PENDEKAR MATA LANGIT

PENDEKAR MATA LANGIT
Bertemu perampok


Walaupun ada rasa kagum yang besar pada paras cantik Qian Qin yang bagaikan Dewi yang turun dari nirwana, Yan Lan tetap pada pendiriannya untuk menjauhi Qian Qin.


Dengan mengunakan kekuatan barunya, Yan Lan melesat meninggalkan Qian Qin tanpa berucap 1 kata pun.


"Ada apa dengannya," batin Qian Qin.


Para Alkemis yang memeriksa tubuh Siang neder tak ada yang ceria, tampak jelas di mata patriack sekte jika harapan sembuh dengan luka parah yang ada di tubuh ketua Siang neder semakin tipis, dan untuk kesembuhan tingkat kultivasinya juga hanya tinggal angan angan belaka.


Tangisan kedua putra ketua Siang neder pecah melihat keadaan ayahnya yang kini tak berdaya, di tambah lagi dengan tingkat kultivasi ayahnya yang telah rusak dan tak dapat di pulihkan lagi.


Para Alkemis terkuat yang ada di dalam sekte pun menyerah dengan keadaan ketua siang neder yang terluka parah, hingga kedua anaknya membawa tubuh ayahnya kembali ke kediaman keluarga besarnya.


"Kakak Siga, bagai mana kita mempertahan kan keluarga besar kita dari 3 keluarga besar lainnya, apalagi selama ayah belum terluka seperti ini kita selalu merendahkan keluarga Xie yang kehilangan tehnik misterius naga langitnya, dan sekarang tehnik keluarga Xie itu telah kembali dengan keadaan ayah kita yang terluka parah, terus apa yang harus kita perbuat sekarang?" tanya young neder.


"Kita harus terus berlatih untuk memperkuat diri young er, hingga pada masanya kita akan menjadi lebih kuat dan dendam kita pada Yan Lan akan terbayarkan," jawab Siga neder.


"Kakak, angan angan mu itu terlalu tinggi, ayah yang semua waktunya di habiskan untuk melakukan latihan serta kultivasi hingga bertahun tahun lamanya, tak juga bisa menandingi kekuatan yang ada pada diri Yan Lan, bagai mana kita yang baru memulai latihan dan tanpa bimbingan ayah!? mau menunggu berapa lama hingga kita bisa sekuat Yan Lan??" tanya Young neder.


Siga neder terdiam, apa yang di katakan adiknya itu benar adanya, yang membuat dirinya serba salah dalam melakukan sesuatu hal dalam membantu keluarganya yang tengah terpuruk karena kehilangan seorang pemimpin keluarga.


"Adik, kita lupakan sejenak masalah ini, mari kita bersulang untuk masa depan esok yang lebih baik dari sekarang," ucap Siga neder..


Siga neder mengisi 2 buah gelas kosong yang ada di atas meja dengan minuman anggur.


"Ayo adik kita minum anggur ini hingga masalah yang tengah kita hadapi lenyap untuk sementara waktu," ucap Siga neder.


"Ayo kakak!" jawab young neder singkat.


Merekapun duduk berdua menghabiskan waktu dengan meminum minuman keras.


Di tempat lain Qian Qin merasa penasaran dengan Yan Lan, bagai mana tidak? selama Qian Qin hidup di puncak Awan langit, tak satupun dari pemuda yang pernah menolak dirinya, kecuali pemuda yang baru di kenalnya ini.


"Apakah Yan Lan tak mempunyai kejantanan seperti layaknya kejantanan yang di miliki seorang laki laki," batin Qian Qin kesal.


Qian Qin segera menepis jauh jauh hal bodoh yang tiba tiba saja muncul di dalam pikirannya itu.


"Aku akan mencarinya setelah semua masalah ini beres," batin Qian Qin sambil melangkahkan kakinya menuju jalan ke arah kamarnya.


Sementara itu Yan Lan yang terus berlari, akhirnya sampai juga ke tempat di mana rumah Mo Chi berada.


"Aku rasa Mo Chi pasti betah disana, daripada di tempat kumuh seperti ini," batin Yan Lan.


Yan Lan segera menelan satu buah pil dan kemudian melakukan kultivasi penyerapan pil hingga pagi menjelang.


Saat membuka mata Yan Lan merasakan perutnya sangat lapar, dan berusaha mencari sesuatu di dapur Mo Chi untuk di masak.


"Paman Mo Chi sangat ceroboh, tak ada sedikitpun makanan yang tersedia di dapur ini untuk di konsumsi," bisik Yan Lan.


"Lebih baik aku kepasar untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan, akan tetapi aku tak punya cukup batu roh untuk membeli makanan, itu urusan nanti yang penting aku sudah berada di sana," batin Yan Lan.


Yan Lan melesat pergi meninggalkan rumah sederhana kediaman Mo Chi, Yan Lan terus berlari hingga dia mendengar suara rintihan minta tolong dan seketika menghentikan larinya.


"Tak kusangka di puncak Awan langit masih juga terdapat perampok yang tamak, aku tak akan sungkan untuk membasmi mereka yang meresahkan masyarakat," ucap Yan Lan.


Yan Lan melesat cepat kearah 3 orang pedagang kain yang sedang terpuruk.


"Paman menjauhlah dari sini," perintah Yan Lan pada ke 3 pedagang kain itu.


"Wow ternyata datang seorang pahlawan muda yang ingin mengantarkan nyawanya," ucap salah seorang perampok dari lima perampok yang ada.


"Saudara Ji Ang, cepat kau cari harta benda di dalam kereta itu, biar kami yang mengurus pemuda sampah ini, ucap salah satu perampok.


"Baik kakak Saudal," jawab Ji Ang.


Amarah Yan Lan seketika meledak mendengar dirinya di katakan sampah oleh para perampok tersebut.


Yan Lan mengeluarkan pedang roh abadi dari dalam cincin ruangnya, dan menatap tajam kearah 4 perampok yang ada di hadapannya.


"Kakak Saudal sepertinya pemuda itu ingin mengajak kita bertarung," ucap salah satu perampok.


"Betul adik, kalian boleh mengambil apapun dari dia asal jangan pedang yang ada dalam genggamannya itu, karena aku menginginkannya," jawab Saudal sambil menatap tajam kearah pedang yang berada dalam genggaman Yan Lan.


"Tentu saja kakak Saudal, kami akan membawakan pedang itu kehadapan mu," ucap salah satu perampok.


"Ha..ha..ha.., Bagus adik!! bawakan pedang itu untukku," jawab Saudal.


"Kalian menginginkan pedang ini??" cobalah rebut dari tanganku!!" tantang Yan Lan.


"Adik dia sangat meremehkan kita, sebaiknya kita habisi saja," ucap Saudal memberi perintah.


Akhirnya mereka berempat menyerang Yan Lan dengan golok yang berada di tangan mereka.


Yan Lan menghindari setiap serangan golok para perampok dengan berkelit kesana kemari, dan pada satu kesempatan Yan Lan menebaskan pedangnya kedepan kearah pimpinan perampok itu, Saudal yang melihat pedang Yan Lan mengarah kepadanya, segera menangkis dengan goloknya di depan dada.


"Trang..!!"


Bunyi kedua senjata saling beradu.


Golok Saudal terpotong menjadi dua, begitu pun dengan tubuhnya yang jatuh ke tanah menjadi dua bagian, Saudal hanya bisa membelalakkan mata menahan sakit, dan tak lama kemudian nyawanya tak bisa di selamatkan lagi.


3 orang perampok perlahan lahan mundur karena melihat pemimpin mereka tewas secara mengenaskan, di tangan anak muda yang kini berada di hadapan mereka.


"Aku tak akan membiarkan keangkara murkaan merajai dan menindas yang lemah, dan membuat mereka terus berkeliaran mencari mangsa," ucap Yan Lan.


Dengan sekali gerakan pedang yang tak bisa di lihat oleh mata biasa, pedang di tangan Yan Lan berhasil menebas leher ketiga perampok hingga kepala mereka menggelinding di tanah.


Tak lama kemudian dari dalam kereta muncul salah satu perampok dengan wajah penuh kegembiraan, karena berhasil mendapatkan banyak harta benda di sana.


Seketika kegembiraan di wajahnya sirna, berganti dengan kesedihan karena melihat seluruh anggotanya mati secara mengenaskan.


Melihat hal itu perampok yang bernama Ji Ang segera lari sekuat tenaga, akan tetapi sebuah tebasan jarak jauh dari Yan Lan berhasil membuat tubuh Ji Ang terbelah menjadi dua.