
Yan Lan merasakan jika semua hal yang membuatnya terpuruk merupakan kendali dari bola kristal penyihir, dengan menggunakan senjata artefak langit yang ada di dalam cincin penyimpanannya, Yan Lan segera merubah senjata itu menjadi sebuah busur panah berwarna emas, dan langsung mengarahkan busur panah itu ke arah langit.
Tampak sebuah anak panah tiba-tiba muncul setelah Yan Lan menarik tali pada busur panah itu, dengan menggunakan energi inti surgawi untuk melapisi anak panah itu, Yan Lan segera melepaskan anak panah yang berada di dalam genggaman nya.
Anak panah bercahaya emas yang diselimuti aura berwarna putih dari api inti surgawi, melesat cepat ke arah langit hingga terjadi benturan keras di sana, yang mengakibatkan ledakan energi yang mengguncangkan segenap alam sihir darah.
"Adik ..!!, dia telah menghancurkan kristal sihirku, cepat kau bunuh dia sebelum energi di tubuhnya kembali pulih seperti sedia kala!!" teriak Lewang kepada adiknya.
Mendengar perintah sang kakak, Lewong segera merubah kabut darah yang menyelimuti tempat itu, menjadi jarum jarum berwarna merah darah yang yang teramat banyak jumlahnya.
Jarum jarum itu langsung melesat cepat ke arah Yan Lan, hingga hujanan jarum darah yang ratusan ribu jumlahnya mengarah pada satu titik yaitu di mana keberadaan Yan Lan berada.
Yan Lan yang masih mencoba menguasai dirinya dengan menghimpun kembali energi Qi di dalam tubuhnya yang telah banyak menghilang, akibat terserap oleh kekuatan energi dari bola kristal sihir yang telah di hancurkan olehnya, langsung membentuk pertahanan diri dari serangan yang akan mengarah padanya.
Sementara itu melihat Lewong yang telah mencoba menyerang Yan Lan dengan jarum jarum darahnya, Lewang sendiri langsung membuang tongkat berkepala ular yang berada di dalam genggamannya, ke dalam lahar api ciptaan lewong.
Tak hayal lagi, tongkat itu berubah menjadi ular kobra raksasa yang dapat menyemburkan lahar api dari mulutnya.
Hal ini membuat Yan Lan akan menghadapi dua serangan yang sangat mematikan dari kedua penyihir, yang sangat berkeinginan untuk membunuhnya.
Yan Lan yang telah mendapatkan 60% energi Qi di dalam tubuhnya langsung menggunakan perisai Dewa perang yang dia milikinya, untuk menghadapi kedua serangan mematikan itu.
Diapun memasang badan untuk jarum-jarum darah tersebut, karena yakin jika perisai perang yang dimilikinya mampu untuk mengatasi hal itu, sambil terus menyerap Qi alam yang berada di tempat itu, dan memanfaatkan jiwa tombak penguasa semesta untuk menghadapi ular kobra api, agar dia dapat memfokuskan diri dalam memulihkan Qi di dalam tubuhnya.
"Qi yang berada di tempat ini begitu sangat berlimpah, dan semuanya merupakan Qi alam yang berunsurkan api, ini sangat bagus untuk memulihkan semua energi ditubuhku," batin Yan Lan yang terus menyerap Qi alam yang berada di tempat itu.
Di sisi lain, ratusan ribu jarum darah tak dapat menembus perisai dewa perang yang dimiliki Yan Lan, jarum jarum itu terus berjatuhan disisi Yan lan tanpa bisa berbuat banyak, hingga pada akhirnya ratusan ribu jarum jarum darah telah habis, tanpa ada satupun yang bisa menembus perisai pelindung yang dimiliki oleh Yan Lan.
Melihat jika Yan Lan berhasil untuk menghalau semua serangan jarum darah yang di milikinya, Lewong segera melemparkan tongkat yang ada di dalam genggamannya kedalam lahar api yang membara.
Hal yang sama pun terjadi, tongkat itu berubah menjadi seekor ular kobra raksasa yang juga merupakan ular kobra api, hingga dia mampu bergerak bebas di dalam lahar api.
Akan tetapi serangan itu kembali dapat di hindari oleh kedua ular kopra api itu, dengan menceburkan diri kedalam lahar api dan timbul kembali di belakang Yan Lan dengan dengan memuntahkan lahar api dari mulutnya.
Sesaat Yan Lan tersenyum melihat serangan itu, dengan berjumpalitan di udara, Yan Lan berhasil meloloskan diri dan melakukan serangan balasan dengan menembakkan anak panahnya kembali.
Kedua anak panah itu berhasil mengenai tubuh sang ular, yang membuat teriakan kesakitan terus menjelma saat ular ular itu terluka, dan kembali menceburkan diri kedalam lautan lahar api.
Diantara kedua saudara, terjadi perbincangan yang sangat serius.
"Kak Lewang, senjata di tangan anak muda itu merupakan artefak langit, jika dia terus melukai ular ular kita itu, kita juga pasti akan terluka, hal ini tidak bisa di biarkan karena menyangkut keselamatan kita berdua," ucap Lewong sambil memegangi dadanya akibat ular jelmaan dari tongkatnya yang terkena anak panah Yan Lan, yang berakibat tubuhnya pun ikut terluka.
"Aku juga telah memikirkannya kesana adik, bagaimana cara untuk dapat mengalahkan anak muda itu, selama ini aku tak menyangka jika anak muda itu mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa, yang mampu bertahan dari setiap serangan yang yang kita berdua lakukan, tapi kita masih punya kesempatan untuk membunuhnya karena alam ini merupakan area kekuasaanmu, kau bisa membangkitkan kembali berbagai macam binatang buas dan apapun itu yang dahulu pernah kita binasakan di tempat ini," jawab Lewang.
"Kau benar kakak Lewang, mengapa aku tak kepikiran seperti itu, aku akan membentuk sebuah pasukan tempur dari semua yang telah mati di alam ini, tak mungkin pemuda itu sanggup untuk menghancurkan seluruh pasukan yang akan terbentuk nanti," ucap Lewang.
"Tapi bagaimana bisa semua pasukan yang terbentuk nanti akan dapat melewati lautan lahar api yang kau buat ini? kau juga harus memikirkan hal itu adik Lewong!!" tanya Lewang.
"Kalau masalah itu aku telah memikirkannya, aku akan membuat lautan lahar ini menjadi tanah kembali, hanya saja aku perlu waktu untuk membentuk pasukan itu, aku ingin kak Lewang menyerang pemuda itu kembali agar dapat memberi kesempatan bagiku untuk membangkitkan semua makhluk yang telah terbunuh di alam sihir darah ini," jawab Lewong.
"Baik, aku akan menghadapi anak muda itu," ucap Lewang singkat.
Setelah mereka berdua mengatur strategi dan siasat, akhirnya rencana baru untuk mengalahkan Yan Lan pun tercipta.
Lewang kembali menyerang Yan Lan dengan ular kobra api miliknya, dengan menyatukan diri kedalam ular tersebut.
Lewang yang kini telah menjelma menjadi ular cobra api raksasa, terus menyerang Yan Lan dan berusaha mengalihkan perhatiannya dari sang adik yang tengah melakukan teknik pembangkitan jiwa-jiwa yang telah mati di alam sihir darah.
*****
Nonton bola dulu, besok 2 episode.