PENDEKAR MATA LANGIT

PENDEKAR MATA LANGIT
Keberangkatan


Sebenarnya Yan Lan berkeinginan untuk menunggu kelahiran anaknya, akan tetapi semua itu harus disimpannya di dalam hati, karena keadaan Zhao Quin di nirwana yang harus segera mendapatkan obat penyembuh, sebelum keadaannya semakin parah.


Di suatu malam, saat putri Xing Xia Lin tertidur lelap, Yan Lan menatap kearah perut sang istri yang mulai terlihat semakin membesar.


"Anakku, maafkan ayahmu ini karena tak bisa menemani kelahiran mu di dunia ini, dan entah mengapa aku merasakan firasat buruk tentang mu, semoga saja setelah aku kembali ke benua permata hijau, aku bisa melihatmu tubuh menjadi besar," bisik Yan Lan.


"Aku akan memberikanmu mata langit yang merupakan kekuatan turun-temurun dari para leluhur kita, dan juga aku akan memberikanmu inti api surgawi yang ada padaku, semua itu akan menjadi milikmu setelah kau berusia 15 tahun, dan aku sertakan kitab kuno cara membuat pil sebagai bekalmu suatu hari kelak," bisik Yan Lan.


Yan Lan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan, entah mengapa firasatnya mengatakan jika dirinya akan berpisah jauh dengan anak yang berada di dalam kandungan putri Xing Xia Lin istrinya.


Yan Lan segera mengeluarkan seluruh energi di telapak tangannya, dan tak lama energi itu berkumpul dan membentuk sebuah bulatan cahaya sebesar telur, dan energi itu perlahan-lahan masuk ke dalam rahim istrinya.


*****


Sebelum keberangkatannya meninggalkan benua permata hijau, Yan Lan berpesan kepada Gon Lang sahabatnya, untuk melindungi istana Giok. Sementara Jatayu dan Biyao ditugaskan untuk melindungi istana Phoenix.


Setelah berpamitan dengan kerabat dekat dan ketiga istrinya, Yan Lan pun pergi meninggalkan istana Phoenix untuk menuju ke benua semesta biru, dalam mencari tumbuhan kristal penumbuh roh.


Awal baru bagi Yan Lan, diapun meninggalkan seluruh baju kebesaran dan mahkota kekuasaannya, dan berganti dengan baju biasa yang sangat jauh dari kesan mewah.


Dengan menaiki seekor kuda, Yan Lan mengikuti kata hatinya dengan terus memacu kudanya menembus lebatnya hutan belantara.


Setelah tiga bulan lamanya Yan Lan berjalan, pada akhirnya dia menemukan sebuah desa di pesisir laut, desa itu terkesan rame karena terdapat pelabuhan disana.


Di pelabuhan itu terdapat beberapa perahu besar yang biasanya mengantarkan orang-orang yang akan menyebrang, dari benua permata hijau ke benua semesta biru.


Yan Lan mendatangi salah satu pemilik perahu yang akan berangkat ke benua semesta biru.


"Paman, aku ingin pergi ke benua semesta biru, dapatkah kau mengantarkanku ke sana?" tanya Yan Lan kepada pemilik perahu.


"Untuk kesana Tuan harus membayar 100 keping uang emas, jawab sang pemilik perahu.


"Baiklah, aku akan membayarnya," ucap Yan Lan sambil memberikan sekantong uang emas kepada pemilik perahu.


Setelah membayar ongkos penyebrangan, Yan Lan di perbolehkan menaiki perahu.


Di atas perahu sudah banyak terdapat para penumpang, yang rata rata merupakan seorang kultivator dan saudagar yang membawa barang dagangan, berupa kain dan berbagai macam sumberdaya, termasuk saudagar Rothim yang paling banyak membawa sumberdaya yang di peruntukkan bagi sekte besar yang berada di benua semesta biru.


Tiba tiba saja salah seorang penumpang yang memakai caping berdiri dari duduknya, dia merupakan laki-laki paruh baya dengan sebuah sobekan di pipi kirinya, seperti bekas luka lama dari sebuah pertarungan. Dan tak lama kemudian beberapa orang dengan pedang terhunus berdiri di belakang laki laki paruh baya tersebut.


"Serahkan harta benda kalian, atau kalian akan ku bunuh dan mayat kalian akan ku buang ke laut lepas ini, agar menjadi santapan ikan-ikan di dalam sana!!" ucap laki-laki paruh baya itu.


Tak lama kemudian, Kultivator para pedagang dan para saudagar bangkit berdiri dari duduknya, mereka menatap tajam ke arah sesosok laki-laki paruh baya yang tengah mengancam majikannya.


"Jika kau ingin menjarah barang-barang di kapal ini, maka langkahi dulu mayatku!!" ucap salah seorang pemuda yang menjadi penjaga keamanan bagi salah satu saudagar yang berada di atas kapal.


"Ha..ha..ha.., untuk apa kau bersusah-susah payah menjaga para saudagar yang sudah kaya itu? kau baginya hanya seorang budak!!, lebih baik kau bergabung dengan kelompok Kalajengking hitam, dan dirimu akan menjadi lebih berharga di mata mereka, aku juga akan memberikanmu kekayaan yang berlimpah dan juga kekuasaan di benua semesta biru, karena kelompok kalajengking hitam merupakan perampok yang sangat ditakuti bagi ke empat kerajaan besar yang ada di sana," ucap lelaki paruh baya sambil tersenyum sinis kepada sang pemuda.


"Persetan dengan perkataanmu itu!!, aku tetap akan membela saudagar yang telah memakai jasa keamanan dariku, apapun yang kau katakan takkan mempengaruhi ku, maka majulah kalian semua!!" ucap sang pemuda menantang.


Lelaki paruh baya itu langsung mengeluarkan aura yang sangat kuat dari tubuhnya, aura itu langsung menindas semua penumpang yang ada di dalam perahu penyeberangan itu, termasuk Yan Lan yang berada di tempat itu.


Terdengar teriakan para penumpang yang terkena aura yang sangat menindas, yang dilepaskan oleh lelaki tua paruh baya.


Yan Lan hanya terdiam dan tetap memandangi lautan lepas yang biru, tanpa mempedulikan aura yang menimpa tubuhnya.


Sesaat lelaki paruh baya itu melirik ke arah Yan Lan dan kemudian kembali menatap tajam, ke arah pemuda yang tengah menjejakkan kaki kanannya ke lantai perahu. Akibat hentakan kaki kanan sang pemuda, menciptakan gelombang kejut yang dapat menghilangkan aura yang keluar dari tubuh lelaki paruh baya itu.


Tak lama kemudian pertarungan pun terjadi, hingga membuat kegaduhan di atas perahu yang terus berjalan menembus panas terik siang itu, akibat keributan itu membuat keadaan perahu menjadi oleng.


Saat perahu oleng, tiba tiba saja seorang laki laki tua dengan semua rambut dan jenggot yang telah memutih, mengalirkan energi yang sangat kuat kedalam perahu, hingga perahu kembali normal.


Terlihat lelaki tua itu marah, yang membuat aura yang sangat kuat keluar dari tubuhnya. Dengan sekali kibasan tangan, semua yang tengah bertarung terhempas hingga menabrak dinding perahu. Seluruh orang yang berada di dalam perahu tertekan dan merasa takut akan sosok tua yang ada di hadapan mereka.


"Aku tak ingin ada yang bertarung lagi, jika ada yang ingin bertarung, bertarung lah dengan ku!!" ucap lelaki tua.


Tak lama berselang, seorang wanita muda datang menghampiri lelaki tua itu.


"Kakek, jangan terlalu menindas mereka, ini hanya persoalan kecil, tak mungkin Kaisar es yang turun tangan langsung untuk menghentikan pertarungan, karena masih banyak anak muda yang mempunyai kemampuan di atas mereka, yang hanya diam dan tak peduli dengan keadaan yang ada," ucap sang wanita.


Mendengar perkataan sang wanita, Yan Lan pun memalingkan pandangannya kearah wanita itu. Betapa terkejutnya Yan Lan melihat kearah sang wanita, karena wanita itu begitu sangat di kenalinya.


"Dewi Nalan Xi!!" batin Yan Lan.