
Yan Ling berjalan beriringan dengan biyao yang kini terlihat teransparan di mata Yan Ling, dan tak terlihat oleh orang lain.
"Nona muda, aku hanya bisa mengantar anda sampai disini, di belokan sebelah kiri ruangan ketiga dari sini itu merupakan kamar tuan muda Yan Lan," ucap Biyao.
"Terimakasih Biyao, aku akan kesana tanpamu" jawab Yan Ling.
Biyao sengaja tak menemani Yan Ling ke tempat yan Lan berada, agar mereka berdua bisa menyelesaikan masalah yang ada dengan tak terganggu oleh kehadiran dirinya.
Tok tok suara ketukan dari luar kamar Yan Lan.
Yan Lan melangkahkan kakinya ke arah pintu dan membukanya.
Tampak seraut wajah cantik seorang wanita muda tersenyum kepada Yan Lan, dengan membawa sebuah keranjang makanan di tangannya.
"Kak Yan Lan aku membawakan mu sarapan pagi," ucap sang gadis.
"Masuklah Sin er," ucap Yan Lan mempersilahkan gadis itu masuk kedalam kamarnya.
Ming Sin Si melewati Yan Lan untuk menaruh keranjang berisi makanan dan buah buahan segar ke atas meja.
Serta merta Yan Lan mencium aroma wangi yang keluar dari tubuh Ming Sin Si begitu semerbak harumnya.
"Kak Yan Lan ayo, kok hanya berdiri saja disitu, aku sudah masak mulai dini hari hanya untukmu kak Yan Lan," ucap Ming Sin Si.
"I...ia" jawab Yan Lan.
Yan Lan berjalan menuju ke arah meja dan duduk di kursi yang telah Ming Sin Si sediakan.
"Ini adalah sup ginseng di campur dengan sarang burung walet, bermanfaat untuk menambah stamina tubuh," ucap Ming Sin Si sambil memberikan semangkuk sup yang dia bawa kepada Yan Lan.
"Terimakasih Sin er," ucap Yan Lan dengan menerima semangkuk sup pemberian Ming Sin Si.
Yan Lan menikmati semangkuk sup pemberian Ming Sin Si dengan lahap.
Dan tanpa Yan Lan sadari Ming Sin Si sadari tadi telah memperhatikan gerak gerik Yan Lan dengan seksama.
Jauh di dalam hati Ming Sin Si ada rasa kagum terhadap pemuda tampan yang ada di hadapannya itu.
"Kak Yan Lan tunggu dulu" ucap Ming Sin Si dengan sigap membersihkan sisa makanan di sudut bibir Yan Lan.
Mata mereka berdua pun saling beradu.
"Kak Yan Lan!!"
Teriakan keras tiba tiba menggema di dalam ruangan Yan Lan yang lumayan luas.
Yan Lan tersentak kaget, dia tau benar siapa pemilik suara itu.
"Yan Ling" batinnya
Buru buru Yan Lan berdiri dan menoleh kearah sumber suara, benar saja Yan Ling telah berdiri di depan pintu dengan menatap tajam ke arahnya.
"Mengapa Biyao tak memberitahuku jika Yan Ling akan kesini, pasti dia akan beranggapan lain dengan kehadiran Ming Sin Si di kamar ini, semoga ini tidak menimbulkan masalah baru bagiku," batin Yan Lan.
Yan Ling berjalan ke arah Yan Lan berada.
"Kak Yan Lan, apa kami bertiga belum cukup hingga kau ingin mencari yang ke empat, aku tak tau lagi dengan jalan pikiranmu yang sekarang ini, kau yang dulu sungguh sangat berbeda dengan yang ku kenal sekarang," ucap yan Ling.
"Kak Yan lan siapa wanita ini?" tanya Ming Sin Si.
"Diam kau!!, aku tak ingin ada pihak lain yang ikut campur dengan pembicaraan kami ini!!, lebih baik kau pergi dari sini!!" bentak Yan Ling.
Ming Sin Si yang tak terima dengan bentakan keras yang mengarah padanya, seketika naik pitam.
"Terus kau mau apa?," ucap Yan Ling dengan menunjuk muka Ming Sin Si.
Ming Sin Si segera menepis tangan Yan Ling yang menunjuk kearahnya dengan kasar.
Mendapat perlakuan seperti itu Yan Ling yang sedari tadi menahan amarah kepada Yan Lan, langsung menyerang Ming Sin Si degan sebuah tendangan keras yang membuat Ming Sin Si mundur beberapa langkah untuk menghindarinya.
Yan Lan yang sedari tadi bingung untuk berbuat apa, segera melerai pertikaian itu, tapi naas baginya karena sebuah pukulan dari Ming Sin Si mengarah telak mengenai ulu hatinya hingga membuatnya terjerembab jatuh kelantai ruangan.
Kedua wanita yang telah tersulut emosinya, tak menghiraukan kondisi Yan Lan yang meringis kesakitan.
"Aku tak menyangka jika wanita sudah sangat marah akan bisa segalak ini," batin Yan Lan.
Kembali Yan Lan melerai pertikaian itu dengan berdiri diantara kedua wanita yang tengah bertarung.
"Cukup!!" teriak Yan Lan.
Teriakan Yan Lan tak di gubris oleh kedua wanita itu, mereka tetap saling serang satu dengan yang lainnya.
Keributan di dalam kamar Yan Lan membuat kegaduhan yang menimbulkan rasa ingin tau para anggota klan Ming yang kebetulan mendengarnya.
Tak menunggu lama kerumunan anggota klan Ming telah memenuhi pintu masuk ruangan kamar Yan Lan, mereka sangat antusias dengan pertarungan kedua wanita cantik yang berada di dalamnya.
Tiba tiba saja anggota klan Ming yang tadinya berjubel, kini menghilang satu persatu karena melihat kedatangan laki laki tua bersama dengan Gio liang.
"Hentikan pertarungan ini," ucap lelaki tua dengan rambut dan jenggot yang telah memutih semua.
Seketika pertarungan itu terhenti, karena adanya aura tingkat Qi alam yang menindas yang mengarah kepada 2 orang wanita yang sedang bertarung.
"Guru.., pemuda itu yang bernama Yan Lan, dia yang telah membuat Ming Sin Si menjauh dariku, dan wanita yang bertarung dengan Ming Sin Si juga terkena tipu dayanya," ucap Gio liang memanas manasi lelaki tua itu.
Lelaki tua itu seketika berjalan ke arah Yan Lan dengan muka yang di penuhi dengan amarah.
Ming Sin si yang melihat gelagat yang tidak menguntungkan bagi Yan Lan, dengan cepat menghadang lelaki tua itu.
"Kakek...!!, kok bisa kakek berada di sini?" tanya Ming Sin Si sambil mendekati sang kakek dan memeluk lengannya.
"Sin er..., aku akan berbicara denganmu nanti, untuk saat ini aku akan memberi pelajaran pada pemuda itu," ucap lelaki tua yang begitu sangat di hormati di dalam klan Ming.
"Aku tak mau kakek menyakitinya, karena kak Yan Lan sama sekali tak bersalah dalam masalah ini," ucap Ming Sin Si.
Lelaki tua yang bernama Ming Chi Sun mengisyaratkan pada Gio Liang agar mengurus Ming Sin Si.
Dengan cepat Gio liang menarik tangan Ming Sin Si untuk keluar dari ruangan itu, akan tetapi Ming Sin Si dengan cepat pula menepis tangan Gio liang.
"Kau sangat pengecut!!, memprovokasi kakek Chi Sun dalam masalah kita, jika terjadi apa apa dengan kak Yan Lan aku tak akan memaafkanmu," ucap Ming Sin Si pada Gio liang.
"Mengapa kau selalu membela dia sementara aku ini adalah calon suami mu, apa kau lupa jika kita sudah bertunangan!?" jawab Gio liang.
Ming Sin Si terdiam ada rasa bersalah di hatinya karena telah membuat Gio liang terluka, biar bagaimana pun Gio liang pernah mengisi hari harinya sebelum dia memutuskan untuk pergi berlatih menjadi murid utama ketua Ming Chi Sun.
Sebelum Ming Sin Si menjawab perkataan Gio liang, sebuah totokan dari ketua Ming Chi Sun telah membuatnya tak berdaya.
"Liang er, bawa Sin er pergi dari sini," perintah ketua Ming Chi Sun.
"Baik guru" jawab Gio liang sambil membawa tubuh Ming Sin Si pergi meninggalkan ruangan itu.
Yan Lan menatap tajam ke arah ketua Ming Chi Sun, dia tau jika lelaki tua itu tidak senang akan keberadaan dirinya, Yan Lan pun segera bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
Tiba tiba saja Yan Lan teringat akan Yan Ling dan segera menebarkan pandangannya kesetiap sudut ruangan.
"Kemana Ling er? mengapa tak ada di dalam ruangan ini?" batin Yan Lan.