GADIS BERACUN

GADIS BERACUN
BAB 71. Pedang terbang


***Paviliun Ru Yi***


Pagi hari Yang Ruo Li berjalan keluar dari kamar Mu Dan setelah melihat kondisi ibunya dan memberi pesan sekali lagi kepada Chun Hua dan Sha Sha untuk menjaga Mu Dan selama kepergiannya ke Hutan Tengkorak.


Pengurus Ming Ye dan beberapa penjaga Paviliun Ru Yi menunggu Yang Ruo Li di depan kamar Mu Dan.


"Nona Yang Ruo Li! Ming Ye akan mengurus Paviliun Ru Yi dan menjaga keselamatan nyonya dengan baik," kata Ming Ye.


Semalam Yang Ruo Li sengaja mengutus Sha Sha untuk memberitahukan Ming Ye akan kepergiannya ke Hutan Tengkorak mencari tanaman langka yang bisa dijadikan sebagai bahan membuat pil elixir yang berguna untuk memulihkan kesehatan Mu Dan.


"Pengurus Ming Ye! Aku percaya dengan kemampuanmu," jawab Yang Ruo Li.


"Ruo Li!" Li Jian Ming berjalan ke arah Yang Ruo Li dan memanggilnya.


"Jian Ming!" ucap Yang Ruo Li.


Wajah Li Jian Ming terlihat lebih cerah karena sudah makan pil embun es buatan Yang Ruo Li. 


"Ruo Li! Aku mendengar dari Pengurus Ming Ye bahwa kami akan ke Hutan tengkorak. Kamu harus berhati-hati! Banyak monster besar dan berbahaya di sana. Beberapa batu formasi ini bisa berguna untukmu nantinya," kata Li Jian Ming.


Li Jian Ming menyerahkan satu kantong kain berisi batu formasi. Yang Ruo Li membuka kantong itu untuk  melihat isi di dalamnya. 


Ada beberapa batuan andesit berwarna abu-abu dengan ukuran yang berbeda-beda. Batuan itu sangat langka dan setiap ukuran batuan itu membedakan kegunaannya masing-masing.


Master Beracun pemilik asli cincin lotus adalah seorang ahli formasi sehingga Yang Ruo Li mengetahui kegunaan batu formasi yang diberikan oleh Li Jian Ming.


Keahlian Master Beracun mengenai formasi juga telah dipindahkannya  ke dalam cincin lotus. Hanya saja karena kematian Master Beracun akibat ledakan formasi yang belum sempurna membuat Yang Ruo Li belum mencoba mempraktekkan ilmu formasi tersebut.


"Aku yakin formasi yang dirancang oleh ku bisa berguna di dalam portal rahasia. Mungkin aku bisa mencoba berlatih membuat formasi nantinya. Asalkan lebih berhati-hati, formasiku tidak akan meledak," kata hati Yang Ruo Li.


"Terima kasih, Jian Ming!" ucap Yang Ruo Li sambil tersenyum tulus.


Tiba-tiba Li Jiang Ming merasakan aura dingin menerpa tubuhnya dari arah belakang sehingga pria ramah itu spontan berbalik dan terlihat Li Zhe Liang berdiri di sana dengan wajah dingin dan tanpa ekspresi andalannya, sedangkan Lu Jing dan Feng Teng berada di sisi kiri dan kanan Li Zhe Liang.


Yang Ruo Li pun melihat kedatangan Li Zhe Liang dan segera berjalan ke sana.


*Zhe Liang!" panggil Yang Ruo Li.


Li Zhe Liang hanya menganggukkan kepalanya perlahan dan menatap tajam ke arah kantong kain di tangan Yang Ruo Li.


"Tuan muda Li Jian Ming! Tuanku pasti akan melindungi nona Ruo Li di dalam Hutan Tengkorak sehingga tidak memerlukan  batu formasi ini," kata Lu Jing sambil tersenyum ramah.


"Tidak apa-apa. Aku memberikannya sebagai hadiah untuk Ruo Li," kata Li Jian Ming.


"Tenang saja Jian Ming. Setelah pulang dari Hutan Tengkorak, pil penawar racunmu pasti bisa dibuat," ucap Yang Ruo Li.


Yang Ruo Li mengira Li Jian Ming mengkhawatirkan keselamatannya di dalam Hutan Tengkorak karena dirinya satu-satu orang yang bisa menyembuhkan racun naga api di dalam tubuh Li Jian Ming sehingga tidak menolak pemberian batu formasi itu.


"Li Er! Ayo berangkat!" kata Li Zhe Liang dengan singkat dan melangkah cepat meninggalkan tempat itu sewaktu melihat gadis muda itu menyimpan batu formasi pemberian Li Jiang Ming ke dalam cincin penyimpan batu giok.


"Jian Ming! Aku pergi dulu!" kata Yang Ruo Li dan berlari cepat mengejar Li Zhe Liang.


***


Ketika mereka semua tiba di depan pintu masuk Paviliun Ru Yi, sebuah kereta kuda sudah menunggu di sana.


"Nona Yang Ruo Li!" sapa kusir kuda dengan sopan.


Kereta kuda ini dipersiapkan oleh Pengurus Ming Ye untuk digunakan Yang Ruo Li menuju Hutan Tengkorak. 


"Zhe Liang! Ayo kita masuk ke dalam kereta kuda," ajak Yang Ruo Li sambil menggandeng tangan Li Zhe Liang. Akan tetapi, pria dingin itu tetap berdiri tegak dan tidak melangkahkan kakinya sama sekali sehingga Yang Ruo Li menghentikan langkah kakinya juga.


"Ada apa Zhe Liang? " tanya Yang Ruo Li.


"Kereta kuda sangat lambat," jawab Li Zhe Liang singkat.


"Kalau tidak memakai kereta kuda, kita menggunakan ilmu meringankan tubuh?" tanya Yang Ruo Li polos.


Yang Ruo Li yakin ilmu meringankan tubuh Li Zhe Liang dan kedua bawahannya sangat tinggi sehingga mereka bisa tiba di Hutan Tengkorak dengan cepat. Hanya saja ilmu meringankan tubuhnya masih rendah dan tidak bisa menempuh perjalanan jauh.


"Senjata spiritual!" jawab Li Zhe Liang.


"Oh iya! Aku akan mengambilnya di Paviliun Ru Yi," kata Yang Ruo Li.


Senjata spiritual milik Yang Ruo Li hanyalah sepasang jarum terbang besi hitam sehingga Yang Ruo Li ingin mengambil senjata spiritual lainnya dari Paviliun Ru Yi.


Perkataan Li Zhe Liang menghentikan langkah kaki Yang Ruo Li. Kemudian gadis muda itu melihat Li Zhe Liang mengambil pedang kecil dari dalam cincin penyimpan batu rubi dan melemparkan ke udara.


Ajaibnya pedang kecil itu menjadi besar dan panjang serta melayang di udara. Pedang terbang itu sangat bercahaya. Yang Ruo Li yakin pedang itu adalah senjata spiritual abadi. 


Sementara itu Lu Jing dan Feng Teng juga melemparkan senjata spiritual mereka ke udara dan langsung membesar. Mereka berdua melompat ke atas senjata masing-masing.


"AH!" Yang Ruo Li berteriak keras karena Li Zhe Liang memeluk pinggangnya dan dalam sekejap mata mereka berdua berdiri  di atas pedang terbang milik Li Zhe Liang.


"Tuan! Kita akan menunggu di depan Hutan Tengkorak!" kata Lu Jing sambil memberi isyarat mata ke Feng Teng.


Lu Jing dan Feng Teng menghilang dari pandangan Yang Ruo Li dengan cepat setelah mendapat persetujuan dari Li Zhe Liang. Kedua bawahan itu tidak ingin menjadi pengganggu. Mereka tahu Li Zhe Liang ingin menghabiskan waktu berduaan dengan Yang Ruo Li.


"Li Er! Pegang yang erat! Kita berangkat sekarang!" kata Li Zhe Liang.


Li Zhe Liang menggunakan kekuatan spiritualnya untuk mengontrol pedang terbang. Pedang terbang itu melesat dengan cepat. Yang Ruo Li memeluk erat pinggang Li Zhe Liang karena takut terjatuh ke bawah.


Beberapa saat kemudian Yang Ruo Li sudah terbiasa dengan kecepatan pedang terbang sehingga memberanikan diri melihat ke arah bawah. Pemandangan kota Shang Ri La yang indah dari atas udara membuat Yang Ruo Li merasa takjub.


"Zhe Liang! Pemandangannya sangat cantik!" teriak Yang Ruo Li di sela deru angin kencang di sekitarnya.


Li Zhe Liang menundukkan kepalanya untuk melihat jelas wajah gadis muda yang sedang memeluknya erat dan melihat pemandangan dengan hati yang riang.


Beberapa helai rambut Yang Ruo Li menutup sebagian wajah bagian kanan karena tiupan angin sehingga Li Zhe Liang membantu mengaitkannya ke belakang telinga Yang Ruo Li  dengan lembut.


Sentuhan lembut Li Zhe Liang membuat pipi Yang Ruo Li merona merah. Pemandangan  kota Shang Ri La tidak lagi menarik perhatian gadis muda itu karena jantungnya sedang berdetak kencang.


"Li Er!" Li Zhe Liang memanggil Yang Ruo Li dengan suara lembut.


Gadis muda itu mengangkat kepalanya dan menatap wajah Li Zhe Liang. Kharisma pria berwajah dingin itu membuat Yang Ruo Li terpesona. 


"Kamu suka?" tanya Li Zhe Liang.


"Su…suka apa?"  Yang Ruo Li bertanya balik dengan terbata-bata. Gadis muda itu gelisah karena mengira Li Zhe Liang mengetahui isi hatinya.


"Pemandangan Kota Shang Ri La," jawab Li Zhe Liang.


"Tentu saja!" ucap Yang Ruo Li sambil menghela napas lega.


"Sebentar lagi kita tiba di Hutan Tengkorak," kata Li Zhe Liang.


"Iya!' jawab Yang Ruo Li.


"Tempat kita bertemu pertama kali," lanjut Li Zhe Liang.


"Iya! Di tepi sungai," jawab Yang Ruo Li.


"Kenapa aku merasa pertemuan di tepi sungai adalah pertemuan kedua kalinya? Mungkin Li Er akan mengingat di mana tempat pertemuan pertama setelah tiba di sana," kata Li Zhe Liang sambil menatap tajam Yang Ruo Li.


"Ha ha ha! Seingatku di tepi sungai," jawab Yang Ruo Li sambil tertawa aneh.


Sikap salah tingkah Yang Ruo Li membuat Li Zhe Liang semakin yakin dengan dugaannya.  Li Zhe Liang mengira Yang Ruo Li merasa malu untuk mengakuinya dan memutuskan untuk tidak memaksa lagi gadis muda itu mengakuinya. 


***


Halo readers. Bab ini author up pukil 17.40 wita. Bab ini sudah panjang ya.


Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok ya.


Spoiler : Li Er dan Zhe Liang akan terpisah di Hutan Tengkorak. Apa yang terjadi?


Readers yang belum follow author LYTIE di noveltoon, follow yuk 🤗🤗. Readers yang belum klik tanda favorit untuk novel ini, jangan lupa di klik ya 🙏🙏😘.


Di tunggu ya.


SELAMAT LIBURAN DAN BERKUMPUL BERSAMA KELUARGA BESAR.


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE