itu benar-benar, Emelin Smith yang memainkan Peran Utama?"
"Sepertinya begitu,"
"Tapi aku dengar banyak rumor buruk tentangnya, bagaimana dia selama ini menipu,"
"Ya, dan soal dia yang mencelakai Saudaranya sendiri itu bukan?"
"Benar, dia bahkan kabarnya meragu pacar saudaranya,"
"Kamu lihat itu tadi? Sepertinya dia juga cukup dekat dengan Pak Sutradara, apakah mungkin?"
"Aku juga tidak tahu,"
Ya, beberapa orang memang hanya suka bergosip, dan dengan hal itu beberapa rumor mulai menyebar.
Salah satu gadis yang bergosip itu lalu tersenyum,
'Inj bagus, sesuai perintah Nona Claudia, untuk menyebarkan rumor,'
####
Bersambung