
Pagi hari suasana di goa tempat siluman ular bertanduk begitu sunyi, kesedihan masih terasa karena kehilangan sosok sang ratu, yang baru saja di kebumikan.
Seluruh anggota klan siluman katak telah di bebaskan. Dengan penjelasan dari Yan Lan, semua anggota klan siluman katak mau bekerjasama dengan klan siluman ular bertanduk, untuk menggempur gunung Mutiara hijau, yang mana gunung yang selama ini menjadi sumber energi bagi klan ular, secara paksa telah di kuasai sepenuhnya oleh iblis.
Strategi penyerangan pun telah di buat, yang mana para siluman katak akan menyerang dari sisi kiri, dan para siluman ular akan menyerang dari sisi sebelah kanan, sementara Yan Lan sendiri akan menyerang dari tengah.
Berbagai persiapan pun telah di lakukan.
putri Bilqis yang merupakan putri bungsu dari raja klan ular bertanduk, semakin hari semakin memperlihatkan rasa sukanya pada Yan Lan, hal itu membuat Yan Lan risih dengan keberadaannya.
"Kak Yan Lan aku membawakanmu sarapan pagi, makanlah mumpung masih hangat," ucap putri Bilqis dengan senyuman manisnya yang sangat memikat.
"Taruhlah di atas meja, aku akan memakannya nanti," jawab Yan Lan.
"Apa yang kak Yan Lan sedang lakukan?" tanya putri Bilqis.
Aku sedang mencari celah pada peta ini, bagai mana cara agar kita dapat menguasai gunung Mutiara hijau, dengan tanpa adanya banyak korban di pihak kita.
Tak lama putri Bilqis mengambil sebuah sapu tangan, dan menyeka lembut keringat yang menetes di wajah Yan Lan.
Yan Lan langsung menatap putri Bilqis dengan tatapan yang tak senang.
"Maaf kan aku kak Yan Lan," ucap putri Bilqis gugup.
"Sudah lah, aku tak apa apa, sekarang lebih baik kau keluar dan melatih para perajurit yang akan bertempur, dari pada kau menggangguku dengan tingkah usil mu itu," ucap Yan Lan.
Putri Bilqis tampak tersenyum manja, dan kemudian pergi meninggalkan Yan Lan.
"Setelah semua urusan ini selesai, aku harus segera pergi dari sini, aku tak mau sampai tergoda dengan kecantikan Bilqis dan segala tingkah usilnya itu," batin Yan Lan.
Senja hari, Yan Lan meminta ijin kepada raja Krote dan raja Ji Ling untuk menyelidiki dari dekat, gunung Mutiara hijau.
Yan Lan akhirnya pergi meninggalkan Goa dan menuju kearah gunung Mutiara hijau.
Di tengah perjalanan, sayup sayup Yan Lan mendengar adanya sebuah pertarungan, moci yang biasanya mengikuti Yan Lan, di suruh tinggal agar bisa berjaga jaga di depan goa, untuk mengantisipasi serangan mendadak dari para iblis.
Akhirnya Yan Lan harus mencari tau sendiri siapa yang tengah melakukan pertarungan di senja itu.
Yan Lan segera melesat menuju ketempat, di mana sumber suara pertarungan berasal.
Dari kejauhan Yan Lan melihat ada dua orang yang sedang di keroyok oleh lima iblis. Dua orang pengeroyok itu, begitu sangat di kenal oleh Yan Lan, dia adalah pangeran ular Kroge dan yang satunya lagi adalah tetua Moliga.
Pertarungan itu terlihat tak seimbang di mana sang pria di keroyok oleh dua orang iblis, dan si wanita di keroyok oleh 3 orang iblis.
Samar samar Yan Lan seperti familiar dengan gerakan gerakan sang wanita, hal itu membuat Yan Lan segera mengaktifkan mata langit yang ada padanya.
Yan Lan tersentak, bayangan seorang wanita yang dulu begitu sangat dekat dengannya, kini berada dalam bahaya.
Yan Lan terdiam dan mencerna keadaan yang ada. "Mengapa Zhao Quin dan tetua Yang long bisa berada disini dan bertarung dengan para iblis," batin Yan Lan.
Tak lama berselang para iblis mulai mendesak ke dua kultivator itu, yang membuat Yan Lan bingung untuk melakukan tindakan.
Di sisi lain wanita yang sedang bertarung itu merupakan mantan kekasihnya, yang dulu telah berkorban banyak padanya, di sisi lainnya wanita itu juga yang telah meninggalkan luka di hati, akibat menikah dengan raja kota istana gerbang naga.
Melihat Zhao Quin yang semakin terdesak, tak tega bagi Yan Lan untuk tak segera menolongnya.
Dengan cepat Yan Lan segera menuju ke tempat terjadinya pertarungan, dan menyerang ketiga perwira iblis yang ingin membunuh Zhao Quin.
Betapa terkejutnya Zhao quin melihat jika sosok pemuda yang tengah membantunya, merupakan sosok Yan Lan orang yang selama ini di rindukannya.
Zhao Quin tersenyum bahagia, melihat Yan Lan masih mau membantunya, di saat dia begitu membenci dirinya.
"Bantulah tetua Yang long, biar aku yang menghadapi ke 3 perwira iblis ini," ucap Yan Lan dingin.
"Ia kak Yan Lan," jawab Zhao Quin.
Zhao Quin segera melesat ke arah tetua Yang long, dan mulai membantu tetua yang long dalam menghadapi ke dua anggota iblis itu.
Jual beli serangan terjadi antara Yan Lan dan ketiga perwira iblis, ketiga perwira iblis tak menyangka jika pemuda yang baru datang begitu sangat kuat.
Pertarungan semakin sengit, dan tak lama kemudian ketiga perwira iblis mulai terdesak hebat, dan pada akhirnya memutuskan untuk melarikan diri dari pertarungan.
Yan Lan yang mengetahui jika ketiga perwira iblis itu akan melarikan diri, dengan segera menggunakan tehnik Segel kegelapan, yang merupakan tehnik yang diajarkan biyao pada Yan Lan, untuk mencegah para perwira iblis melarikan diri, maka terciptalah tiga buah tabung segel yang mengurung ke tiga perwira tinggi iblis.
Ketiga perwira iblis itu kini terkurung di dalam segel yang berbentuk tabung, yang membuat mereka hanya bisa mencerna keadaan yang ada.
Di dinding tabung terdapat huruf aksara yang bercahaya terang, yang mana cahaya itu langsung menghisap energi Qi yang di miliki oleh ketiga perwira iblis itu.
Di dalam segel tabung, para perwira iblis degan sekuat tenaga mencoba untuk menghancurkan dinding segel, hal itu malah memacu huruf aksara yang berada di dinding tabung, semakin bertambah kuat menghisap Qi yang berada di tubuh mereka.
Satu persatu para perwira iblis mulai kehabisan energi Qi yang ada di tubuh mereka, dan tiba tiba saja ketiga dinding segel mulai mengecil yang membuat panik para perwira iblis, dan pada akhirnya teriakan melengking dan menyayat hati keluar dari mulut mereka bertiga yang meregang nyawa.
Di tempat lain tetua Yang long dan Zhao Quin berhasil membuat tetua Moliga terluka parah, dengan menebas putus tangan kiri sang tetua.
Pangeran Kroge dengan cepat membawa tubuh tetua Moliga melesat meninggalkan tempat itu.
Zhao Quin yang melihat Yan Lan akan pergi, dengan segera menahannya. "Aku tak akan mau kehilangan dirimu lagi kak Yan Lan," ucap Zhao Quin dengan mata berkaca kaca.
Yan Lan tetap diam, rasa sakit hatinya membuat Yan Lan tak mau mendengarkan apapun perkataan Zhao Quin, diapun melesat pergi meninggalkan Zhao Quin dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Jangan benci aku kak Yan Lan...," isaknya.
Tetua Yang long benar benar tak menyangka jika Yan Lan yang selama ini di kenalnya, begitu sangat membenci Zhao Quin dan dirinya, terbukti Yan Lan tak mau menegur tetua Yang long walaupun Yan Lan melihat keadaannya.
Yan Lan melesat menembus rimbun hutan dan pekatnya malam, hingga dia berhenti di sebuah
dahan pohon yang besar, dan Yan Lan pun merebahkan tubuhnya di sana.
"Bagai mana aku bisa melupakanmu Qian er, baru sebentar aku dapat melupakanmu, kini kau hadir lagi di hadapanku". Yan Lan pun menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya keluar secara perlahan lahan.
"Moci hadir lah!" batin Yan Lan.
Seketika itu juga seekor rubah putih berekor sembilan muncul di hadapan Yan Lan. Binatang itu langsung berperilaku manja kepada Yan Lan.
"Dia masih berada di sana," sambung Yan Lan sambil menunjuk kearah depan.
"Siapa dia tuan muda?" tanya moci.
Yan Lan kembali menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya keluar secara perlahan, "Dia adalah mantan terindah ku," jawab Yan Lan.
Moci tak inggin bertanya lagi, karena melihat kesedihan di wajah tuan mudanya, dan lebih memilih untuk segera pergi meninggalkan Yan Lan dalam menjalankan tugas yang di berikannya.
Yan Lan menatap kepergian Moci hingga hilang dalam pekatnya malam, "Walaupun aku sangat membencimu, aku tak akan bisa melihatmu terluka, hanya ini yang dapat aku lakukan," ucap Yan Lan dan kembali melesat pergi ketempat di mana gunung Mutiara hijau berada.
Moci segera menghilangkan aura api inti neraka yang ada di tubuhnya saat melihat Zhao Quin. Dia pun berjalan sambil mencari perhatian Zhao Quin, dan pada akhirnya Zhao Quin mendekati Moci.
"Hai...siapa namamu? dan kemana keluargamu," ucap Zhao Quin sambil mengelus elus kepala Moci.
Moci berperilaku manja dan sangat mengemaskan, membuat Zhao Quin langsung menyukainya. "Mulai hari ini aku akan memanggilmu Moci, karena nama itu mengingatkanku pada kelinci lucu yang di miliki kak Yan sewaktu di hutan bambu kuning," ucap Zhao Quin.
Sesaat kemudian tawa kecil keluar dari bibir Zhao Quin yang mungil, kehadiran Moci sejenak dapat sedikit menghilangkan rasa kesedihan yang di rasakan nya.
Melihat Zhao Quin bisa ceria kembali, membuat tetua Yang long dapat bernapas lega.
"Paman ada baiknya kita beristirahat di sini malam ini," ucap Zhao Quin.
"Baiklah Quin er, aku juga akan melakukan kultivasi untuk memulihkan diri," jawab tetua Yang lalong.
Setelah tetua Yang long melakukan kultivasi, Zhao Quin duduk sambil memeluk moci, dan menengadahkan wajahnya keatas memandangi bulan dan bintang di angkasa.
"Bagai mana kabarmu disana kak Yan Lan, aku sangat rindu padamu, jika kau dapat mendengar sedikit penjelasan dariku, kau pasti tak akan meninggalkanku seperti ini," ucap Zhao Quin sambil mendekap erat tubuh Moci.
Karena kelelahan Zhao Quin pun akhirnya tertidur di samping Moci. Rubah putih ekor 9 pun menjaga Zhao Quin dengan setia, "Aku rasa ada kesalah pahaman antara tuan muda dan nona muda, lebih baik aku akan mengarahkan mereka berdua menuju klan ular bertanduk esok hari, agar nona muda dapat bertemu kembali dengan tuan muda," ucap Moci.
Esok hari saat Zhao Quin terbangun pagi pagi, Zhao Quin tak melihat kehadiran Moci di sampingnya, diapun segera mencarinya.
Tetua Yang long yang melihat hal itu segera ikut mencari keberadaan moci.
Di sebuah sungai kecil di atas sebuah batu besar Zhao Quin melihat moci. Zhao Quin merasa senang dan segera menghampirinya.
Akan tetapi Moci yang melihat kehadiran Zhao Quin dan tetua Yang long, segera berlari melewati anak sungai dan kembali menghentikan langkahnya.
"Paman sepertinya Moci ingin kita mengikutinya," ucap Zhao Quin.
"Sepertinya Moci memang sengaja menyuruh kita untuk mengikutinya," jawab tetua Yang long.
Benar saja, saat tetua yang long dan Zhao Quin mendekatinya, Moci kembali berlari dan akhirnya tetua Yang long dan Zhao Quin mengikutinya, hingga sampai pada sebuah goa besar yang di jaga ketat oleh para penjaga.
Para penjaga langsung menghunus pedang, dan mulai mengurung Zhao Quin.
Seketika para penjaga memasukan pedang mereka kembali, karena melihat Moci berada bersama Zhao Quin dan tetua Yang long.
Pemimpin penjaga langsung menatap kedua orang yang bersama moci, dan berkata "Apakah anda teman tuan muda Yan Lan?" tanya pemimpin penjaga.
"Benar, kami berdua adalah sahabat dari tuan muda Yan Lan," jawab tetua Yang long.
Salah seorang prajurit segera datang ketempat Yan Lan berada.
"Tuan muda ada seorang pria dan anaknya, sedang mencari anda di depan mulut goa," ucap prajurit itu.
"Sebentar lagi aku akan kesana," jawab Yan Lan singkat.
Putri Bilqis dan beberapa siluman ular wanita lainnya, yang tadi sedang mencari buah-buahan hutan, segera datang menghampiri karena melihat ada keramaian di depan mulut goa.
Melihat kedatangan putri Bilqis, para penjaga langsung memberi hormat padanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa dia?" tanya putri Bilqis menyelidik.
"Mereka adalah sahabat tuan muda Yan Lan, mereka datang kesini karena di antar oleh moci," jawab pemimpin penjaga.
Tak lama Yan Lan keluar dari dalam goa, dan Yan Lan pun terperanjat melihat Zhao Quin yang berada di sana.
Mata mereka berdua saling berpandangan, membuat Yan Lan tak bisa berkata apa apa, jika harus jujur Yan Lan memang masih sangat mencintai Zhao Quin.
Tiba tiba saja putri Bilqis memeluk tangan kanan Yan Lan, dan berkata. "Kak Yan Lan, aku banyak mendapat buah buahan matang dan segar di hutan, nanti aku akan membuatkan jus buatmu," ucap putri Bilqis tanpa malu malu mengumbar kemesraan di depan umum.
"Jika kau masih mencintaiku Zhao Quin, kau juga pasti akan merasa sakit seperti apa yang telah kau lakukan padaku," batin Yan Lan.
"Aku pasti akan meminum jus buatan mu," ucap Yan Lan sambil membelai rambut Bilqis.
Apa yang telah di lakukan Yan Lan di hadapan Zhao Quin, membuat Zhao Quin begitu terpukul dan sakit hati, amarahnya seketika tersulut pada sang putri.
Zhao Quin maju mendekati Yan Lan, dan dengan kuat mendorong putri Bilqis hingga terjatuh ke tanah.
Melihat hal itu, para penjaga langsung mencabut pedangnya, dan siap menyerang Zhao Quin.
"Masukkan pedang kalian!!" perintah Yan Lan dingin.
Kembali para penjaga memasukkan pedang mereka ke sarung pedang masing masing.
"Apa yang kau lakukan!? mengapa kau mendorongku..!??" tanya putri Bilqis.
"Berani sekali kau menyentuh dan bermesraan dengan kak Yan Lan di hadapanku!!, dia adalah kekasihku!!" hardik Zhao Quin.
"Kita sudah tak ada hubungan apa apa lagi, setelah kau menikah dengan raja kota!" ucap Yan Lan dingin.
"Ayo kita kedalam," ucap Yan Lan sambil membantu putri Bilqis bangkit dan kemudian mengandeng tangan sang putri, untuk masuk kedalam goa tanpa melihat sedikitpun ke arah Zhao Quin.
Air mata kini membasahi wajah Zhao Quin, dengan bibir bergetar Zhao berteriak dengan disertai penyaluran tenaga dalam.
"Pernikahanku dengan raja kota hanya pura pura, semua itu telah di sepakati bersama, semua itu hanya untuk menyenangkan raja kota yang sekarat, yang menginginkan aku untuk menikah dengan putranya sebelum dia meninggal, aku tak pernah tidur dengan raja kota selama pernikahan itu terjadi, cintaku tak mungkin berpaling darimu kak Yan Lan..!!".
Karena tak ada jawaban dari Yan Lan, Zhao Quin berlari tanpa arah dan tujuan melesat cepat masuk kedalam hutan.
Bersambung