GADIS BERACUN

GADIS BERACUN
BAB 158. Kemurahan hati Li Er


***Aula Besar Kota Shang Ri La***


Kera Purba menganggukkan kepalanya pertanda mengerti permintaan Yang Ruo Li. Gadis muda itu mengambil tiga butir pil berwarna merah dari cincin penyimpan batu giok miliknya.


Mata Kera Purba berbinar-binar menatap ketiga pil elixir itu. Kera Purba tahu ketiga pil itu dibuat dengan bantuan api surgawi sehingga kualitas yang dihasilkan sangatlah tinggi dan rasanya sangat enak.


Kera Purba langsung mengambil ketiga pil elixir itu dari tangan Yang Ruo Li dan melemparkan ketiganya masuk ke dalam mulut. Yang Ruo Li tersenyum kecil melihat tingkat Kera Purba.


"Kera Purba. Aku akan memberikanmu lebih banyak lagi di Paviliun Ru Yi nanti," janji Yang Ruo Li.


Sewaktu berada di dalam ruang dimensi cincin lotus, Yang Ruo Li hanya membuat beberapa butir pil elixir berwarna merah itu dengan api surgawi karena fokus utamanya lebih ke arah membuat bubuk racun dan pil elixir yang akan digunakannya dalam menghadapi keempat keluarga terpandang di aula besar Kota Shang Ri La.


Tiga pil berwarna merah ini adalah pil terakhir karena sebelumnya sudah memberikan pil itu ke Kera Purba dan juga Lan Long.


Kera Purba tidak mau menyia-nyiakan waktu lagi setelah mendengar janji Yang Ruo Li. Kera Purba segera duduk bermeditasi sambil memejamkan rapat kedua matanya. Sihir ilusi Kera Purba secara perlahan mempengaruhi semua orang yang sedang terkurung oleh Sihir Tembok Raksasa Li Zhe Liang.


Mereka menghentikan tangisan serta teriakan memohon ampun tadi dan berdiri secara serentak. Mata mereka memancarkan kebencian dan kemurkaan serta menghunuskan pedang masing-masing ke tubuh orang yang berada di samping mereka.


Satu persatu jatuh ke atas tanah dalam kondisi tidak bernyawa. Tentu saja termasuk Pejabat Peng Chong, Peng Xiao Ran, dan kedua Tetua Klan. Mereka berempat terjebak dalam sihir ilusi Kera Purba.


***


Di dalam dunia sihir ilusi itu mereka melihat Yang Ruo Li sedang terluka parah dan api surgawi berada di luar tubuh gadis muda itu sehingga timbul keinginan untuk merebut api surgawi serta membunuh Yang Ruo Li.


Peng Xiao Ran menggunakan cambuk cemeti mencekik leher Yang Ruo Li, sedangkan Pejabat Peng Chong menghunuskan pedangnya di tubuh Yang Ruo Li.


Sementara Tetua Peng Mu dan Tetua Huo Guang mengarahkan kekuatan spiritual masing-masing ke tubuh Yang Ruo Li untuk membunuhnya.


***


Chong Yun menggelengkan kepalanya melihat Peng Xiao Ran mencekik leher Pejabat Peng Chong dengan cambuk cemeti, sedangkan Pejabat Peng Chong menghunuskan pedangnya ke tubuh Peng Xiao Ran.


Sihir ilusi Kera Purba sudah memanipulasi penglihatan mereka. Dalam waktu singkat ayah dan putri kejamnya itu mati bersamaan. Begitupun juga dengan Tetua Peng Mu dan Tetua Huo Guang. Mereka berdua terkapar di atas tanah karena luka dalam dan kemudian berakhir dengan kematian.


Kerumunan rakyat Kota Shang Ri La menghela napas panjang karena menyaksikan secara langsung pertumpahan darah besar-besaran di aula besar Kota Shang Ri La. Kebanyakan mereka khawatir dengan keamanan Kota Shang Ri La di masa yang akan datang.


Keluarga Peng, Keluarga Huo, dan Keluarga Yang musnah hampir sebagian besar dalam waktu satu jam saja. Saat ini hanya tersisa Keluarga Li dalam keadaan utuh karena mereka tidak ikut dalam konspirasi Wen Hui Ming, sedangkan Bangsawan Fu Chen kehilangan sebagian kultivator tingkat tinggi yang bekerja untuknya dan juga pasukan yang dikirimnya untuk membantu Wen Hui Min.


***


"Masih ada yang hidup!"


"Mereka tidak saling membunuh!"


"Apa yang terjadi?"


Kerumunan rakyat Kota Shang Ri La saling berkomentar dan melihat ke arah tengah aula besar dengan mata terbelalak.


Sekitar dua puluh orang, bercampur antara bawahan dari keluarga terpandang dan juga anggota pasukan Bangsawan Fu Chen dalam keadaan hidup. Mereka dalam keadaan duduk dengan wajah yang tenang. Tidak ada kebencian ataupun kemurkaan terbesit di wajah mereka.


"Zhe Liang? Apa yang terjadi?" tanya Chong Yun dengan bingung.


Li Zhe Liang tidak menjawab pertanyaan Chong Yun melainkan melihat ke arah Yang Ruo Li. Pria dingin itu yakin Yang Ruo Li memerintahkan Kera Purba melakukan sihir ilusi untuk menghukum mati semua orang yang berniat buruk kepadanya, sedangkan untuk orang yang masih memiliki hati nurani dan tidak berniat membunuhnya di dalam dunia ilusi maka orang itu akan selamat.


"Nona Ruo Li sangat bijaksana," puji Tetua Wu Yuan.


Chong Yun menjadi mengerti setelah mendengar perkataan Tetua Wu Yuan. Dua puluh orang itu tidak mati pasti karena campur tangan Yang Ruo Li.


"Apa pun yang dilakukan Li Er tidak pernah salah," jawab Li Zhe Liang.


Pipi Yang Ruo Li bersemu merah karena pujian Li Zhe Liang. Gadis muda itu mengalihkan perhatiannya ke Kera Purba.


"Kera Purba. Sudah cukup sihir ilusinya," ucap Yang Ruo Li.


Kera Purba membuka kedua matanya dan menghentikan meditasinya setelah mendengar perintah Yang Ruo Li. Tubuhnya terasa lemas karena menggunakan banyak kekuatan spiritual untuk sihir ilusinya.


Yang Ruo Li merasa bersalah dan berniat membawa Kera Purba masuk ke dalam ruang dimensinya untuk berendam di kolam mata air spiritual.


Belum sempat Yang Ruo Li mengucapkan satu kata pun, tubuh Kera Purba menghilang. Li Zhe Liang menyimpannya di dalam cincin dimensi kosong hadiah dari Yang Ruo Li beberapa waktu yang lalu.


"Li Er bisa meracik pil elixir untuknya di Paviliun Ru Yi nanti," ucap Li Zhe Liang ketika Yang Ruo Li menatapnya dengan bingung.


"Baiklah," jawab Yang Ruo Li.


Yang Ruo Li mengira Li Zhe Liang menyimpan Kera Purba di dalam cincin dimensi karena untuk menepati janji kepada Batari Liu. Selain itu Kera Purba adalah hewan roh milik Li Zhe Liang sehingga lebih pantas tinggal di dalam cincin dimensi milik pria itu.


Yang Ruo Li sama sekali tidak akan menyangka alasan sebenarnya Li Zhe Liang dan tentu saja Chong Yung, Lu Jing, dan Feng Teng mengetahuinya karena mereka juga adalah pria.


Li Zhe Liang yang posesif tidak mungkin membiarkan Kera Purba yang berjenis kelamin jantan itu masuk ke dalam ruang dimensi milik Yang Ruo Li. Selain itu juga dikarenakan Li Zhe Liang sendiri pun belum pernah masuk ke sana.


***


Sihir Tembok Raksasa yang dibuat oleh Li Zhe Liang sudah hilang. Begitupun juga dengan sihir ilusi Kera Purba.


Dua puluh orang yang masih hidup itu pun tersadar. Mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling dan melihat jelas tuan dan juga teman mereka mati dalam keadaan mengenaskan.


Mereka menyadari Yang Ruo Li telah mengampuni mereka sehingga tidak mengalami kematian yang tragis. Dua puluh orang itu berlari menghampiri Yang Ruo Li dan berlutut serta melakukan kowtow berulang kali.


Kowtow yang dilakukan sekarang bukanlah karena rasa takut akan kematian seperti kowtow yang dilakukan sebelumnya melainkan mereka berterima kasih dengan tulus kepada Yang Ruo Li.


"Nona Ruo Li. Terima kasih tidak membunuh kami." ucap serentak dua puluh orang itu.


"Pergilah!" perintah Yang Ruo Li.


Mereka pun segera meninggalkan aula besar Kota Shang Ri La untuk pulang ke rumah Keluarga masing-masing.


Yang Ruo Li sudah mengampuni nyawa mereka satu kali sehingga mereka tidak mau menyia-nyiakannya dengan kembali ke Kediaman Keluarga Peng ataupun Kediaman Bangsawan Fu Chen, di mana akan membuat mereka harus menghadapi Yang Ruo Li lagi.


Mereka sangat yakin Yang Ruo Li tidak mungkin memberikan kesempatan kedua lagi dan pastinya akan membunuh mereka pada saat itu.


***


Halo readers setia. Terima kasih semua dukungannya baik dalam bentuk vote, like, hadiah, tips iklan, dan komentar positif🤗


Sampai ketemu besok di bab selanjutnya ya.


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE