PENDEKAR MATA LANGIT

PENDEKAR MATA LANGIT
Tertipu


"Nona muda siapakah namamu?" tanya pemimpin prajurit penjaga tiba-tiba.


"Namaku Limudza," ucapnya singkat.


"Nama yang sangat cantik seperti orangnya, berapakah usiamu dan apakah kau telah berkeluarga?" tanya pemimpin prajurit penjaga kembali.


"Mengapa kau tanyakan hal itu padaku?" Putri Limudza pun balik bertanya.


"Untuk pembuatan sebuah lencana atau tanda pengenal diri, data diri harus di catat disi," ucap pemimpin prajurit penjaga sambil membawakan segelas anggur di tangannya, dan diapun duduk berhadapan dengan putri Limudza.


Putri Limudza yang sangat polos pun menjawab pertanyaan yang di berikan kepadanya. " usiaku menginjak 16 tahun dan aku belum berkeluarga," jawabnya.


Terlihat pemimpin prajurit penjaga mengangguk-anggukan kepalanya pelan, seperti mengerti dengan apa yang dikatakan oleh putri Limudza.


"Sebentar lagi aku akan membuatkan lencana pengenal untukmu, dan kau akan dapat keluar masuk kota bintang dengan leluasa, tanpa harus ditahan oleh prajurit penjaga," ucap pemimpin prajurit penjaga.


"Terimakasih," ucap putri Limudza singkat.


"Silahkan di minum, aku hanya mempunyai minuman ini," ucap pemimpin penjaga sambil mempersilahkan wanita muda dihadapannya untuk meminum anggur yang di sajikan nya.


"Ternyata dia masih sangat lah muda dan masih perawan, aku sungguh sangat beruntung jika berhasil mendapatkannya," batin pemimpin prajurit penjaga gerbang sambil menatap dan mengagumi paras cantik putri Limudza.


Akan tetapi usahanya itu sia sia, wanita muda itu menolak untuk meminum anggur yang telah dibuatnya.


"Maaf, sebelumnya aku tak pernah meminum anggur, dan terima kasih atas suguhan anggur ini," ucap sang wanita.


Mendengar hal itu, pemimpin penjaga serta-merta berpikir keras agar wanita muda yang ada di hadapannya, dapat meminum anggur yang telah diberikan bubuk memabukkan di dalamnya.


"Ha..ha..ha..." tawa kecil pemimpin prajurit penjaga menggema di ruangan itu.


"Nona muda berarti kau bukan berasal dari daerah di sekitar sini, orang-orang di sini sangat menjunjung tinggi kehormatan, jika dia bertamu ke tempat keluarga, teman, ataupun orang yang tak dikenalnya, dia pasti akan mencicipi minuman atau makanan yang disajikan walau pun hanya sedikit, itu untuk menghormati keberadaan tuan rumah, bukannya aku menggurui mu tapi ini hanya sekedar informasi yang berlaku di sini, jika nanti kau bertemu atau bertandang ke tempat lain, kau harus mengikuti kebiasaan yang berlaku turun-temurun di tempat ini," ucap pemimpin prajurit penjaga.


Mendengar perkataan dan penjelasan dari pemimpin prajurit penjaga, putri Limudza yang tak mencurigai akal licik laki-laki gendut yang ada di hadapannya, langsung meneguk anggur yang ada di hadapannya untuk menghormati pemimpin prajurit penjaga yang telah baik padanya.


Melihat wanita muda itu mau minum anggur yang telah dibuatnya, membuat pemimpin prajurit penjaga kegirangan di dalam hati, diapun meminta ijin kebelakang untuk mencari bahan pembuatan lencana.


Akan tetapi itu hanyalah akal-akalan liciknya saja, bukannya mau mengambil bahan untuk pembuatan lencana, sang pemimpin prajurit penjaga malah mengeluarkan pil berwarna hitam dari dalam kontak penyimpanannya.


"Dengan pil kuat ini, aku akan mengimbangi perlawanan mu yang masih muda," batin pemimpin prajurit penjaga gerbang.


Setelah meminum pil yang berwarna hitam itu, pemimpin prajurit penjaga kembali ke ruangan di mana terdapat putri Limudza berada.


Putri limudza yang telah meminum anggur, mendadak kepalanya terasa pusing dia pun bangkit dari duduknya, dan menghampiri pemimpin prajurit penjaga yang telah berada di tempat itu.


"Apa yang kau taruh di dalam minuman anggur itu?" tanya putri Limudza yang semakin merasakan kepalanya pusing, hingga membuatnya sempoyongan.


"Kau tak usah tahu apa yang berada di dalam gelas anggur itu, intinya aku akan bersenang-senang dengan mu malam ini," ucap pemimpin prajurit penjaga yang langsung mendekap erat tubuh putri Limudza.


"Jika kau berani menyentuhku, maka aku akan dengan mudah untuk membunuhmu," bentak putri Limudza sambil melangkahkan kakinya ke luar dari dalam ruangan itu.


Akan tetapi pengaruh obat yang berada dalam anggur begitu sangat kuat, hingga membuat putri limudza tak mampu untuk melanjutkan langkahnya dan tersungkur ke lantai ruangan.


Melihat hal itu, pemimpin prajurit penjaga Langsung melompat dan mendekap kembali tubuh putri Limudza, hingga terjadi pergulatan di lantai ruangan.


"Itu urusan nanti jika kau akan membunuhku kelak, yang terpenting hari ini aku akan dapat bersenang-senang denganmu!!" ucap pemimpin prajurit penjaga gerbang.


Pemimpin prajurit penjaga yang telah di atas tubuh putri Limudza, berkali kali berusaha untuk menotok jalan darah wanita muda itu, dengan tujuan untuk menghentikan pergerakannya


Akan tetapi usahanya selalu gagal, wanita muda yang masih mempunyai sedikit kesadaran mampu untuk menghindari serangannya, dan kembali dapat menghempaskan pemimpin prajurit penjaga ke belakang.


Di depan gerbang kota, dua orang pemuda yang merupakan anak bangsawan yang baru pulang dari berburu di hutan menghentikan laju kudanya. "Prajurit...!! apa yang telah terjadi di bangunan itu hingga suaranya berisik sekali?" tanya salah seorang pemuda.


Para prajurit terdiam, dan tak bisa menjawab pertanyaan dari salah seorang anak bangsawan itu, hingga membuat kecurigaan di antara kedua pemuda yang masih duduk di atas kudanya.


Keduanya langsung melompat turun dari kuda mereka masing-masing, dan melangkah menuju ke arah bangunan besar yang jaraknya hanya sekitar 30 meter dari pintu gerbang kota.


Kedua pemuda itu terkejut melihat keadaan di dalam ruangan yang berantakan, di sisi lain terlihat pemimpin prajurit penjaga mencoba berdiri untuk memberi hormat kepada kedua anak bangsawan itu.


"Siapa wanita ini, dan apa yang telah kau lakukan padanya?" tanya pemimpin prajurit penjaga.


"Maaf tuan muda, wanita ini mabuk dan mengamuk di tempat ini, sehingga aku berusaha untuk menenangkannya," ucap pemimpin prajurit penjaga mengelak.


"Plak...kk!!"


Sebuah tamparan keras langsung mendarat di pipi pemimpin prajurit penjaga, hingga membuatnya terjerembab ke lantai ruangan.


"Kau kira kami berdua adalah anak kecil yang dapat kau bodohi, jika sekali lagi aku mendengar atau melihatmu melakukan hal ini kepada seorang wanita, maka aku akan mengatakan pada ayahku agar kau dihukum dan jabatan mu akan ditarik kembali," ucap salah seorang pemuda.


"Ampun tuan muda...!! Aku tak akan mengulangi perbuatan ku," pekik pemimpin prajurit penjaga sambil bersujud berkali-kali dihadapan kedua pemuda, anak bangsawan itu.


Setelah selesai mengurus pemimpin prajurit penjaga, salah seorang pemuda dari 2 orang pemuda yang ada, langsung mengangkat tubuh putri Limudza dan membawanya menuju ke kediaman Bangsawan Houcun Li, yang merupakan ayah dari mereka berdua.


Di depan kediaman bangsawan Houcun Li, sang ibu menyambut kedua putranya yang telah kembali dari berburu, dengan rasa heran yang menyelimuti pikirannya


"Apa yang kalian bawa itu, mengapa ada wanita muda kau bawa ke rumah ini?" tanya sang ibu yang bernama An Ying.


"Ibu aku membawa wanita ini ke rumah, karena tak ada pilihan lain lagi untuk menolongnya, kami menemukannya saat dia akan diperkosa oleh beberapa kelompok di dalam hutan," ucapnya berbohong.


"Jika benar apa yang kalian katakan maka cepatlah membawanya ke ruang pengobatan, panggil beberapa tabib untuk segera menyembuhkannya, dan jangan sampai ayahmu mengetahui hal ini karena akan mengundang amarahnya," ucap An Ying.


"Baik ibu, kami akan segera membawanya untuk mendapatkan pertolongan dari para tabib keluarga kita," ucap salah seorang putra An Ying.


Kedua pemuda itu bernama Houcun Lay sebagai kakak, Houcun Bin sebagai adik, dan mereka berdua mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Houcun Cia.