PENDEKAR MATA LANGIT

PENDEKAR MATA LANGIT
Penyihir berjubah hitam


Serangan Qilin seperti tak memberikan efek berarti kepada putri Limudza, yang kini terus mengelilinginya dengan tehnik teleportasi yang sangat sempurna yang dimilikinya.


"Tehnik teleportasi yang kau miliki akan segera ku patahkan," teriak Qilin yang langsung menutup kedua sayapnya, maka sebuah gelombang kejut berbentuk lingkaran langsung mengelilingi tubuh Qilin.


Hia...a...a..!!!


Lingkaran energi gelombang kejut itu langsung membesar dan menghancurkan apapun yang dilaluinya, saat Qilin mengembangkan sayapnya.


"Pertahanan mu masih terlalu lemah kak Qilin, walaupun seranganmu begitu sangat kuat, tapi masih banyak celah yang tak kau pikirkan sebelumnya, hingga kau akan segera kalah dariku," ucap putri Limudza dengan berjumpalitan di udara untuk menghindari serangan lingkaran gelombang kejut yang di lepaskan oleh Qilin.


Saat tubuhnya masih melayang di udara dan mendekati Qilin, putri Limudza langsung melepaskan salah satu tehnik terkuatnya. "Pesona sang Dewi," teriak putri Limudza.


Mata sang putri memancarkan cahaya hijau berkilau, Qilin yang tak menyangka akan berakibat fatal jika melihat cahaya di mata sang putri, seketika terjebak dalam pesona, tubuhnya seketika tertegun dan mengagumi sosok putri Limudza, hingga membuat tubuh Qilin tak dapat di gerakan lagi.


Melihat Qilin sudah terjebak dalam pesonanya, membuat putri Limudza segera menaruh pedang yang ada dalam genggamannya kearah leher Qilin.


Saat tersadar, Qilin melihat jika pedang putri Limudza telah berada dekat dengan lehernya, hingga membuat Qilin menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya keluar secara perlahan lahan. Qilin mengakui kekalahannya dalam pertarungan itu.


Melihat Qilin yang merasa malu atas kekalahannya di depan Yan Lan, membuat putri Limudza segera mencairkan suasana.


"Kak Qilin, ini hanyalah pertarungan biasa, jika kak Qilin menggunakan segenap kekuatan yang kak Qilin punya, belum tentu aku bisa mengalahkan kak Qilin. Ayo kak Qilin temani aku untuk mencari makanan di hutan ini, agar kita bisa mengisi perut, bukannya begitu kak Yan Lan?" ucap putri Limudza.


Sambil menganggukkan kepala dan tersenyum Yan Lan mengiyakan perkataan putri Limudza padanya, karena Yan Lan tau jika kekasihnya itu sengaja melakukan hal itu, agar Qilin tak minder karena kalah dari serang wanita muda yang menjadi lawan tarungnya.


"Aku akan mempersiapkan api unggun untuk binatang buruan yang akan kalian tangkap," ucap Yan Lan.


Mendengar perkataan Yan Lan yang seperti tak terjadi apa apa, membuat Qilin tenang dan bergegas menyusul Qilin yang telah duluan masuk kedalam hutan.


Yan Lan menatap kepergian kedua orang yang menjadi kekasih dan sahabatnya itu dari kejauhan. "Aku tau kau belum mengeluarkan semua kekuatan tersembunyi yang ada pada dirimu Li er, tapi aku berkeyakinan kekuatanmu sekarang mungkin bisa menyamai kekuatan yang ada pada diriku," batin Yan Lan yang terus memandangi kepergian keduanya sampai menghilang di kejauhan.


Malam hari mereka makan daging panggang hasil buruan, setelah mengisi perut, Qing ruo mengajak Cencen dan Qilin untuk meninggalkan Yan Lan dan putri Limudza agar bisa berduaan di tempat itu.


"Kak Yan Lan, aku ingin menatap bintang yang bertaburan di langit bersamamu," ucap putri Limudza.


Mendengar permintaan sederhana dari sang kekasih, Yan Lan pun mengajak putri Limudza untuk pergi ke atap istana dengan meloncat ke salah satu bangunan istana raja siluman kelelawar.


Mereka duduk berdua sambil menatap kelap kelip bintang di angkasa.


"Kak Yan Lan, apakah kau sekarang telah bisa menerima ku sebagai seorang kekasih?" tanya putri Limudza.


"Mengapa kau tanyakan pertanyaan yang telah kau tau jawabannya," ucap Yan Lan.


"Aku ingin mendengarnya langsung darimu kak Yan Lan," ucap putri Limudza.


Yan Lan merapikan anak rambut putri Limudza Yan tertiup angin sambil berkat "Aku mencintaimu Li er, karena itu aku memberikan pil langka penguat roh jiwa padamu, pil yang mampu untuk membuatmu menjadi seorang Dewi seperti seperti sekarang ini," jawab Yan Lan.


Putri Limudza sangat terkejut mendengar perkataan Yan Lan, maka diapun berkata "Jika aku adalah seorang Dewi, maka aku juga bisa tinggal di nirwana bersamamu kak Yan Lan?" tanya putri Limudza.


"Terimakasih kak Yan Lan, aku akan menjadi istri yang baik dan akan mengabdikan hidupku padamu," ucap putri Limudza sambil merebahkan kepalanya kedada bidang Yan Lan.


Yan Lan dengan rasa kasih sayang mengelus lembut kepala sang putri, hingga mereka berdua terdiam meresapi kehangatan cinta kasih dihati mereka masing masing.


*****


Pagi hari, rombongan Yan Lan kembali melanjutkan perjalanannya untuk mencari bunga teratai nirwana, dengan menaiki punggung Qilin.


Qilin berlari dengan sangat cepat, membawa Yan Lan beserta rombongannya kearah barat, hingga Yan Lan menyuruh Qilin Untuk menghentikan larinya, karena ada awan gelap dengan aura mistis yang menuju kearahnya.


"Penyihir kegelapan telah mengetahui kehadiran kita, jangan sampai kalian semua terpisah dari rombongan, karena lawan kita saat ini adalah seorang penyihir dengan kekuatan yang sangat hebat, maka berhati hatilah," ucap Yan Lan.


"Baik tuan muda," jawab Qing ruo yang mewakili semuanya.


Tak berapa saat lamanya, awan gelap tebal kini berada di hadapan Yan Lan, dan langsung memuntahkan ribuan burung gagak hitam dari dalamnya.


Burung burung itu langsung menuju ke arah Yan Lan beserta rombongannya. Cencen maju kedepan, dengan pedang pemecah angin di dalam genggaman tangannya, Cencen langsung mengayunkan pedang pemecah angin itu kearah burung gagak hitam sambil berteriak "Petaka angin!!".


Tehnik yang di gunakan Cencen langsung menghalau, dan menghancurkan burung gagak hitam yang tadinya akan menyerang seluruh anggota rombongan Yan Lan.


"Kau coba pamer tehnik barumu di hadapan tuan muda dan nona muda saudara Cencen?" tanya Qing ruo pelan di telinga Cencen.


"Aku hanya ingin sedikit membuktikan jika aku telah menguasai tehnik pedang pemecah angin, sama sepertimu yang telah menguasai tehnik belati bulan sabit saudara Qing ruo," bisik Cencen di telinga Qing ruo.


Percakapan mereka berdua terhenti setelah burung gagak yang telah hancur terkena serangan Cencen, tiba tiba saja berubah dan menyatu membentuk 5 sosok berjubah hitam dengan sepasang pedang di kedua tangannya.


Melihat hal itu Cencen yang ingin membuktikan tehnik barunya lewat sebuah pertarungan, menjadi sangat bersemangat melihat 5 sosok penyihir dengan menutupi kepalanya dan berjubah hitam yang berada tak jauh di hadapannya.


"Tuan muda, ijinkan aku menyerangnya terlebih dahulu," ucap Cencen.


"Kau jangan gegabah, kelima sosok berjubah hitam itu memiliki kekuatan yang sangat kuat, karena aku dapat merasakannya dari sini," jawab Yan Lan.


"Baik tuan muda," ucap Cencen yang tak berani membantah perkataan Yan Lan.


Tiba tiba saja kelima sosok penyihir itu membuka penutup kepalanya, maka tampaklah 5 wajah yang sama persis tengah menatap kearah Yan Lan dan rombongannya.


"Mengapa kalian datang ketempat kami, apakah kalian ingin mencari mati?" hardik salah seorang dari mereka berlima.


Yan Lan membalas tatapan kelima sosok yang berada di hadapannya dengan dingin, dan berkata "Katakan pada pemimpinmu, jika aku datang untuk mengambil bunga teratai nirwana yang ada padanya," jawab Yan Lan.


"Ha..ha..ha.., itu adalah hal konyol yang pernah kudengar, urungkan saja cita citamu itu karena kami berlima akan segera menghabisi nyawamu," timpal yang lainnya.


bersambung.