
Emelin cukup terkejut melihat sosok yang familiar itu benar-benar teman lamanya, Raka.
Melihat sekarang penampilan Raka begitu rapi tentu saja membuat Emelin heran.
Dulu ketika mereka masih di SMA, Raka ini terkenal sebagai anak nakal di seluruh Sekolah, yang bahkan Guru-guru tidak ada yang berani menyentuhnya, dia suka bermain-main dan bolos, tentu saja nilainya cukup buruk, juga tidak lupa sebuah tindikan ditelinganya, plus rambut yang selalu di cat dengan beberapa warna tertentu, kadang pirang, kadang coklat, kadang hijau atau bahkan merah tergantung mood anak itu.
Penampakan dari Tuan Muda Kaya Raya yang nakal dan khas, itulah kesan Emelin pada Pemuda dihadapannya ini.
Ya, mereka berteman karena kebetulan berasal dari latar belakang yang sama, salah satu dari teman-temannya ketika SMA, namun dulu dirinya sempat putus kontrak dengan mereka karena Kakeknya melarangnya berteman dengan mereka, apalagi setelah lulus SMA, dirinya langsung hamil setelah menikah, bagaimana dirinya menunjukan wajahnya didepan teman-teman SMA nya?
Dan waktu berlalu begitu saja ketika dirinya Kuliah di Luar Negeri, dan baru reuni sekitar tiga tahun lalu lebih, dirinya bertemu dengan teman-temannya itu, namun saat itu dirinya tidak banyak berbicara dengan mereka, karena sibuk dengan berbagai urusan di Dunia Hiburan.
Sekarang memikirkannya, tiga tahun lalu penampilan Raka masih sama seperti masa SMAnya, dan sekarang lihat pakaian Elite ini!!!
Bocah ini sudah besar rupanya, dirinya kira anak didepannya ini hanya suka bermain-main.
Benar, Raka ini lebih muda darinya, kalau dulu Claudia dirinya anggap sebagai adik perempuannya, anak didepannya ini bisa dibilang adik laki-laki untuknya.
"Kak Emelin jangan berlebih-lebihan,"
"Tapi sungguh, kamu membuat aku kaget dengan penampilanmu itu!! Kamu sungguh berubah!!"
"Ketika seseorang berada dalam masa krisis, seseorang pada akhir akan berubah,"
Ketika mereka baru mulai mengobrol, ada seorang anak yang tiba-tiba muncul diantara mereka.
"Mama, Siapa Paman itu?"
Raka menatap anak itu sekilas, lalu kemudian menatap Emelin.
Dia sempat kaget, dan hampir jatuh terjungkal saking kagetnya, dan ekpersinya....
"Raka!! Kamu jangan seperti orang habis melihat hantu begitu! Biasa saja,"
"Aku hanya kaget, aku sudah dengar kalau kamu sudah memiliki anak, aku tidak mengira anakmu sudah begitu besar," kata Raka sambil menunjuk pada seorang anak didepannya, yang terlihat menunjukan wajah tidak suka ketika menatap Raka.
Raka berpikir, wajah ini...
Anak itu terlihat memiliki ekpersi yang begitu dingin...
Ini terlihat familiar, dimanakah dirinya melihatnya?
"Begitu besar apa? Ini baru enam tahun, manis begitu lucu dan imut bukan?" Kata Emelin dengan bangga, lalu dia menatap kearah Alex.
"Alex, ini teman Mama, bagaimana kalau kamu memperkenalkan dirimu?"
Alex lalu memperkenalkan dirinya dengan singkat,
"Alexander Smith, salam kenal Paman,"
Raka menatap anak itu sekilas, namun langsung merasa tidak nyaman, terutama ketika di panggil 'Paman'.
"Aku Raka, kamu jangan memanggilku Paman, panggil saja aku Kakak Raka, aku masih begitu muda, kamu tahu?"
Emelin yang melihat Raka yang bertingkah sok lucu itu hampir saja muntah.
"Raka, kamu denganku tidak jauh berbeda, kamu hanya satu tahun lebih muda,"
"Tapi aku masih muda. Aku tidak ingin dipanggil Paman! Kesannya kalau dipanggil Paman aku ini sudah tua, rasanya tidak nyaman,"
"Tapi kamu memang sudah Tua, berapa umurmu sekarang? Sudah dua puluh lima,"
"Ini baru dua puluh lima, ini masih muda bukan?"
"Aku juga baru dua puluh enam,"
"Itu benar, Putramu sudah enam tahun bukan? Tidaklah itu terlalu awal?"
"Mari sebaiknya kita duduk dan saling mengobrol disana,"
Mereka lalu memilih Es Krim, dan duduk disalah satu tempat duduk dicafe, Alex diberikan Es Krim yang besar, jadi anak itu asik menikmati Es Krim miliknya, membuat Raka dan Emelin bebas untuk saling berbicara satu sama lainnya.
Di depan teman lamanya ini, Emelin yang sudah lama tidak memiliki teman ngobrol ini tidak bisa untuk tidak curhat tentang hidupnya.
Dan Raka adalah pendengar yang baik.
"Jadi kamu di Jodohkan oleh Kakekmu untuk segera menikah, agar bisa pergi ke Dunia Hiburan?"
"Itu benar, ini adalah cerita yang panjang...."
"Tapi itu bagus, kamu bahkan sudah mencapai impianmu bukan?"
"Iya, itu memang benar tapi...."
"Kamu masih mending, kamu tahu Kakekku kan? Dia sangat keras padaku!! Aku awalnya mau pergi Ke Luar Negeri untuk menjadi Idol tapi dia melarang ku."
"Hmm, aku memikirkannya tapi apakah kamu bisa menari dan menyanyi dengan baik?"
Raka terdiam.
"Tapi bukankah aku cukup tampan?"
"Ini wajah standar,"
"Kak Emelin jangan terlalu jujur, kenapa tidak pura-pura memujiku sedikit?" Kata Raka sambil cemberut.
Emelin mencubit pipi Raka karena gemas.
"Kamu sangat imut,"
"Kak Emelin selalu seperti itu,"
Lalu keduanya tertawa bersama.
"Kamu juga masih sama, Raka, kecuali penampilanmu,"
"Kak Emelin terlihat lebih tua,"
"Heh! Siapa yang kamu panggil tua?"
"Karena kamu sudah punya anak,"
"Kenapa kamu tidak menikah saja, Raka? Apakah hubungan mu dengan dia masih berjalan?"
"Apa yang Kak Emelin bicarakan? Kami sudah lama putus, lagian siapa yang mau cepat-cepat menikah? Aku masih ingin menikmati masa muda,"
"Tidak ingin cepat-cepat menikah? Apakah kamu mau mengikuti jejak Pamanmu itu?"
Masalah jika Paman Raka tidak menikah memang bukan rahasia lagi.
"Ini mengigatkanku pada hal-hal menyebalkan soal Paman,"
"Kenapa?"
"Kamu tahu? Sekitar enam tahun yang lalu, Paman ku itu tiba-tiba membawa Putranya entah dari mana, dia sedikit lebih tua dariku, pada awalnya aku tidak begitu peduli, namun sekitar empat tahun lalu, dia mulai diangkat menjadi CEO di Perusahaan, disana aku mulai berpikir kalau dia mau mengambil harta keluargaku... Belakangan aku mulai merasakan krisis, bagaimana kalau dia benar-benar mengambil harta Keluargaku lalu aku di Usir dari sana? Apa yang akan aku lakukan tanpa Uang??"
Emelin lalu mulai mengigat masalah Keluarganya, bagaimanapun ternyata Claudia adalah Putri Kandung Ayahnya, dan bagaimana mereka menipunya dan mengambil semua uang-uangnya, dan bagaimana sekarang dirinya menjadi cukup miskin dan tidak memiliki uang sedikitpun dalam semalam.
Dirinya juga terbiasa hidup dengan mewah dan baik, tidak memiliki banyak cara menghasilkan uang.
Ya, dan pemuda di depannya ini hampir sama dengannya.
"Ada kejadian seperti itu? Jadi itu alasan kamu mulai bekerja di Perusahaan?"
"Itu benar, aku tidak ingin Perusahaan jatuh ke tangannya,"
"Ya ya ya, aku mengerti, padahal kamu sendiri yang bilang tidak ingin meneruskan Perusahaan itu."
"Tapi sekarang cerita yang berbeda, aku tidak ingin itu menjadi milik Sepupuku yang tidak jelas itu."
"Ya, kamu benar. Kamu tidak boleh membiarkannya, Raka! Kamu harus mempertahankan hak-hak milikmu, buktikan pada Kakekmu itu kalau kamu juga bisa. Jangan mudah ditipu dan diperdaya seperti aku,"
"Eh? Maksud Kak Emelin?"
Disini, Emelin mulai bercerita bagaimana Claudia menipunya, dan bagaimana warisan Kakeknya direngut karena dirinya tidak tahu apa-apa soal itu.
"Serius? Dia bisa sekurang ajar itu?"
"Serius, aku juga tidak habis pikir, apalagi kenyataan kalau dia sebenarnya adalah Putri Kandung Ayahku dengan selingkuhnya,"
"Ya, ampun Kak Emelin, Drama Keluarga Kakak sudah seperti di Sinetron-sinetron,"
"Diam, kamu makanya kamu jangan mengikuti jejak ku kalau kamu benar-benar diusir dari Keluarga mu mau dapat uang dari mana kamu?"
"Kak Emelin jangan terlalu berlebihan, bahkan sebenarnya jika aku diusir, aku masih bisa bertahan,"
"Mau menjual tubuhmu?"
"Tidaklah. Aku tidak setidaknya memiliki beberapa bakat. Lagipula aku tidak berencana melepaskan Perusahaan itu,"
"Kalau begitu kamu harus lebih banyak belajar lagi, lebih serius lah lagi,"
"Tapi Sepupuku ini sangat hebat entah bagaimana, hanya dalam beberapa tahun ini, dia sudah bisa mengembangkan Perusahaan dengan cukup baik, sedangkan aku...."
"Raka, lebih percayalah diri oke?"
"Aku tidak sebaik itu...."
Melihat ekpersi cemberut dari orang itu membuat Emelin tidak tahan.
"Kamu bisa, Raka... Ini belum terlambat oke?"
Kata Emelin lagi sambil mengelus rambut Raka, seolah sedang menghiburnya.
"Mari kita bicarakan hal-hal lain yang lebih baik, terlalu melelahkan membicarakan soal Keluarga bukan?"
"Ah, tapi ini mengigatkanku pada sesuatu. Pagi ini Claudia berani sekali meneleponku soal dia ingin meminta bantuan agar bisa menjadi Brand Ambasador di Perusahaan Anderson Group, dia berani sekali bukan?"
"Apa? Dia meneleponmu? Terus bagaimana?"
"Ya, kan aku kira dia memiliki hubungan yang baik dengan Kakak, awalnya aku ingin membantunya tapi...."
"Apa? Kamu sekarang penghianat Raka?"
"Kakak Emelin tunggu dulu penejlasanku. Aku tidak akan membantunya sama sekali. Awalnya Claudia sebenarnya di Kontrak oleh Perusahaanku untuk menjadi Brand Ambassador tapi tidak tahu kenapa dia tiba-tiba diputuskan kontraknya,"
"Itu bagus, putuskan saja semua kontrak dengan Claudia sialan itu!!"
"Sepertinya itu permintaan sepupuku, soal pembatalan kontrak itu."
"Eh? Apakah dia memiliki semacam hubungan buruk dengan Claudia?"
"Tidak-tidak, ini sebenernya sepertinya Sepupuku mendukung dan memseposori salah satu Artis cantik untuk di jadikan Brand Ambasador."
"Sepupumu seperti itu?"
"Itu benar, padahal dia sudah menikah dan memiliki seorang anak, tapi dia benar-benar berani berselingkuh dibelakang hanya karena sekarang dia memiliki uang! Tidakkan itu kurang ajar?"
"Sepupumu sepertinya benar-benar cukup buruk, hah laki-laki memang kebanyakan seperti itu, seperti Ayahku yang tukang selingkuh...."
"Tentu saja aku tidak termasuk, aku adalah orang yang setia..."
"Berapa jumlah pacarmu dulu? Mari dihitung, kalau tidak salah kamu pernah berkencan dengan beberapa orang,"
Sekarang giliran Raka yang terdiam.
"Aku seperti itu karena mereka hanya bermain-main dan mengiginkan uangku mengerti? Semua wanita juga sama saja, mereka semua matre, aku tidak menyukai mereka."
"Ya ampun, Raka. Kalau kamu masih seperti itu, kamu benar-benar akan mengikuti jejak Pamanmu."
"Aku tentu saja akan menikah kalau sudah waktunya. Tapi bicara soal ini, bagaimana Suami Kak Emelin? Aku benar-benar ingin melihat Kakak Ipar."
Ketika Emelin memikirkan suaminya, dirinya juga memiliki pemikiran yang rumit.
Mereka menikah hanya diatas kertas, hanya Pernikahan Kontrak yang cepat atau lambat akan berakhir...
Namun memikirkannya sekarang, dirinya tidak ingin melepaskan Antony begitu saja....
"Kapan-kapan aku akan memperkenalkannya padamu."
"Seseorang yang bisa mendapat hati Kak Emelin, pasti adalah sesuatu... Tapi tunggu, ini bukan salah satu dari sekian laki-laki brengsek yang mengiginkan Uang Kakak bukan? Dimasalalu aku jelas tahu seperti apa Mantan-mantan Kakak, Kakak selalu terjebak dalam sekema yang sama. Kak Emelin benar-benar tidak peka dalam hal-hal seperti ini."
Emelin memilikirkannya dan memang benar apa kata Raka.
Dirinya tipe yang mudah jatuh cinta, dan selalu tertipu oleh sekema yang sama, bahkan dengan Daniel dulu.
Hah....
"Memang, aku bisa begitu bodoh bukan? Kali ini aku benar-benar ditipu,"
Disini, Emelin juga mulai bercerita soal Daniel yang menipunya bersama Claudia.
"Dia? Ya ampun, benar-benar Kurang Ajar sekali dia, tapi tunggu, siapa Daniel ini? Dan bagaimana dengan Suami Kakak?"
Emelin sekarag jadi binggung sendiri bagaimana cara menjelaskannya.
Ini....
"Pokoknya ini cerita yang panjang, kapan-kapan aku akan menceritakannya."
"Baiklah-baiklah, ini terserah Kakak."
Lalu dua orang itu mulai menikmati beberapa camilan yang ada disitu, sambil mulai membicarakan hal-hal lainnya.
Emelin sebenarnya cukup senang bisa bertemu dengan teman lamanya.
Cukup asik memiki beberapa teman yang bisa diajak ngobrol dengan bebas.
Setidaknya beberapa beban dalam pikirannya bisa sedikit berkurang.
####
Bersambung