
Mendengar pertanyaan Putri Bilqis, Yan Lan lantas menceritakan semua yang telah terjadi, termasuk menceritakan tentang kejadian sewaktu dia berada di sungai dengan beberapa pemuda.
Apa yang di ceritakan oleh Yan Lan, membuat tubuh putri Bilqis bergetar, dia berusaha untuk tetap tegar menghadapinya.
"Kak Yan Lan, aku mempunyai tanda di belakang bahu kiri ku yaitu bulatan berwarna merah sebesar biji jagung, aku ingin kau melihatnya dan katakan padaku dengan sejujur jujurnya, apakah tanda itu telah hilang disana," ucap putri Bilqis sambil membalikkan badannya membelakangi Yan Lan.
Yan Lan bingung dengan apa yang di katakan oleh putri Bilqis, tentang bulatan berwarna merah sebesar biji jagung yang berada di belang bahu kirinya. Yan Lan segera mencerna keadaan yang ada dan mengikuti apa yang diminta oleh sang putri.
Putri Bilqis menurunkan baju yang di kenakannya sedikit kebawah, maka terlihat oleh Yan Lan bulatan merah sebesar biji jagung yang berada di sana, bulatan itu sangat merah menyala di karenakan kulit putri Bilqis yang sangat putih bersih bak pualam.
"Katakan padaku kak Yan Lan, apakah tanda itu masih ada?" tanya putri Bilqis sambil memejamkan kedua matanya, menunggu jawaban dari Yan Lan.
"Tanda merah ini masih ada," jawab Yan Lan singkat.
Seketika wajah putri Bilqis berbinar berseri mendengar perkataan dari Yan Lan, diapun membalikkan tubuhnya kembali dan menghadap ke arah Yan Lan.
Yan Lan yang melihat perubahan wajah sang putri menjadi bertambah bingung, dengan apa yang sebenarnya telah terjadi padanya.
Sesaat Yan Lan terdiam, agar sang putri dapat menjelaskan semua yang telah terjadi.
"Kak Yan Lan, warna merah sebesar biji jagung yang ada di punggungku merupakan tanda pemberian ayahku sewaktu aku masih bayi, jika suatu hari tanda itu telah menghilang dari tubuhku, berarti kesucian yang ku jaga selama ini telah hilang, akan tetapi jika tanda itu masih ada berati aku masih perawan kak Yan Lan," ucap putri Bilqis dengan senyum keceriaan di bibirnya.
"Syukurlah, aku merasa senang karena para lelaki itu belum menodai mu," ucap Yan Lan.
Setelah percakapan itu, Yan Lan mengajak putri Bilqis untuk makan ayam panggang yang telah di persiapkannya, dan tanpa rasa canggung dengan keberadaan Yan Lan, putri Bilqis makan dengan lahapnya.
*****
Pagi hari yang cerah, kabut tebal yang menyelimuti malam, kini perlahan lahan menghilang diterpa sinar matahari di pagi itu.
Aktivis binatang penghuni hutan sedikit terganggu dengan adanya dua bayangan yang berkelebat menembus lebatnya hutan.
"Kak Yan Lan, jika kita bisa melewati air terjun yang berada di depan sana, berarti kita telah memasuki perbatasan puncak langit, dan sebentar lagi kita akan memasuki kota awan," ucap putri Bilqis sambil menunjuk kearah depan.
"Kalau begitu kita lanjutkan perjalanan ini, setelah kita sampai di kota awan, baru kita mencari tempat peristirahatan," jawab Yan Lan.
Akhirnya mereka berdua meneruskan perjalanan menuju ke kerajaan puncak langit, akan tetapi baru memasuki perbatasan di mana terdapat air terjun disana, mereka dihadang oleh ratusan anak buah perampok yang masing masing tengah memegang pedang yang terhunus.
"Aku tak akan membunuh putramu jika dia tak ingin menodai wanita ini!!" jawab Yan Lan dingin.
Lelaki tua paruh baya itu menatap tajam kearah Yan Lan dan putri Bilqis dengan tatapan penuh kebencian.
"Aku rasa putraku tak salah menginginkanmu karena kau memang sangat cantik walaupun dengan pakaian pria yang kau kenakan, setelah aku membunuh pemuda ini maka kau akan menjadi penghangat setiap malam ku, kebetulan aku sudah berbulan bulan berada di dalam hutan ini, tanpa adanya wanita muda yang menemaniku," ucap lelaki paruh baya yang menatap putri Bilqis seperti ingin menelannya hidup hidup.
"O...berarti kau orang tua dari laki laki bejat yang ingin menodai ku!!, bagus..!! aku telah menunggu hari ini, hari dimana aku akan membunuh semua laki laki hidung belang sepertimu!!" tantang putri Bilqis sambil mengeluarkan pedangnya.
"Ha..ha..ha..wanita yang sangat berani dan menggairahkan, aku suka itu!!" ucap laki laki tua paruh baya itu, sambil mengarahkan aura tingkat alam puncak kearah sang putri.
Dengan menancapkan pedangnya ketanah, putri Bilqis menahan aura tingkat alam puncak dengan tubuh Dewi teratai yang di milikinya.
Yan Lan yang melihat hal itu, sengaja membiarkan putri Bilqis mengeluarkan segenap kemampuannya, untuk menghalau kekuatan aura Qi alam puncak yang di miliki oleh lelaki paruh baya yang ada di hadapannya, hal itu di lakukan Yan Lan guna mengetahui tingkat kekuatan dari sang putri.
Putri Bilqis yang mempunyai tingkat kekuatan Qi saint tingkat awal, walau pun dengan kekuatan Dewi teratai yang di milikinya, dia tetap tak mampu untuk menghalau aura kekuatan Qi alam puncak yang di lepaskan laki laki tua paruh baya itu, hingga tubuh sang putri terdorong dan terseret kebelakang, yang menyebabkan putri Bilqis kesulitan untuk bernapas.
Yan Lan yang berada tak jauh dari putri Bilqis, menghentakkan kaki kananya ketanah, maka gelombang kejut pun tercipta yang membuat aura tingkat alam puncak menghilang seketika.
Tak sampai di situ, gelombang kejut yang di lepaskan oleh Yan Lan, mampu membuat beberapa anak buah laki laki paruh baya terhempas kebelakang, dan tewas seketika.
"Lumayan juga kemampuanmu anak muda, aku tak menyangka dengan umurmu yang sangat muda seperti ini, kau telah mempunyai kemampuan dan kekuatan besar, pantas saja putraku tak bisa menandingi mu, tapi sayang kemampuanmu itu sebentar lagi hanya akan tinggal kenangan karena aku akan segera melenyapkanmu!!" ucap sang lelaki paruh baya yang bernama Qing ruo, sambil menerjang ke arah yan Lan dengan menggunakan 2 buah belati yang berada di dalam genggamannya.
Mendapat serangan yang tiba-tiba, Yan Lan dengan cepat menghindari serangan yang mengarah kepadanya itu.
Yan Lan agak sedikit kerepotan mendapatkan serangan jarak dekat yang dilancarkan oleh Qing ruo, sehingga dia harus menggunakan teknik boneka yang selama ini belum pernah digunakannya.
Berkali-kali Qing ruo, berhasil mengenai tubuh Yan Lan dengan menggunakan belati nya, akan tetapi tubuh itu selalu berubah menjadi boneka kayu yang membuat Qing tua menjadi sangat kesal dan kebingungan menghadapinya.
Yang tak kalah membingungkannya lagi, boneka kayu yang tercipta dari tusukan tusukan yang dilakukan oleh Qing ruo, malah balik menyerangnya tanpa ada campur tangan Yan Lan, dan boneka kayu itu seperti mempunyai jiwa sendiri.
Hal ini yang membuat Qing ruo menjadi enggan untuk melakukan serangan tusukan maupun tebasan ke arah boneka kayu, karena setiap serangan yang berhasil mengenai boneka kayu akan membuat boneka kayu membelah diri menjadi dua, yang membuat boneka kayu yang menyerangnya semakin bertambah banyak.
"Aku tak menyangka teknik yang yang diberikan oleh leluhur Wong ji Ang padaku, sangat unik seperti ini, pantas saja teknik ini begitu merajai dunia Kultivator di zamannya," batin Yan Lan.