
Malam terus merangkak, angin sepoi-sepoi berhembus menimbulkan rasa dingin yang menusuk tulang, di sebuah gundukan tanah yang terdapat batu besar, Yan Lan duduk bersila untuk segera melakukan meditasi.
"Entah mengapa perasaanku begitu sangat khwatir dengan istriku Xing Xia Lin yang sedang mengandung anakku, semoga keadaannya baik baik saja disana," bisik Yan Lan.
Yan Lan mulai memejamkan matanya, untuk melakukan meditasi.
Di istana phoenix, Biyao merasakan kehadiran Yan Lan, diapun menghentikan pekerjaannya dan mulai duduk bersila untuk melakukan meditasi.
Di dalam meditasinya, Biyao bertemu dengan Yan Lan sahabatnya.
"Biyao saudaraku, akhir akhir ini aku merasakan firasat dan ke khwatiran terhadap istriku Xing Xia Lin yang sedang mengandung anakku, apakah ada sesuatu yang menimpa istriku itu?" tanya Yan Lan.
"Yang mulia, memang ada insiden yang menimpa putri Xing Xia Lin di istana Giok, ada beberapa orang yang sengaja mencoba untuk membunuhnya, akan tetapi masalah itu telah di tangani oleh jendral Gon Lang yang berada di istana Giok, sementara pelakunya belum kita ketahui karena saat sang pelaku pembunuhan ditangkap, dia telah meminum racun yang membuat para pelaku mati seketika, disinyalir ada orang dalam yang tahu seluk beluk kerajaan, sehingga mereka dapat melancarkan aksinya dengan mudah walaupun tempat kediaman sang Putri telah dijaga ketat," ucap Biyao.
"Menurutmu siapakah yang ingin membunuh istriku itu Biyao?" tanya Yan Lan.
"Maaf yang mulia, dari hasil penyelidikan ku beberapa hari ini, ada kemungkinan yang ingin membunuh Putri Xing Xia Lin adalah putri Yun er, karena hanya dialah yang membenci Putri Xing Xia Lin yang bisa mengandung seorang anak dari yang mulia, aku dan Gon Lang telah mengembangkan kasus ini tapi sampai saat ini kami berdua belum menemukan titik terang, dan barang bukti siapa yang setega itu ingin membunuh Putri Xing Xia Lin masih menjadi tanda tanya, secara garis besarnya kami berdua berpendapat jika semua masalah yang terjadi tertuju pada Putri Yun er yang menjadi sumber masalahnya.
Terlihat Yan Lan menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya keluar secara perlahan lahan, dia tak menyangka jika istri keduanya itu begitu berniat jahat kepada Xing Xia Lin yang tengah mengandung anaknya, hanya karena Xing Xia Lin dapat hamil sementara Yun er tak dapat memberikannya keturunan.
"Aku telah berlaku adil kepada ke tiga istriku, aku menyayangi mereka bertiga dan tak ada yang ku beda bedakan dengan melakukan perlakuan khusus padanya, tapi mengapa masih saja ada rasa iri dan kedengkian di antara mereka," batin Yan Lan.
"Bagai mana dengan putri Yan Ling menanggapi peristiwa ini Biyao?" tanya Yan Lan kembali.
"Putri Yan Ling begitu sangat menyayangi putri Xing Xia Lin, setelah kejadian itu putri Yan Ling selalu berada di sisi putri Xing Xia Lin untuk menemani dan menghiburnya, dia juga menganggap jika anak yang berada di kandungan Putri Xing Xia Lin seperti anak kandungnya sendiri. Yang mulia tak usah khwatir, Putri Yan Ling tak akan pernah menyakiti putri Xing Xia Lin aku jamin itu," ucap Biyao.
Yan Lan dapat bernapas lega mendengar perkataan Biyao mengenai istrinya Yan Ling, yang begitu sangat perhatian terhadap Xing Xia Lin.
"Aku tak sia sia menjadikan mu ratu di istana phoenix Lin er, kau begitu lebih dewasa dan tau apa yang bisa membuatku bahagia," batin Yan Lan.
"Biyao aku ingin kau secara pribadi yang menjaga putri Xing Xia Lin, jangan biarkan ada satu orang pun yang dapat membahayakan nyawanya, semua pekerjaan yang selama ini kau emban, akan ku limpahkan pada ayah mertuaku Yan Lou, berikan surat ini pada penasehat Yan Lou dia akan mengerti setelah membacanya," ucap Yan Lan.
Sesaat Yan Lan menulis sebuah surat yang diperuntukkan kepada penasehat Yan Lou, yang isinya agar penasehat Yan Lao mengambil alih tugas yang dibebankan pada Biyao, karena ada tugas yang lebih penting untuk dikerjakan oleh Biyao.
Setelah menerima surat itu, Biyao segera pamit untuk kembali ke Benua permata hijau.
"Aku pergi dulu Yang mulia," ucap Biyao.
"Pergilah Biyao, dan terimakasih," ucap Yan Lan.
Biyao menganggukkan kepalanya dan kemudian menghilang dari hadapan Yan Lan.
Setelah kepergian Biyao, Yan Lan perlahan membuka matanya untuk mengakhiri meditasinya malam itu.
"Aku harus kembali ke dalam sekte, karena hari sebentar lagi pagi," bisik Yan Lan.
Yan Lan segera melesat pergi dari tempat itu menuju ke dalam sekte pasir es.
*****
Pagi hari, matahari sangat cerah bersinar memberikan kehangatannya ke dalam sekte pasir es.
Semua mata menatap tajam ke arah sesosok wanita wanita cantik yang sedang membawa keranjang di tangan kanannya, mereka semua seakan tak percaya jika putri dari kerajaan besar cahaya nirwana yang terkenal dingin, datang menghadap salah satu tetua petinggi sekte pasir es, guna menanyakan tempat kediaman Yan Lan.
Setelah mengetahui tempat kediaman Yan Lan, sang putri segera menuju kesana.
Yan Lan yang telah mandi dan membersihkan diri, bersantai di dalam kamarnya yang menghadap keluar jendela dengan membaca sebuah kitab tentang strategi berperang, yang diberikan oleh Dewa suci guna menjadi bekal Yan Lan yang nantinya akan menjabat sebagai jenderal tertinggi langit.
"Tok..tok..tok..!!"
Suara pintu yang di ketuk dari luar kamar.
Yan Lan menghentikan membaca kitab itu, dan memasukkan kitab itu kembali ke dalam cincin ruangnya.
"Siapa gerangan yang mengetuk pintu pagi-pagi begini?" batin Yan Lan dan melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamarnya.
Saat pintu dibuka, maka terkejutlah Yan Lan melihat sosok wanita yang berada di depan pintu kamarnya.
"Putri Bilqis, apa aku tak salah lihat?" batin Yan Lan.
"Apa aku mengganggumu?" tanya sang putri.
"Tentu saja tidak, aku juga sedang bersantai, apakah gerangan seorang putri dari kerajaan besar datang ketempat ku ini?" tanya Yan Lan.
"Aku membawakanmu sarapan pagi, dan aku membuatnya sendiri, semoga kamu menyukainya," jawab putri Bilqis sambil berjalan ke arah meja yang berada di dalam ruangan kamar Yan lan, kemudian meletakkan keranjang makanan yang di bawanya keatas meja.
Dengan cekatan Putri Bilqis meletakkan satu persatu isi di dalam keranjang ke atas meja, yang membuat aroma masakan lezat seketika menyebar ke setiap sudut ruangan kamar Yan Lan.
"Silahkan Yan Lan, apakah kau tak ingin mencoba masakan ku ini?" tanya putri Bilqis dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
Yan Lan hanya terdiam sambil menatap ke arah meja, yang dipenuhi dengan masakan lezat yang dibawa oleh Putri Bilqis.
"Makanan ini tak beracun, walaupun kita adalah saingan saat turnamen nanti, tapi kali ini aku tak mempunyai niat buruk untuk meracuni mu lewat makanan ini," ucap putri Bilqis kembali.
"Aku tak berfikir seperti itu tuan putri, masakan ini terlalu banyak bagiku, aku hanya berpikiran dapatkah engkau menemaniku makan?" tanya Yan Lan.
Wajah Putri Bilqis seketika merah mendengar jawaban dari Yan Lan, baru kali ini ada pemuda yang berani mengajaknya makan berdua.
"Kau saja yang makan, aku tidak lapar," jawab putri Bilqis singkat.
"Baik kalau begitu, aku juga masih kenyang," ucap Yan Lan sambil melangkah ke arah tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya di sana.
Apa yang dilakukan oleh Yan Lan membuat sang Putri kesal, semua jerih payahnya untuk memasak pagi-pagi sekali begitu sangat tak dihargai oleh Yan Lan.
"Kali ini kau menang Yan Lan, setelah aku tahu cara untuk dapat menguasai teknik Dewi teratai yang ada padaku dengan bantuanmu, maka saat itu aku akan menghajarmu!!" batin Putri Bilqis.
"Aku akan menemanimu makan!" ucap putri Bilqis singkat.
"Gitu dong, kalau begitu ayo kita makan jawab Yan Lan sambil melangkah kearah meja, dan mulai memakan masakan yang ada di atas meja.