
Yan Ling memperagakan kembali tehnik pedang sesuai dengan petunjuk pedang sejati yang di katakan oleh Yan Lan.
Yan Ling terkejut dengan tehnik pedangnya yang berubah 100 persen, kekuatan serangannya berlipat lipat kali lebih kuat dari sebelumnya, dan pertahanannya semakin kokoh dan kuat.
Yan Ling menghentikan permainan pedangnya.
"Siapa pemuda itu sebenarnya, mengapa dia memberikan petunjuk yang sangat luar biasa ini, yang tak pernah ibu ajarkan padaku," batin Yan Ling.
*****
Karena jenuh berada di dalam paviliun terus, Yan Lan pergi menghadap penjaga senior yang ada di depan pintu paviliun.
"Maaf senior, aku ingin sedikit mencari angin segar diluar sana agar bisa menenangkan pikiranku yang tegang, karena sebentar lagi aku akan berangkat menuju kekaisaran giok dimana pagoda 9 berada," ucap Yan Lan.
"Aturan disini tak memperbolehkan murid terpilih untuk berkeliaran di luar sana, walau itu putri ketua klan Glasier sendiri," jawab penjaga paveliun.
Tiba tiba saja mata Yan Lan tertuju pada seorang wanita yang masih terlihat cantik, dengan membawa sebuah keranjang menuju ke arah pintu masuk paviliun ini.
"Bibi Lian ren!!" batin Yan Lan.
Yan Lan menatap penuh kerinduan pada wanita yang dulu pernah membesarkannya itu.
Semua penjaga paveliun menaruh hormat kepada wanita itu dengan menggenggam tinjunya dan membungkukkan badan.
Wanita itu sedikit menganggukkan kepalanya dan terus melangkah masuk tanpa sedikitpun melihat kearah Yan Lan yang berada di situ.
Yan Lan mengikuti wanita itu hingga sampai di sebuah persimpangan yang sepi di dalam paviliun itu.
"Ibu peri..!!" ucap Yan Lan dari belakang wanita itu.
Sontan wanita itu terkejut setengah mati, keranjangnya sampai terjatuh dari genggamannya, nama ibu peri hanya Yan Lan lah yang biasa memanggilnya dengan sebutan itu.
Wanita yang bernama Lian ren, ibu dari Yan Ling dan Yan Lou segera membalikkan badannya.
"Yan Lan..!!" ucapnya.
Ia ibu peri, ini aku Yan Lan," jawab Yan Lan.
Lian ren segera menghampiri Yan Lan dan memeluknya.
"Kau masih hidup putraku" ucap Lian ren penuh dengan rasa rindu yang mendalam, karena sudah bertahun tahun Lian ren tak bertemu dengan anak angkatnya itu.
Yan Lan tak dapat menahan air matanya yang terus mengalir membasahi baju Lian ren, Lian ren pun tak dapat menahan air matanya yang mengalir di kedua pipinya.
"Betapa kau sangat menderita selama ini Lan er, semua orang telah menganggapmu mati, untungnya ibu masih bisa bertemu denganmu lagi," ucap Lian ren menahan isaknya.
Walau pun Yan Lan bukan anak kandungnya, akan tetapi Lian ren telah menganggap Yan Lan sebagai putranya sendiri, karena sedari kecil Lian ren lah yang merawat Yan Lan.
"Ibu peri aku tak ingin keberadaan ku ini di ketahui orang lain biar pun itu ayah sendiri, biarkan ketenangan yang sudah ada ini bisa terus terjaga, biarkan mereka semua mengira aku telah mati dan pada suatu hari nanti setelah aku sudah cukup kuat, dan kultivasi telah mumpuni aku akan membalas semua perlakuan mereka padaku, " ucap Yan Lan.
Lian er menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya keluar secara perlahan lahan.
"Baiklah Lan er kalau itu yang telah menjadi keputusanmu," jawab Lian ren.
Sebelum aku pergi ke kaisaran giok, aku ingin memberikan sesuatu pada ibu peri, kalau bisa jangan di tempat ini," ucap Yan Lan kembali.
"Besok siang akan ada orang yang menjemputmu, aku akan menunggumu di rumah kita dulu," ucap Lian ren.
"Sekarang aku akan menemui Yan Ling, karena aku sudah berjanji akan menemuinya malam ini di pavilium," sambung Lian ren.
Yan Lan menganggukkan kepalanya mengiyakan.
Lian ren pergi meninggalkan Yan Lan menuju ke kediaman Yan Ling dengan rasa suka cita yang mendalam, mengingat Yan Lan yang dinyatakan mati oleh ketua klan Glasier, ternyata masih hidup dan sehat.
Yan Lan masuk kekamarnya, dia merasa bahagia dapat bertemu dengan ibu angkatnya yang telah merawat dan memberikan kasih sayang padanya sewaktu dia masih kecil.
Yan Lan duduk di pembaringan dan mulai melakukan kultivasi.
*****
Zhao Quin sekarang telah menjadi murid inti dan di latih pribadi oleh ketua pagoda 9 yang bernama Hyo jin.
Dengan tehnik pemurnian pil yang sangat luar biasa, Zhao Quin berhasil meyakinkan Hyo jin bahwa dia layak menjadi murid pribadi dari orang nomor satu di dalam pagoda 9.
Hari hari Zhao Quin banyak di pergunakan untuk melatih tehnik ajaib dari bunga teratai roh ungu yang ada di dalam tubuhnya.
Tingkat kultivasi Zhao Quin juga sangat berkembang pesat, di mana dia berhasil berkultivasi di Qi langit bintang 3 di umur yang masih sangat muda.
Dengan kemampuannya ini, Zhao Quin sangat di hormati di dalam lingkup ke kaisaran Giok.
"Quin er, sebentar lagi akan ada murid terpilih dari 12 klan dan dari istana giok datang kemari, aku ingin kau mewakili ku untuk menyeleksi semua murid terpilih itu, agar kita bisa mendapatkan bibit unggul dari semua murid yang nantinya akan menjadi junior mu," ucap Hyo jin.
"Baik guru, aku akan mencari bakat bakat murid seperti yang di kreteriakan oleh guru," jawab Zhao Quin
Hyo jin mengangguk anggukkan kepalanya, sambil memegangi jenggot panjangnya yang telah memutih semua.
"Aku akan membantumu dalam menguasai tehnik teratai ajaib yang berada dalam tubuhmu itu Quin er, tehnik itu adalah tehnik 9 kelopak teratai," ucap Hyo jin.
"Tehnik ini adalah tehnik mematikan yang sangat langka, di mana setiap kelopak teratai dapat menghancurkan tubuh seorang kultivator yang lebih tinggi kultivasinya dari dirimu, tehnik ini juga dapat menjadi penyembuh, maka jangan kau salah gunakan tehnik ini," sambung Hyo jin kembali.
"Baik guru, aku akan mendengarkan semua nasehat dari guru," jawab Zhao Quin.
"Hari ini aku akan mengajakmu ke istana Giok, putra mahkota kerajaan mengalami masalah di dantiannya karena terlalu memaksa tubuhnya dalam berkultivasi," ucap Hyo jin kembali.
''Baik guru," jawab Zhao Quin.
Di istana giok ketua Hyo jin dan Zhao Quin di sambut langsung oleh kaisar giok, Dengan di dampingi oleh permaisurinya, kaisar giok mengajak ketua Hyo jin dan Zhao Quin untuk menuju kekediaman putra mahkota.
Di dalam kamar putra mahkota terlihat sang pangeran tergeletak lunglai di atas pembaringannya.
"Quin er, aku ingin kau memperbaiki kekacauan yang terjadi di dalam Dantian putra mahkota," ucap Hyo jin.
"Baik guru," ucap Zhao Quin.
Zhao Quin berjalan menuju ke arah putra mahkota yang lagi terbaring lemah, dengan melakukan sedikit gerakan tangannya, maka terciptalah bayangan bunga teratai berwarna ungu yang berada di kedua telapak tangan Zhao Quin.
Teratai itu segera di arahkan ketubuh sang putra mahkota. Seketika hawa murni dari kedua teratai itu masuk kedalam tubuh putra mahkota dan memperbaiki Dantian sang putra mahkota yang kacau.
Akhirnya Zhao Quin berhasil memulihkan Dantian putra mahkota yang kacau hingga pulih seperti sedia kala, dan pada akhirnya putra mahkota perlahan lahan membuka matanya.
"Dewi Nirwana" ucap sang pangeran yang langsung memegang tangan Zhao Quin. Zhao Quin melepaskan pegangan tangan putra mahkota dengan sekali hentakan tangannya.
Zhao Quin membalikkan tubuhnya dan meninggalkan putra mahkota yang masih melihatnya tanpa berkedip, dengan tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Maafkan putraku itu nona Zhao Quin, atas kelancangan nya padamu," ucap kaisar giok.
"Tak apa apa yang mulia," jawab Zhao Quin.
"Kalau begitu ijinkan aku untuk mejamu kalian berdua," ucap kaisar giok.
Zhao Quin menganggukkan kepalanya mengiyakan sambil menatap ke arah gurunya.