
***Kediaman Bangsawan Fu Chen***
Lima menit kemudian Lu Jing berdiri berjaga di luar kamar tamu yang dipersiapkan untuknya, sedangkan Yang Ruo Li dan Li Zhe Liang berada di dalam kamar tidur tersebut.
Yang Ruo Li merasa tidak enak hati memonopoli kamar Lu Jing. Akan, tetapi tidak ada pilihan lain lagi.
"Zhe Liang! Kamu tidur saja. Aku akan berjaga di sini," kata Yang Ruo Li sambil mengangkat kursi ke arah samping tempat tidur dan duduk di atasnya.
Li Zhe Liang berbaring di atas tempat tidur dan memejamkan rapat kedua matanya. Dalam waktu yang singkat Li Zhe Liang terlihat sudah tertidur pulas dengan napas yang tenang.
Yang Ruo Li menangkupkan kedua tangan di pipinya serta kedua siku tangannya menyandar di tempat tidur sehingga posisinya memungkinkannya melihat dengan jelas wajah Li Zhe Liang yang sedang tertidur pulas.
"Kenapa dalam keadaan tidur pun , Zhe Liang terlihat tampan?" kata hati Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li menatap saksama wajah Li Zhe Liang, pria tampan yang sudah mengisi lubuk hatinya yang paling dalam.
Sepasang alis mata yang tebal, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, bentuk wajah yang sempurna serta bibir yang tebal.
Bagaimana mungkin bibir yang tebal ini bisa terasa begitu lembut? Tanpa sadar Yang Ruo Li menyentuh bibirnya sendiri. Pandangan matanya fokus kepada bibir Li Zhe Liang serta bayangan dirinya berciuman dengan Li Zhe Liang muncul jelas di pikirannya.
Yang Ruo Li mendekatkan wajahnya ke wajah Li Zhe Liang. Rasa keingintahuan yang kuat menggelitik hatinya. Yang Ruo Li penasaran apakah jika dirinya yang mencium bibir tebal milik Li Zhe Liang saat ini, juga akan terasa lembut seperti ciuman beberapa waktu yang lalu?
Secara pelan namun pasti, bibir Yang Ruo Li mendekati bibir Li Zhe Liang. Napas hangat Yang Ruo Li menerpa wajah Li Zhe Liang. Pria tampan itu mengetahuinya karena sejak tadi dirinya pura-pura tidur.
Tepat jarak di antara bibir mereka tersisa satu sentimeter saja, Yang Ruo Li menghentikan aksinya dan duduk tegak diposisi semula. Gadis muda itu menarik napas serta mengeluarkan napas berulang kali untuk menenangkan perasaan hatinya.
"Fokus Yang Ruo Li! Fokus!" kata hati Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li menepuk-nepuk kedua pipinya dengan keras. Kemudian memiringkan kepalanya di samping tempat tidur.
"Tidur saja! Jangan pikir macam-macam!" kata hati Yang Ruo Li.
Gadis muda itu memejamkan rapat kedua matanya dan mencoba untuk tidur. Selama enam belas tahun ini Yang Ruo Li tidak pernah bisa tidur nyenyak karena pengaruh racun yang menumpuk di dalam tubuhnya. Setiap bagian tubuhnya akan terasa sakit dan menusuk-nusuk hingga akhirnya Yang Ruo Li sudah membiasakan diri dengan keadaan tubuhnya.
Semula Yang Ruo Li mengira dirinya tidak bisa tidur dengan cepat. Akan tetapi, karena pengaruh Li Zhe Liang berada di sampingnya, Yang Ruo Li merasa tenang sehingga gadis muda itu pun tertidur pulas.
Kedua mata Li Zhe Liang terbuka lebar dan menatap lekat wajah Yang Ruo Li.
"Gadis bodoh!" gumam Li Zhe Liang. Tangannya membelai pipi Yang Ruo Li dengan lembut. Kemudian Li i Zhe Liang bangun dari tempat tidur dan menggendong Yang Ruo Li.
Tubuh Yang Ruo Li dibaringkan di atas tempat tidur dengan perlahan. Li Zhe Liang menarik selimut untuk menutupi tubuh Yang Ruo Li, lalu membungkukkan tubuhnya dan memberi satu kecupan kecil di kening Yang Ruo Li.
"Li Er! Tidur yang nyenyak," kata Li Zhe Liang dengan suara yang lembut.
Li Zhe Liang berjalan keluar dari kamar tidur dan menutup pintu kamar secara perlahan.
"Putra mahkota !" sapa Lu Jing sambil menundukkan kepala memberi hormat.
"Apa hasilnya?" tanya Li Zhe Liang.
"Pedang penghancur di simpan di ruangan senjata langka milik Bangsawan Fu Chen. Ruangan itu dijaga oleh dua pengawal dengan tingkat ilmu Tahap Penguasaan Jiwa," lapor Lu Jing.
"Li Er sudah mempunyai rencana untuk mendapatkan pedang penghancur. Jika Wen Hui Min tidak mau memberikannya, rebut saja!" perintah Li Zhe Liang.
"Baik, Putra Mahkota!" jawab Lu Jing dengan patuh.
Li Zhe Liang berjalan masuk kembali ke dalam kamar setelah memberikan perintah kepada Lu Jing.
Tebakan Lu Jing tidaklah salah karena Li Zhe Liang naik ke atas tempat tidur dan berbaring dengan tenang di samping Yang Ruo Li. Tidak lama kemudian kedua mata Li Zhe Liang sudah tertutup rapat. Mereka berdua tidur dengan nyenyak dan tenang sepanjang malam.
***
Keesokan paginya Yang Ruo Li terbangun karena suara panggilan dari Li Zhe Liang.
"Li Er! Bangun!" panggil Li Zhe Liang sambil menepuk lembut punggung tangan Yang Ruo Li.
"Zhe Liang!" kata Yang Ruo Li.
"Ayo! Pertunjukkan sudah akan dimulai," ucap Li Zhe Liang.
Mata Yang Ruo Li berbinar-binar mendengar perkataan Li Zhe Liang.
Li Zhe Liang membawa Yang Ruo Li terbang ke atas atap salah satu bangunan dengan ilmu meringankan diri. Lu Jing sudah berada di sana.
"Tuan! Nona Ruo Li!" sapa Lu Jing dengan sopan.
"Bagaimana keadaan sekarang?" tanya Li Zhe Liang.
Beberapa pelayan Kediaman Bangsawan Fu Chen mengintip dari balik jendela ke kamar tempat Nona Ruo Li menginap semalam, setelah menyadari kamar tempat tuan menginap kosong," lapor Lu Jing.
Yang Ruo Li melihat beberapa pelayan pria membawa sesuatu benda berbentuk tabung panjang dan memiliki sumbu di ujungnya.
"Zhe Liang! Kamu tahu apa yang mereka bawa?" tanya Yang Ruo Li.
"Alat peledak!" jawab Li Zhe Liang dengan singkat.
"Alat peledak? Si rubah betina licik itu berencana membunuhku?" tanya Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li mengingat dengan jelas percakapan antara Lim Hsuang Hsuang dan Peng Wei Wei semalam bahwa mereka ingin mempermalukannya dan membuat seluruh rakyat Kota Shang Ri La mengetahuinya. Apa hubungannya dengan alat peledak?
"Gadis bodoh!" ucap Li Zhe Liang sambil menyentil kening Yang Ruo Li.
"Nona Ruo Li. Alat peledak itu berkekuatan kecil. Lu Jing menduga mereka hanya ingin membuat ledakan untuk menghancurkan dinding halaman dan pintu kamar. Bunyi ledakan yang kuat akan membuat rakyat Kota Shang Ri La yang berada disekitar datang," jelas Lu Jing panjang lebar.
Li Zhe Liang terkenal dengan kepribadiannya yang tidak suka menjelaskan panjang lebar sehingga Lu Jing dan Feng Teng sebagai bawahan kepercayaannya selalu mewakilinya.
"Ternyata begitu! Pantas aja Lim Hsuang Hsuang dan Peng Wei Wei bilang rakyat Kota Shang Ri La akan menertawaiku. He he he. Sebentar lagi mereka yang diketawain," kata Yang Ruo Li sambil tertawa kecil.
Beberapa saat kemudian terdengar bunyi ledakan yang kuat dari Kediaman Bangsawan Fu Chen.
Wen Hui Min di kawal oleh beberapa penjaga berjalan menuju ke sana.
***
Halo readers. Satu bab lagi ya nanti malam.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE