GADIS BERACUN

GADIS BERACUN
BAB 64. Racun iblis hati


***Paviliun Ru Yi***


Lu Jing dan Feng Teng terkejut dengan perkataan Yang Ruo Li. Kepercayaan diri gadis muda itu membuat mereka terkagum. Mereka berdua tahu pasti bagaimana susahnya membuat pil elixir pelindung jantung.


Li Zhe Liang sendiri pun hanya memiliki lima butir pil elixir pelindung jantung dan memberikan dengan ikhlas satu butir pil kristal itu untuk menyelamatkan nyawa Mu Dan.


Pil elixir pelindung jantung milik Li Zhe Liang adalah hasil racikan teman baiknya, yang merupakan alchemist tingkat keempat yaitu Raja Obat.


"Aku akan menantikannya," jawab Li Zhe Liang dengan singkat. Pria tampan itu percaya seratus persen akan perkataan dan kemampuan Yang Ruo Li.


Pil elixir pelindung jantung termasuk salah satu jenis pil elixir yang menjadi target penting bagi alchemist berbakat untuk meraciknya. Tentu saja Yang Ruo Li juga mempunyai keinginan yang sama.


Hanya saja saat ini di tubuhnya belum ada api elixir yang dibutuhkan untuk membuat pil elixir pelindung jantung sehingga membuat Yang Ruo Li teringat akan pembicaraan Fu Jiu Yun dengan Si Han mengenai api surgawi.


Portal rahasia dan juga api surgawi. Keduanya bisa membantu Yang Ruo Li menjadi alchemist yang lebih hebat. Ada banyak tanaman langka di portal rahasia. Sementara untuk api surgawi, Yang Ruo Li tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menyaksikan kemunculan api surgawi pertama kalinya setelah ribuan tahun.


Yang Ruo Li memutuskan untuk meracik beberapa pil elixir di ruang alkimia Paviliun Ru Yi terlebih dahulu sebelum berangkat ke Hutan Tengkorak. Pil elixir itu untuk Mu Dan .


"Chun Hua! Sha Sha! Jaga ibu baik-baik!" perintah Yang Ruo Li.


"Baik, Nona Ruo Li!" jawab Chun Hua dan Sha Sha bersamaan.


Yang Ruo Li mengambil rantai besi yang sudah rusak dari lantai dan berjalan ke arah Li Zhe Liang.


"Zhe Liang! Aku yang akan mengembalikan pedang penghancur," kata Yang Ruo Li.


Li Zhe Liang memberikan pedang penghancur itu kepada Yang Ruo Li. Gadis muda itu mengeluarkan bubuk hitam dari cincin penyimpan batu rubi miliknya dan menaburkan bubuk hitam itu ke gagang serta mata pisau pedang penghancur.


Senyuman lebar mengembang di sudut bibir Yang Ruo Li. Lu Jing dan Feng Teng yang melihat senyuman itu mempunyai firasat ratu iblis sedang menjalankan rencana jahatnya. Mereka berdua yakin bubuk hitam itu adalah bubuk racun.


Beberapa saat kemudian Yang Ruo Li mengambil bubuk berwarna abu-abu dari cincin penyimpan batu giok dan mengolesnya di rantai besi yang rusak.


"Nona Ruo Li menggunakan dua jenis racun?" kata hati Lu Jing dan Feng Teng bersamaan.


Li Zhe Liang seorang saja yang menyadari serta yakin Yang Ruo Li hanyalah menggunakan satu racun saja yaitu bubuk berwarna hitam, sedangkan bubuk berwarna abu-abu itu adalah obat penawar untuk racun bubuk hitam. Tentu saja firasat Li Zhe Liang sangat tepat.


Yang Ruo Li mengangkat pedang penghancur dengan kedua tangannya dan berjalan keluar dari dalam kamar.


"Nona Yang Ruo Li!" sapa Si Han dengan sopan.


"Ini pedang penghancur dan rantai besi yang mengikat tubuh ibuku selama ini. Bawalah pulang dan tunjukkan kepada Wen Hui Min bahwa aku tidak berbohong. Wen Hui Min bisa memeriksa sendiri apakah pedang penghancurnya asli atau tidak. Aku tidak mau dituduh menukarnya di kemudian hari!" kata Yang Ruo Li sambil menyerahkan pedang penghancur dan rantai besi yang rusak.


"Baik, Nona Yang Ruo Li!" jawab Si Han.


Si Han menerima kedua benda itu dan segera membawanya pulang ke Kediaman Bangsawan Fu Chen.


Setelah kepergian Si Han, Feng Teng memberanikan diri bertanya kepada Yang Ruo Li.


"Nona Ruo Li. Apa jenis kedua racun itu?" tanya Feng Teng penasaran.


"Racun iblis hati!" jawab Yang Ruo Li jujur.


"Hanya satu jenis racun," jawab Yang Ruo Li.


"Satu jenis racun? Bagaimana mungkin?" kata hati Lu Jing dan Feng Teng bersamaan.


Yang Ruo Li tidak memedulikan kebingungan Lu Jing dan Feng Teng. Gadis muda itu berjalan mendekati Li Zhe Liang.


"Zhe Liang! Aku akan membuat pil elixir untuk ibuku di ruang alkimia Paviliun Ru Yi," kata Yang Ruo Li.


"Pergilah," jawab Li Zhe Liang dengan lembut.


Suasana hati Li Zhe Liang sangat baik karena Yang Ruo Li secara khusus berpamitan dengannya terlebih dahulu.


Yang Ruo Li memang sengaja memberitahukan Li Zhe Liang akan tempat tujuannya karena Yang Ruo Li mengharapkan dirinya masih bisa bertemu dengan Li Zhe Liang setelah selesai membuat pil elixir.


Hati kecil Yang Ruo Li tidak mengharapkan terjadinya perpisahan dengan Li Zhe Liang dalam waktu yang cepat. Setidaknya gadis muda itu ingin mengantarkan kepergian Li Zhe Liang secara langsung jika pria tampan itu memutuskan meninggalkan Kota Shang Ri La.


"Aku akan beristirahat di kamar tamu," lanjut Li Zhe Liang.


"Baiklah. Nanti kita makan malam bersama," ucap Yang Ruo Li dengan riang.


***Kediaman Bangsawan Fu Chen***


Wen Hui Min sedang berada di taman miliknya dan menikmati teh dan kudapan kecil bersama kelima selir Bangsawan Fu Chen. Setiap hari kelima selir akan mengunjungi Wen Hui Min sebagai bentuk penghormatan terhadap istri resmi Bangsawan Fu Chen.


Walaupun tadi ada kejadian heboh dan tidak menyenangkan di Kediaman Bangsawan Fu Chen, kelima selir itu selalu patuh dengan peraturan dan datang menemui Wen Hui Min.


Wen Hui Min duduk di tengah taman dan dikelilingi oleh kelima selir. Kerumunan rakyat Kota Shang Ri La sudah pergi semuanya meninggalkan Kediaman Bangsawan Fu Chen, sedangkan Lim Hsuang Hsuang dan Peng Wei Wei sudah diantar pulang ke kediaman masing-masing.


Wen Hui Min berjanji akan memberikan keadilan kepada mereka berdua di masa yang akan datang. Wen Hui Min lebih mengkhawatirkan keadaannya sendiri saat ini yang pastinya akan mendapatkan kemarahan dari Bangsawan Fu Chen ketika penguasa Kota Shang Ri La itu pulang.


"Kue teratai ini sangat enak," puji Bai Ching Ching, selir kesayangan Bangsawan Fu Chen.


"Adik Ching Ching suka makanan manis. Pasti tuan muda kecil lahir dengan sehat dan tampan," kata salah satu selir lainnya.


Tidak ada hubungan antara makanan manis dan kelahiran bayi yang sehat serta tampan. Selir itu hanyalah ingin mengambil hati Bai Ching Ching karena kedudukan Bai Ching Ching akan menjadi lebih tinggi setelah kelahiran putranya.


Bai Ching Ching tersenyum lebar mendengar pujian selir itu. Sesekali tangan kanannya mengelus perutnya yang membesar.


Wen Hui Min memberikan tatapan sinis sekilas ke arah Bai Ching Ching dan perutnya. Calon bayi di dalam perut itu bisa membuat posisinya sebagai nyonya besar terancam.


***


Halo readers. Ini bab kedua ya. Bab ketiga akan up di malam hari. Doakan lancar ya readers 🤗🤗🙏


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE