PENDEKAR MATA LANGIT

PENDEKAR MATA LANGIT
Malu


Apa yang di katakan oleh Erlang Mo membuat Yan Lan kesal, Yan Lan segera mencerna keadaan yang ada dengan menahan emosinya, karena dia tak ingin terjebak dengan kata provokasi dari Erlang Mo yang akan membuatnya terusir dari istana jika dirinya mengikuti amarahnya.


"Aku yang telah menghancurkan dinding ini, dan kalian semua jangan menuduh kak Yan Lan lah yang telah melakukannya," ucap pangeran Zheng Bil Ang.


Semua orang tak percaya dengan apa yang di katakan oleh sang pangeran, termasuk Erlang Mo dan kakaknya sendiri yaitu putri bilqis.


"Pangeran, kau jangan membelanya, tak mungkin kau dapat menghancurkan dinding itu, karena dinding itu terdapat batu inti besi di dalamnya, yang tak mungkin di hancurkan oleh anak seusia mu," ucap Erlang Mo.


Pangeran menjadi geram melihat tingkah Erlang Mo yang merendahkan Yan Lan, dan meremehkannya, diapun mengambil 2 buah pedang dan menatap tajam kearah Erlang Mo.


"Paman Mo, jika kau ingin melihat bagaimana dinding itu bisa hancur, maka aku akan mengajak mu untuk bertarung dan hal ini juga sebagai sarana buat ku berlatih, semoga paman Mo mau menerima permintaan ku ini," ucap pangeran Zheng Bil Ang.


Permintaan sang pangeran membuat Erlang Mo tak bisa menolaknya, karena permintaan itu didengar oleh seluruh orang yang berada di tempat itu, termasuk Putri Bilqis dan beberapa perwira dari kerajaan cahaya nirwana.


Apalagi permintaan sang pangeran merupakan permintaan untuk ajang latihan bagi sang pangeran, dan akhirnya Erlang mo mengiyakan permintaan sang pangeran itu.


"Baik pangeran, aku akan melihat sudah sampai di mana kekuatan teknik ilmu pedang yang ada padamu," ucap Erlang Mo.


Pangeran Zheng Bil Ang segera melemparkan sebuah pedang kepada Erlang Mo, dan mulai mempersiapkan dirinya untuk menghadapi pertarungan yang akan segera terlaksana.


Dengan disaksikan oleh orang-orang yang berada di tempat itu, kedua kultivator yang akan bertarung memasuki arena pertarungan, terlihat pangeran begitu sangat serius dalam menghadapi Erlang Mo.


Akhirnya pertarungan pun dimulai, sang pangeran menyerang Erlang Mo dengan teknik yang diberikan ayahnya, dengan mudah Erlang Mo dapat mengatasi serangan serangan yang dilakukan oleh sang pangeran, dan tanpa apa adanya kesulitan yang berarti.


"Ayo pangeran tunjukkan seluruh kemampuanmu, jika kau dapat melukai atau mengalahkanku maka aku akan memberikanmu hadiah," ucap Erlang Mo.


Di luar arena tampak para penonton tersenyum dengan tingkah sang pangeran yang begitu mudahnya dipermainkan oleh Erlang Mo, hanya Yan Lan dan Cencen yang menggeleng-gelengkan kepalanya karena Erlang Mo begitu sangat bangga dapat mempermainkan sang pangeran di dalam pertarungan itu.


"Aku ingin melihat, apakah kau masih bisa memasang muka di depan orang-orang ini, jika pangeran yang kau kira lemah itu dapat mengalahkan mu," batin Yan Lan.


Kembali ke dalam arena pertarungan.


Melihat jika Erlang Mo begitu meremehkan dan mempermainkannya dalam pertarungan itu, membuat sang pangeran marah padanya, apalagi sang pangeran menjadi bulan-bulanan tawa para penonton membuatnya nya semakin kesal pada Erlang Mo, tak lama kemudian sang pangeran merubah teknik yang digunakan, dengan teknik yang diberikan Yan Lan padanya.


Aura yang dikeluarkan dari tubuh sang pangeran tiba-tiba berubah menjadi lain dari sebelumnya, Erlang Mo sedikit heran dengan teknik yang digunakan oleh sang pangeran, walaupun dia merasakan adanya perbedaan teknik yang digunakan oleh sang pangeran, Erlang Mo tetap biasa-biasa saja dalam menghadapinya.


"Tehnik pedang bayangan bumi," batin sang pangeran.


Pangeran kembali menyerang Erlang Mo dengan teknik barunya, gerakannya semakin cepat hingga memperlihatkan bayang-bayang hitam yang berkelebat cepat menerjang, menusuk, dan menebas dengan begitu lincahnya.


Serangan yang dilakukan sang pangeran membuat Erlang mo kelabakan dan...


"Bukk..!!


Sebuah tendangan keras mendarat di perut Erlang Mo, yang membuat Erlang Mo terjungkal dan terjerembab ke belakang.


Seluruh penonton yang menyaksikan hal itu seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya, bagaimana bisa bocah umur 7 tahun dapat membuat Erlang Mo terjerembab dan mencium lantai arena.


Apalagi mereka mengetahui jika Erlang Mo merupakan kultivator tingkat Qi saint tingkat menengah, tentunya mustahil bagi sang pangeran untuk dapat melukai nya.


Tapi apa yang telah terjadi tidak seperti anggapan mereka, nyatanya Erlang Mo dapat terdesak hebat hingga membuatnya terjungkal dan terjerembab ke lantai arena pertarungan.


Putri Bilqis begitu sangat terkesan dengan apa yang dilakukan oleh adiknya, dia tak menyangka jika kemajuan teknik ilmu pedang sang pangeran begitu berkembang pesat.


"Aku tak menyangka jika ilmu pedang yang kau miliki sudah sekuat ini adik, maafkan kakak yang selama ini tak pernah melihat perkembangan latihanmu," batin putri Bilqis.


Erlang Mo yang merasa malu, dengan cepat bangkit berdiri, dengan muka masam Erlang Mo mulai mengeluarkan teknik-teknik pedang andalannya, dan tak lagi meremehkan bocah kecil yang ada ada dihadapannya itu.


"Walaupun kau kalah dengan kekuatan ranah tingkatan, akan tetapi kau menang teknik pangeran, kau telah menguasai jiwa pedang dalam teknik pedang bayangan yang telah ku ajarkan padamu, dan aku rasa dengan teknik pedang yang ada pada Erlang Mo sekarang, dia pasti akan kesulitan untuk menghadapi teknik pedang yang ada padamu, dan aku yakin kau dapat mengalahkannya," batin Yan Lan.


Tak lama kemudian pertarungan dilanjutkan kembali, kali ini Erlang Mo yang mendahului menyerang sang pangeran dengan teknik pedang yang dimilikinya.


Sang pangeran tak tinggal diam menerima serangan demi serangan yang dilesakkan oleh Erlang Mo, dengan menggunakan teknik pedang bayangan Awan, sang pangeran membalik keadaan.


Pedang yang berada di tangan sang pangeran begitu sangat sulit untuk ditebak arah dan tujuannya oleh Erlang Mo, hingga membuat Erlang Mo merasa kesal dan ingin secepatnya mengakhiri pertarungan itu.


Kembali Erlang Mo kesulitan untuk menyerang sang pangeran, tubuh kecil sang pangeran seperti belut yang sangat licin, yang dapat berada dimana-mana, karena dalam teknik pedang bayangan awan, penggunanya dapat terlihat menjadi banyak karena kecepatan geraknya yang dapat menimbulkan bayangan-bayangan baru dari pengguna teknik itu.


"Kau lihat paman Mo, bagaimana aku yang sekecil ini dapat mengalahkan mu," batin sang pangeran.


"Tehnik pedang bayan langit," ucap sang pangeran.


Kali ini Erlang Mo dihadapkan pada satu peristiwa yang sulit, di mana sang pangeran tengah menggunakan teknik pedang pamungkasnya.


Ribuan bayangan pedang tiba-tiba saja bermunculan mengikuti gerak pedang sang pangeran, yang menimbulkan bunyi berisik dari ribuan pedang itu.


Para penonton semakin tegang, karena melihat ribuan pedang bayangan yang mengarah ke arah Erlang Mo, seiring dengan tebasan yang di lakukan oleh sang pangeran.


Dengan menggunakan kekuatan ranah tingkat Qi saint yang melapisi tubuhnya, Erlang Mo menangkis seribuan bayangan pedang yang mengarah padanya.


"Duar..!!"


Tubuh Erlang Mo kembali terhempas ke belakang dengan menabrak dinding di belakangnya hingga hancur, terlihat Erlang Mo kembali bangkit berdiri walaupun dengan mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya.


Pakaian Erlang Mo kini sudah tak terbentuk lagi karena banyaknya sobekan di sana-sini, akibat ribuan pedang yang mengenai tubuhnya.


Jika saja kekuatan sang pangeran telah sampai ranah tingkatan Qi bumi bintang 3, tentunya dia akan membuat Erlang Mo terluka parah, sayangnya tingkat kultivasi sang pangeran hanya berada pada Qi emas bintang lima, yang membuat Erlang Mo masih dapat bertahan terkena serangan yang dikeluarkan oleh sang pangeran.


Setelah dapat mengatur energi Qi di dalam tubuhnya yang sempat kacau, Erlang Mo segera melepaskan pedangnya, dan mengalirkan energi Qi saint menengah ke arah telapak tangan kanannya, yang membuat aura di dalam tubuhnya dapat memberikan efek menindas pada tubuh sang pangeran, hingga membuat sang pangeran kesulitan bernapas dan tak bisa bergerak.


Putri Bilqis segera mencerna keadaan yang ada, dan bergerak cepat menangkis serangan Erlang Mo saat Erlang Mo menyerang sang pangeran dengan telapak tangannya yang mengandung kekuatan Qi saint bintang 2 atau menengah.


"Duar..!!"


Ledakan dasyat terjadi, Erlang Mo terhempas kembali ke belakang dengan tubuh terluka dan tak sadarkan diri, sementara sang putri sendiri terseret kebelakang dengan menahan rasa sesak di dadanya akibat benturan energi yang terjadi.


"Kurang ajar..!!, berani sekali kau menggunakan kekuatan tingkat saint menengah untuk menyerang adikku, apakah kau ingin membunuhnya..!!" teriak putri Bilqis sambil memegangi dadanya yang terasa sesak yang membuatnya kesulitan kesulitan untuk bernapas.


Beberapa orang perwira langsung menghampiri Putri bilqis, dan yang lainnya segera membawa


Erlang mo ke balai pengobatan istana.


Bagaimana keadaanmu Putri?" tanya perwira Jiang yang juga melihat pertarungan itu.


"Energi Qi di dalam tubuhku kacau paman, aku akan mengobatinya nanti setelah pergi dari tempat ini. Aku tak habis pikir dengan Erlang Mo, pertarungan ini hanya menggunakan teknik pedang, mengapa dia begitu tega menggunakan kekuatan Qi saint untuk menyerang adikku? dari tingkat kekuatannya saja sang pangeran sudah kalah jauh, perbedaannya bagaikan langit dan bumi, aku ingin dia dihukum seberat beratnya dalam masalah ini paman, walaupun dia merupakan anak dari bangsawan Erlang Mo, " jawab putri Bilqis sambil melangkah sempoyongan ke arah pangeran Zheng Bil Ang.


"Kita harus beristirahat dan mengobati diri adik, kau pasti terluka karena terkena aura tingkat saint yang di lepaskan oleh Erlang Mo," ucap putri Bilqis.


Pangeran Zheng Bil Ang hanya menganggukkan kepalanya, karena lidahnya terasa kelu untuk berbicara, serangan aura yang dilepaskan oleh erlang Mo membuat tubuh sang pangeran lemas dan tak berdaya.


Saat sang putri membawa membawa pangeran pergi, Yan Lan segera menghadang jalannya dan memberikan 2 buah pil ke arah sang putri.


"Telan lah pil ini, agar kondisimu sekarang cepat pulih," ucap Yan Lan.


Sang putri tak menggubris Yan Lan, dia tetap melangkah pergi tanpa melihat ke arah wajah Yan Lan.


Yan Lan kembali menghadang langkah sang putri dan berkata. "Jika kau tak menginginkan pil ini, paling tidak berikanlah kepada pangeran Karena dia juga membutuhkannya," ucap Yan Lan kembali.


"Aku tak membutuhkan pil darimu, karena kerajaan ini tak kekurangan pil dalam mengobati pangeran," ucap putri Bilqis.


Yan Lan hanya tersenyum mendengarnya, dan menggeser tubuhnya ke samping kanan mempersilahkan sang putri untuk berjalan kembali.