PENDEKAR MATA LANGIT

PENDEKAR MATA LANGIT
Penasaran


Di dalam bukit roh, Yan Lan yang tak tega dengan mayat pemuda yang ada di hadapannya, segera menghancurkan batu permata milik pemuda itu yang tak lain adalah putra ketua klan Zhu, yaitu Zhu Chiang.


"Semoga keluargamu bisa menerima kematian mu," ucap Yan Lan.


Yan Lan kembali melanjutkan perjalanannya mencari inti roh yang tersisa.


*****


Ketua klan Zhu meratapi kematian putranya. Dengan bermandikan air mata ketua Zhu Ging mendekap erat tubuh putranya dan mengutuk orang yang telah membunuh Zhu Chiang.


"Aku akan terus mengingat hal ini, yang membunuh putraku tak akan kubiarkan hidup tenang, tunggulah sampai aku mengetahui pembunuh putraku ini," teriak ketua Zhu Ging.


Seekor burung merak raksasa tiba tiba turun dari langit, dengan cepat ketua Zhu Ging meloncat naik keatas punggung merak raksasa sambil membawah tubuh Zhu Chiang di dalam gendongannya.


Ketua Zhu Ging terbang mengudara bersama merak raksasa, kembali pulang menuju ke klan Zhu.


"Ini sudah ku prediksikan dari awal, tapi kalian tetap menginginkan pertarungan antara murid di dalam bukit roh, maka inilah yang terjadi," batin ketua Feng Yin.


Dua hari telah berlalu satu persatu murid yang melakukan ujian tes telah banyak yang keluar dari dalam bukit roh, mereka rata rata dalam kondisi terluka, dan ada beberapa yang telah menjadi mayat.


Yan Lan terus berjalan menelusuri lereng bukit, akan tetapi tak ada satupun dari kedua inti roh yang di carinya kelihatan di depan matanya.


"Kemana lagi harus kucari kedua inti roh itu, setiap sudut lereng bukit ini telah ku jelajahi semua, akan tetapi kedua inti roh itu tak dapat ku temukan juga," batin Yan Lan.


Sayup sayup Yan Lan mendengar sebuah erangan kesakitan dari samping kanannya, suara itu berasal dari semak belukar yang rimbun tak jauh dari tempatnya berpijak.


"Aku seperti mendengar suara rintihan kesakitan dari ujung semak belukar itu," batin Yan Lan.


Yan Lan mencoba menajamkan pendengarannya kembali.


"Benar!!, itu suara seseorang meminta tolong," bisik Yan Lan.


Yan Lan bergegas menuju asal sumber suara, dan mendapati tubuh seorang anak muda yang sangat di kenal nya.


"Huang jin!?, apa yang telah terjadi padamu??" tanya Yan Lan.


Huang jin yang terluka hanya bisa merintih kesakitan tanpa bisa menjawab pertanyaan dari Yan Lan. Huang jin hanya mengarahkan telunjuknya ke arah hutan di kaki bukit.


"Pasti ada sesuatu disana, karena firasatku mengatakan ada hal buruk yang telah terjadi disana," batin Yan Lan.


Yan Lan segera mengeluarkan 12 jarum emasnya untuk melakukan pengobatan akupunktur, dengan sekali hentakan tangan jarum jarum itu telah menusuk tubuh Huang jin sedalam setengah cm.


Tak lama berselang Huang jin dapat merasakan sakit yang di deritanya berkurang.


"Lan Yan..!! cepat selamatkan Yan Ling, pemuda yang telah melukaiku ingin melecehkannya," ucap Huang jin sambil terbatuk batuk.


"Aku akan segera kesana!!, tapi tunggu dulu, mengapa kau tak menghancurkan batu permatamu agar kau bisa keluar dari bukit roh ini?" tanya Yan Lan.


"Pemuda itu telah mengambil batu permataku, sehingga aku tak bisa keluar dari tempat ini," jawab Huang jin.


Yan Lan mengeluarkan batu permata miliknya, dengan sekali gerak Yan Lan berhasil melukai jari tangan Huang jin dan meneteskan darahnya ke batu permata milik nya.


"Sekarang batu permata ini milikmu, pecahkanlah!!" perintah Yan Lan.


Huang jin langsung memecahkan batu permata pemberian dari Yan Lan, dan secara tiba tiba tubuhnya menghilang dari pandangan mata Yan Lan.


Yan Lan segera melesat ke arah hutan di kaki bukit, terlihat Yan ling tengah terpojok dengan luka dalam dan pakaian yang di kenakan nya hampir tak terbentuk lagi.


"Dong Kun!!, ternyata kau yang membuat pembantaian ini semua," bisik Yan Lan.


Yan Lan menahan amarah melihat Dong Kun tengah mempermainkan sahabat masa kecilnya, dan semakin bertambah marah melihat 2 pemuda yang berangkat bersamanya dari klan Glasier menuju pagoda 9 telah menjadi mayat.


"Aku tak akan memaafkanmu kali ini Dong Kun!!" bisik Yan Lan kembali.


Di saat saat yang kurang menguntungkan bagi Yan Ling, di mana luka dalam yang di deritanya semakin meluas dan pisau angin milik Dong Kun yang terus saja merobek robek pakaian yang di kenakan Yan Ling, Yan Lan datang sebagai pembeda.


"Ling er bagai mana keadaan mu?" tanya Yan Lan sambil jari telunjuknya kanannya di tamparkan lembut di hidung Yan Ling.


Yan Ling spontan mundur beberapa langkah kebelakang dan tak dapat berkata apa apa, hanya matanya saja yang tajam menatap Yan lan. Hal yang di lakukan pemuda di hadapannya barusan, mengingatkan Yan ling kembali pada kenangan bersama Yan Lan yang sangat di cintainya, di mana hal yang di lakukan pemuda yang ada di hadapannya persis sama dengan kebiasaan Yan Lan saat menghiburnya dari kesedihan.


Yan Lan tersadar yang di lakukannya pada Yan Ling barusan akan mengingatkan Yan Ling pada dirinya.


" Ah...,mengapa aku begitu ceroboh," batin Yan Lan.


Dong Kun yang melihat seorang pemuda tengah membelakanginya dan menyelamatkan wanita cantik yang menjadi mainannya, menjadi murka.


Dengan menggunakan tehnik perubahan bentuk angin, kini di dalam genggaman Dong kun sekarang terdapat pedang angin yang Langsung di tebaskan ke arah Yan Lan berada.


Yan Lan yang merasakan ada gelombang angin yang mengarah padanya, segera menghempaskan tangannya kesamping maka gelombang serangan pedang angin milik Dong Kun pun lenyap.


Kembali Dong Kun yang akan melakukan serangan susulan, tiba tiba saja menghentikan serangannya di karenakan pemuda yang membelakanginya kini membalikkan tubuhnya.


"Yan Lan...," bisik Dong Kun.


"Ha..ha..ha.., akhirnya kita bertemu lagi Yan Lan," teriak Dong Kun.


Yan Ling yang mendengar nama Yan Lan yang disematkan pada nama pemuda yang ada di depannya, menjadi bergetar.


Pemuda yang dulu sempat mengisi hari harinya, kini berada di hadapannya.


"Apakah Lan Yan itu kamu kakak Yan Lan," batin Yan Ling.


"Ling er, apapun yang sekarang ada dalam pikiranmu, tanyakan nanti!, aku ingin kau pergi menjauh dari tempat ini," ucap Yan Lan.


Mendapat perintah dari pemuda yang ada dihadapannya, Yan Ling segera menyingkir menjauh.


Ada kekhwatiran di wajah Yan Ling melihat Yan Lan dari kejauhan, mengingat ranah tingkat kultivasi yang di miliki oleh Yan Lan masih jauh di bawah Dong Kun.


"Aku berterimakasih padamu karena kau telah membantu dalam memulihkan Dantian ku, dan aku sekarang tak seperti dulu lagi dimana kau dapat mengalahkanku dengan mudah," ucap Dong Kun.


"Dan para dewa akhirnya mendengarkan doa ku dimana akhirnya kita di pertemukan lagi, dan kupastikan Yan Lan!! aku akan membalaskan dendam ku padamu saat kau mengalahkanku waktu," ucap Dong Kun kembali.


Pertempuran antara Dong Kun dan Yan Lan kembali terjadi tanpa bisa di hentikan lagi.


Info


Karena besok Idul fitri maka PML tidak terbit.


🙏Author mengucapkan selamat hari raya Idul fitri,


Mohon maaf lahir dan batin🙏.