PENDEKAR MATA LANGIT

PENDEKAR MATA LANGIT
Melihat Yan lan


Sore menjelang, seluruh penonton yang ingin menyaksikan pertarungan sampai mati itu terus berdatangan dari setiap sudut kota.


Tampak di podium utama 3 orang keluarga kerajaan, ditambah beberapa orang perwira tinggi kerajaan yang khusus mengawal pangeran muda, tampak antusias dengan pertarungan itu.


Putri Zheng Bilqis tampak tak bersemangat melihat pertarungan yang akan segera berlangsung, dia lebih memilih menatap adiknya yang berusia tujuh tahun, ketimbang menatap ke arah arena pertarungan.


Erlang Mo yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku putri Bilqis, tak bisa berbuat apa apa, karena dia tau karakter sang putri jika dia sudah berkata tak suka, maka dia tak akan pernah menyukainya.


Para kultivator kini memasuki arena pertarungan, tampak di sudut kiri tujuh orang kultivator yang sedang menatap tajam kearah Yan Lan yang berada di sisi kanan.


Di dalam pertarungan yang akan terjadi, tak ada wasit atau pun juri yang menilai pertarungan itu, semua hal boleh dilakukan untuk membunuh lawan tarung.


Sementara itu beberapa tetua dari mistik gold tengah membuat segel pelindung yang sangat kuat, pelindung itu tak kasat mata, yaitu pembatas berupa segel pelindung yang sangat sulit di tembus, yang bertujuan agar petarung yang kalah tak akan bisa lari dari kematiannya.


"Kakak pertarungan itu akan segera di mulai, dan yang bertanding telah berada di atas arena pertarungan, tapi mengapa pertarungannya tak adil seperti itu kak, di mana satu orang kultivator akan bertarung melawan tujuh orang kultivator lainnya," ucap pangeran Zheng Bil Ang sambil menunjuk ke arah arena.


Mendengar perkataan adiknya, putri Bilqis segera memalingkan pandangannya menuju ke arah arena pertarungan. Betapa terkejutnya sang putri melihat salah satu kubu yang akan bertarung, merupakan orang yang begitu sangat dikenalnya dan selalu membuat hari-harinya hampa ketika tak bersamanya.


"Kak Yan Lan!!" ucap putri Bilqis sambil berdiri dari tempat duduknya.


Kali ini Erlang Mo menatap heran melihat tingkah putri Bilqis yang begitu sangat aneh hari ini, melihat salah seorang pemuda yang yang akan bertarung membuat sang putri begitu sangat mengkhwatirkan nya.


"Setahuku putri Zheng Bilqis tak pernah mempunyai teman pria selain aku, tapi mengapa dia begitu sangat mengkhwatirkan pemuda itu? apakah aku tak salah melihat tingkah putri yang sangat aneh seperti ini?" batin Erlang Mo yang mulai terbakar api cemburu terhadap seorang pemuda yang akan bertarung.


Putri Bilqis melangkahkan kakinya ke arah depan, sambil matanya tak lepas dari sosok pemuda yang akan bertarung.


"Kak Yan Lan ternyata kau telah berada di kerajaan cahaya nirwan, aku begitu sangat merindukanmu, maaf kan waktu itu aku telah meninggalkanmu karena aku begitu takut dengan kekuatan yang kau miliki, tapi hatiku tak bisa memungkiri jika aku benar-benar tak bisa jauh darimu," batin putri bilqis.


Kali ini Erlang Mo benar benar terbakar api cemburu, Melihat putri Bilqis yang tersenyum-senyum sendiri memandang ke arah sosok pemuda dari sekte pasir es itu.


"Lihat saja jika kau berhasil memenangkan pertarungan ini, dan berani mendekati putri Bilqis maka aku tak segan-segan untuk melenyapkan mu," batin Erlang Mo sambil meremas tinjunya sendiri.


*****


Di arena pertarungan terlihat pertarungan mulai sengit, ke tujuh orang kultivator dari sekte pedang awan langsung menyerang Yan Lan dengan ganas, dan tanpa sedikit pun memberikan kesempatan bagi Yan Lan untuk mengelak.


Akan tetapi prediksi ke tujuh orang kultivator itu meleset, pemuda yang menjadi lawan tarungnya tak selemah yang di perkirakan oleh mereka bertujuh sebelumnya, dengan sangat mudahnya Yan Lan berkelit ke sana dan kemari, menghindari setiap serangan pedang yang diarahkan kepadanya, tanpa memberikan efek yang berarti.


Maka formasi itu pun terbentuk, dan terlihat pergerakan serangan yang dilakukan oleh ke tujuh Kultivator itu begitu sangat disiplin dan berubah-ubah, dengan pola serangan yang menitik beratkan pada serangan dari udara.


Dua orang menyerang Yan Lan di darat, dan lima lainnya menyerang Yan Lan dari udara, dengan setiap saat dapat berganti-ganti tempat dalam formasi, yang membuat Yan Lan begitu sulit untuk menyerang balik ketujuh orang tersebut.


Di barisan para penonton, tampak ketua sekte pedang awan yang bernama Qi Gulou dapat tersenyum puas dengan apa yang telah dilakukan ke tujuh murid intinya itu.


"Bagus tak sia sia aku melatih kalian, teknik pedang mengambang di awan begitu sangat sempurna kalian peragakan," bisik ketua Qi Gulou sambil tersenyum dengan penuh kebanggaan dari sudut bibirnya.


Sementara itu Cencen yang melihat pertarungan yang berat sebelah, menjadi sangat gelisah, apalagi melihat Yan Lan yang di gempur sedemikian rupa, membuat Cencen semakin mengkhawatirkan posisi Yan Lan dalam pertarungan satu banding tujuh itu.


"Mengapa kau begitu sangat keras kepala tuan Yan lan, andaikan kau mengajakku untuk bertarung menghadapi ke tujuh Kultivator sekte pedang awan, kemungkinan kita berdua dapat mengimbangi serangan-serangan dari mereka," bisik Cencen, sambil menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya keluar secara perlahan lahan.


Sementara itu di dalam podium utama, putri Bilqis terlihat mulai terpancing amarahnya mendengar Erlang Mo yang selalu meneriakkan kata-kata yang merendahkan Yan Lan, hal itu membuat sang putri secara tak sadar membentak Erlang Mo.


"Hentikan perkataan mu yang merendahkan kak Yan Lan, atau kau akan berhadapan denganku!!" ucap putri Bilqis dengan amarah yang meledak ledak.


Apa yang menjadi kekuatiran Erlang Mo kini terbukti, kepedulian Putri Bilqis terhadap pemuda yang dikenalnya sebagai seorang murid inti dari sekte pasir es, kini terlihat nyata.


"Ini pasti ada apa-apanya, tak mungkin Putri Bilqis begitu sangat pembela pemuda itu jika dia tak menaruh hati kepadanya," batin Erlang Mo.


Erlang Mo baru menyadari dan menyesali sikapnya waktu itu, yang tak menemani sang putri untuk pergi mengikuti pertandingan Alkemis di kota buluh surgawi, sehingga sang putri dapat mengenal seorang pemuda dan jatuh cinta padanya.


Wajah Erlang Mo seketika berubah murung mendengar perkataan putri Balqis yang begitu tak menghiraukannya, hal itu membuat Erlang mo merasa dendam terhadap pemuda dari sekte pasir es itu.


Mendengar teriakan putri Bilqis ke padanya, membuat Erlang mo menahan sesak di dada, dia pun segera memecahkan sebuah batu kristal yang berada di tangannya maka tampaklah sosok manusia yang sangat menyeramkan dan kasat mata, tengah berdiri di hadapannya dan memberi hormat.


"Tuanku, apakah ada tugas yang akan kau berikan padaku hingga kau membangunkan ku dari meditasi panjang yang sekarang ini tengah aku lakukan," ucap sosok itu.


"Zidan, aku ingin kau membunuh orang yang tengah bertarung itu, yang bertarung melawan tujuh orang kultivator dari sekte pedang Awan," perintah Erlang Mo dengan amarah yang meledak ledak.


"Baik, aku akan segera membunuhnya untukmu," ucap sosok hitam itu dan menghilang dari pandangan mata Erlang mo.


"Aku ingin kau menghabisinya secepat mungkin karena dengan keberadaannya di kota ini, putri Bilqis menjadi dingin dan mengabaikan ku," ucap Erlang mo.