
Yan Lan dan paman pelayan rumah makan pergi meninggalkan tempat itu, akan tetapi Yan Lan tiba tiba saja menghentikan langkahnya.
"Cari Li Wang di kota bulan suci, dan tunjukkan pedang itu padanya," ucap suara pak tua yang terdengar di telinga Yan lan.
"Ada apa tuan muda?" tanya paman pelayan.
"Apakah kau mendengar suara? Yan Lan balik bertanya.
"Aku tak mendengar suara apa apa," jawab paman pelayan.
"Kalau begitu ayo kita pulang," ucap Yan Lan sambil bertanya tanya dalam hati siapakah Li Wang itu.
*****
Yan Lan berjalan menuju gerbang kota bulan suci, yang mana banyak terdapat orang orang desa yang membawa gerobak dagangan menuju kedalam kota.
Pemeriksaan di gerbang kota memang sangat ketat, Yan Lan berjalan mengikuti gerobak yang penuh dengan dagangan para penduduk desa dari belakang.
Yan Lan memperhatikan lencana jati diri para penduduk desa yang sangat berbeda dari lencana yang di milikinya.
"Mengapa lencana ku dan lencana para penduduk desa sangat berbeda sekali bentuknya?" tanya Yan Lan dalam hati.
"Kau..!!, tunjukan identitasmu!!" ucap salah seorang penjaga gerbang kota yang bertubuh besar dan penuh dengan bekas luka sayatan di pipinya sambil menunjuk ke arah Yan Lan.
Dengan penuh ke khwatiran Yan Lan berjalan ke arah penjaga gerbang dan memperlihatkan lencana pengenal dirinya.
Pengawal itu memperhatikan dengan seksama lencana pengenal Yan Lan, dan beberapa kali melirik ke arah Yan Lan.
"Hubungan apa kau dengan tetua Li Wang?" tanya penjaga gerbang.
"Apakah aku harus menjawabnya?" tantang Yan Lan.
"Tak lama pemimpin penjaga datang menghampiri Yan Lan.
"Maafkan kesalahan anak buahku tuan muda, silahkan anda memasuki kota, ucap pemimpin penjaga gerbang.
Dengan wajah dingin Yan Lan berlalu meninggalkan para penjaga gerbang, untuk memasuki kota.
Setelah sepeninggalan Yan Lan, pemimpin penjaga gerbang langsung menghadap Selir Lin yu, untuk memberitahukan jika ada seorang anak muda yang menggunakan lencana perak.
Lencana perak sendiri merupakan lencana yang di gunakan orang orang kepercayaan raja kota guna melindungi pangeran ke 3.
Yan Lan memasuki kota, terlihat bangunan bangunan yang tertata rapi, yang di penuhi dengan lalu lalang penghuni kota.
"Sungguh kota yang makmur," batin Yan Lan.
Tujuan Yan Lan kali ini adalah mencari rumah makan yang ramai, yang bertujuan untuk mencari informasi tentang keberadaan Li Wang.
Sesampainya di rumah makan Yan Lan mendengar jika raja kota dalam keadaan sakit keras, hal ini menjadi topik pembicaraan hangat di dalam rumah makan itu.
"Jika sampai raja kota mati, tak akan ada lagi yang bisa dipercaya untuk menjadi penerus tahta, pangeran ke 3 sebagai putra mahkota mempunyai sifat buruk yaitu selalu menindas yang lemah, apalagi pangeran pertama yang saat ini terendus kabar jika dia menganut ilmu hitam dan bersekutu dengan iblis," ucap salah satu pengunjung rumah makan.
"Semoga raja kota bisa pulih seperti sedia kala" ucap Yan Lan yang langsung ikut nimbrung di antara para pengunjung rumah makan yang sedang bercakap cakap.
"Pelayan bawakan aku makanan terbaik di rumah makan, dan beberapa guci anggur terbaik kemeja ini," ucap Yan Lan.
"Baik tuan muda, pesanan anda akan segera datang," jawab pelayan.
"Aku yang bayar semua, tak enak jika makan sendiri," jawab Yan Lan kepada ke 4 orang laki laki yang berada di tempat itu.
"Terimakasih" jawab salah satu dari mereka.
"Perkenalkan namaku Yan Lan, aku ingin mencoba keberuntungan dengan ikut berkompetisi dalam menyembuhkan ketua klan Luyang," ucap Yan Lan kembali.
"Yan Lan perkenalkan namaku Ji lie, ini Go lay dan itu Wu Gie serta adiknya Wu hie," ucap Ji lie.
"Senang bisa berkenalan dengan kalian," ucap Yan Lan.
Tak di sangka sangka oleh Yan Lan ke 4 pemuda yang baru di kenalnya itu, ternyata mereka merupakan anggota klan Luyang.
Yan Lan mulai pembicaraan dengan ke empat pemuda dari klan Luyang dengan akrab. Dari pembicaraan itu ternyata luka luka yang di derita oleh ketua klan Luyang yang bernama Lu Sian Hong itu, akibat bertarung dengan manusia iblis yang telah membunuh permaisuri kerajaan gerbang naga.
Luka ketua Lu Sian Hong begitu parah hingga membuatnya tak berdaya, karena seluruh kultivasi yang ada pada dirinya terancam musnah.
Bagi para Alkemis akan ikut kompetisi, akan di uji kemampuannya, jika memenuhi syarat akan di berikan kesempatan menyembuhkan ketua Lu Sian Hong, jika mereka berhasil tentunya akan di berikan hadiah yang sangat besar.
"Mengapa tidak meminta bantuan dari pagoda 9 yang berasal dari kekaisaran giok?" tanya Yan Lan.
"Sudah ada utusan kerajaan yang meminta bantuan kesana, akan tetapi untuk sampai kesini memerlukan perjalanan 1 tahun lamanya," ucap Go lay.
"Di perkirakan 3 bulan lagi utusan dari pagoda 9 akan tiba di kota bulan suci, sementara tingkat kultivasi ketua Lu Sian Hong jika tidak segera di tangani dengan benar akan musnah sekitar 2 bulan dari sekarang," timpal Ji lie.
"Bagaimana dengan sakitnya raja kota sendiri?" tanya Yan Lan kembali.
"Menurutku penyakit raja kota itu karena racun, sepertinya ada seseorang dari petinggi istana kerajaan yang ingin memberontak, pangeran ke 2 dan pangeran ke 4 telah lama menjadi korban, mereka berdua hidup tanpa ada tujuan, yang membuat mereka di asing kan di suatu tempat karena mental mereka berdua terganggu akibat rasa takut yang teramat sangat," jawab Wu Gie.
Bagai mana dengan pangeran ke 3 yang merupakan putra mahkota? mengapa dia tak mendapatkan penyerangan?" tanya Yan Lan kembali.
"Pangeran ke 3 telah beberapa kali mendapatkan serangan, akan tetapi tetua Li Wang yang merupakan tangan kanan raja kota sekaligus kultivator terkuat di kota bulan suci selau melindunginya," jawab Ji lie.
"O yah Yan Lan, besok akan di mulai kompetisi Alkemis di klan Luyang, kompetisi tersebut akan di buka langsung oleh tetua Li Wang, apakah kau sudah mendaftar sebagai salah satu Alkemis yang ikut bertanding?" tanya Ji lie.
"Aku belum mendaftar, setelah makan aku akan ke klan Luyang untuk mendaftarkan diri," ucap Yan Lan.
"Kalau begitu kami akan mengantarmu kesana, kebetulan kami berempat akan pulang," ucap Ji lie kembali. Pada akhirnya Yan Lan mengikuti mereka ber 4 untuk menuju ke klan Luyang.
Di klan Luyang, Yan lan sangat di remehkan oleh para Alkemis yang lain, di karenakan umur Yan Lan yang terbilang sangat muda.
Melihat dirinya di remehkan oleh para Alkemis yang lebih tua, Yan Lan seperti tak perduli dengan apa yang ada, dia hanya tersenyum menyikapi itu semua.