
Pertarungan antara tetua Lu Sian Lang dengan ular piton raksasa semakin seru, dan pada akhirnya tetua Lu Sian Lang berhasil mengalahkan sang ular.
"Semoga ini akan menjadi pelajaran berharga bagimu pangeran," ucap tetua Lu Sian Lang dalam hati. Tetua Lu Sian Lang merasa tak tega melihat kondisi penerus istana gerbang naga itu, dan pada akhirnya tetua Lu Sian Lang membawa pangeran ke 3 kembali ke goa.
Setelah tersadar pangeran ke 3 mulai menata diri, mulai mendengarkan setiap arahan para petinggi klan Luyang untuk menjadi seorang yang dapat menggantikan posisi ayahnya sebagai seorang raja di istana gerbang naga.
*****
Di dalam istana gerbang naga, kondisi raja kota yang telah lama sakit membuat istana gerbang naga bergejolak, dan atas usul para menteri dan petinggi istana, yang mengharuskan adanya pengganti kepemimpinan sementara selama raja kota sakit.
Pangeran pertama kini menjadi raja sementara dalam menggantikan ayahnya, para petinggi istana yang masih setia kepada raja kota dan tak mau ikut di bawah kekuasaannya pangeran pertama, memilih untuk pergi dari istana.
Kekosongan tempat yang di tinggalkan oleh para petinggi istana yang masih setia dengan raja kota, di isi oleh orang orang yang telah di tentukan pangeran pertama.
Sementara itu tetua Li Wang masih selalu berada di sisi raja kota, untuk menjaga raja kota dari orang orang yang ingin melenyapkannya.
Dengan bantuan artefak pelindung, area sekitar raja kota dapat terlindungi sehingga para iblis tak dapat masuk ke kediaman raja kota.
"Bagai mana keadaan putra mahkota sekarang paman Li Wang?" tanya raja kota di suatu pagi yang cerah.
"Yang mulia tak usah khwatir, putra mahkota sekarang bersama para petinggi klan Luyang, dia pasti akan baik baik saja," jawab Li Wang.
"Aku tak menyangka kedamaian di dalam kota bulan suci akan berakhir seperti ini, banyak penculikan anak remaja baik laki laki maupun perempuan yang tak bisa terselesaikan, kepercayaan para penduduk kota bulan suci dan desa desa terdekat mulai berkurang kepada istana gerbang naga dan khususnya aku sendiri sebagai seorang raja," ucap raja kota sambil menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya keluar secara perlahan lahan.
"Yang mulia tak perlu terlalu memikirkan hal itu, yang terpenting sekarang bagaimana kondisi yang mulia bisa pulih seperti sedia kala, aku yakin setelah kedatangan para Alkemis dari pagoda 9, yang mulia pasti akan bisa pulih seperti sedia kala," jawab tetua Li Wang.
"Semoga saja para Alkemis dari pagoda 9 dapat memulihkan kondisiku seperti sediakala, agar aku dapat membenahi istana gerbang naga dan memulihkan kondisi kota bulan suci yang kacau," ucap raja kota.
Tiba tiba raja kota berteriak histeris dan jatuh tersungkur di tanah, dengan cepat tetua Li Wang membawa raja kota ke kamarnya.
"Maafkan aku yang mulia yang tak dapat menyembuhkan penyakitmu hingga saat ini," bisik tetua Li Wang sambil menatap raja kota yang tak sadarkan diri.
Sementara itu selir Lin yu terus memerintahkan para prajurit pilihannya, untuk mencari gadis perawan dan pemuda perjaka untuk di tumbal kan kepada raja iblis.
20 orang prajurit pilihan yang di pimpin oleh kepala prajurit yang bernama Yokang, terus melesat bersama anak buahnya menuju kesebuah desa.
Di sebuah desa, Yokang dan anak buahnya yang mendapat informasi dari orang terpercaya, jika di desa Angin berkabut terdapat banyak anak gadis perawan segera mengatur strategi.
Tak lama kemudian salah seorang anak buah Yokang datang menghampiri pemimpin mereka.
"Pemimpin!! kita jangan gegabah dalam memasuki desa angin berkabut ini, di sana terdapat penjagaan ketat dari para penduduk desa," ucap salah seorang prajurit pilihan.
"Aku tak perduli dengan penjagaan yang dilakukan oleh para penduduk desa, jika tak ada pilihan lain lebih baik kita menghabisi semua penduduk penjaga itu, yang terpenting malam ini kita harus bisa mendapatkan gadis perawan bagai mana pun caranya, dari pada kita pulang dengan tangan kosong yang akan membuat selir Lin yu murka," jawab Yokang.
"Jika memang harus seperti itu, baiklah pemimpin kami siap bertempur dengan para penduduk desa," ucap prajurit itu kembali.
"Bagus!! secepatnya kita menjalankan strategi awal" ucap Yokang.
"Baik pemimpin," jawab sang prajurit.
Mereka semua akhirnya berpencar memasuki desa angin berkabut, dengan memakai topeng dan berjubah hitam. Dengan mengendap endap dan pergerakan yang sangat halus, para prajurit terpilih berusaha mengintai target baik dari atas atap maupun dinding yang mempunyai celah untuk melihat kedalam rumah penduduk demi untuk mencari keberadaan gadis perawan.
"Pemimpin sepertinya informasi yang masuk ke kita tidak benar adanya, tak satupun anak gadis terlihat di setiap rumah yang telah kita selidiki, dan kurasa datang ke desa ini hanya sia sia belaka," ucap salah seorang prajurit pilihan.
"Kuras ada yang aneh di desa ini, para penduduk yang berjaga pun telah hilang, jangan jangan kita telah di jebak, kalian semua cepat tinggalkan desa ini!!" teriak Yokang.
Sebelum para prajurit pilihan pergi, tiba tiba saja sebuah pedang langsung membunuh beberapa prajurit pilihan yang membuat para prajurit lainnya menjadi panik, hal ini di karenakan sang penyerang tak tampak wujudnya yang ada hanya sebuah pedang terbang.
"Cepat tunjukkan dirimu!!" teriak Yokang.
Kembali sebuah pedang melesat cepat kearah Yokang, yang membuatnya harus bersalto di udara untuk menghindari serangan pedang yang bisa saja merenggut nyawanya.
"Bentuk formasi Serigala gurun,"teriak Yokang.
Dengan cepat para prajurit yang tersisa belasan orang langsung membuat formasi serigala gurun.
Pedang yang berhasil membunuh beberapa prajurit pilihan, kini berputar putar mengelilingi para prajurit pilihan yang sedang menggunakan formasi pedang serigala gurun.
Tak lama kemudian, kembali pedang yang melayang di udara itu menyerang para prajurit pilihan, dan makin lama pergerakan pedang itu semakin cepat dan sulit terlihat oleh mata manusia biasa.
Dengan formasi pedang yang tercipta, para prajurit pilihan dapat menahan serangan pedang yang semakin ganas menyerang, prajurit pilihan saling bantu membantu untuk menangkis serangan pedang tunggal tersebut.
"Keluar kau!! jangan seperti tikus yang bersembunyi di dalam lobang!!" teriak Yokang kembali.
Mendengar teriakan Yokang, seketika suhu udara berubah dingin dan tampaklah di hadapan para prajurit terpilih sesosok manusia tua dengan seluruh rambutnya yang telah memutih.
Pedang yang tadinya melayang layang di udara, secara perlahan menuju ke arah orang tua tersebut, dan dengan sekali gerakan tangan pedang itu telah berada di dalam genggaman orang tua itu.
"Akhirnya kau keluar juga!!, bagus kami semua akan segera melenyapkanmu!!" teriak Yokang.
"Sebelum kau pergi ke neraka, cepat katakan siapa namamu pak tua?" tanya Yokang kembali.
"Apakah kau ingin tau namaku? selama ini orang yang mengetahui namaku akan mati!!" jawab pak tua itu.
"Ha..ha..ha..., kau kira kami semua disini adalah anak kecil yang gampang kau bodohi!? cepat katakan agar kami tau siapa orang bodoh yang akan kami bunuh!!" ucap Yokang yang di sambut gelak tawa oleh belasan anak buahnya.
"Baik jika itu mau mu, namaku Yang long," ucap orang tua itu.
Seketika tawa para prajurit pilihan gerbang naga tersendat di tenggorokan, mereka tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, yang mereka tau jika Yang long merupakan kakak seperguruan dari tetua Li Wang, yang mana sepak terjang Yang long sendiri sangatlah menakutkan di mata para kultivator yang berada di kota bulan suci, Yang long tak segan segan untuk membunuh dan membinasakan orang yang telah meremehkannya.
Mengetahui jika orang yang berada di hadapannya bukanlah kultivator sembarangan, Yokang dan anak buahnya segera membentuk formasi pedang.
Tampak wajah dingin tetua Yang long, matanya tajam menatap formasi pedang yang dibuat oleh para prajurit pilihan dari istana naga.
Tak lama tetua Yang long melakukan gerakan yang sangat sukar di lihat oleh mata biasa, dan tiba tiba saja pedang di tangannya sudah menembus salah satu dari perajurit pilihan.
"Tehnik siluman" batin Yokang.
"Celaka ini bisa membahayakan nyawaku, lebih baik aku segera pergi dari sini," batin Yokang kembali.
"Tunggu apa lagi, kita serang bersama sama!! walaupun gerakannya tak terlihat jika kita semua menyerangnya bersama sama, itu akan membuka celah untuk membunuhnya!!" teriak Yokang.
"Serang..!!" teriak Yokang kembali.
Mendengar teriakan pemimpinnya, belasan prajurit pilihan dari istana gerbang naga yang masih tersisa, langsung menyerang tetua Yang long secara bersama sama.
Kesempatan itu membuat Yokang langsung melesat cepat meninggalkan tempat itu, dia terus berlari menuju ke arah kota bulan suci.
Dalam sekejap tetua Yang long mampu menghabisi seluruh prajurit pilihan gerbang naga.
"Kau tak akan mudah untuk lepas dariku," ucap tetua Yang long yang tiba tiba saja menghilang dari tempat itu.
Yokang yang terus berlari akhirnya mengembangkan senyuman di bibirnya, karena telah melihat gerbang kota bulan suci yang berada di hadapannya.
"Siapa yang bilang aku tak bisa lepas darimu setelah aku mengetahui siapa namamu," batin Yokang dengan terus mengembangkan senyuman dari bibirnya.
Setiba di gerbang kota bulan suci yang di penuhi dengan prajurit penjaga, tawa Yokang akhirnya pecah.
"Ha..ha..ha..., perkataanmu hanyalah omong kosong belaka pak tua, kau tak bisa membunuhku," teriak Yokang lantang.
Para prajurit penjaga yang tak mengenali Yokang, segera mengarahkan pedang mereka semua ke arah tubuh Yokang.
"Apa yang kalian lakukan sampah!!, apa kalian tak mengenaliku!!" teriak Yokang sambil menunjukkan lencananya.
Seketika muka para prajurit penjaga menjadi pucat melihat tanda pengenal yang dimiliki oleh Yokang, mereka semua merasa bersalah karena telah membuat kesal orang yang paling di takuti di istana gerbang naga.
"Maafkan kami komandan, kami tak ....," seketika pimpinan prajurit penjaga tak melanjutkan perkataannya, karena melihat kepala dari komandan Yokang telah menggelinding di tanah lepas dari tubuhnya.
Sesaat Yokang hanya bisa memandangi tubuhnya yang berjalan terseok seok dengan darah segar yang terus mengalir dari bekas tebasan pedang di lehernya, dan ambruk ketanah begitupun dengan nyawa Yokang yang kini terlepas dari raganya.
Para prajurit penjaga terkesima dan tak bisa berkata apa apa, dalam fikiran mereka bagai mana bisa komandan Yokang di bunuh oleh seseorang di hadapan mereka semua, tanpa ada yang mengetahuinya.
Dari jauh tampak tetua Yang long menatap tajam kearah kota bulan suci dari gerbang kota, Yang long membayangkan kembali saat saat muda dulu, bagai mana dirinya dan tetua Li Wang begitu akrab dan menjadi orang pilihan yang mendampingi raja kota setelah kepergian gurunya Wong ji Ang untuk berpetualang.
Keakraban itu seketika musnah karena seorang wanita yang merupakan putri dari raja kota.
Sang putri yang bernama Cin yhin mencintai keduanya, hingga membuat perang dingin antara Yan long muda dan Li Wang muda.
Dan pada suatu ketika Cin yhin mengungkapkan kepada Yang long muda jika dia lebih memilih Li Wang untuk menjadi pendamping hidupnya, hingga darah muda Yan long memanas menahan amarah kepada putri raja itu.
Akhirnya Yang long pergi dengan menahan kekesalan dan amarah di dada, Yang long muda tak terima dengan keputusan putri Cin yhin yang lebih memilih Li Wang dari pada dirinya.
Akhirnya terbersit pikiran kotor yang merasuki jiwanya saat itu, di malam itu juga Yang long pergi menuju ke kamar sang putri, dengan penuh napsu Yang long melampiaskan hasratnya kepada putri Cin yhin.
Lambat laun kejadian malam itu akhirnya di ketahui oleh Li Wang lewat mulut Cin yhin sendiri.
Dengan amarah yang meluap luap, Li Wang mencari Yang long dan terjadilah pertarungan antara dua saudara seperguruan.
Karena kemampuan Yang long lebih tinggi, akhirnya Li Wang terdesak hebat dan nyaris terbunuh oleh pedang Yan long, untungnya ada putri Cin yhin yang merelakan tubuhnya menjadi sasaran pedang Yang long, yang membuat putri Cin yhin mati seketika.
Li Wang langsung melepaskan pedangnya dan menyongsong tubuh putri Cin yhin yang telah menjadi mayat, dia mendekap erat tubuh putri Cin yhin dan menangis sejadi jadinya.
Melihat hal itu Yang long merasa sangat bersalah kepada Li Wang, apa yang menjadi haknya telah dirampas paksa olehnya, dan sekarang malah membunuhnya.
Rasa bersalah yang teramat besar kepada kedua orang yang sangat dekat dengannya itu, membuat Yan long pergi meninggalkan kota bulan suci dan tak pernah menginjakkan kakinya sekalipun disana.
"Maafkan aku adik, aku tak mungkin ke kota bulan suci untuk membantumu menyelesaikan masalah disana, aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tak pernah lagi menginjakkan kaki di kota bulan suci, karena jika aku berada disana, aku pasti akan mengenang kembali peristiwa itu," batin tetua Yang long sambil menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya keluar secara perlahan lahan.
Tak lama kemudian tubuh tetua Yang long menghilang dan pergi meninggalkan tempat itu.
*****
Di tempat lain di bawah pengawasan Dewa suci, Yan Lan terus dengan giat berlatih walaupun pelatihan itu begitu sangat menguras tenaganya.
Yan Lan kini telah menguasai beberapa tehnik yang sangat luar biasa hebat.
Selama ini Yan Lan hanya mengetahui jika elemen api merupakan kekuatan dengan tehnik api. Akan tetapi dengan pelatihan dari Dewa suci, elemen api telah dirubah menjadi Hukum api Yang mana tehnik ini begitu lebih kuat berpuluh puluh kali lipat dari tehnik element api yang di milikinya.
Api surgawi yang dimilikinya pun telah berubah sangat sempurna, tak ada lagi api yang keluar dari tubuhnya jika mengeluarkan tehnik api surgawi, yang ada kini hanya cahaya putih menyilaukan yang panasnya dapat menghancurkan apapun juga.
Perisai sisik naga yang ada padanya telah berubah menjadi baju perang yang berwarna emas untuk melindungi tubuhnya dari serangan apapun.
Semua itu merupakan hasil usaha Yan Lan selama berlatih di alam nirwana tempat dewa suci berada.
Bersambung.