
Yan Lan menatap tubuh Yan Ling yang pergi meninggalkannya hingga hilang di kejauhan.
Rasa sakit di pipi kirinya tak sesakit hatinya yang terluka, Yan Lan merasakan dadanya sesak mengingat Yan Ling telah memutuskan untuk mengakhiri hubungan cintanya.
"Maaf kan aku Ling er, mungkin ini suratan yang terbaik untuk kita berdua," batin Yan Lan.
Yan Lan kembali masuk kedalam kamar untuk melakukan kultivasi penyerapan Qi akibat kelelahan bertarung melawan Yan Lou.
Sementara itu ketua Yun Juaxin yang berada di dalam ruangan di puncak menara tahta, diam membisu menunggu seseorang yang datang memberikan informasi padanya.
Tiba tiba saja angin masuk ke ruangan itu dengan membuka pintu kamar dan menutupnya kembali.
Sesosok bayangan muncul di hadapan Yun Juaxin dengan berselimutkan asap hitam, dan secara perlahan membentuk dirinya berupa manusia kekar yang sangat menyeramkan. Dia merupakan salah satu prajurit elit pelindung yang di miliki menara tahta dari 7 prajurit elit yang di milikinya.
"Daegon bagaiman tugas yang ku berikan padamu," tanya Yun Juaxin.
Daegon menggenggam tinjunya memberi hormat.
"Ketua ..!! aku telah menanamkan tehnik cacing kebencian di dalam kepala wanita muda itu, dia selamanya akan membenci Yan Lan selama cacing roh itu masih bersarang di kepalanya," ucap Daegon.
"Ha..ha..ha.., bagus Daegon kau memang sangat dapat di andalkan, sekarang kembalilah dan aku akan memanggilmu kembali jika ada tugas baru untuk kau kerjakan," ucap Yun Juaxin.
"Baik ketua," ucap Daegon.
Setelah berkata seperti itu, Daegon kembali membentuk dirinya menjadi asap hitam, kemudian menghilang dari hadapan Yun Juaxin.
Yun Juaxin berjalan mendekati jendela menara dengan tangan kanan memegang tangan kirinya di belakang, tampak angin perlahan menerpa wajahnya yang masih menyisakan sisa sisa ketampanan di usia mudanya.
"Dengan ini aku akan bisa mempermudah mendekatkan Yun er dengan Yan Lan, karena penghalang besar yang selama ini menjadi penghalang bagi putriku, telah aku singkirkan dan aku berharap setelah Yan Lan menyembuhkan putriku dengan tehnik jari matahari yang dimilikinya, dia akan segera menikahi Yun er," batin Yun Juaxin.
Pagi menjelang Yan Lan telah menyelesaikan kultivasinya begitupun dengan Yan Lou.
"Bagai mana keadaanmu sekarang kakak Lou?" tanya Yan Lan.
"Kemarilah adik," ucap Yan Lou.
Yan Lan dengan segera berjalan kedepan, dan tanpa diduga duga Yan Lou memeluk Yan Lan dengan hangat.
"Lan er aku sangat rindu padamu," ucap Yan Lou.
Setelah melepaskan rindu yang mendalam pada adiknya itu, Yan Lou segera melepaskan pelukannya.
"Adik berkat pertolonganmu, luka lukaku telah sembuh dan tubuhku lebih terasa segar dari pada sebelum bertarung denganmu, terimakasih," jawab Yan Lou sambil menepuk nepuk lembut bahu Yan Lan.
"Syukurlah jika kau baik baik saya kakak Lou," ucap Yan Lan.
"Di mana Yan Ling?, sedari tadi aku tak melihatnya," tanya Yan Lou.
"Aku disini kakak Lou," timpal Yan Ling yang memasuki kamar dengan senyum merekah di bibirnya.
"Kakak Lou aku membawakan mu sup sarang burung wallet dan ginseng agar tenagamu bisa pulih dengan cepat," ucap Yan Ling.
"Ini suatu keberuntungan bagiku karena adik adikku bisa berkumpul semua, mari kita rayakan dengan makan sup buatanmu Ling er," ucap Yan Lou.
Mereka bertiga duduk di depan meja didalam ruangan itu.
Yan Ling segera mengisi mangkuk Yan Lou dan dan mangkuk untuk dirinya sendiri dengan sup yang di bawanya tanpa sedikitpun melihat ke arah Yan Lan.
"Apa yang terjadi dengan mereka berdua? bukannya selama ini Ling er sangat mencintai Yan Lan dan Yan Lan pun begitu mencintai Ling er, pasti ada yang tak beres dengan mereka berdua," batin Yan Lou.
"Lan er ini sup untukmu dan kau tak boleh menolaknya," ucap Yan Lou sambil menyodorkan mangkuk yang telah terisi sup dari Yan Ling.
"Kakak Lou apa yang kau lakukan?" bentak Yan Ling sambil berdiri dari duduknya. "Aku tak ingin kau memberikan sup itu pada manusia munafik seperti dia!!," bentak Yan Ling kembali sambil menunjuk kearah muka Yan Lan.
"Ling er..! Jaga sikapmu!! orang tua kita tak pernah mengajarkan ketidak sopanan pada orang lain terlebih saudara sendiri," ucap Yan Lou menasehati.
"Kakak Lou lebih membelanya dari pada aku adik kandungmu sendiri!?, baik jika itu maumu kakak Lou, aku akan pergi dari sini!!" pekik Yan Ling.
Yan Ling segera meninggalkan ruangan itu tanpa menghiraukan teriakan Yan Lou yang memanggil manggil namanya.
"Lan er apa yang telah terjadi pada mu dan Yan Ling?" tak seperti biasanya dia berlaku seperti itu," ucap Yan Lou.
"Entahlah kakak Lou..," jawab Yan Lan.
Yan Lan lalu menceritakan semuanya kepada Yan Lou tanpa ada yang di tutup tutupi.
"Aku tak menyalahkan mu Lan er, kau sudah dewasa dan semua sikap yang telah kau pulih pasti sudah kau pikirkan dengan matang matang," ucap Yan lou.
"Terimakasih atas dukungan mu kak Yan Lou," ucap Yan Lan.