
Setelah kejadian itu, pergerakan Yan Lan di istana cahaya nirwana tak seleluasa dulu, setiap dia akan keluar dari kamarnya maka ada seorang kultivator di tingkat Qi alam yang selalu memantau pergerakannya.
Di balai pengobatan istana, tampak bangsawan Erlang Huo bersama sang permaisuri datang menjenguk Erlang Mo.
"Bagaimana aku bisa terluka seperti ini Mo er?" tanya bangsawan Erlang Huo kepada putranya.
"Semua ini karena campur tangan pemuda dari sekte pasir es itu ayah, saat aku dan pangeran tengah melakukan latihan teknik pedang, pemuda yang bernama Yan lan membantu sang pangeran dari jarak jauh dengan menggunakan tehnik hitam miliknya, hingga sang pangeran dapat melukai ku," ucap Erlang Mo berbohong.
"Ayah...!!, Yan Lan telah memberikan pengaruh buruk kepada pangeran, selama dia di sini Yan Lan melatih pangeran dengan teknik pedang di luar dari tehnik pedang yang diajarkan oleh yang mulia raja Zheng long, dan teknik pedang itu mempunyai kekuatan hitam yang dapat mengganggu pikiran pangeran, terbukti dia lebih membela Yan Lan dari pada pamannya sendiri saat kami berdua bersitegang, Jika dia terus bersama Yan Lan pada akhirnya pangeran bisa menentang kedua orang tuanya, dan akan memperburuk hubungan keluarga serta kerajaan cahaya nirwana pada umumnya," ucap Erlang Mo.
Apa yang dikatakan Erlang Mo, membuat ratu Shima bertambah benci terhadap Yan Lan.
"Belum lagi masalah dengan putriku selesai, kau kembali berulah dengan mempengaruhi putraku Zheng Bil Ang, aku benar-benar akan membuat perhitungan denganmu Yan Lan," batin ratu Shima yang menahan amarahnya di dada.
"Kakak, Aku pergi dulu dan akan menyelesaikan masalah ini secepatnya," ucap ratu Shima.
"Baik ratu, aku sangat berterima kasih karena kau telah menjenguk putraku Mo er," jawab bangsawan Erlang Huo.
Ratu Shima menganggukkan kepalanya dan membalikkan badan, sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan tempat Erlang Mo di rawat.
Hubungan ratu Shima dan bangsawan Erlang Huo sendiri, adalah kakak dan adik walaupun ratu Shima tak mempunyai hubungan darah dengan keluarga bangsawan Erlang Huo, akan tetapi sedari kecil ratu Shima telah dirawat dan dibesarkan oleh keluarga bangsawan Erlang Huo seperti anak sendiri, hal itu yang membuat ratu Shima mempunyai hutang budi terhadap keluarga bangsawan Erlang Huo.
Setelah kepergian ratu Shima, kedua ayah dan anak itu kembali terlibat percakapan serius.
Ayah, aku dulu sempat mendengar jika ayah pernah menemukan sebuah kitab teknik tingkat tinggi yang jatuh dari nirwana, saat ayah membantu yang mulia raja untuk menemukan harta karun bunga nirwana, di dalam alam kuburan Dewa dan iblis saat tabir penutup dibuka, Aku ingin mempelajari kitab itu ayah, dan aku minta ayah memberikannya kepadaku," ucap Erlang Mo.
"Aku tak bisa memberikannya kepadamu Mo er, karena teknik di dalamnya merupakan teknik yang dimiliki oleh para iblis, aku pernah mempelajarinya tapi tak bisa berbuat banyak karena benturan energi yang saling bertolak belakang dengan teknik yang kumiliki, teknik dalam kitab itu memang dahsyat akan tetapi cenderung menguasai pikiran kita untuk berbuat jahat, karena untuk mendapatkan energi kekuatan yang sangat dahsyat itu, orang yang mempelajarinya memerlukan energi hidup dari seorang manusia," jawab bangsawan Erlang Huo.
"Jadi untuk kali ini aku tak dapat memenuhi keinginanmu putraku, jika aku memberikannya padamu sama halnya ayah akan membuatmu terjerumus ke dalam kejahatan yang sangat gelap, apa artinya sebuah kekuatan tanpa tanding jika kau akan dihujat semua orang selama hidupmu, jika kau ingin memiliki kekuatan besar maka aku akan mengajarimu semua teknik yang keluarga besar kita miliki," sambung bangsawan Erlang Huo.
"Jika ayah tak memenuhi permintaanku itu, maka aku ingin ayah memenuhi permintaan ku yang lainnya," ucap Erlang Mo.
"Apakah permintaanmu itu Mo er? tanya bangsawan Erlang Huo.
"Aku sudah dewasa ayah, dan aku menginginkan putri Zheng Bilqis untuk menjadi istriku, dapatkah ayah mewujudkan keinginanku itu?" tanya Erlang Mo.
Terlihat bangsawan Erlang Huo menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya keluar secara perlahan-lahan, mendengar permintaan putranya yang mendadak ingin menikahi Putri Bilqis.
"Ayah tak bisa menjanjikan untuk mendapatkan putri Bilqis sebagai istrimu, tapi ayah akan mengusahakannya karena keluarga Kerajaan yaitu yang mulia raja Zheng long dan ratu Shima, mempunyai hutang budi yang besar terhadap keluarga kita, jika keluarga kerajaan sampai menolak keinginan ku untuk menjadikan putri Bilqis menantu di keluarga kita, maka hal itu akan menjadi beban pikiran bagi mereka karena hutang budi itu begitu sangat besar, dan menyangkut keselamatan jiwa yang mulia sendiri di waktu dulu kala," jawab bangsawan Erlang Huo.
"Trimakasih ayah, aku menantikan putri Bilqis berada di sisiku, dengan status istri dari Erlang Mo putramu ini ayah," ucap Erlang Mo.
Setelah percakapan dengan sang putra, bangsawan Erlang Huo menghadap ratu Shima.
"Mengapa kau menemuiku malam-malam begini kakak, apakah ada hal penting yang harus dibahas sehingga kau berada di sini?" tanya ratu Shima sambil menuangkan anggur kedalam gelas yang berada di hadapan bangsawan Huo.
Bangasawan Huo segera meneguk anggur yang telah disuguhkan oleh ratu Shima.
Anggur itu masuk ke dalam kerongkongan bangsawan Huo, dan tak lama kemudian bangsawan Huo mengatakan keinginannya untuk melamar Putri Bilqis menjadi istri dari putranya Erlang Mo.
Sesaat ratu Shima terperanjat kaget mendengar hal itu, sang ratu segera mencerna keadaan yang ada dan buru-buru kembali menguasai dirinya.
Untuk hal ini aku tidak bisa memutuskannya sepihak, tunggulah saat suamiku Zheng long telah selesai melakukan kultivasi, aku akan mengabarkan kabar gembira ini padanya," jawab ratu Shima.
Di saat sang ayah tengah menemui ratu Shima, Erlang Mo keluar dari tempat peristirahatannya, menuju ke kediaman sang ayah untuk maksud dan tujuan tertentu.
Erlang Mo yang mengetahui seluk beluk kediaman sang ayah, dengan menyelinap berhasil menuju ke tempat dimana terdapat seragam prajurit penjaga kediaman ayahnya berada.
Setelah memakai perlengkapan prajurit, Erlang Mo dengan tenang menuju ke tempat ruang pribadi ayahnya berada. Seluruh penjaga kediaman bangsawan Huo tak mencurigai keberadaan Erlang Mo disana, karena kata sandi saat bertemu sesama prajurit dapat disebutkan Erlang Mo dengan fasih.
Akhirnya Erlang Mo tiba di ruang pribadi sang ayah, dan berhasil membuka ruang pribadi itu dengan menggunakan teknik segel yang sama dengan segel pelindung yang melindungi ruangan itu, karena teknik segel pelindung itu sang ayahlah yang mengajarkan kepadanya.
Di dalam ruangan itu sangat mudah bagi Erlang Mo untuk menemukan ruang tersembunyi bawah tanah yang dimiliki oleh ayahnya.
Dengan menggeser sedikit lukisan dan menggunakan teknik membuka segel yang diajarkan oleh ayahnya, jalan menuju ruang bawah tanah akhirnya terbuka.
Dengan seketika semua obor yang menuju ke ruang bawah tanah menyala, seiring dengan langkah kaki Erlang Mo yang menyusuri tangga demi tangga yang menuju ke bawah sana.
Di bawah sana Erlang Mo menjumpai banyak tumpukan koin emas, koin perak, koin perunggu serta berbagai macam perhiasan dan batu permata bernilai tinggi, yang terhampar yang membentuk gundukan kecil di tanah, belum lagi berbagai macam benda pusaka dan barang berharga lainnya yang menghiasi tempat itu.
Semua barang-barang berharga itu tak satupun yang membuatnya tertarik, Erlang Mo lebih memilih untuk mencari sesuatu yang begitu sangat diinginkannya.
"Dimana ayahku menyimpannya, mengapa aku tak dapat menemukannya?" batin Erlang Mo.
Erlang Mo terus mencari sudut-sudut di dalam ruangan itu, akan tetapi tak juga dia menemukan titik terang dimana benda yang dicarinya berada.
Dan pada saat dia telah lelah mencari, tak sengaja Erlang Mo menyentuh sebuah guci antik yang berada ada di dalam rak bersama guci lainnya, hingga guci itu bergeser.
Rak yang ditempati guci guci antik bergeser ke kanan, hingga terlihat sebuah terowongan yang kembali menuju ke bawah tanah, di sana Erlang Mo menemukan sebuah kitab yang dicarinya.
Erlang Mo membuka lembaran depan kitab pusaka itu, dan tiba-tiba saja dari dalam kita keluar tujuh makhluk yang sangat menyeramkan, dengan beberapa tanduk yang menghiasi kepalanya.
Dengan refleks Erlang Mo meloncat ke belakang, dan terperangkap di sudut ruangan dengan tubuh yang menampakan rasa ketakutan yang mencekam, dikarenakan ke tujuh makhluk itu mengeluarkan aura yang sangat gelap dan mengerikan.
Kami adalah 7 Dewa iblis kematian, yang berada di dalam kitab kuno itu, jika kau ingin mempelajari kitab kuno itu, maka kami bertujuh akan mengajarimu untuk menggunakan kekuatan kami yang ada di dalam kitab kuno itu.
"Aku ingin mempelajarinya, dan mohon bimbingan para Dewa iblis semuanya," ucap Erlang Mo dengan mantap.
"Jika kau benar-benar berniat untuk mempelajari kitab itu, maka aku ingin kau meneteskan darahmu di atas permukaan kitab, agar kita terikat dalam satu kontrak darah," ucap salah satu sosok mengerikan yang ada di hadapan Erlang Mo itu.
Mendengar perkataan salah satu Dewa iblis kematian, dengan cepat Erlang Mo mengigit jari telunjuknya dan meneteskan darah segar di permukaan kitab kuno yang berada dalam genggamannya, hingga kitab kuno yang berada di dalam genggamannya yang terlihat usang kini berubah menjadi mengkilap dan di penuhi aura gelap yang sangat menindas.
"Selamat tuan muda, kau kini adalah bagian dari kami, kau akan memperoleh kekuatan yang sangat besar yang melebihi kekuatan para iblis sebelumnya, untuk itu kau harus mencari 500 orang gadis perawan dan 500 orang perjaka untuk menyempurnakan ilmu mu," ucap salah satu Dewa iblis kematian.