
Pagi hari udara begitu sangat sejuk, dengan burung burung yang berkicau merdu di sela sela ranting pepohonan, yang berada di luar halaman istana kerajaan Kilauan roh.
Ratu lily memberikan bermacam macam tumbuhan herbal langka yang tentunya sangat dibutuhkan bagi Yan Lan, dan juga 2 senjata pusaka kepada kedua pengikut Yan Lan, yaitu pedang Pemecah angin bagi Cencen, dan Belati bulan sabit pada Qing ruo, serta 2 kitab pusaka kuno untuk dapat mempelajari tehnik senjata langka itu.
"Ibu kami berangkat dulu," ucap putri Limudza sambil memberikan penghormatan pada ibunya yang diikuti oleh Yan Lan, Cencen dan Qing ruo.
Sesaat ada rasa sedih di hati ratu Lily, karena harus ditinggalkan putri kesayangannya yang sedari kecil tak pernah keluar istana, yang selama ini selalu berada di sisinya di istana kemilau roh.
"Berangkatlah nak, semoga tak ada halang rintangan berarti dalam perjalanan kalian," ucap ratu Lily sambil mengelus lembut rambut hitam putrinya.
Tak lama kemudian ratu Lily berjalan menuju kearah Yan Lan, dan berkata. "Jaga putriku Yan Lan, jangan sampai hal buruk terjadi padanya," ucap ratu Lily sambil menepuk nepuk pelan pundak Yan Lan.
Yan Lan Hannya bisa menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan sang ratu.
Tak lama kemudian ular raksasa muncul di hadapan mereka, yang membuat Qing ruo dan Cencen mundur kebelakang, dengan memasang sikap waspada padanya.
"Draco!!" teriak putri Limudza sambil berlari kearah ular raksasa itu, dan mengelus kulit mengkilap ular raksasa itu.
"Aku sertakan Draco pada kalian, selain tangguh dalam pertarungan, Draco juga dapat berfungsi sebagai alat transportasi bagi kalian kedepannya, dia juga merupakan sahabat putriku sedari kecil," ucap ratu Lily.
"Trimakasih ratu "ucap Yan Lan singkat.
Setelah melakukan salam perpisahan, mereka berempat akhirnya melesat kearah punggung Draco, dengan cepat Draco melompat ke udara maka keluarlah sayap berwarna pelangi dari sisi tubuhnya.
Draco melesat cepat kearah barat sesuai arahan dari putri Limudza dan Yan Lan.
Setelah tengah hari, Yan Lan memutuskan mendaratkan Draco untuk sekedar beristirahat dan makan perbekalan yang telah dibawahnya dari istana kemilau roh.
Setelah mengisi perut, Cencen dan Qing ruo meminta ijin kepada Yan Lan untuk berlatih tehnik beladiri yang di berikan ratu Lily, sengaja mereka berdua ingin berlatih untuk memberikan kesempatan pada tuan mudanya dan putri Limudza, agar bisa saling mengakrabkan diri.
"Tuan muda, kami ingin berlatih tehnik baru yang di berikan ratu Lily," ucap Qing ruo.
"Kalian boleh berlatih, tapi tida bisa lama karena perjalanan kita masih panjang dan memerlukan waktu yang lama," jawab Yan Lan.
"Kak Yan Lan, biarkan aku membantu mereka berlatih dengan cepat," ucap putri Limudza.
Yan Lan menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan putri limudza, dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Setelah mendapat persetujuan dari Yan Lan, putri Limudza mengajak Cencen dan Qing ruo menjauh dari tempat itu, untuk mempelajari teknik yang diberikan oleh ibunya.
"Aku ingin kalian bermeditasi sekarang, aku akan membantu kalian mempelajari kedua kitab ini di bawah alam sadar kalian, semua itu agar mempermudah kalian berdua dalam mempercepat pembelajaran dan tak membutuhkan waktu yang lama," ucap putri Limudza.
"Baik nona muda," ucap mereka berdua serempak.
Maka bermeditasi lah Cencen dan Qing ruo di tempat itu, dengan seksama putri Limudza memasukkan kedua kitab itu masing-masing ke dalam pikiran Cencen dan Qing ruo, hingga kitab itu hilang dari pandangan mata.
"Selamat berlatih," ucap putri Limudza dan kembali menuju ke arah tempat di mana Yan Lan berada.
Di bawah alam sadarnya, Cencen dan Qing ruo mendapatkan suatu alam yang tak pernah dilihatnya sebelumnya, di sana terdapat bayangan-bayangan yang memperagakan teknik-teknik dari kitab pemberian dari ratu Lily.
Sementara itu Yan Lan yang melihat kedatangan putri Limudza mengernyitkan dahinya, dan heran mengapa putri Limudza hanya sekejap saja mengajarkan teknik baru pada kedua pengikutnya.
"Mengapa kau sudah kembali?, apakah mereka berdua membuatmu nggak nyaman?" tanya Yan Lan.
Aku mengajarkan mereka teknik baru di bawah alam sadar mereka masing-masing kak Yan Lan, hal itu akan membuat mereka bisa mempelajari teknik itu dengan cepat dan tak membutuhkan waktu yang lama, sengaja ku lakukan itu agar aku bisa dapat bersamamu tanpa diganggu oleh mereka berdua kak Yan Lan," jawab putri Limudza, dan duduk di dekat Yan Lan sambil merebahkan kepalanya di dada bidang calon suaminya itu.
Tak beberapa saat lamanya, akraban terus terjalin diantara mereka berdua, canda tawa terus keluar dari mulut mereka, hingga tak tau siapa yang memulai duluan, kini bibir mereka telah saling bertemu dan semakin dan semakin dalam.
Tak terasa seluruh pakaian yang dikenakan oleh mereka berdua telah terlepas dari tubuh mereka masing-masing, sang putri yang begitu sangat mencintai calon suaminya itu, tak mempermasalahkan jika mahkota yang selama ini dijaga nya akan direnggut oleh Yan Lan hari itu.
Yan Lan begitu sangat menginginkan apa yang tersaji di hadapannya itu, hingga gairahnya seakan bergejolak hingga tak mampu untuk di redamnya lagi, sementara putri Limudza yang begitu sangat membutuhkan kehangatan dan belaian kasih sayang dari Yan Lan, membuatnya mendekap erat tubuh pemuda yang akan menjadi pasangan hidup di masa depannya erat erat.
Angin Sepoi Sepoi berhembus mengiringi berpadunya dua insan yang berlainan jenis, napas memburu dan rintihan kecil mewarnai kehangatan percintaan mereka berdua.
Yan Lan beberapa kali memberikan tanda merah di sekitar leher putri Limudza sebagai tanda kepemilikan, yang membuat putri Limudza semakin kuat mendekap erat tubuh Yan Lan.
Dan pada akhirnya teriakan tertahan dari mereka berdua, mengakhiri perjalanan panjang menuju puncak tertinggi yang di namakan kenikmatan dunia.
Keduanya terbaring lelah sambil menatap kearah langit yang biru cerah, putri Limudza berbantalkan lengan kiri kekasihnya dan tangan kanannya memeluk hangat tubuh Yan Lan.
"Maafkan aku, tak sepantasnya kita melakukan ini sebelum hari pernikahan kita," ucap Yan Lan sambil menarik napas dalam dalam, dan menghembuskannya keluar secara perlahan lahan, dia sangat menyesalkan apa yang baru saja terjadi di antara dirinya dan putri Limudza.
"Kak Yan Lan, aku mengikutimu sampai hari ini karena aku begitu sangat mencintaimu, aku yakin jika suatu hari nanti kau akan membahagiakanku, dan aku tak menyesali apa yang telah kita lakukan ini, karena aku memang menginginkannya," jawab putri Limudza.
Yan Lan perlahan memejamkan matanya, dan tak berapa lama mereka berdua pun tertidur lelap, mungkin karena kelahan dalam percintaan hangat yang telah mereka lakukan.
Malam hari Yan Lan pun tersadar, dan segera membangunkan putri Limudza yang berada di sampingnya.
"Sayang bangun," ucap Yan Lan pelan.
Putri Limudza membuka matanya perlahan dengan mencerna keadaan yang ada, dia melihat wajah kekasih nya yang kini tengah di penuhi kegelisahan.
"Ada apa kak Yan Lan, mengapa kau gelisah seperti itu?" tanya putri Limudza.
"Cencen dan Qing ruo, jangan jangan di telah melihat kita seperti ini," jawab Yan Lan cemas.
Putri Limudza tertawa kecil dengan kekhwatiran pemuda yang berada di sampingnya.
"Kak Yan Lan mereka berdua masih berlatih di dalam alam sadar mereka masing masing, karena hanya aku yang dapat mengembalikan mereka berdua seperti sedia kala, tapi aku yakin mereka berdua sekarang ini telah menguasai tehnik itu," ucap Yan Lan.
"Jika begitu halnya, aku ingin segera melihat tehnik baru yang mereka pelajari," ucap Yan Lan.
Mendengar perkataan Yan Lan, putri Limudza dengan perlahan menganggukkan kepalanya.
Setelah memakai pakaian mereka kembali, Yan Lan dan putri Limudza pergi menuju ketempat dimana Cencen dan Qing ruo melakukan kultivasi.