
"Hai..nona, aku ini bukanlah seorang laki laki hidung belang yang biasa memanfaatkan situasi demi kepentingannya sendiri, hilangkan prasangka buruk itu di hatimu," ucap Yan Lan.
"Aku kira kau menginginkan tubuhku ini sebagai syarat agar kau mau mengobati aku, mengingat di lereng bukit ini hanya ada kita berdua," jawab wanita itu.
"Mm...mm apa kamu mau aku.....?" goda Yan Lan sambil memainkan alis matanya.
"Tidak...!! tidak...!! aku tidak mau..!!" jerit wanita muda itu.
"Ha..ha ..ha..". Yan Lan tertawa terbahak bahak melihat ekspresi ketakutan dari wajah wanita itu.
"Sudah lah..., aku hanya bercanda perkenalkan namaku Lan yan, kau tak usah takut menjabat tanganku, dari segi tingkat kultivasi, ranah tingkatanmu jauh lebih tinggi di atasku, kalau aku berbuat jahat padamu kau pasti dengan mudah dapat membunuhku," ucap Yan Lan.
"Baru kali ini aku menemukan orang yang sok akrab sepertimu, lihat saja kalau kau berani macam macam dengan ku!!" batin wanita muda itu.
"Namaku Yun er," ucap wanita itu singkat sambil menjabat tangan Yan Lan.
"Nama yang indah, baiklah Yun er aku akan mengatakan syarat yang harus kau lakukan," ucap Yan Lan menggantung kalimatnya.
"Pemuda ini memang sengaja mempermainkan ku dengan membuatku penasaran dengan syarat yang akan di ajukan nya," batin Yun er kesal.
"Apa syarat itu?" tanya Yun er.
Sambil tersenyum Yan Lan mengatakan apa syarat yang harus di lakukan oleh Yun er.
"Setelah aku mengobatimu, aku menginginkan kau tak menggunakan elemen api lagi karena itu akan membahayakan hidupmu, biar bagaimanapun es dan api tak akan bisa bersatu, itu syaratnya!" jawab Yan Lan.
"Hanya itu syaratnya? tanya Yun er.
"Ia hanya itu!! apa kau ingin syarat yang lain?" tanya Yan Lan sambil tetap menggoda yun er.
"Ti..ti..dak!!" jawab Yun er terbata bata.
"Bagus aku akan memulihkan kondisi tubuhmu, tapi sebelumnya aku akan memperbaiki aliran Qi di tubuhmu agar lebih stabil," ucap Yan Lan.
"Sekarang duduklah bersila dan belakangi aku," ucap Yan Lan kembali.
Yun er mengikuti perkataan Yan Lan dengan duduk bersila dan membelakanginya.
Yan Lan segera mengeluarkan jarum jarum emas yang di milikinya untuk melakukan pengobatan akupunktur, di mana tehnik pengobatan ini Yan Lan pelajari dari kitab kuno pemberian dari leluhur ketua pagoda 9 yang pertama.
12 jarum emas langsung menghujam ke belakang dan punggung Yun er, membuat Yun er merasakan Qi di dalam Merindiannya menjadi berlipat lipat ganda besarnya.
"Langkah pertama telah selesai, aku akan memberikan pil esensi es yang kumiliki padanya, agar elemen es murni di tubuhnya bisa menekan racun gelap yang membuat Yun er tak bisa melakukan penerobosan tingkat kultivasi," batin Yan Lan.
"Tapi ada efek setelah menelan pil ini, dia akan merasa kelelahan yang teramat sangat akibat benturan yang terjadi antara elemen es murni dengan racun es yang ada di tubuhnya, hal ini akan sangat berbahaya baginya mengingat Yun er masih mengikuti ujian tes di dalam bukit roh ini, mungkin lebih baik pil esensi es ini ku berikan padanya saat Yun er keluar dari dalam bukit roh ini," batin Yan Lan.
"Nona Yun er bagaimana rasanya tubuhmu sekarang?" tanya Yan Lan.
"Tubuhku terasa segar, dan Qi murni yang ada di tubuhku kini berlipat ganda," ucap Yun er.
"Aku telah mencoba memanggil para Alkemis untuk melihat keadaanku, tapi mereka bilang sakitku ini merupakan kutukan dan tak bisa di sembuhkan," sambung Yun er.
"Itukan kata mereka, belum tentu omongan itu benar adanya, aku bisa menyembuhkanmu tapi dapatkah kamu menunjukkan di mana letak bercak biru terparah yang ada di tubuhmu?" tanya Yan Lan.
Seketika muka Yun er memerah, ada keraguan di hatinya untuk menunjukkan tempat di mana tanda biru yang berada di tubuhnya ke pada Yan Lan.
"Lebih baik aku tak menunjukkannya, Alkemis bintang 3 saja yang mencoba mengobatiku tak mampu untuk menyembuhkanku, apa lagi yan lan yang terlihat sangat meragukan mempunyai kemampuan di bidang Alkemis," batin Yun er.
"Aku tak mau menunjukkannya pada mu, kita kan baru kenal, aku takut kau tergoda setelah melihat kemolekan tubuhku yang merubah pikiran warasmu menjadi mesum," ucap yun er.
"Ya sudah, kalau kau tak mau menunjukkannya padaku, yang jelas bercak itu kalau terus di biarkan nantinya akan menghitam dan tubuhmu akan merasakan sakit yang sangat luar biasa di bagian itu," ucap Yan Lan.
Kembali Yun er tersentak kaget, semua yang di katakan oleh Yan Lan benar adanya, ada bercak biru yang kini berubah menghitam di tubuhnya, yang menimbulkan rasa sakit yang sangat luar biasa hingga berkali kali lebih sakit dari bercak biru yang ada di permukaan kulitnya.
"Baiklah Yan Lan aku percayakan kesembuhan ku padamu," ucap Yun er.
Yun er melepaskan pakaian atasnya tanpa satu benangpun yang melilit tubuhnya, hingga tampak terlihat dua buah bukit kembar miliknya, segera Yun er memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya.
Yan Lan terperangah kaget dengan apa yang di lakukan Yun er di hadapannya.
"Aku kan tak menyuruh untuk melepaskan pakaiannya, aku hanya meminta menunjukkan titik sakitnya saja," batin Yan Lan.
Yan Lan mencoba bersabar menghadapi ujian yang berada di hadapannya, sebagai pemuda normal darah ke lelakian Yan Lan berdesir hebat melihat kemolekan tubuh Yun er yang sangat menggiurkan di hadapannya.
"Mana yang sakit nona?" tanya Yan Lan.
"Di dada sebelah kananku," ucap Yun er.
Yan Lan segera mengeluarkan api surgawi di ujung jari tengah dan jari telunjuknya, kemudian Yan Lan menempelkan kedua jarinya itu kedada kanan Yun er yang ada bercak hitamnya.
Yun er merasakan sensasi hangat dari sentuhan ujung jari Yan Lan.
"Tahan sedikit nona, ini akan terasa sakit," ucap Yan Lan.
Benar saja tak lama kemudian teriakan tertahan dari mulut Yun er yang menahan rasa sakit di dada sebelah kanannya, kini kedua tangan yang memeluk tubuh Yun er seketika terbuka, dan kedua tangan Yun er itu memegang tangan kanan Yan Lan yang sedang menyalurkan energi api surgawi dari kedua jarinya.
"Ackh..sakit," rintih Yun er sambil menutup matanya.
Kini Yan Lan benar benar menghadapi di lema yang sangat besar, kedua bukit kembar yang ada di hadapan kini tanpa penghalang, di tambah lagi dengan rintihan Yun er yang membuatnya harus menelan ludah.
"Aku harus segera menyembuhkannya melalui titik ini kalau tidak aku sendiri yang akan sakit, dan sakitku ini adalah sakit gila karena melihat dan mendengar sesuatu yang tak pernah kulihat dan kudengar sebelumnya," batin Yan Lan.
Yan Lan menyelesaikan pengobatannya.
"Sakit mu telah pulih, pakailah pakaianmu kembali," perintah Yan Lan.
Yan Lan segera menjauhi tempat itu, karena ada sesuatu yang mengganjal sedari tadi di dalam celananya, dan hal itu tak ingin Yun er mengetahuinya.