PENDEKAR MATA LANGIT

PENDEKAR MATA LANGIT
Pernikahan putri Bilqis


Setelah sampai di kediaman Qing ruo, Yan Lan membaringkan tubuh Cencen di pembaringan yang berada di dalam tempat kediaman Qing ruo, kemudian Yan Lan memeriksa denyut nadi Cencen dan juga memeriksa keadaan tubuhnya.


"Keadaannya cukup parah, ada beberapa Merindiannya yang rusak, aku harus mencari bahan obat di dalam hutan ini untuk menyembuhkannya, tapi bahan obat yang akan ku cari begitu sangat langka di dapatkan, dan tak mungkin hutan ini menyediakan bahan obat yang akan kucari itu," batin Yan Lan.


Di dalam diamnya, Yan Lan teringat akan berbagai macam sumberdaya yang dia dapatkan dari rumah saudagar Rohtim, Yan Lan pun mengeluarkan semua sumberdaya itu dari dalam cincin penyimpanannya.


"Ternyata obat yang kucari berada di sini," bisik Yan Lan dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Semua yang di lakukan Yan Lan terlihat jelas oleh Qing ruo, di mana Yan Lan dapat memurnikan sebuah pil yang membuat Qing ruo semakin kagum dengan sosok pemuda yang ada di hadapannya itu.


Yan Lan memasukkan sebuah pil kedalam mulut Cencen, dan mulai mengalirkan energi murni yang dia milikinya ketubuh Cencen, agar pil yang ditelan oleh Cencen dapat segera di cerna dan meresap kedalam tubuhnya.


Tak lama kemudian Cencen sadar dari pingsannya, dan menatap ke arah Yan Lan berada.


"Apakah aku sudah mati tuan muda?" tanya Cencen.


"Kau belum mati, kau hanya terluka dalam, dan saat ini tengah melakukan pemulihan," jawab Yan Lan.


Cencen mengalihkan pandangannya ke arah Qing ruo yang membuat Cencen terkejut melihat sosok tinggi besar itu.


Tuan muda bukannya dia...


Belum sempat Cencen melanjutkan perkataannya, terlihat Yan Lan tengah mengisyaratkan jika Cencen tak usah membahas masalah itu lagi, dengan menaruh jari telunjuk di depan hidungnya.


"Beristirahatlah, semoga esok pagi kondisimu akan lebih membaik lagi," ucap Yan Lan.


"Baik tuan muda," jawab Cencen.


Yan Lan mendekati Qing ruo. "Aku akan berkultivasi selam 3 hari, dan aku ingin kau dengan Cencen tak terlibat suatu masalah," ucap Yan Lan dengan memegang pundak Qing ruo.


"Baik tuan muda, aku akan mendengarkan perkataanmu," jawab Qing ruo.


Yan Lan segera melakukan kultivasi, untuk memulihkan diri selama tiga hari lamanya.


Setelah tersadar dari tidurnya, Cencen menanyakan keberadaan Yan Lan kepada Qing ruo, dengan rasa persahabatan Qing ruo berhasil menaklukan hati Cencen yang sempat kesal padanya.


Sementara itu di istana kerajaan cahaya nirwana, persyaratan yang di sanggupi oleh putri Bilqis untuk menikah dengan Erlang Mo, kini di tagih oleh ibunya, tak ada alasan bagi sang putri untuk menghindarinya lagi.


"Aku tetap memegang perkataanmu dan kau harus menikah dengan Erlang Mo beberapa hari kedepan, tak ada alasan lagi bagimu untuk menghindar dari pernikahan ini!!" ucap ratu Shima.


"Tapi ibu, aku ingin di dampingi oleh ayah!!" jawab Putri Bilqis.


"Aku tak tau berapa lama ayahmu akan selesai berkultivasi, aku tak ingin kau merusak hubungan keluarga dengan bangsawan Erlang Huo, yang jelas kau telah menyanggupi syarat yang kuberikan untuk menikah dengan Erlang Mo, walau tanpa di dampingi oleh ayahmu!! apa kau sudah lupa?" ucap ratu Shima yang mulai meninggikan nada di dalam kata katanya.


"Ibu aku mencintai kak Yan Lan, jika ibu ingin melihat aku bahagia maka batalkan pernikahan ini, dan jika ibu ingin melihatku hancur maka lanjutkan pernikahan ini, semoga ibu tak menyesal dengan keputusan yang ibu pilihkan untukku," ucap putri Bilqis sambil meneteskan air mata di pipinya.


Ratu Shima tak menggubris perkataan putrinya, dia tetap memilih untuk melangsungkan pernikahan putrinya dengan Erlang Mo.


Setelah kepergian ratu Shima dari kamar sang putri, seorang anak laki laki yang sedari tadi mengintip di balik jendela segera mendatangi putri Bilqis.


"Kakak.., kakak yang sabar ya, aku tau kak Yan Lan orang yang baik dan paman Erlang Mo adalah orang yang sangat curang dan licik, lebih baik kakak pergi dari istana, dan mencari kak Yan Lan," ucap pangeran Zheng Bil Ang.


Putri Bilqis tak bisa berkata apa apa, hanya kepalanya yang menggeleng pelan, sambil meneteskan air mata.


"Berikan surat ini kepada kak Yan Lan saat kau menemuinya kelak," ucap putri Bilqis pada adiknya.


Pangeran Zheng Bil Ang segera meraih surat itu, dan menyembunyikan di balik bajunya. "Aku pasti akan memberikannya kakak," ucap pangeran Zheng Bil Ang.


Hari pernikahan pun tiba, suasana hikmat menyelimuti acara pernikahan antara putri Bilqis dan Erlang Mo. Tampak Erlang Mo begitu sangat bangga dapat bersanding dengan pujaan hatinya yang merupakan wanita tercantik di benua semesta biru.


"Apakah kau bahagia menikah denganku putri?" tanya Erlang Mo.


Putri Bilqis tak menjawab perkataan Erlang Mo, saat ini perasaannya telah hancur sehancur hancurnya, dia hanya diam, entah apa yang ada di dalam pikiran sang putri saat ini, hanya dia lah yang tau.


Erlang Mo sangat kesal, diapun membisikkan sesuatu di telinga putri Bilqis.


"Sayang aku sudah tak sabar dengan malam pertama kita, dan kau sebagai istri harus bisa melayaniku dengan sebaik baiknya," ucap Erlang Mo.


Perkataan Erlang Mo membuat jantung putri Bilqis berdetak dengan cepat, buru buru sang putri mencerna keadaan yang ada, dan berusaha tenang dalam menghadapi semua itu.


Putri Bilqis menyikap penutup wajahnya, dan diapun tersenyum manis sambil berkata "Aku pasti akan memberikan yang terbaik untukmu, dan malam pertama kita nanti, merupakan malam yang tak terlupakan oleh keluarga besar kita berdua, dan tentunya untukmu sendiri," jawab putri Bilqis.


Kedua mempelai kini berjalan menuju ketempat dimana bangsawan Erlang Huo dan Ratu Shima berada, dan berhenti tepat di hadapan mereka.


Sesaat kedua mempelai memberi hormat untuk mendapatkan restu, kemudian kembali ketempat mereka semula.


Semua petinggi kerajaan datang memberi selamat kepada kedua mempelai, begitu pula para kerabat dan sahabat terdekat mereka berdua, yang juga datang memberi selamat, dan bersuka cita di acara pernikahan Erlang Mo dan putri Bilqis.


Putri Bilqis pergi duluan masuk ke dalam kamar pengantinnya, sementara Erlang Mo masih asyik dengan minuman dan bercanda dengan teman teman sesama anak bangsawan lainnya.


"Hai sobat sudah saatnya kau mendaki gunung yang masih tak terjamah itu, jangan terlalu keras memacu kudanya, ingat jalannya masih terjal dan licin, jika terlalu memaksa nantinya kau akan terluka akhirnya," ucap seorang pemuda yang juga merupakan anak bangsawan.


Ucapan anak bangsawan itu menimbulkan gelak tawa yang riuh di antara teman temannya.