
***Kediaman Edelweiss***
Yang Ruo Li membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah Mu Dan untuk memeriksa keadaan ibunya. Li Zhe Liang dan Lu Jing mengikutinya dari belakang.
"Ibu!" panggil Yang Ruo Li sambil menyentuh rantai besi yang membelenggu pinggang Mu Dan.
"Aku akan memutuskan rantai besi ini!" kata Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li menggunakan kekuatan spiritualnya untuk memutuskan rantai besi, tetapi tidak berhasil. Bahkan tidak meninggalkan satu goresan kecil pun di rantai besi itu.
"Tuan tampan! Tolong putuskan rantai besi ini!" pinta Yang Ruo Li sambil memberikan tatapan memelas ke arah Li Zhe Liang.
"Rantai besi ini terbuat dari besi hitam, bahan yang sama dengan sepasang jarum terbangmu. Aku bisa menggunakan kekuatan spiritualku untuk memaksa menghancurkan rantai besi ini, tetapi akan membuat ibumu terluka parah," ucap Li Zhe Liang.
"Apakah ada cara lain?" tanya Yang Ruo Li.
"Pedang penghancur yang terbuat dari besi hitam berumur ribuan tahun bisa memotong rantai besi itu," jawab Li Zhe Liang.
"Pedang penghancur? Pasti ada di Paviliun Ru Yi!" kata Yang Ruo Li dengan gembira.
Sepasang jarum terbang dari besi hitam itu diambil dari Paviliun Ru Yi sehingga Yang Ruo Li yakin di sana juga ada pedang penghancur.
Yang Ruo Li memutuskan untuk segera membawa Mu Dan ke Paviliun Ru Yi. Yang Ruo Lu berencana membawa Mu Dan masuk ke dalam ruang dimensi cincin lotus dan meninggalkannya beristirahat di sana sehingga Yang Ruo Li bisa menuju Paviliun Ru Yi dengan mudah.
Akan tetapi, keberadaan Li Zhe Liang, Lu Jing, dan Feng Teng membuat Yang Ruo Li tidak bisa masuk ke ruang dimensi sehingga memikirkan cara untuk mengusir mereka bertiga secara halus.
"Ke Paviliun Ru Yi!" perintah Li Zhe Liang secara tiba-tiba.
"Baik, tuan!" jawab Lu Jing dan Feng Teng bersamaan.
Mereka berdua bergerak secepat kilat mengelilingi Kediaman Edelweiss untuk membuat sesuatu, sedangkan Li Zhe Liang mengeluarkan sebuah jubah hitam dari cincin penyimpan batu rubi miliknya dan melemparkan jubah hitam itu ke Yang Ruo Li.
"Apa ini?" tanya Yang Ruo Li.
Sekilas bayangan kejadian hubungan istimewa antara dirinya dan Li Zhe Liang melintas di pikirannya karena model jubah hitam ini sama persis dengan jubah hitam yang dipakai oleh Li Zhe Liang waktu itu.
"Kamu pernah melihat jubah hitam ini?" tanya Li Zhe Liang sambil menatap saksama perubahan raut wajah Yang Ruo Li.
"Tidak pernah! Mengapa kamu memberikannya padaku?" tanya Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li berusaha berskap tenang di hadapan Li Zhe Liang.
"Gunakan untuk menutupi tubuh ibumu," jawab Li Zhe Liang dengan singkat.
Bersamaan dengan itu, Lu Jing dan Feng Teng telah kembali dengan membawa sebuah tandu baru. Saat ini Yang Ruo Li baru tahu mereka berdua pergi untuk membuat tandu yang akan digunakan untuk mengangkat tubuh Mu Dan menuju Paviliun Ru Yi.
Yang Ruo Li membaringkan tubuh Mu Dan ke atas tandu dengan perlahan dan menyelimuti tubuh ibunya dengan jubah hitam milik Li Zhe Liang sehingga menutupi rantai besi yang membelenggu pinggang Mu Dan.
Lu Jing dan Feng Teng mengangkat tandu itu di kedua sisi yang berbeda yaitu sisi atas dan sisi bawah dengan perlahan dan berjalan dengan santai.
Mereka berdua mengangkat tandu itu dengan mudah seolah-olah sedang mengangkat kapas yang ringan dan bukannya tubuh Mu Dan. Yang Ruo Li terkagum melihat kekuatan Lu Jing dan Feng Teng.
"Jalan!" perintah Li Zhe Liang sambil menarik tangan Yang Ruo Li sehingga mereka berdua berjalan berdampingan. Lu Jing dan Feng Teng mengikuti mereka dari belakang sambil mengangkat tandu itu.
Yang Ruo Li mencuri pandang ke arah Li Zhe Liang yang berjalan tenang dengan wajah tanpa ekspresi andalannya.
"Kenapa dia menolongku? Apa tujuannya? Apakah dia tahu aku adalah gadis di Hutan Tengkorak semalam?" kata hati Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li merasa penasaran sehingga mencuri pandang lagi ke arah Li Zhe Liang. Gerak gerik Yang Ruo Li tentu saja disadari oleh Li Zhe Liang sehingga dia menghentikan langkah kaki dan menatap Yang Ruo Li.
"Ada apa?" tanya Li Zhe Liang dengan nada datar.
"Kamu tahu aku siapa?" tanya Yang Ruo Li.
"Nona sampah dan si buruk rupa dari Keluarga Yang!" jawab Li Zhe Liang.
"Hanya itu saja?" tanya Yang Ruo Li dengan nada menyelidiki.
"Iya! Apa kamu punya identitas lain?" Li Zhe Liang bertanya balik ke Yang Ruo Li.
"Tidak! Tidak ada sama sekali. Terima kasih sudah menolongku," kata Yang Ruo Li sambil tersenyum tulus.
Dari sisi tempat Li Zhe Liang berjalan, dirinya melihat jelas bagian wajah kanan Yang Ruo Li sehingga membuatnya tertegun sejenak seolah-olah melihat seorang dewi cantik yang sedang tersenyum manis ke arahnya.
Yang Ruo Li memanggilnya dengan suara keras sambil menggoyangkan telapak tangan kanannya di pandangan mata kosong Li Zhe Liang.
Li Zhe Liang yang melamun di tengah jalan membuat Lu Jing dan Feng Teng yang berada dibelakangnya terpaksa menghentikan langkah kaki mereka sehingga Yang Ruo Li berinisitatif menyadarkan Li Zhe Liang.
Li Zhe Liang tersentak dari lamunannya dan terkejut melihat wajah kiri Yang Ruo Li.
"Saputangan!" kata Li Zhe Liang sambil mengulurkan telapak tangan ke arah Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li mengambil saputangan dari cincin penyimpan batu giok dan meletakkannya di atas telapak tangan Li Zhe Liang.
Li Zhe Liang menggunakan saputangan menggosok bercak hitam di wajah kiri Yang Ruo Li berkali-kali dan tidak berhasil menghilangkan bercak hitam itu.
"Sakit!" teriak Yang Ruo Li sambil menepis tangan Li Zhe Liang.
"Kenapa tidak bisa hilang?" tanya Li Zhe Liang.
"Belum saatnya!" jawab Yang Ruo Li dengan jujur.
Li Zhe Liang sudah pernah melihat wajahnya sembuh seperti semula sewaktu berada di tepi sungai Hutan Tengkorak sehingga Yang Ruo Li berkata jujur sekarang.
"Kita lanjutkan perjalanan sekarang," ucap Yang Ruo Li sambil menggandeng tangan Li Zhe Liang.
Sebenarnya maksud hati Yang Ruo Li menggandeng tangan Li Zhe Liang supaya mereka bisa cepat tiba di Paviliun Ru Yi, tanpa ada kejadian Li Zhe Liang melamun di tengah jalan lagi.
***
Di sepanjang perjalanan, Yang Ruo Li mendengar jelas gosip yang keluar dari mulut setiap orang yang berpapasan dengannya.
Selama enam belas tahun, Yang Ruo Li sudah sering mendengar gosip yang menghinanya sehingga sekarang dirinya mengacuhkan mereka semua.
"Bukankah itu Yang Ruo Li? Nona sampah dan si buruk rupa Keluarga Yang?"
"Iya, benar sekali! Tetapi siapa pria tampan yang berjalan disebelahnya?"
"Yang Ruo Li bukan nona sampah lagi! Aku melihatnya mengalahkan penjaga Paviliun Ru Yi!"
"Benarkah?"
"Sekarang Yang Ruo Li adalah pemilik Paviliun Ru Yi!"
"Bagaimana mungkin! Yang Ruo Li tidak mempunyai uang yang banyak untuk membeli Paviliun Ru Yi!"
"Pasti pria tampan itu yang membeli Paviliun Ru Yi dan memberikannya kepada Yang Ruo Li!"
"Lihatlah! Jalan ini menuju ke Paviliun Ru Yi! Mereka pasti tinggal bersama di sana!"
"Yang Ruo Li adalah simpanan pria tampan itu?"
"Yang Ruo Li berselingkuh dengan pria tampan dan mendepak Fu Jiu Yun?"
"Uhuk…uhuk…uhuk…!"
Yang Ruo Li tersedak karena mendengar gosip yang semakin tidak masuk akal. Li Zhe Liang masih setia dengan wajah dingin tanpa ekspresinya seolah-olah dirinya tidak mendengar semua gosip itu.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di depan Paviliun Ru Yi.
***
Halo readers. Ini bab kedua hari ini ya.
Apakah ada Pedang Penghancur di Paviliun Ru Yi?
Bagaimana reaksi Fu Jiu Yun terhadap gosip Yang Ruo Li berselingkuh dengan pria yang lebih tampan darinya?
Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya yang semakin seru ya readers.
TERIMA KASIH DUKUNGANNYA
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE