
Malam semakin larut tak membuat kedua remaja muda yang sedang di mabuk cinta menghentikan kegiatannya.
Suara suling yang dimainkan oleh leluhur Wong ji Ang, seperti mengantarkan mereka menuju ke puncak kehangatan.
Zhao Quin perlahan memejamkan matanya dengan bibir yang sedikit terbuka, seperti menantang Yan Lan untuk segera mencumbunya.
Sesaat Yan Lan mengatur gemuruh di dadanya, bibir merah merekah alami yang tersaji di depan matanya begitu sangat menggoda Yan Lan untuk segera merengkuh nya.
Perlahan Yan Lan menempelkan bibirnya ke bibir Zhao Quin, dan tiba tiba saja Zhao Quin menyambut ciuman Yan Lan itu dengan hangat. Tak terasa ciuman mereka berdua semakin lama semakin dalam yang membuat napas kedua insan yang berlainan jenis itu semakin memburu.
Darah kelelakian Yan Lan berontak, seiring tingkah manja Zhao Qin padanya.
"Kak Yan Lan.., apakah kau mencintaiku..?" tanya Zhao Quin lirih.
"Aku mencintaimu sayang" jawab Yan Lan.
Jawaban yang di berikan oleh Yan Lan membuat hati Zhao Quin berbunga bunga, Zhao Quin mendekap erat tubuh Yan Lan dengan penuh kasih dan sayang.
"Aku ikhlas melepaskan mahkota milikku ini untukmu sayang," bisik Zhao Quin di telinga Yan Lan.
Kembali mereka melakukan ciuman penuh kehangatan di malam itu.
Entah siapa yang memulai, satu persatu pakaian yang mereka kenakan berjatuhan di lantai kamar itu, dan tanpa mereka sadari tak ada satu benang pun yang sekarang menutupi tubuh mereka berdua.
Perlahan Yan Lan merebahkan tubuh Zhao Quin di atas pembaringan yang sudah di persiapkan khusus oleh leluhur Wong ji Ang untuk mereka berdua, bibir mereka berdua kembali beradu dan lama kelamaan semakin dalam yang membuat suasana di kamar itu di penuhi dengan napas memburu dan ke hangatan.
Tangan kanan Yan Lan mulai menelusuri inci demi inci tubuh mulus yang di miliki oleh Zhao Quin, dan hinggap di suatu tempat yang di penuhi dengan rumput belukar hitam yang lebat dan lembab.
Jari tengah Yan Lan mulai bermain main di sekitar area mahkota Zhao Quin dengan lembut, yang membuat Zhao Quin menggeliat dengan mengeluarkan rintihan tertahan dari mulutnya.
Tangan kiri Yan Lan tak tinggal diam, jemari tangan kiri itu terus menelusur kebawah dan hinggap pada gundukan daging yang besar, padat dan kenyal.
Napas mereka berdua memburu, rintihan dan jeritan kecil Zhao Quin memenuhi ruangan kamar itu seperti mengikuti alunan suara seruling yang di mainkan oleh leluhur Wong ji Ang, yang membuat Yan Lan semakin bergairah padanya.
Yan Lan melepaskan ciumannya dan mulai menelusuri leher jenjang Zhao Quin dengan bibirnya dan meninggalkan beberapa tanda merah sebagai tanda kepemilikan darinya, hingga berhenti pada dua gundukan daging di depan wajahnya.
Dengan sigap Yan Lan mulai bermain main dengan kedua bukit kembar milik Zhao Quin, dan membenamkan wajahnya disana.
"Ka..Ka..kak Yan...Lan..." rintih Zhao Quin.
Zhao Quin memeluk erat kepala kepala Yan Lan di kedua bukit kembar miliknya, yang membuat Yan Lan kesulitan bernapas karena terhimpit oleh gundukan daging yang sangat besar dan kenyal miliknya itu.
Melihat Yan Lan kesusahan bernapas, Zhao Quin segera merenggangkan pelukannya dan membuat Yan Lan kembali bisa bernapas dengan lega walaupun masih tersengal sengal.
Merasa penasaran dengan rudal milik Yan Lan, tangan kanan Zhao Quin dengan perlahan menelusur ke bawah dan "Ackh...!!" pekik Zhao Quin yang merasakan benda yang berada di genggaman tangan kanannya begitu besar dan panjang.
Sekujur tubuh Zhao Quin seketika merinding ngeri, ada rasa takut yang menyelimuti pikirannya saat ini.
"Apakah benda sebesar ini bisa masuk ke dalam mahkotaku," batin Zhao Quin sambil memejamkan matanya.
Walaupun rasa takut menyelimuti pikirannya saat ini, akan tetapi hati kecil Zhao Quin berkata lain, di mana dia sangat menginginkan benda besar yang di miliki Yan lan itu yang pertama kali membobol mahkotanya.
"Kak Yan Lan pelan pelan," rintih Zhao Quin sambil kembali memejamkan matanya.
Yan Lan yang berada di atas tubuh Zhao Quin, begitu sangat kesusahan menjebol mahkota milik Zhao Quin yang masih rapat dan tersegel.
"Kak Yan Lan sakit..**!!" pekik Zhao Quin yang merasakan ada sesuatu benda yang masuk kedalam mahkotanya.
Zhao Quin menggigit bibirnya sendiri dengan mata terbelalak, kedua tangannya menggenggam erat lengan Yan Lan di mana Zhao Quin merasakan benda tumpul itu semakin menerobos masuk ke dalam.
Dengan perlahan Yan Lan mulai melakukan gerakan maju mundur secara perlahan dengan berirama, yang membuat rasa sakit yang di alami oleh Zhao Quin perlahan menghilang berganti dengan rasa nikmat yang tak terbayangkan.
Melihat Zhao Quin mulai menikmati permainan yang Lan Yan lakukan padanya, membuat Yan lan mulai memacu kudanya tanpa ragu ragu lagi, demi menuju puncak tertinggi dari kegiatan malam yang mereka berdua lakukan.
Napas memburu, dan keringat bercucuran tak menjadi halangan bagi mereka berdua dalam menggapai cita cita bersama.
Tak lama kemudian gerakan maju mundur yang Yan Lan lakukan tiba tiba berubah begitu sangat cepat, pembaringan yang mereka tempati sampai ikut bergoyang seiring gerakan cepat yang di lakukan oleh Yan lan, dan pada akhirnya teriakan keras tertahan keluar dari mulut mereka berdua.
Yan Lan terkulai lemas di atas tubuh Zhao Quin, dan berusaha kembali mengatur napasnya agar lebih stabil lagi.
Yan Lan melihat ada butir air mata mengalir di pipi Zhao Quin.
"Quin er apa kah kau menyesalinya?" tanya Yan Lan lembut.
"Aku tak menyesalinya kak Yan Lan, aku merasa sangat bahagia karena dapat memberikan sesuatu yang paling berharga yang kumiliki, kepada orang yang paling kucintai," jawab Zhao Quin.
"Terimakasih sayang" bisik Yan Lan di telinga Zhao Quin.
Yan Lan pun merebahkan tubuhnya di sisi Zhao Quin.
Suasana pagi itu begitu sangat sejuk dengan udara yang segar dan asri, matahari pun mulai muncul dari ufuk timur.
Tampak Yan Lan masih terlelap di atas pembaringan nya.
Sementara Zhao Quin sendiri telah membersihkan diri dan membuatkan satu mangkuk sup ginseng buat pemuda yang masih terlelap di pembaringannya.
Zhao Quin merasakan perih di sekitar mahkotanya yang membuatnya kembali membaringkan diri di sisi Yan Lan.
Tak lama berselang Yan Lan tersadar dari tidurnya, dan mencium aroma harum semerbak yang sangat di kenalinya di dalam kamar itu.
"Aroma ini adalah aroma wangi tubuh Quin er," batin Yan Lan dan mengingat kembali kejadian yang mereka lakukan malam tadi.
Melihat Yan Lan telah bangun, Zhao Quin segera bangkit dari pembaringan dan melangkah menuju sup ginseng buatannya yang telah hangat.
Yan Lan melihat Zhao Quin berjalan menuju kearah meja yang berada di tengah tengah ruangan itu
"Apakah aku terlalu memaksa dan terlalu kasar melakukannya pada Zhao Quin, hingga dia harus kesusahan dalam berjalan," batin Yan Lan.
Kak Yan Lan aku membuatkan sup ginseng untukmu agar tenagamu bisa pulih kembali," ucap Zhao Quin sambil menunduk dan merasa malu untuk menatap pemuda yang berada di hadapannya.
"Terimakasih Quin er" jawab Yan Lan singkat dan mulai meminum sup ginseng buatan Zhao Quin.
Kak Yan Lan bagai mana kondisi tubuhmu sekarang, apakah ada perubahan di merindianmu yang rusak?" ucap Zhao Quin kembali.
Yan Lan baru tersadar jika semua yang mereka lakukan semalam demi untuk memulihkan Merindiannya yang rusak, segera Yan Lan duduk bersila dan melihat lautan Qi di dalam Merindiannya.
Quin er merindianku telah pulih dan aku bisa berkultivasi kembali," ucap Yan Lan sambil memeluk Zhao Quin yang berada dekat dengan pembaringan.
"Aku sangat senang mendengarnya kakak Yan," ucap Zhao Quin.