
Antony yang mendengar pernyataan Emelin lalu mulai menjawab dengan tenang,
"Kamu barusan membuat keributan dengan Claudia. Aku melihat kalau dia itu tipe orang yang akan memperbesar masalah kecil, apalagi masalah yang sampai seperti benar-benar memulainya seperti ini."
Mengigat hal-hal barusan, Emelin jadi juga sedikit khawatir.
"Ja... Jadi kamu melihatnya?"
"Hanya, kebetulan saat aku datang kalian sudah bertengkar, awalnya aku ingin meleraimu, namun kamu sudah benar-benar menendang Claudia dengan sekuat tenaga, sungguh sesuatu..."
"Hanya... Hanya.. mereka mengeroyokku, aku sungguh sangat kesal pada mereka, aku terlalu terbawa emosi, dan tidak bisa mengontrol tidakanku."
"Hmm, aku tahu."
"Tapi aku rasa aku berlebihan... Bagaimana jika ini menjadi skandal tambahan lagi... Aku baru saja memulai semua ini... Hanya.. aku begitu takut..."
Terlihat penampilan putus asa di wajah Emelin.
"Itulah kenapa aku memesan tiket itu bukan? Mari kita segera ke lokasi kamu syuting film, bersama Alex juga, kita akan membuat seolah-olah, kamu tidak pernah disini, dan kami sekeluarga mengujugimu disana sambil berlibur. Aku juga sudah mengurus semua kamera CCTV, aku pastikan tidak ada jejak apapun disini,"
Mendengar ide Antony itu, wajah sedih Emelin kembali menujukan cahayanya.
"Ya ampun! Itu benar-benar ide yang sangat bagus! Aku tidak mengira kamu bisa punya ide seperti itu!"
"Hmm, tentu saja. Aku selalu bisa kamu andalkan."
"Terimakasih, Antony."
Dengan gembira Emelin memeluk Antony sekali lagi.
"Bukan apa-apa." Kata Antony membalas pelukan Emelin, lalu mengelus rambutnya sedikit mencoba menengangkannya.
Emelin yang sekarang sadar memeluk Antony, melepaskan pelukannya.
"Emm, maaf membuatmu terlibat masalah seperti ini dan harus merepotkanmu untuk mengurusnya...."
"Aku bilang tidak masalah bukan? Lagipula kamu sudah bertindak benar, Caludia itu pantas mendapatkannya. Namun lain kali kamu jangan terlalu gegabah, kamu tahu betapa liciknya mereka bukan?"
"Ya... Mereka terlalu licik dan menyebalkan, para wanita ular sialan itu!! Aku hanya benar-benar sangat-sangat sebal melihat wajah mereka, benar-benar tidak ingin melihat wajah mereka lagi,"
"Aku tahu. Aku tahu. Mari lupakan soal mereka, kita sebaiknya fokus untuk rencana kita. Jadi apakah di Kru banyak yang tahu jika kamu pulang kesini?"
"Tidak, hanya Pak Sutradara, salah satu temanku disana dan juga Asisten. Hanya mereka yang tahu aku pulang, beberapa orang tidak terlalu peduli denganku pula, jadi aku tidak bilang soal aku pulang,"
Antony sedikit berpikir sejenak, lalu berkata,
"Apakah orang-orang itu bisa dipercaya?"
"Bisa. Aku rasa mereka tidak memiliki niat buruk."
"Baiklah kalau kamu bilang begitu. Nanti kamu bisa menghubungi mereka soal ini jika sampai sana,"
"Ya."
"Atau, kamu juga bisa bilang kalau ketika kamu ingin pulang, kamu tiba-tiba bertemu aku dan Alex di kota yang berniat menemuimu, sebagai kejutan. Ini terdengar masuk akal?"
Emelin berpikir sejenak, dan berpikir kalau kata-kata Antony cukup masuk akal.
Mereka adalah Keluarga, jadi jika Antony sebagai suaminya tiba-tiba datang ketempat dirinya syuting, tidak akan ada yang curiga, bahkan mereka hanya akan berpikir bagaimana so sweetnya Antony sebagai suaminya, sampai-sampai pergi jauh-jauh demi menemui Istri tercintanya.
Memikirkan hal-hal ini, membuat hati Emelin berbunga-bunga.
Namun itu hanya seandainya saja.
Lagipula, dalam kenyataannya mungkin Antony tidak akan melakukannya pula.
Soal pembicaraan video call tempo hari pasti juga hanya agar Alex senang, tidak lebih dan tidak kurang.
Dan saat ini, Antony mengambil inisiatif untuk mengajaknya pergi seperti ini juga karena keadaan terpaksa karena hal-hal yang dirinya perbuat.
Dirinya benar-benar terlalu Impulsif, jika saja Antony tidak datang tepat waktu...
Apa yang akan terjadi?
Semua usahanya sia-sia dan hancur dalam sekejap mata.
"Ya, itu masuk akal."
"Bagus. Semuanya harusnya berjalan sesuai dengan rencana."
"Itu ide yang bagus."
Lalu keduanya kembali duduk, terdiam tidak lagi ada yang berbicara.
"Seharusnya, Alex datang sebentar lagi," kata Antony mencoba membuka percakapan lagi.
"Emm, apakah tidak apa-apa, mengajak Alex pergi dengan tergesa-gesa seperti ini?"
Antony terdiam sejenak, memikirkan sesuatu, lalu lanjut berkata,
"Sebenarnya awalnya aku hanya akan mengajakmu berdua saja untuk acara ini.... Hanya saja..."
"Berdua saja?"
"Hmm, tapi aku rasa Alex akan marah kalau dia tahu aku pergi menyusulmu dan tidak mengajaknya? Dia sangat ingin bertemu dengan mu setelah semua,"
"Itu masuk akal, Alex memang akan membuat keributan jika hanya kita berdua yang pergi."
"Iya, memang. Alex terkadang bisa bersikap begitu keras kepala dan manja seperti itu,"
Emelin sedikit tertawa ketika memikirkan soal Putranya yang lucu itu.
Memikirkannya ekpersi cemberutnya kalau Alex sampai tidak diajak pergi.
Akan merajuk, dan bertingkah imut.
"Ahahaha... Aku penasaran dari mana sikapnya yang seperti itu berasal," kata Emelin sambil tertawa ringan.
Antony menatap Emelin didepannya ini yang sepertinya tidak sadar, lalu berkata,
"Itu jelas darimu bukan?"
"Dariku apa?"
"Kamu sangat suka bersikap manja seperti itu."
"A... Aku tidak! Jelas Alex itu seperti kamu! Lihat, wajahnya, dia benar-benar mirip denganmu, dan bahkan ekpersinya terkadang mirip denganmu, padahal aku yang melahirkannya, namun dia sama sekali tidak memiliki kemiripan denganku, sungguh aneh."
Antony juga sedikit tertawa melihat respon lucu Emelin,
"Hmm, bagaimanapun juga dia Putraku tentu saja mirip denganku. Tapi dia juga terkadang mirip denganmu, lihat sikap manja dan sangat suka dipuji itu, benar-benar mirip denganmu,"
"Ya ya ya, dia memang Putra kita. Namun tetap saja, kadang aku juga ingin memiliki seorang anak yang cukup mirip denganku,"
"Mungkin kalau kita membuat anak kedua dia akan mirip denganmu,"
"Tidak, tidak. Bagaimana kalau itu tetap akan mirip denganmu?"
Antony terdiam sejenak tidak menyangka Emelin benar-benar seolah menyetujui soal anak ke dua, lalu lanjut berkata dengan sedikit candaan,
"Kalau begitu, buat saja anak ketiga kita, mungkin itu benar-benar akan menjadi seorang Putri kecil yang mirip denganmu, itu pasti akan sangat lucu dan menggemaskan,"
Emelin merasa ada yang salah dengan arah pembicaraan ini.
Tunggu...
Membuat anak ketiga?
Wajah Emelin langsung memerah ketika memikirkannya.
Anak ketiga apa!!!
Mereka bahkan belum memiliki anak kedua!!
Tunggu dulu, kenapa mereka berbicara soal ini begitu sangat natural?
Seolah-olah mereka benar-benar akan melakukannya.
"Si.. siapa yang akan membuat anak ketiga denganmu!!"
Sungguh lucu melihat ekpersi panik Emelin, masih ingin terus untuk mengodanya,
"Ah, benar juga kamu tidak suka untuk melahirkan seorang anak. Namun kamu hanya suka proses membuatnya saja, kamu selalu sangat menikmati proses membuatnya. Aku mengerti."
Muka Emelin bertambah memerah,
"Apa yang kamu mengerti!!!"