
Di dalam kamar sang dewa, suasana begitu sangat memabukkan, yang membuat putri Limudza lupa akan segala hal, ilusi Dewa yang terpasang membuat putri Limudza begitu sangat bergairah, dia terus mengikuti sang Dewa sampai ke atas peraduannya.
Dewa seiryu begitu sangat bergairah melihat wanita muda nan cantik yang kini telah terbaring di atas ranjangnya, bibir merah merekah yang sangat nantang membuat Dewa seiryu mendaratkan ciuman hangat kearahnya.
Ciuman itu semakin lama semakin dalam, yang membuat Dewa seiryu ingin cepat cepat menuntaskan hasratnya pada putri Limudza.
Bibir Dewa seiryu terus menelusuri leher jenjang putri Limudza yang putih mulus dan bersih, hingga membuatnya memberikan beberapa tanda merah disana sebagai tanda kepemilikan atas diri putri Limudza di malam itu.
Jari jari tangan kedua insan berlainan jenis itu saling menyatu, dimana jari tangan kanan Dewa seiryu menyatu dan saling berkait satu dengan yang lainnya, dengan jari jari di tangan kiri putri Limudza, dan begitupun dengan jari jari di tangan kiri Dewa Seiryu yang menggenggam erat jari jari di tangan putri limudza, membuat tubuh Dewa seiryu kini berada tepat diatas tubuh putri Limudza yang begitu tak berdaya di malam itu.
Putri Limudza tak bisa menolak maupun berontak akan semua yang Dewa seiryu lakukan, karena dia telah terjebak di dalam sebuah ilusi yang tercipta, kini hanya terdengar rintihan dan ******* panjang yang keluar dari mulutnya putri Limudza yang pasrah akan keadaan.
"Wanita ini begitu sangat cantik dan mempesona, apa lagi di saat saat seperti ini, aku sungguh beruntung dapat memilikinya malam ini, dan setelah hubungan ini, aku akan memintanya untuk menjadi istriku karena dia mempunyai darah seorang Dewi, yang kecantikannya tak kalah dengan Dewi Nalan Xi," batin Dewa seiryu dengan senyum penuh kemenangan.
Dewa seiryu kembali beraksi dengan melahap telinga kanan putri Limudza dengan ganas, yang membuat putri Limudza melakukan gerakan gerakan yang sangat liar, yang membuat Dewa seiryu semakin meningkatkan aksinya.
Kali ini tangan kananya sengaja di lepaskan dari genggaman jari-jari lentik putri Limudza, dan dengan cepat tangan Dewa seiryu mengarah kebawah, tangan itu dengan lihainya mulai menelusuri bagian bagian kaki dari lutut keatas di tubuh putri Limudza, sampai pada akhirnya tangan itu menyentuh bagian penutup lembah surga dan sakral bagi sang putri.
"Ackh...!!"
Teriakan keras tiba-tiba saja keluar dari mulut Dewa seiryu sambil memegangi tangan kanannya sendiri. "Artefak langit...!! mengapa ada artefak pelindung langit di sana!!" pekik Dewa seiryu sambil melihat ke telapak tangannya yang banyak terdapat titik titik merah kecil, seperti terkena tusukan duri duri halus.
Terlukanya Dewa Seiryu membuat ilusi yang di buatnya pun hilang, hal itu langsung menyadarkan putri Limudza dari pengaruh ilusi yang menderanya.
Putri Limudza yang tersadar akhirnya melihat kondisi tubuhnya yang berantakan, amarahnya seketika itu langsung memuncak, dan dengan cepat sang putri mengeluarkan pedangnya dari cincin penyimpanannya, dan langsung mengarahkan ujung pedangnya itu kearah wajah Dewa Seiryu.
"Pedang ini adalah artefak langit, dan pedang ini mampu untuk membunuh Dewa bejat sepertimu, kau tak pantas untuk menjadi seorang Dewa karena hatimu begitu sangat kotor!!, cepat katakan di mana kau letakkan artefak langit untuk mengurung saudaraku yang lain, jika tidak aku akan memotong motong tubuhmu dengan pedangku ini!!" teriak putri Limudza sambil melesakkan sebuah tendangan telak kearah rusuk Dewa seiryu, yang membuat rusuk sang dewa patah di beberapa tempat.
"Ackh..!"
Terdengar pekikan yang keluar dari mulut Dewa seiryu saat tubuhnya terjerembab dari tempat tidur, dan terlihat dari sela sela bibir sang Dewa mengeluarkan darah segar.
Belum puas menghajar Dewa seiryu, kembali putri Limudza memberikan tendangan putar yang sangat keras kearah wajah, yang membuat Dewa seiryu terpental kesamping.
Dewa seiryu tak bisa berkata apa apa, hanya merasakan kepalanya yang seperti akan lepas dari tubuhnya. "Kurang ajar!! wanita gila ini seperti tak mau memberikanku kesempatan untuk bernapas lega," batin Dewa seiryu.
"Kau takkan mudah untuk menyentuh ku karena aku miliki artefak langit yang dapat melindungi bagian bagian sensitif di tubuhku, kecuali aku sendiri yang mengikhlaskannya pada orang yang kucintai maka artefak itu tak akan aktif," teriak putri Limudza kembali.
"Cepat katakan!!, dimana kau menaruh artefak langit untuk melindungi penjara itu!!" teriak putri Limudza yang kembali amarahnya memuncak karena melihat bekas-bekas yang di tinggalkan dewa seiryu di tubuhnya.
"Aku.. ! aku...!," ucap Dewa seiryu sambil menggerakkan tangannya, dan sekali lagi sebuah tendangan jarak jauh yang dilancarkan oleh putri Limudza mendarat telak di dada Dewa seiryu, yang membuat sang Dewa terhempas dan menabrak dinding di dalam kamar itu.
"Ohok..!! Ohok..!!..Ohok..!!"
Suara batuk yang mengeluarkan darah terdengar dari mulut Dewa seiryu, sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Aku ingin kau mengatakan dimana artefak itu, bukan tindakan yang ku inginkan, aku tahu kau mempunyai sesuatu yang dapat membuatmu melarikan diri dari sini, dan aku tidak menginginkan hal itu terjadi, jika kau sekali lagi menggerakkan anggota tubuhmu, maka jangan salahkan aku jika pedang ini yang akan bertindak," bentak putri Limudza.
Dengan sekali gerakan pedangnya, putri Limudza meratakan seluruh ruangan kamar itu, baik perabotan, ranjang, maupun meja yang terdapat di dalam ruangan itu, semua itu dilakukan oleh putri Limudza untuk mencegah Dewa seiryu melarikan diri dari dalam kamar tersebut.
"Tak kusangka wanita secantik dia sangat ganas dan menakutkan, aku akan mengingat semua hal yang telah dia lakukan padaku hari ini," batin Dewa seiryu.
Dewa seiryu bangkit berdiri dan berkata...
"Setelah semua yang kau lakukan padaku hari ini, maka saat kita bertemu kembali, aku tak segan segan untuk menghabisi kalian bertiga!!" ancam Dewa seiryu dan mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak penyimpanannya, dan menghancurkannya.
Melihat hal itu putri Limudza dengan cepat langsung menyabetkan pedangnya ke arah Dewa seiryu, hingga efek tebasan jarak jauh itu dapat menghancurkan dinding kamar yang berada di hadapannya.
"Dia berhasil lolos..!!" bisik putri Limudza dengan amarah yang sangat memuncak, setelah melihat Dewa Seiryu telah menghilang dari dalam ruangan itu.
Melihat Dewa seiryu telah meninggalkan kamar itu, dengan cepat putri Limudza pergi menuju ketempat di mana saudara saudaranya yang masih terkurung di dalam penjara berada.