
Yan Lan terus menghindari serangan tangan kosong yang dilancarkan oleh Gio liang, hingga sebuah gelombang angin panas menghentikan pertarungan mereka berdua.
"Hentikan pertikaian ini!!, aku tak mau reputasi klan Ming buruk di mata para praktisi beladiri yang bertamu kemari," ucap ketua Ming Gui dengan penuh wibawa.
"Liang er, pertimbangkan kembali sebelum kau memutuskan untuk melakukan sesuatu, jangan amarah yang menguasai dirimu," ucap ketua Ming Gui.
"Baik ketua," ucap Gio liang sambil menggenggam tinju memberi hormat.
Setelah berpamitan dengan ketua klan Ming, Gio liang segera meninggalkan tempat itu dengan tatapan tajam dan menindas ke arah Yan Lan.
"Sepertinya dia masi penasaran denganku," ucap Yan Lan dengan senyum menghiasi sudut bibirnya.
Dengan sebuah jentikan jarinya ketua Ming Gui membebaskan totokan yang berada ditubuh putrinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Sin er? mengapa Gio liang begitu marah dengan pemuda ini!," tanya ketua Ming Gui.
Ming Sin Si lalu menceritakan semua nya kepada ayahnya tentang siapa Yan lan, dan mengapa Gio liang tiba tiba menyerangnya.
"Ternyata rasa cemburu Gio liang yang besar kepada putriku yang menyebabkan keributan ini," batin ketua klan Ming.
"Lan er.., aku secara pribadi mengucapkan terimakasih karena kau telah menyelamatkan putri ku, dan untuk itu semua aku akan memberikanmu hadiah," ucap Ming Gui.
"Aku menolong putri anda bukan menginginkan imbalan, aku murni menolongnya karena rasa kemanusiaan," jawab Yan Lan.
"Lan er.., putriku telah di jodohkan dengan pemuda yang bertarung dengan mu tadi, jadi aku memintamu untuk tak mendekati putriku lagi," ucap Ming Gui sambil menatap kearah Ming Sin Si.
Ming Sin Si yang di tatap sedemikian rupa oleh ayahnya, hanya bisa menundukkan muka.
"Ketua Ming Gui aku kemari karena telah berjanji pada putri anda untuk menemuinya kembali, dan jangan khwatir aku tak akan merusak hubungan perjodohan di antara mereka berdua," ucap Yan Lan.
Yan Lan lantas mengeluarkan jasad siluman leopard api dari dalam cincin penyimpanannya, dan menjatuhkannya di tanah pas dihadapan ketua klan Ming.
"Ini kan siluman leopard api yang telah lama meresahkan desa cahaya kecil yang berada di dalam kawasan kota api di dalam klan Ming, ternyata anak muda ini telah membunuhnya," batin ketua Ming Gui.
"Lan er.., aku sangat berterimakasih karna kau telah membunuh siluman ini," ucap ketua Ming Gui.
"Jangan sungkan begitu ketua Ming, aku masih punya satu lagi binatang roh yang akan kutunjukkan padamu," ucap Yan Lan.
Yan Lan segera mengeluarkan tubuh kasar dari binatang surgawi yaitu leopard roh bintang dari dalam cincin penyimpanannya.
Ketua Ming Gui terperanjat kaget dengan apa yang baru saja di lihatnya, binatang surgawi yang menggemparkan 12 klan kini berada di hadapannya dengan kondisi sudah tak bernyawa.
"Seberapa besarkah tingkat kultivasi pemuda ini hingga dapat membunuh binatang surgawi? dan mengapa aku tak bisa melihat tingkat kultivasinya? aku tidak boleh membuatnya tersinggung karna sepertinya pemuda ini bukanlah orang sembarangan," batin Ming Gui.
Ketua Ming Gui menyuruh beberapa anggota klan untuk membawa jasat kedua leopard yang sudah tak bernyawa, dan membawa Yan Lan menuju ke dalam aula utama klan.
Di aula utama ketua Hyo jin datang menghampiri Yan Lan dan menggenggam tinjunya memberi hormat.
"Tuan muda, anda disini," tanyanya.
"Ia paman, aku sedikit ada urusan disini," jawab Yan Lan singkat.
"Saudara Huang jin anda juga disini rupanya, keadaanku baik baik saja," jawab Yan Lan.
"O..o..o.., rupanya kau juga berada disini, aku sangat heran padamu Yan Lan, mengapa kau selalu ada dimana mana dan itu membuatku sangat muak melihatmu," ucap Yan Ling yang tiba tiba telah berada di hadapan Yan Lan.
Yan Lan menatap Yan Ling dalam dalam, dan tak mengira jika teman kecilnya itu begitu sangat membencinya.
"Ling er.., jaga sikapmu," ucap ketua Hyo jin.
Yan Ling akhirnya terdiam mendengar ucapan dari ketua Hyo jin.
Setelah pertemuan itu, Yan Lan berpamitan kepada seluruh orang orang yang berada di dalam aula utama klan Ming, untuk beristirahat.
Ming Sin Si mengantarkan Yan Lan ke ruangan tempat peristirahatan bagi para tamu klan Ming.
"Sin er sebenarnya ada yang ingin ku katakan padamu," ucap Yan Lan di suatu kesempatan.
"Katakanlah kak Yan Lan, aku akan mendengarkannya," jawab Ming Sin Si.
"Sin er sebenarnya aku ingin meminta tolong padamu agar aku bisa masuk kedalam hutan yang berada di tengah tengah klan Ming, dapatkah kau membantuku?" tanya Yan Lan.
Ming Sin Si terlihat kebingungan untuk menjawab permintaan Yan Lan , kesakralan hutan yang berada di kawasan klan Ming begitu sangat di junjung tinggi oleh para anggota klan Ming.
Selama hidup Ming Sin Si sekali pun tak pernah memasuki hutan tersebut karena yang di perbolehkan untuk masuk kedalam hutan hanya ketua klan Ming saja.
"Kakak Yan Lan aku tak bisa membantumu untuk masuk kedalam sana, hutan itu sangat di sakral kan bagi kami anggota klan Ming, kesakralan hutan itu hanya ayahku saja yang mengetahuinya. Menurut cerita ayahku, di dalam hutan itu terdapat makam kuno para leluhur pendiri klan dan para generasi ketua yang pernah menjabat sebagai ketua terdahulu, disana terdapat juga terdapat tugu kuno yang menjulang tinggi keatas, hingga sampai saat ini tugu kuno itu tak tau untuk apa kegunaannya, ayahku sendiripun tak mengetahuinya," jawab Ming Sin Si.
"Baiklah jika begitu adanya, aku tak mungkin memaksamu untuk melakukan hal yang tak bisa kau lakukan," ucap Yan Lan.
"Terimakasih kak Yan Lan, aku tetap akan mencoba membantumu dengan berbicara pada ayahku tentang permintaanmu itu," ucap Ming Sin Si.
"Paling tidak tugu kuno itu memang berada di sana," batin Yan Lan.
Setelah kepergian Ming Sin Si, Yan Lan segera masuk kedalam kamarnya.
Di dalam kamar tiba tiba saja Biyao keluar dari balik bayangan Yan Lan.
"Ada apa biyao?" tanya Yan Lan.
"Tuan muda, wanita yang bernama Yan Ling begitu sangat membenci anda karena di dalam kepalanya terdapat cacing roh yang mempengaruhi pikirannya untuk membenci anda," jawab biyao.
"Apa? mengapa aku tak menyadari akan hal itu" ucap Yan Lan.
"Tenanglah tuan muda, malam ini aku akan mengeluarkan semua cacing kebencian yang berada di dalam kepala Yan Ling," ucap Biyao.
"Terimakasih Biyao atas semua bantuanmu," ucap Yan Lan.
Biyao menganggukkan kepalanya kemudian menghilang dari pandangan Yan Lan.