
Memikirkan hal-hal rumit itu, membuat Thomas merasa pusing sendiri.
Masih binggung cara memperbaiki hubungan dengan Putranya itu.
"Kakek, Kakek, tiba-tiba Alex ingin makan Es Krim,"
Suara kecil itu menyadarkan lamunan Thomas.
Thomas lalu menatap kearah Alex yang tersenyum ceria itu.
"Kamu sudah selesai berteleponan dengan orang tuamu?"
"Iya, sudah Kakek. Sekarang tiba-tiba Alex ingin Es Krim,"
"Baik, baik. Nanti Kakek akan menyuruh orang untuk membelikan Es Krim, sebentar ya," kata Thomas berniat memanggil Asistennya.
"Di Kantin Kantor ini ada Es Krim yang sangat enak, mari Kakek menemani Alex saja jalan-jalan kesana!"
"Eh? Kamu pernah kesini sebelumnya?"
"Ya, itu benar. Dan Alex mencoba Es Krim di kantin! Sangat enak, ini memaakannya lagi. Apakah Kakek mau menemani Alex?"
Thomas berpikir sebentar lalu menatap beberapa dokumen di mejanya.
"Apakah Kakek sedang sibuk?" Tanya Alex lagi.
Thomas lalu tersenyum, dan mengendong Alex.
"Tentu saja tidak sibuk, mari Kakek temani kesana,"
Ya lagipula dirinya sudah mengurusi Pekerjaan dan Perusahaan selama tiga puluh tahun dalam hidupnya dan tidak ada yang lain.
Tidakkah sesekali mengambil Istirahat tidak apa-apa?
Lagipula sekarang dirinya sudah cukup tua, apakah sudah hampir 50an?
Baiklah, bukankah ini saatnya melupakan soal Pekerjaan dulu.
Mari bersantai dengan cucunya yang begitu manis ini sejenak.
Menatap Alex dalam gendongannya itu, yang memiliki wajah yang hampir mirip dengan Putranya, Thomas jadi memikirkannya.
Ketika Putranya masih seumuran ini, apakah Putranya juga akan begitu lucu seperti Alex ini?
Sayang sekali, dirinya melewatkan masa-masa itu, dan sekarang Putranya sudah tumbuh begitu besar, dan bahkan sudah memiliki seorang anak sebesar ini.
Waktu benar-benar berlalu begitu cepat tanpa disadari.
"Hore!! Terimakasih Kakek! Kakek baik sekali,"
"Apa yang tidak untuk cucuku ini, hmm?"
Thomas juga memikirkannya, ya mungkin hal-hal sudah lama berlalu, dan terlewati.
Dirinya juga tidak tahu harus mulai dari mana, namun setidaknya anak digendongnya ini masih begitu kecil, dirinya rasa mendekatinya tidak masalah?
Mungkin itu bisa menjadi awal memperbaiki hubungannya dengan Antony.
Bahkan walaupun itu tidak begitu baik, dirinya akan tetap menyayangi anak dalam pelukannya ini.
Ini adalah cucu kesayangannya pula.
Ternyata sangat hangat rasanya memiliki Keluarga seperti ini.
####
Sepasang Kakek dan Cucu itu, segera menuju ke kantin tempat tujuan mereka. Kebetulan mereka naik lift biasa karena Alex ingin melihat keramaian orang, jadi Thomas hanya menurutinya.
Beberapa orang yang kebetulan naik lift tentu saja kaget, terutama melihat Tuan Thomas Anderson yang biasanya memilih ekpersi dingin itu, tiba-tiba mengendong seorang anak!!
Ini...
Ini memiliki wajah yang sama dengan Pak Presdir mereka!!
Apakah ini Putra Pak Presdir mereka yang legendaris itu?
"Kakek, Kakek, apakah Kakek ingin beli Es Krim juga nanti?"
"Tentu saja, mari makan bersama nanti," kata Thomas sambil tersenyum hangat pada cucunya itu.
Salah satu karyawan yang menaiki lift itu sempat kaget melihat perubahan ekpersi pada Atasannya itu.
Ya ampun, jadi wajah dingin itu juga bisa berekspresi menjadi selembut itu?
Dirinya juga pernah dengar soal Pak Presdir yang membawa Istrinya ke kantor, kabarnya Pak Presdir mereka yang selalu memasang wajah dingin itu tiba-tiba bersikap manja dan memiliki ekpersi hangat pada Istrinya.
Memang, keluarga bisa merubah seseorang.
Dengan sopan, Karyawan itu menyapa Thomas Anderson rasa cemas saat pertama kali meminta wajah ini di lift sudah agak menghilang.
Sepertinya Tuan Muda kecil ini benar-benar sangat lucu dan menghangatkan hati.
Sampai lift akhirnya keluar, dan Thomas dan cucunya itu keluar.
Namun ketika keluar dari lift, Thomas malah di tabrak oleh seorang gadis.
"Maaf.... Maaf saya buru-buru,"
"Tidak masalah, tidak masalah."
Alissya yang tidak sengaja menabraknya Thomas itu tentu saja tidak mengenali Ayah Antony itu, namun dia mengenali anak kecil yang ada di gendongannya itu.
Si Kecil ini.....
Itu benar-benar mirip dengan Saudara Sepupunya!!
Apakah ini Putra Saudaranya?
Tapi kenapa dia disini?
Ah, benar sih, dia adalah salah satu anggota Keluarga Anderson juga, wajar untuk berada disini.
Sayang sekali, dirinya tidak sempat menyapa anak itu, karena mereka sudah pergi, dan dirinya juga buru-buru.
Sepertinya itu adalah anak yang cukup manis dan lucu, benar-benar mirip Kakaknya ketika dia masih kecil.
Ditempat lainnya, Raka masih berdiri dilorong kantin dengan ekpersi cukup rumit setelah melihat Alissya pergi.
Moodnya tiba-tiba menjadi buruk, melihat sepertinya Alissya masih ingin menghindarinya.
Dengan lesu, Raka berjalan menuju lift, sampai kemudian dirinya melihat wajah yang familiar.
Alex sekarang yang sudah turun dari gendongan Kakeknya itu berlalu dengan semangat di kantor.
Melihat seseorang yang familiar di ujung lorong, Alex memanggil orang itu.
"Kakak Raka!!"
Tentu saja, Raka merespon,
"Astaga, Alex.... Kenapa kamu disini?" Tanya Raka dengan ekpersi heran.
"Alex ingin membeli Es Krim."
"Tentu saja, tidak. Alex kesini bersama Kakek," kata Alex lalu menunjuk Thomas yang masih agak jauh, dan melambaikan tangannya.
"Kakek, Kakek... Kesini!!" Katanya dengan ekpersi ceria.
Raka yang menatap wajah Pamannya itu merasa sedikit tegang.
Hubungannya dengan Pamannya tidak bisa dibilang baik, namun tidak seburuk itu, masih agak takut dengan Pamannya itu.
"Hallo, Paman Thomas," sapa Raka dengan sopan, setelah Thomas dekat.
"Ya, Selamat Siang juga, Raka."
Raka lalu menjadi canggung harus berkata apa, namun untungnya, Alex mencairkan suasana,
"Kakak Raka, Kakak Raka ayo beli Es Krim yang tempo hari itu! Itu sangat enak!?"
Melihat Alex sepertinya akrab dengan Raka itu, Thomas lalu bertanya,
"Kalian saling kenal?"
Raka membalas dengan canggung,
"Ya, pernah beberapa kali bertemu.... Yah, Paman Tahukah kalau Kak Emelin teman Raka, hehe,"
"Kak Raka yang mengajak Alex berkeliling sebelumnya, Kakek. Apakah tidak apa-apa mengajaknya ikut beli Es Krim juga?"
Thomas lalu menatap Raka, dan bertanya pada Alex,
"Kenapa kamu memanggilnya Kakak? Harusnya panggil dia Paman Raka, itu baru benar,"
"Tapi, Kak Raka yang ingin di panggil Kakak,"
Thomas menatap Raka yang saat ini memiliki ekpersi malu.
"Ayolah, Paman, aku tidak ingin terlihat menjadi begitu Tua setelah di panggil Paman,"
"Tapi dengan umurmu ini, kamu sudah cukup umur untuk menjadi Ayah dari seorang anak, memang sudah cukup pas untuk di panggil Paman. Kenapa kamu tidak segera menikah saja?"
"Astaga, kenapa semua orang selalu bertanya kapan aku menikah? Aku masih ingin hidup bebas,"
"Hah, dasar anak muda. Ketika kamu masih muda, selalu sibuk mengurusi Pekerjaan dan Karir, dan akhirnya lupa dengan hal-hal penting seperti membuat Keluarga dan menikah, ketika kamu tiba-tiba berada di Umurku, kamu akan sadar betapa sedihnya itu melewatkan masa-masa muda hanya mengejar Pekerjaan dan Karir, dan tidak mengejar cinta,"
"Ah? Apakah ini sebuah nasihat? Tentu, saja tidak akan selama itu, Paman!! Aku... Aku sedang mengejar gadis yang aku suka!! Ini mungkin butuh proses yang lama!!"
"Begitukah? Paman juga akan memberimu nasehat tambahan, ada baiknya jangan terlalu lama memendam perasaan, dan ungkapkan saja secara langsung, beberapa gadis sekarang tidak terlalu peka pada perasaan seorang Pria, tahu-tahu ketika kamu menyadarinya, dia sudah di ambil orang,"
"Paman bicara apasih? Tentu saja tidak!!"
"Kamu ini, ini hanya berdasarkan pengalaman saja, yang sebaiknya tidak perlu di tiru. Jangan terlalu gengsi dan ungkapkan saja perasaanmu itu, dari pada keburu diambil orang,"
"Kenapa Paman malah mendoakan yang jelek-jelek?"
"Ya, ini hanya kemungkinan saja. Kan kamu tahu, cinta bisa datang kapan saja, siapa yang tahu kalau sebelumnya kamu mengatakannya dia sudah...."
"Akhhh..... Paman jangan menakutiku!! Tentu saja aku tidak akan membiarkannya! Aku akan mengejarnya dengan sungguh-sungguh!" Kata Raka penuh semangat.
"Ya, ya, anak muda memang masih begitu bersemangat soal hal-hal seperti ini,"
"Apa yang Kakek dan Kak Raka bicarakan?" Tanya Alex yang dari tadi menyimak mereka tapi tidak begitu mengerti.
Raka lalu mengelus ringan rambut Alex,
"Ini adalah pembicaran orang dewasa, kamu belum mengerti,"
"Apakah ini membicarakannya soal gadis-gadis? Anak-anak perempuan di Kelas Alex suka datang dan memberikan Alex coklat, bilang mereka menyukai Alex, Alex kadang tidak mengerti apa yang mereka perdebatkan dan saingan ketika mereka berlomba-lomba memberi Alex hadiah, tapi karena Alex menyukai coklat, jadi Alex menerima semuanya,"
Thomas dan Raka saling bertatapan.
Memikirkan hal-hal yang sama.
Apakah sekarang gadis-gadis kecil itu sudah sampai bersaing mendapatkan Alex?
Sungguh, mereka masih kecil.
"Alex, kamu ini jangan menerima barang sembarangan, terutama dari seorang gadis kecil, mengerti? Dan kamu masih kecil, jangan memikirkan hal-hal tidak berguna seperti itu, oke?"
"Tapi coklatnya enak,"
Thomas lalu tertawa dan mengelus rambut Alex itu.
Sepertinya Cucunya ini cukup populer dikalangan gadis kecil?
Bagaimana saat dia besar nanti?
Pasti akan ada persaingan ketat.
Raka dan Thomas lalu tertawa melihat sikap lucu Alex itu.
####
Di tempat lainnya, saat ini Alissya sudah memasuki ruang Interview.
Disana hanya ada satu orang yang mewawancarainya.
Itu adalah sesosok Pria dewasa yang cukup tampan.
Alissya memikirkannya, apakah ini calon Atasannya nanti?
Awalnya dirinya kira ini akan menjadi Pria Parubaya, karena Posisi Atasannya cukup tinggi.
Tapi tidak mengira dia masih begitu muda?
Namun berapa umurnya?
Ini seperti belum tiga puluhan?
"Silahkan duduk," kata Viktor dengan ramah sambil tersenyum.
Alissya yang sedikit gugup itu, malah tiba-tiba bertanya apa hal yang dia pikirkan,
"Berapa umur Bapak...."
Dan langsung menutup mulutnya.
Viktor hanya tersenyum, dan berkata,
"Menurutmu?"
Alissya menjadi sangat malu ketika salah bicara itu.
"Maafkan ketidak sopanan saya,"
Viktor tertawa melihat sikap lucu gadis didepannya ini.
Sepertinya ini orang yang menarik.
####
Bersambung