PENDEKAR MATA LANGIT

PENDEKAR MATA LANGIT
Pondasi Kultivasi


Yan Ling merebahkan kepalanya di pangkuan ibunya, dan Lian ren tau jika putrinya sudah bermanja manja seperti ini pasti ada sesuatu hal yang membuat hatinya gelisah.


"Ada apa Ling er, mengapa kau merasa gelisah seperti ini?" tanya Lian ren.


"Ibu, kakak Yan Lan jahat padaku, dia ternyata bermain hati dengan dua wanita lain, dan ke dua wanita itu begitu tergila gila pada kakak Yan Lan," ucap Yan Ling.


"Ibu yakin putriku pasti yang paling cantik dari meraka berdua bukan!? tak mungkin Yan Lan akan memilih wanita lain sementara putriku ini secantik para Dewi di nirwana," jawab Lian ren meredakan kegelisahan putrinya.


"Tapi ibu kedua wanita itu juga sangat cantik, yang satu bernama Zhao Quin yang merupakan putri ketua klan Zhao dan juga merupakan murid utama ketua besar Hyo jin, dimana terdengar kabar jika putra mahkota kekaisaran giok sangat mengaguminya kecantikan nya.


Dan yang satunya lagi bernama Yun er, dia adalah putri dari ketua besar menara tahta yang sangat terkenal dengan kecantikannya," ucap Yan Ling kembali.


Lian ren tersenyum dengan apa yang baru saja di dengar dari putrinya, ternyata putranya itu mempunyai kharisma pria sejati di kalangan para wanita.


"Jangan berkecil hati sayang, biar bagaimana pun Yan Lan tak akan pernah melupakanmu apalagi melupakan kenangan kalian berdua saat masih bersama di klan Glasier, ibu ingin bertemu dengannya, dapatkah kau mengantar kan ibu ke sana?," tanya Lian ren.


"Sudah 5 hari Kakak Yan Lan tak ada di kamarnya ibu, dia sengaja menghindari kami bertiga," ucap Yan Ling bersedih


"Sudah lah sayang lebih baik kau melatih diri dengan kitab dan pedang yang ada padamu sekarang, tunjukan kepada ke dua wanita itu jika kau yang lebih hebat dan pantas bersanding dengan Yan Lan," ucap Lian ren memberi semangat bagi putrinya.


"Ia ibu, terimakasih karena telah membuat hatiku tenang," jawab Yan Ling sambil memeluk ibunya.


*****


Yan Lan perlahan membuka matanya dia merasakan tubuh nya sangat ringan dan enteng, Yan Lan merasakan kekuatan Qi di dalam tubuhnya begitu besar, dantiannya pun sangat luas dan tak terbatas.


Yan Lan merasakan mata langit di dalam dirinya telah pulih dan dapat di pergunakan nya kapan saja.


Di ruangan itu Yan Lan hanya melihat perabotan sederhana dengan keadaan rumah terlihat sangat bersih dan rapi, tak ada sedikitpun debu yang menempel di dinding maupun di perabotan yang ada di ruangan itu.


Yan Lan melangkah kearah jendela yang terbuka, terpaan angin pagi itu mengibaskan rambut panjangnya yang hitam tergerai, dengan memejamkan matanya Yan Lan menikmati kesejukan udara yang mengisi paru parunya di pagi itu.


"Entah sudah berapa lama aku berada disini?" batin Yan Lan.


Yan Lan segera menghampiri lelaki paruh baya itu sambil menggenggam tinjunya memberi hormat.


"Guru!!" ucap Yan Lan.


"Bagus kau sudah sadar Yan er, minumlah ramuan ginseng ini agar kekuatanmu menjadi pulih kembali," ucap Wong ji Ang.


Tanpa pikir panjang Yan Lan segera mengambil semangkuk ramuan ginseng dari gurunya, dan meneguknya tanpa ada yang tersisa.


Wong ji Ang mengajak Yan Lan keluar dari dalam rumah untuk sekedar mencari udara segar di pagi itu. Yan Lan melihat sekeliling rumah yang tampak hanya hutan bambu berwarna kuning yang tersusun rapi.


Suasananya benar benar sangat asri, sunyi dan indah.


"Kau telah mempunyai dasar pondasi yang sangat kuat Yan er, rata rata para kultivator di benua permata hijau hanya memikirkan tehnik latihan akan tetapi tak di tunjang dengan pondasi yang kuat, hingga pada saat mereka bertarung dalam tempo yang lama, kekuatan Qi yang ada di tubuh mereka akan cepat habis apalagi dengan melakukan tehnik yang memerlukan tingkat Qi yang besar," ucap Wong ji Ang sambil berjalan beriringan dengan Yan Lan menyusuri hutan bambu kuning.


"Dengan struktur tulang yang ada padamu sekarang kau akan dapat menggunakan kekuatan api surgawi dan mata langit yang ada padamu, dengan tanpa kendala ataupun pantangan karena tingkat kultivasimu yang rendah," ucap Wong ji Ang kembali.


"Guru apakah aku bisa menanyakan sesuatu hal padamu?" tanya Yan Lan.


"Apa yang ingin kau tanyakan Yan er?" jawab Wong ji Ang.


"Siapakah guru ini sebenarnya, mengapa nama Wong berada di nama guru? seperti nama Wong Fei dan Wong Xue leluhurku" tanya Yan.


"Ha..ha..ha..aku adalah putra dari Wong Xue, karena perbedaan pendapat dengan tehnik yang di miliki oleh ayahku, aku memutuskan untuk mengembangkan tehnik yang ku ciptakan sendiri, tehnik itu adalah tehnik boneka," ucap Wong ji Ang.


"Tubuhku telah lama hancur akan tetapi dengan menggunakan tehnik boneka yang kumiliki, rohku bisa memasuki raga orang lain yang telah mati hingga membuatku hidup sampai sekarang ," ucap Wong ji Ang kembali.


"Kelak aku akan menurunkan tehnik itu padamu karena kau merupakan generasi keturunan keluarga Wong yang tersisa, sebelum aku memberikan tehnik itu padamu, aku ingin mengajarkan cara menyempurnakan tehnik mata langit dan api surgawi yang ada padamu, dan juga cara menggabungkan kedua tehnik itu hingga menjadi kekuatan yang maha dasyat di benua permata hijau," sambung Wong ji Ang.


"Terimakasih guru," ucap Yan Lan mantap.