
Pagi hari di kota Buluh surgawi, kehebohan terjadi di kediaman saudagar Rohtim.
Amarah saudagar Rohtim sudah tak terbendung lagi, seluruh penjaga yang bekerja pada saudagar Rohtim kini terkena amukannya, kehilangan seluruh harta benda yang di simpan selama ini membuat saudagar Rohtim menjadi gelap mata dan membunuh beberapa penjaga yang saat itu sedang menjaga ruang penyimpanan hartanya.
"Kalian ku bayar mahal untuk menjaga hartaku, tapi mengapa maling itu bisa mencurinya!! apakah kalian bekerjasama dengannya!!?" bentak saudagar Rohtim sambil menendang beberapa anak buah penjaga ruang harta.
Beberapa anak buah saudagar Rothim yang merasakan kekesalan dengan majikannya, menjadi naik pitam. "Aku memang kau bayar, tapi sangatlah murah!!, selama ini kami terpaksa bekerja denganmu karena kami punya anak dan istri yang perlu makan untuk hidup, tapi jika kau membunuh seperti apa yang kau lakukan kepada rekan-rekan ku, maka aku tak terima, ingat Rothim!! yang kau bunuh itu adalah orang yang mencari nafkah untuk anak dan istrinya, maka secara tak langsung kau juga telah membunuh mereka," ucap salah satu penjaga ruang harta
"Persetan dengan kalian semua!!, aku ingin hartaku kembali!!, aku yakin kau telah bekerja sama dengan pencuri itu maka matilah kau..!!" teriak saudagar Rohtim sambil mengayunkan belatinya ke arah seorang penjaga ruang harta.
Maka terjadilah pertarungan antara penjaga dan saudagar Rohtim, hingga membuat sang penjaga ruangan harta, mati terkapar tertusuk belati sang saudagar, yang memang mempunyai tingkat kultivasi ranah Qi di tingkat Saint awal.
"Cepat bawa mereka keluar dari sini, setelah itu pergilah kalian dan menyebarlah untuk mencari siapa yang telah mencuri harta benda ku!" perintah saudagar Rohtim.
Sementara itu Yan Lan yang melesat pergi untuk mengejar keberadaan Beldi, akhirnya menemui titik terang, dia pun akhirnya kembali ke dalam rombongan saudagar Rothim untuk menuju ke sekte Buluh surgawi.
Setelah sampai di depan gerbang sekte, Yan Lan kembali dihadapkan dengan pemandangan yang sangat luar biasa, sekte yang ada di hadapannya begitu sangat megah, lebih megah daripada sekte naga diatas Awan.
Penjaga gerbang segera membukakan pintu, karena mereka melihat jika sumber daya yang mereka tunggu untuk turnamen Alkemis, telah tiba.
"Bawa seluruh sumber daya itu ke dalam gudang, dan bawa mereka yang telah mengantarkan sumberdaya itu untuk beristirahat," ucap salah satu tetua di sekte buluh surgawi.
Yan Lan dan ke lima belas anggota rombongan saudagar Rohtim, di tempatkan kesebuah bangunan megah yang memang diperuntukkan bagi para tamu sekte.
"Silahkan anda beristirahat di tempat ini, nanti kami akan mengantarkan makanan untuk kalian semua," ucap murid sekte yang mengantarkan Yan Lan dan ke 15 orang rombongan saudagar Rothim.
Hari menjelang siang, Yan Lan merasa bosan dan tak betah berada di dalam kamar, diapun berinisiatif untuk keluar ruangan.
Karena tak memakai baju seragam sekte, akhirnya Yan Lan menjadi bahan perhatian bagi seluruh anggota sekte yang berada di tempat itu.
"Berhenti!! teriak salah satu murid sekte senior.
Yan Lan menghentikan langkahnya, dan memalingkan muka sekedar menatap ke arah sumber suara.
"Anda memanggil saya?" tanya Yan Lan.
"Iya aku memang memanggilmu!!, kau tahu tempat apa ini?? sehingga kau seenak saja berkeliaran tanpa menggunakan pakaian seragam sekte!!" jawab murid senior.
Yan Lan mencerna keadaan yang ada, dan berkata. "Aku adalah pengawal yang membawa sumber daya ke dalam sekte ini, karena bosan dengan keadaan kamar, aku keluar untuk sekedar berjalan-jalan dan mencari udara segar," ucap Yan Lan.
Tak lama berselang salah satu murid lainnya memprovokasi sang murid senior.
"Kakak Feng liang, sepertinya orang ini sangat mencurigakan, di saat teman-temannya beristirahat dia malah berkeliaran entah mencari apa, jangan-jangan dia adalah seorang mata-mata dari sete lain, yang ingin memata-matai sekte kita," ucapnya.
Feng liang termakan dengan omongan juniornya, dan diapun langsung bergerak untuk meringkus Yan Lan, akan tetapi usahanya itu tak berhasil, karena Yan Lan lebih dulu menghindar dengan berkelit ke samping kanan.
"Kurang ajar!! gembel ini sengaja mempermainkanku, ternyata dia mempunyai ilmu bela diri, jika begitu halnya maka aku tak akan sungkan lagi padanya," batin Feng Lian.
Dengan menggunakan teknik memadatkan udara dengan unsur es, maka energi yang keluar dari tangan kanan Feng liang dapat di padatkan olehnya, maka terciptalah pedang es di tangan kanan Feng liang.
Dengan adanya pedang es yang berada di tangan kanannya, membuat Feng liang segera menyerang Yan Lan dengan tebasan dan tusukan yang sangat mematikan.
Melihat serangan yang begitu gencar kepadanya, membuat Yan lan harus berkelit ke sana dan kemari untuk menghindari serangan Ling Feng.
Yan Lan tak langsung mengeluarkan kemampuannya, karena dia tau jika dirinya sekarang ini sedang berada di dalam sekte besar, dan permasalahan yang terjadi juga hanya kesalah pahaman saja.
Setelah beberapa saat bertarung, mereka berdua di kejutkan dengan sebuah anak panah yang melesat cepat ketengah tengah pertarungan, yang membuat tanah disekitar area pertarungan membeku sejauh 50 meter.
Yan Lan menatap kearah asal anak panah, dan mendapati seorang wanita cantik sedang berada di atap sebuah bangunan sekte.
"Dewi Nalan Xi," batin Yan Lan.
Wanita itu melompat ke tengah tengah pertarungan.
"Mengapa ada keributan disini?" tanya wanita itu.
"Lien Hua!!, dia yang memulai pertarungan ini!!" ucap Feng liang.
Ucapan Feng liang serta merta di ia kan oleh seluruh murid sekte yang berada di tempat itu.
"Kurang ajar!!, mereka semua memojokkan ku, aku tak bisa mengelak karena aku hanya seorang diri, lebih baik aku mengikuti apa yang mereka inginkan," batin Yan Lan.
Yan Lan hanya tersenyum mendengar tuduhan Feng liang dan murid sekte.
"Apa benar kau yang memulai masalah ini Yan Lan?" tanya Lien Hua.
Yan Lan tertegun sesaat, bagai mana mungkin wanita yang ada di hadapannya ini bisa mengetahui namanya. Yan Lan pun teringat dengan pertemuannya dengan tetua Yun Leng, yang merupakan kakek wanita yang berada di hadapannya.
"Pantas saja dia bisa mengetahui namaku, aku pernah menyebutkan namaku kepada ketua Yun Leng sebelumnya," batin Yan Lan.
"Yan Lan.., apa kah kau mendengarkan ku!! hardik Lien Hua.
"Aku mendengar perkataan mu, tapi apalah daya aku hanya seorang diri dan mereka banyak, walaupun aku berkata benar belum tentu kau mempercayainya, jadi lebih baik aku diam saja daripada aku berbicara namun tetap tak menyelesaikan masalah," jawab Yan Lan.
"Dia memang meremehkan kita senior!!, lebih baik kita jebloskan dia ke dalam penjara sekte," ucap murid junior
'Tunggu!! kalian jangan main hakim sendiri, aku ingin Yan Lan di bawa keruang pengadilan sekte," ucap Lien Hua.