PENDEKAR MATA LANGIT

PENDEKAR MATA LANGIT
Lelaki tua misterius


Tak di sangka sangka pemuda yang penampilan mewah itu melirik sinis ke arah Yan Lan berada, Yan Lan yang masih meminum anggurnya tiba tiba saja di serang oleh beberapa orang prajurit yang mengawal pemuda itu.


"Lancang..!!, berani sekali kau tak memberi hormat pada pangeran ke 3 kami!!" bentak salah seorang prajurit sambil menghujani Yan Lan dengan pukulan dan tendangan.


Dengan mudah Yan Lan menangkis dan menghindari setiap serangan yang menghujam ke arahnya.


"Hentikan..!!" ucap pangeran ke 3.


Yan Lan yang melihat para prajurit sudah tak menyerangnya lagi, dengan santainya kembali duduk dan meminum sisa anggurnya.


Orang orang yang menyaksikan hal itu begitu sangat salut kepada Yan Lan, yang terang terangan telah berani menentang pangeran ke 3 yang begitu terkenal dengan ke arogannan serta kesombongannya, yang mana pangeran ke 3 juga sering menindas orang orang yang lemah dengan kekuasaan ayahnya sebagai seorang raja kota.


"Ha..ha..ha.., tak kusangka masih ada orang yang ingin bermain main dengan ku," ucap pangeran ke 3 sambil duduk di kursi yang berada di hadapan Yan Lan.


"Pelayan bawakan anggur terbaik kesini, aku ingin bersulang dengannya," ucap pangeran ke 3 kembali.


Pelayan itu datang membawa 4 guci kecil anggur dengan tangan gemetar.


"Silahkan pangeran," ucap sang pelayan.


"Cepat enyah kau dari sini!!" bentak sang pangeran.


Dengan tergesa gesa sang pelayan pergi meninggalkan tempat itu.


Melihat tingkah laku sang pangeran, membuat Yan Lan muak dan dengan segera pergi meninggalkan tempat itu, tanpa menghiraukan pangeran ke 3 yang berada di hadapannya.


"Kurang ajar!! berani sekali kau tak menganggap keberadaan ku," teriak pangeran ketiga sambil menggebrak meja hingga hancur berkeping keping.


"Prajurit bunuh dia..!! perintah sang pangeran.


Mendengar perintah dari pangeran ke 3, ke enam prajurit yang mengawal pangeran langsung menghunus pedang, dan menyerang Yan Lan secara bersamaan.


Serangan para prajurit yang mengarah kepada Yan Lan dapat di patahkan dengan mudah olehnya. Tak berapa lama ke 6 prajurit pengawal sang pangeran sudah terkapar di tanah akibat serangan cepat yang di lepaskan oleh Yan Lan.


Kejadian itu membuat pangeran ke 3 murka, dengan menggunakan sebuah kipas kertas di tangannya, pangeran ke 3 menyerang Yan Lan dengan ganas.


Terlihat jelas tingkat kultivasi pangeran ke 3 yang begitu tinggi, karena hanya bermodalkan kipas kertas dia mampu membuat kipas kertas itu sebagai senjata yang sangat mematikan.


Pertarungan pun semakin sengit, pangeran ke 3 begitu berambisi untuk segera menghabisi Yan Lan, sementara itu Yan Lan dengan dingin meladeni semua serangan serangan yang pangeran ke 3 lesakkan.


Dengan kultivasi Yan Lan yang sudah mencapai ranah tingkat surgawi puncak, sangat mudah baginya untuk membuat pangeran ke 3 bertekuk lutut.


Pada sebuah kesempatan Yan Lan berhasil melesakkan tendangan keras yang telak mengenai dada pangeran ke 3, yang membuat sang pangeran harus terhempas mencium tanah dan tak berdaya.


"Kau tak akan bisa tenang berada di wilayah istana Gerbang naga, aku pastikan itu!!" ucap pangeran ke 3 penuh dengan ancaman kepada Yan Lan.


Yan Lan berjalan kearah pangeran ke 3 dan menginjakkan kakinya ke kepala sang pangeran.


"Aku tak pernah memulai pertarungan ini, tapi kau dengan sombongnya ingin membunuhku!!, Ingat pangeran!!, aku tak pernah takut dengan ancaman mu itu karena aku tak bodoh pangeran!!" ucap Yan Lan sambil melepaskan 3 buah jarum emas ketubuh sang pangeran.


"Aku telah menyegel tubuhmu dengan jarum emas milikku, kapan pun dan di manapun aku bisa membunuhmu kapan saja," sambung Yan Lan yang kembali memberikan tendangan keras ke arah sang pangeran.


Setelah memberikan pelajaran kepada pangeran ke 3, Yan Lan pergi meninggalkan tempat itu.


*****


Di dalam istana gerbang naga pangeran ke tiga hanya diam pada saat di tanya oleh jendral istana mengenai luka luka yang di deritanya, dan hanya pada gurunya lah pangeran ketiga menceritakan semua yang telah menimpanya.


"Guru ..!, apakah jarum emas yang ada pada tubuhku bisa di keluarkan?" tanya pangeran ke 3 kepada gurunya


"Tenangkan dirimu pangeran, aku akan melihat seperti apa segel yang tertanam di tubuhmu," ucap Li Wang guru sang pangeran.


"Segel ini terlalu kuat, aku yang merupakan kultivator Qi alam puncak tak bisa menghancurkan segel di dalam tubuh muridku ini. Siapakah pemuda yang mempunyai kemampuan sehebat ini," batin Li Wang.


"Guru..! bagaimana keadaan ku saat ini?" tanya pangeran ke 3 kembali.


Li Wang menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya keluar secara perlahan lahan.


"Ada 3 jarum emas yang sangat halus tersegel di jantung mu pangeran, jika segel itu aktif maka kau tak akan selamat dari maut," jawab Li Wang.


Rasa takut yang teramat sangat seketika menghantui sang pangeran, hingga membuat tubuh sang pangeran bergetar hebat.


"Guru..!! aku ingin kau mengeluarkan jarum jarum itu dari tubuhku," pinta pangeran ke 3.


"Aku tak bisa mengeluarkan jarum jarum itu pangeran, segel yang tertanam di tubuhmu sangatlah kuat, jika aku memaksa mengeluarkan jarum jarum itu, hal itu sama saja dengan mencoba mengaktifkan segel yang ada di dalam tubuhmu," jawab Li Wang.


"Apa yang harus kita lakukan guru, aku tak mau mati!!" pekik pangeran ke 3.


"Tenangkan dirimu pangeran, kita harus mencari pemuda itu dan menyuruhnya untuk melepaskan segel jarum emas yang bersarang di tubuhmu," ucap Li Wang.


Di tempat lain, Yan Lan sedang melakukan kultivasi di dalam sebuah kamar penginapan, tak lama kemudian artefak kalung yang berada di lehernya mengeluarkan cahaya terang, maka dari dalam kalung keluarlah Biyao, Leo dan Jatayu, yang mana Leo dan Jatayu membentuk dirinya menyesuaikan besar ruangan.


"Tuan muda," ucap mereka bertiga serempak.


"Aku senang bisa melihat kalian bertiga kembali," jawab Yan Lan dengan senyum mengembang di bibirnya.


Tiba tiba saja pintu di ketuk dari luar yang membuat Yan Lan menyuruh semua sahabatnya masuk kedalam alam batinnya.


Yan Lan segera membuka pintu dan tampak paman pelayan tengah berdiri tegak di sana.


"Tuan sudah saatnya kita pergi," ucap paman pelayan.


"Baik paman," ucap Yan Lan singkat.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan penginapan itu, menuju ketempat di mana pandai besi berada.


Di tempat pandai besi Yan Lan bertemu dengan laki laki tua yang sedang menempa besi.


"Paman, aku minta paman membuatkan ku lencana pengenal diri agar aku bisa memasuki kota bulan suci dengan aman," ucap Yan Lan.


Laki laki tua itu menatap Yan Lan dan kembali menempa besi yang ada di hadapannya.


"Mengapa tatapan laki laki ini sungguh sangat misterius," batin Yan Lan.


Tak lama laki laki tua itu menghentikan pekerjaan menempa besinya, dan melangkah ke arah Yan Lan.


"Ini lencana pengenal mu," ucap lelaki tua itu.


Yan Lan menerima lencana pengenalnya dan berkata, Berapakah yang harus ku bayar paman?" tanya Yan Lan.


"Aku tak perlu bayaran darimu, aku hanya ingin kau menjaga baik baik apa yang sudah menjadi hak mu untuk ke damaian umat manusia," jawab laki laki tua itu.


"Ini hadiah dariku," ucap laki laki tua itu sambil melemparkan sebuah pedang yang penuh dengan karat kepada Yan Lan.


Dengan gesit Yan Lan menangkap gagang pedang berkarat itu.


Tak lama kemudian lelaki tua itu pergi meninggalkan Yan Lan tanpa mengeluarkan sepatah katapun juga.


Yan Lan menatap kepergian lelaki tua itu dengan penuh tanda tanya. "Sungguh lelaki tua misterius, suatu saat nanti aku pasti dapat mengenali dirimu," batin Yan Lan.