
*** Ruang rahasia bawah tanah Sekte Sesat***
Yang Ruo Li mengeluarkan lempengan giok untuk memberi kabar ke Lan Xi.
"Lan Xi. Anak-anak sudah ditemukan. Kita akan meninggalkan tempat ini," ucap Yang Ruo Li sambil memegang lempengan giok di dekat mulutnya.
*Baiklah. Aku akan mengejar pengikut Sekte Sesat sekarang. Lain kali jika ada kesempatan bertemu, kita bisa bekerjasama lagi."
Terdengar balasan suara Lan Xi melalui Yang Ruo Li.
"Baiklah," jawab Yang Ruo Li dengan singkat, lalu menyimpan lempengan giok ke dalam cincin penyimpan batu giok miliknya.
Yang Ruo Li tahu tugas utama Lan Xi sebagai murid pertama aliran Tianshuang adalah memusnahkan Sekte Sesat sehingga Lan Xi tidak mungkin menetap di satu kota melainkan akan menuju ke kota lain, yang terdengar kabar munculnya Sekte Sesat di sana.
Beberapa saat kemudian Lu Jing kembali ke dalam ruangan tempat anak-anak dikurung.
"Nona Ruo Li. Semuanya sudah berkumpul. Kita bisa keluar melalui tembok yang dihancurkan oleh monster naga bertanduk. Bangsawan Fu Chen dan semua prajuritnya sedang bertarung dengan rombongan Kerajaan Tang di tempat formasi teleportasi," lapor Lu Jing.
"Baik, Kak Lu Jing. Ayo kita keluar sekarang," jawab Yang Ruo Li.
Lu Jing memimpin jalan di depan. Yang Ruo Li mengatur anak-anak mengikuti Lu Jing dengan teratur, sedangkan Fu Jiu Yun berada di belakang mereka.
Fu Rong dan pasukan rahasia yang menunggu di depan membantu membawa anak-anak meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Yang Ruo Li mengeluarkan sebuah jimat dan menuliskan mantra, lalu membakarnya dengan api surgawi. Bersamaan dengan itu, lingkaran formasi yang dibuat oleh Yang Ruo Li di ruangan tempat para ahli formasi dikurung menyala.
Lingkaran formasi yang menyala itu berubah menjadi seberkas cahaya putih dan terbang di hadapan para ahli formasi.
"Di luar sudah aman. Ayo kita ikuti cahaya putih untuk keluar dari tempat ini," ujar A Sim dengan antusias.
Para ahli formasi dan A Sim segera mengikuti cahaya putih dan keluar dengan selamat tanpa bertemu dengan pengikuti Sekte Sesat maupun prajurit Bangsawan Fu Chen.
***
Tiga puluh menit kemudian, rombongan Yang Ruo Li sudah berada di tempat yang jauh dari lembah Pegunungan Wu Dong.
Wajah seratus anak hilang itu berseri-seri. Mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling, menghirup udara segar dan menikmati hangatnya cahaya matahari yang menyinari tubuh mereka.
Selama ini mereka berada di dalam kurungan besi yang pengap dan ruangan yang gelap. Mereka tidak menyangka masih mempunyai kesempatan meninggalkan ruang rahasia bawah tanah.
"Terima kasih kak," ucap serentak anak-anak ke rombongan Yang Ruo Li. Senyum cerah menghias wajah mereka membuat rombongan Yang Ruo Li menjadi semakin membenci Sekte Sesat dan juga Bangsawan Fu Chen.
Fu Jiu Yun menundukkan kepalanya karena merasa malu. Ayah kandungnya yang menyebabkan semua anak-anak kecil ini menderita. Demi memperkuat prajuritnya, Bangsawan Fu Chen bersikap kejam mengorbankan semua anak kecil itu.
Lu Jing berjalan menghampiri Yang Ruo Li. "Nona Ruo Li. Bagaimana cara kita mengurus anak-anak ini?" tanya Lu Jing.
Yang Ruo Li menatap ke arah seratus anak-anak di hadapannya. Semua anak itu pun sedang menatap Yang Ruo Li bersamaan.
"Mereka semua di tangkap dari Kota Shang Ri La, Cheng Du, dan Chang Sa. Mungkin penguasa Kota Chen Du dan Kota Chang Sa bisa menggunakan prajuritnya mengembalikan mereka ke rumah orang tua masing-masing, sedangkan anak- anak yang berasal dari Kota Shang Ri La bisa ikut kita pulang," ucap Yang Ruo Li.
Sebagian besar anak-anak menangis keras secara tiba-tiba setelah mendengar perkataan Yang Ruo Li.
"Kakak. Aku mau ikut kakak. Aku tidak mau ikut prajurit."
"Prajurit akan menangkap dan mengurungku lagi."
"Aku takut. Aku mau ke Kota Shang Ri La."
Wajah Fu Jiu Yun memucat dan semakin menundukkan kepalanya. Dirinya yakin semua anak-anak itu trauma dan tidak percaya terhadap prajurit karena prajurit Bangsawan Fu Chen yang menangkap mereka bersama pengikut Sekte Sesat.
"Kalian jangan menangis lagi. Aku tidak akan meninggalkan kalian," bujuk Yang Ruo Li.
Anak-anak yang menangis segera mengelap air mata mereka dengan lengan baju. Mereka percaya dengan perkataan Yang Ruo Li dan Xue Qiu.
"Kak Lu Jing. Kita membawa mereka semua pulang ke penginapan terdekat. Aku akan mengirim surat bangau terbang ke Paviliun Ru Yi meminta Tetua Wu Yuan dan Li Jian Ming membuat pengumuman untuk orang tua anak yang hilang dari Kota Chang Sa dan Chen Du agar datang ke kota Shang Ri La menjemput mereka," ucap Yang Ruo Li setelah berpikir sebentar.
"Baik nona Ruo Li," jawab Lu Jing dengan patuh.
"Xue Qiu, Lan Long, Kera Purba. Kalian jaga Zhe Liang di dalam ruang dimensi," kata Yang Ruo Li.
Dalam hitungan detik, ketiga hewan roh itu menghilang dan muncul di dalam ruang dimensi.
Rombongan Yang Ruo Li meneruskan perjalanan menuju penginapan di perbatasan Kota Shang Ri La.
***Ruang dimensi cincin lotus***
"Bai Hu!"
"Kakak kedua!"
Mereka bertiga memanggil Bai Hu bersamaan dan merasa heran tubuh Bai Hu berukuran besar, bahkan Bai Hu sedang berendam bersama Li Zhe Liang, pria yang paling ditakuti oleh Xue Qiu.
Li Zhe Liang membuka kedua matanya yang terpejam rapat. Mata tajamnya mencari sosok Yang Ruo Li dan tidak menemukan gadis muda itu. Hanya ada tiga hewan roh di sana.
"Di mana Li Er?" tanya Li Zhe Liang.
"Nona sedang mengantar anak hilang ke penginapan dan meminta kita menjaga tuan di sini," jawab Lan Long dengan polos.
Tentu saja perkataan Lan Long tidak dimengerti oleh Li Zhe Liang. Xue Qiu dan Kera Purba menggelengkan kepala bersamaan karena sifat naif Lan Long.
"Tuan. Nona Ruo Li sedang mengantar anak hilang ke penginapan dan meminta mereka menjaga tuan di sini," lapor Shan Dian alias Bai Hu.
"Bai Hu. Kamu memanggilnya tuan, berarti?" tanya Xue Qiu dengan panik.
Sejak awal Xue Qiu pernah beberapa kali menindas Bai Hu. Xue Qiu merasa takut Bai Hu mengadu ke Li Zhe Liang sehingga dirinya akan mendapat hukuman dari pria dingin itu.
"Iya. Aku hewan roh milik tuan. Namaku Shan Dian, bukan Bai Hu." jawab Shan Dian.
"Sepertinya Bai Hu tidak mengadu ke pria itu," kata hati Xue Qiu.
"Kenapa kamu bisa berada di ruang dimensi nona?" tanya Xue Qiu penasaran.
"Pertanyaan bagus. Jangan lupa ajukan pertanyaan ini ke nonamu nanti," ujar Li Zhe Liang dengan wajah tanpa ekspresinya.
"Baik tuan," jawab Xue Qiu patuh.
Walaupun Li Zhe Liang dalam kondisi lemah dan Xue Qiu sudah menetas menjadi phoenix, tetapi hewan roh suci legenda itu masih saja merasa takut terhadap Li Zhe Liang sehingga bersikap patuh dan menurut.
"Kalian bertiga bermain di tempat lain. Tidak perlu menjagaku," kata Li Zhe Liang.
"Baik tuan," jawab Lan Long, Xue Qiu, dan Kera Purba bersamaan, tetapi yang bisa didengar oleh Li Zhe Liang hanyalah suara anak laki-laki dari mulut Xue Qiu.
***
Selamat siang readers. Masih ada satu bab lagi nanti malam ya.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE