PENDEKAR MATA LANGIT

PENDEKAR MATA LANGIT
Bertemu pangeran


Percakapan terus berlanjut sambil menikmati hidangan yang di sajikan oleh Qing ruo. Terlihat Cencen kembali berkata "Tuan muda, bagaimana dengan putri Bilqis?" tanyanya.


Yan Lan menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya keluar secara perlahan lahan, Yan Lan diam sesaat, dan membayangkan hubungan rumitnya dengan putri Bilqis.


"Dia telah meninggalkan aku, dan aku tak akan menyalahkan siapapun dalam hal ini, putri Bilqis telah memilih jalan terbaik untuk pasangan hidupnya di masa depan, dan aku tak akan menganggu keputusannya itu," jawab Yan Lan.


"Tapi tuan muda, semua keputusan putri Bilqis adalah paksaan dari ratu Shima, dia mengorbankan dirinya untuk menikahi laki laki yang tak dicintainya agar kita terbebas dari pengepungan armada tempur kerajaan cahaya nirwana," ucap Cencen yang tak terima jika hubungan tuan mudanya dan putri Bilqis harus berakhir dengan tragis.


"Semua itu akan kembali seperti sedia kala seiring berjalannya waktu," jawab Yan Lan singkat sambil melangkah pergi untuk melakukan kultivasi.


Sementara itu Cencen dan Qing ruo terus melanjutkan minum anggur sampai mereka berdua tertidur di tempat masing masing karena mabuk.


Menjelang pagi Yan Lan selesai melakukan kultivasinya, dan menatap kearah 2 orang kultivator yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Aku tak akan membawa kalian untuk pergi membahayakan diri ke kerajaan cahaya nirwana, lebih baik kalian berdua tetap di sini," ucap Yan Lan.


Yan Lan terbang melintasi hutan yang lebat, untuk menuju ke kota bintang di mana kerajaan cahaya nirwana berada, yang ada dalam pikiran Yan Lan kali ini, untuk mencari orang-orang yang telah menyinggung dan meremehkannya.


Tiba di dalam kota bintang, Yan Lan berjalan menuju ke arah rumah makan yang berada tak jauh di hadapannya, untuk sekedar mengisi perutnya sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke kerajaan cahaya nirwana.


Beberapa makanan telah di pesan olehnya, termasuk seguci kecil anggur sebagai teman makan di pagi itu.


Yan Lan menikmati makanannya dengan lahap dan terhenti tiba-tiba setelah mendengar percakapan dari beberapa orang yang berada di rumah makan itu, tentang masalah pernikahan putri Bilqis dengan tuan muda Erlang Mo.


Yan Lan meremas tinjunya sendiri mendengar cerita tersebut. "Ternyata Putri Balqis benar-benar meninggalkanku dan menikah dengan Erlang Mo," batin Yan Lan.


Lamunan Yan Lan pudar setelah dia dikagetkan oleh suara anak kecil yang memanggil namanya.


"Kak Yan Lan akhirnya aku menemukanmu," ucapnya.


Yan Lan menatap anak kecil tersebut, dan sangat kaget dengan sosok anak kecil yang dilihatnya itu.


"Pangeran, kau kah ini?" tanya Yan Lan.


"Ia kak, ada yang ingin ku bicarakan" ucap sang pangeran.


Yan Lan menaruh beberapa koin emas di atas meja, dan mengajak sang pangeran pergi dari tempat itu.


Setibanya di tempat yang cukup aman, Yan Lan Lan menanyakan kabar tentang putri Bilqis.


"Apa yang terjadi dengan putri Bilqis pangeran tanya Yan Lan.


"Ibu memaksa kakak untuk menikah dengan paman Erlang Mo, sementara kakak tak menyetujui keinginan ibu dan akhirnya di hari pernikahan kakak meminum racun yang membuat kakak meninggal," ucap pangeran Zheng Bil Ang dengan mata berkaca kaca.


Bagai petir di terik matahari, Yan Lan tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan sang pangeran, jika putri Bilqis sekarang telah tiada.


Yan Lan memegang kedua bahu sang pangeran. "Coba katakan sekali lagi, apa benar putri Bilqis telah tiada pangeran?" tanya Yan Lan dengan meninggikan suaranya.


Terlihat sang pangeran sangat ketakutan dengan wajah Yan lan yang penuh amarah, air matanya pun jatuh di pipinya, dia berusaha menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Yan Lan.


Setelah dirasa sang pangeran telah tenang, Yan Lan melepaskan pelukannya.


"Kak Yan Lan, sebelum meninggal, kakak menitipkan surat ini," ucap sang pangeran.


Yan Lan segera membuka surat itu, kemudian membaca isinya.


"Setelah surat ini sampai padamu, mungkin aku telah pergi jauh ke alam yang tak bisa kau sentuh, aku mencintaimu terlalu dalam sehingga aku tak ingin kau terluka dan pada akhirnya aku menyetujui menikah dengan Erlang Mo agar ibu tak menurunkan pasukannya dalam menggempurmu.


Aku tak ingin diriku ternodai dengan lelaki yang tak kucintai, aku lebih memilih mati agar aku bisa kau kenang sebagai gadis suci yang pernah kau cintai.


Erlang Mo adalah lelaki licik, ditubuhnya mempunyai aura hitam yang sangat membunuh, aku merasakan aura itu begitu sangat kuat yang belum pernah kurasakan di dalam istana selain kekuatan yang di miliki oleh ayahku.


Ibuku orang yang baik kak Yan Lan, dia menyayangi keluarganya, karena hasutan dari keluarga bangsawan yang dulu pernah menyelamatkan kedua orang tuaku di masa lampau, membuat keluarga bangsawan itu semena mena dan memanfaatkan hutang budi ayah dan ibuku.


Aku ingin kak Yan Lan tak memusnahkan kerajaan cahaya nirwana seperti kak Yan Lan menghancurkan kerajaan puncak langit, hanya itu permintaan dari ku, wanita yang mencintaimu dan wanita yang tidak beruntung bersanding dengan mu.


Zheng Bilqis.


Yan Lan meremas surat itu, dan menatap kearah pangeran Zheng Bil Ang.


"Aku akan keistana untuk melihat mayat sang putri, apakah kau akan ikut denganku?" tanya Yan Lan.


"Aku tak ingin ke istana, bawa aku pergi kak, aku sangat membenci ibu," ucap pangeran.


Yan Lan menarik napas dalam dalam, dan menghembuskannya keluar secara perlahan lahan. "Jika itu keinginanmu, aku akan membawamu ke suatu tempat," jawab Yan Lan.


Yan Lan membawa pangeran terbang, jauh kedalam lebatnya hutan dan sampai pada tempat di mana Qing ruo dan Cencen berada.


Kedua orang yang melihat kehadiran Yan Lan, segera menyongsongnya. "Tuan muda!!" ucap Cencen dan Qing ruo bersamaan.


Yan Lan menganggukkan kepalanya setelah itu diapun berkata "Aku ingin kalian berdua menjaga pangeran, karena ada hal penting yang akan ku lakukan," ucap Yan Lan.


"Baik tuan muda, aku akan menjaga pangeran," jawab Cencen.


Setelah itu Yan Lan melesat cepat menuju ke istana cahaya nirwana.


Dengan mudah Yan Lan dapat menyelinap masuk kedalam ruangan tempat jasad putri Bilqis berada, tampak batu kristal es berada di setiap sudut peti kaca yang terdapat putri Bilqis di dalamnya, untuk mencegah mayat menjadi busuk.


Yan Lan menatap wajah kaku putri Bilqis dan saat Yan Lan menyentuh tangannya, tiba tiba saja ada denyut nadi yang dia rasakan walaupun sangat kecil.


"Dia belum mati!!" bisik Yan Lan.


Yan Lan segera memeriksa tubuh putri Bilqis dan merasakan kehadiran tubuh teratai yang mengikat jiwanya.


"Aku harus segera menyelamatkannya sebelum terlambat," batin Yan Lan.


*****